Matius 5

Pasal ini dan kedua pasal berikutnya berisi sebuah khotbah; khot­bah yang terkenal, yaitu Khotbah di Bukit. Dari antara semua catat­an dalam keempat Injil, ini adalah percakapan utuh yang ter­pan­jang dan terlengkap Juruselamat kita. Percakapan ini bersifat prak­tis, tidak banyak mengetengahkan doktrin kepercayaan Kristen – yak­­ni hal-hal yang harus dipercayai – melainkan sepenuhnya me­nying­gung rencana tindakan – yakni hal-hal yang harus dilakukan. Hal-hal inilah yang dibicarakan Kristus ketika mengawali khotbah-Nya ini, sebab barangsiapa yang mau melakukan kehendak-Nya, dia harus tahu apakah pengajaran-Nya itu berasal dari Allah atau bukan. Dalam ayat 1 dan 2, keadaan yang mendahului khotbah itu di­jelas­kan terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan khotbah itu sen­diri. Khotbah ini tidak bertujuan untuk mengisi kepala kita dengan ga­gas­an-gagasan semata, melainkan untuk membimbing dan meng­atur peri­laku kita.

I.          Ia menawarkan kebahagiaan sebagai tujuan khotbah-Nya dan menggambarkan ciri-ciri orang yang layak menerima ke­bahagiaan itu (yang sangat berbeda dengan gagasan-gagasan orang dunia yang sia-sia), dalam bentuk delapan ucapan ba­ha­gia yang isinya bisa dikatakan sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada (ay. 3-12).
II.         Ia menetapkan kewajiban sebagai cara yang harus dilakukan, dan memberi kita aturan untuk menjalankannya. Ia me­nun­tun murid-murid-Nya

1.         Untuk mengerti siapa mereka sebenarnya – garam dunia dan terang dunia (ay. 13-16).
2.         Untuk mengerti apa yang harus mereka lakukan – mereka harus dikuasai oleh hukum moral. Dalam bagian ini ter­dapat

(1)        Pengesahan hukum tersebut secara umum dan anjur­an bagi kita untuk menjadikannya aturan bagi kita (ay. 17-20).
(2)        Pembetulan khusus atas berbagai kesalahan, atau lebih tepat, reformasi atas berbagai hal yang sudah sangat rusak yang dilakukan dengan sengaja, yang diper­kenalkan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi melalui uraian mereka tentang hukum itu. Juga ter­da­pat penjelasan terperinci dan sah tentang ber­bagai aturan hukum yang paling perlu dijelaskan dan diper­ta­hankan (ay. 20). Khususnya, di sini terdapat pen­je­las­an terperinci

[1]        Tentang perintah keenam yang melarang pem­bunuh­an (ay. 21-26).
[2]        Tentang perintah ketujuh yang melarang perzinah­an (ay. 27-32).
[3]        Tentang perintah ketiga (ay. 33-37).
[4]        Tentang hukum pembalasan (ay. 38-42).
[5]        Tentang hukum kasih persaudaraan (ay. 43-48). Secara keseluruhan, semuanya ini menunjukkan bah­wa hukum tersebut bersifat rohani.

1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

Dalam ayat-ayat di atas kita melihat gambaran umum tentang khot­bah ini.

I.           Pengkhotbahnya adalah Tuhan Yesus, Raja atas segala pengkhot­bah, Nabi Agung dari jemaat-Nya, yang datang ke dunia, untuk menjadi Terang dunia. Para nabi dan Yohanes Pembaptis telah me­lakukan dengan baik dalam memberitakan firman Tuhan, te­tapi Kristus melebihi mereka semua. Dia adalah Hikmat yang keal, yang ada di pangkuan Bapa bahkan sebelum dunia ada, dan mengetahui kehendak Allah dengan sempurna (Yoh. 1:18). Dia adalah Firman yang kekal, dan melalui Firman itu Ia telah ber­bicara kepada kita pada zaman akhir ini (Ibr. 1:2). Banyak mujizat kesembuhan yang diadakan Kristus di Galilea, yang telah kita baca pada bagian akhir pasal sebelumnya, dimaksudkan un­tuk menjadi pembuka jalan bagi khotbah ini, dan untuk menyiap­kan hati orang untuk menerima pengajaran dari Dia yang memiliki kuasa dan kebaikan ilahi yang begitu besar. Mungkin khot­bah ini juga merupakan ringkasan atau pengulangan dari apa yang telah dikhotbahkan-Nya di rumah-rumah ibadat di Galilea. Inti khot­bah-Nya adalah, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” Khotbah yang sekarang ini adalah mengenai bagian pertama dari inti khotbah tersebut, yaitu untuk menunjukkan apa arti bertobat itu. Artinya adalah pembaruan diri, baik dalam pengakuan mau­pun dalam praktik. Di sini Yesus mengatakan kepada kita bagai­mana kita melakukannya, sebagai jawaban atas pertanyaan, “Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?” (Mal. 3:7). Sete­lah itu, Ia berkhotbah tentang bagian terakhir dari perikop itu, yaitu dengan menjelaskan seperti apa Kerajaan Sorga itu melalui perumpamaan-perumpamaan (pasal 13).

II.         Tempatnya di atas sebuah bukit di Galilea. Sama seperti hal-hal lain, dalam hal ini pun Tuhan Yesus tidak dilengkapi dengan tempat yang layak. Dia tidak memiliki tempat yang nyaman untuk berkhotbah di dalamnya, seperti pula tempat untuk meletakkan ke­pala-Nya, sementara para ahli Taurat dan orang-orang Farisi me­­miliki kursi Musa sebagai tempat duduk mereka, penuh de­ngan kemudahan, kehormatan, dan kebesaran, namun di situlah mereka duduk sambil merusak hukum. Sebaliknya, Tuhan Yesus, Sang Guru Kebenaran yang Agung, justru dihalau keluar ke padang gurun, dan tidak ada yang bisa ditemukan-Nya sebagai mimbar selain sebuah bukit, dan bukit ini pun bukanlah salah satu dari gunung-gunung kudus, bukan pula dari gunung-gunung Sion, melainkan hanya sebuah bukit biasa saja. Melalui hal ini Kristus mungkin hendak mengisyaratkan bahwa sekarang di dalam Injil tidak ada tempat-tempat istimewa yang kudus seperti ini lagi, tidak seperti yang sebelumnya ada dalam hukum Taurat. Yang menjadi kehendak Allah sekarang adalah agar manusia ber­doa dan memberitakan firman-Nya di mana-mana, di mana saja, asal dilakukan dengan pantas dan tepat. Kristus menyam­pai­kan khotbah yang merupakan uraian tentang hukum Taurat ini dari atas bukit, sebab di atas gunung jugalah hukum Taurat diberikan. Khotbah ini juga merupakan pewartaan hukum Kris­tiani secara terbuka. Namun, amatilah perbedaannya, ketika hu­kum Taurat diberikan, Tuhan turun ke gunung itu, tetapi sekarang, Tuhan naik ke atasnya. Dahulu, Ia berbicara melalui guntur dan kilat, seka­rang Ia berbicara melalui bunyi angin sepoi-sepoi basa. Dahulu, orang-orang disuruh berdiri jauh-jauh, sekarang mereka diun­dang untuk datang mendekat. Betapa indahnya perubahan yang terjadi! Jika anugerah dan kebaikan Allah merupakan kemu­lia­an Allah (yang memang demikian adanya), maka kemulia­an Injil adalah kemuliaan yang melebihi segalanya, sebab anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus (2Kor. 3:7; Ibr. 12:18). Telah dinubuatkan tentang Zebulon dan Isakhar, dua suku dari daerah Galilea (Ul. 33:19), bahwa bangsa-bangsa akan dipanggil me­reka datang ke gunung. Ke gunung inilah kita dipanggil, agar belajar mempersembahkan korban sembelihan yang benar. Seka­rang bukit ini merupakan gunung Tuhan, tempat Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya (Yes. 2:2-3; Mi. 4:1-2).

III.         Para pendengar adalah murid-murid-Nya yang datang kepada-Nya. Tampaknya mereka datang karena dipanggil oleh-Nya (bdk. Mrk. 3:13, Luk. 6:13). Kepada merekalah Ia mengarahkan peng­ajar­an-Nya, sebab mereka mengikuti-Nya karena terdorong oleh kasih dan keinginan untuk belajar, sementara yang lain hanya datang untuk mencari kesembuhan. Ia mengajar mereka, sebab mereka bersedia diajar (Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati [Mzm. 25:9]); sebab mereka mau mengerti apa yang diajarkan-Nya, yang bagi orang lain hanyalah suatu kebodohan. Ia juga mengajar mereka karena kelak mereka harus mengajarkannya kepada orang lain, dan oleh sebab itu wajiblah kalau mereka sendiri harus memiliki pengetahuan yang jelas dan nyata mengenai hal-hal tersebut. Kewajiban-kewajiban yang di­gam­­barkan dalam khotbah ini harus dilaksanakan dengan sung­guh-sungguh oleh semua orang yang akan masuk ke dalam Kera­ja­an Sorga, yang untuk mendirikannyalah mereka diutus, dengan harapan akan mendapatkan manfaat darinya. Namun, mes­ki­pun khotbah ini ditujukan kepada para murid, orang ba­nyak itu pun turut mendengarnya, sebab dikatakan (7:28), Tak­jub­lah orang banyak itu. Di atas bukit ini tidak ada larangan bagi orang banyak untuk datang mendekat, seperti yang terjadi di Gunung Sinai (Kel. 7:28), sebab melalui Kristus, kita beroleh jalan masuk menuju Allah, bukan saja untuk berbicara kepada-Nya, tetapi juga untuk men­dengar dari-Nya. Saat menyampaikan khot­bah,
Ia juga mem­per­­hati­­kan orang banyak itu. Ketika ke­ma­syhur­an mujizat-muji­zat-Nya menarik orang banyak datang berke­ru­mun, Ia mengambil kesempatan untuk mengajar khalayak ramai yang terkumpul itu. Perhatikanlah, bagi seorang pelayan Tuhan yang setia, sungguh membakar semangat kalau bisa melempar­kan jala Injil ke tempat di mana banyak jiwa berkumpul, dengan harapan ada sejumlah orang yang akan terjaring. Saat melihat orang banyak, hati se­orang pengkhotbah akan bersemangat, namun dorongan yang tim­bul haruslah demi kepentingan orang banyak itu, dan bukan untuk kehormatan diri sendiri.

IV.         Khotbah ini sangat khidmat, seperti tampak dalam kata-kata se­telah Ia duduk. Kristus memang sering berkhotbah, tetapi bia­sa­nya dalam bentuk dialog atau percakapan. Namun, kali ini khot­bah-Nya sangat khidmat seperti yang biasa dilakukan orang, kathisantos autou, ketika Ia duduk agar dapat didengar sebaik mungkin. Ia duduk sebagai seorang Hakim atau Pemberi Hukum. Hal ini menyiratkan betapa hal-hal mengenai Allah harus dibi­cara­kan dan didengar dengan penuh ketenangan pikiran serta kesabaran hati. Ia duduk, agar Kitab Suci digenapi (Mal. 3:3), Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak, untuk membersihkan ajaran anak-anak Lewi yang sudah rusak. Sebagai Hakim yang adil Ia duduk di atas takhta (Mzm. 9:5), sebab perkataan-Nya akan menghakimi kita. Kalimat Maka Yesus pun mulai berbicara (Dalam kjv: Ia membuka mulut-Nya – pen.) diterjemahkan dari ungkapan bahasa Ibrani yang artinya “berbicara,” seperti dalam Ayub 3:1. Namun, menurut beberapa orang, ungkapan Ia membuka mulut-Nya juga mengisyaratkan kesung­guhan dari khotbah ini. Dengan ungkapan “membuka mu­lut,” maksudnya, Yesus menaikkan suara-Nya supaya bisa ber­bicara dengan lebih keras lagi daripada biasanya, karena keru­mun­an orang yang sangat banyak itu. Dahulu Ia berbicara de­ngan perantaraan semua hamba-Nya, para nabi, dan membuka mulut mereka (Yeh. 3:27; 24:27; 33:22), tetapi sekarang Ia mem­buka mulut-Nya sendiri, dan berbicara dengan bebas, sebagai orang yang berkuasa. Salah seorang penulis klasik berkata me­ngenai hal ini, bahwa Kristus mengajar banyak tanpa membuka mulut-Nya melainkan melalui teladan kehidupan-Nya yang kudus. Demikianlah, meskipun saat dibawa ke pembantaian seperti seekor domba, Ia tidak membuka mulut-Nya, namun sekarang Ia membuka mulut-Nya, saat Ia mengajar, agar genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci. Dalam Amsal 8:1-2, 6 tertulis, Bukankah hikmat berseru-seru … di atas tempat-tempat yang tinggi? Dan juga, membuka bibir tentang perkara-perkara yang tepat. Ia meng­ajar mereka, sesuai dengan janji, Semua anakmu akan men­jadi murid Tuhan (Yes. 54:13). Untuk tujuan inilah Ia memiliki lidah seorang murid (Yes. 50:4) dan Roh TUHAN Allah (Yes. 61:1). Ia mengajar mereka tentang kejahatan apa saja yang harus mereka benci, dan kebaikan apa yang harus mereka kerjakan dan miliki dengan berlimpah, sebab Kekristenan bukanlah sesuatu yang berada di awan-awan, tetapi sudah dirancang untuk meng­atur jalan pikiran kita dan tujuan percakapan kita. Masa Injil adalah masa pembaruan (Ibr. 9:10), dan melalui Injil-lah kita ha­rus di­per­­barui, harus dijadikan baik, harus dijadikan lebih baik. Kebe­nar­an, seperti yang ada di dalam Yesus, adalah kebenaran seperti yang tampak dalam ibadah (Tit. 1:1).

3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 4 Berbahagialah orang yang berdukacita, ka­rena mereka akan dihibur. 5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, ka­rena mereka akan memiliki bumi. 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 8 Berbahagia­lah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 9 Berbaha­gia­­lah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenar­an, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 11 Berbahagialah kamu, jika ka­rena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Kristus mengawali khotbah-Nya dengan ucapan-ucapan berkat, se­bab Ia datang ke dunia untuk memberkati kita (Kis. 3:26), sebagai Imam Besar yang kita akui, sebagai Melkisedek yang terberkati, seba­gai Dia yang oleh-Nya semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej. 12:3). Ia datang bukan saja untuk membawa berkat bagi kita, melainkan juga untuk mencurahkan dan menyatakannya ke atas kita. Di sini Ia melakukannya sebagai orang yang berkuasa, se­ba­­gai orang yang mampu memerintahkan berkat, kehidupan untuk sela­ma-lamanya, dan itulah berkat yang di sini ber­ulang kali dijan­ji­kan kepada orang-orang benar. Kalau Ia menyebut mereka berba­ha­gia, maka jadilah mereka seperti itu, sebab mereka yang diberkati-Nya, benar-benar akan terberkati. Perjanjian Lama diakhiri dengan kutuk (Mal. 4:6), sedangkan Injil diawali dengan ber­kat, karena untuk itulah kita dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Setiap berkat yang diucapkan Kristus di sini mem­punyai tujuan ganda

1.          Untuk menunjukkan siapa yang benar-benar dapat disebut ber­bahagia, dan seperti apa watak mereka.
2.          Apa saja yang terkandung dalam kebahagiaan yang sejati, yakni dalam janji-janji yang diberikan kepada orang-orang yang memi­liki watak-watak tertentu yang membuat mereka berbahagia itu. Sekarang perhatikan lagi:

(1)         Hal ini dirancang untuk meralat kekeliruan-kekeliruan yang merusak dalam dunia yang buta dan bersifat kedagingan ini. Kebahagiaan merupakan hal yang dicari-cari manusia. Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita? (Mzm. 4:7). Namun, kebanyakan orang pada akhirnya akan keliru dan membentuk gagasan yang salah mengenai kebahagiaan, se­hing­ga tidak heran kalau mereka salah jalan. Mereka memilih khayalan mereka sendiri dan bersahabat dengan bayangan. Pendapat umum yang berlaku adalah, Berbahagialah orang yang kaya, yang hebat, yang terhormat di dunia, karena orang-orang demikian menghabiskan waktu dalam kegembira­an dan hidup mereka dalam kesenangan. Mereka melahap lemak, mereguk minuman manis, dan memamerkan semua yang dimiliki dengan sombong, serta mengingini semua orang membungkuk di hadapan mereka. Berbahagialah semua orang yang demikian keadaannya. Rancangan, maksud, dan tujuan me­reka semuanya sama seperti ini. Mereka memuji orang yang loba (Mzm. 10:3); mereka ingin menjadi kaya. Sekarang Tuhan Yesus telah datang untuk meralat kesalahan yang mendasar ini, untuk mengajukan sebuah pandangan yang baru, dan untuk memberi kita gagasan yang berbeda mengenai apa itu keba­ha­gia­an dan apa itu yang disebut orang-orang yang ber­baha­gia. Meskipun hal ini tampak berlawanan bagi orang-orang yang penuh prasangka, namun, bagi semua orang yang telah men­dapat penerangan yang baik, pandangan baru ini merupakan aturan dan ajaran yang berbicara mengenai kebe­nar­an kekal dan kepastian, dan berdasarkan semuanya ini kita nanti akan dihakimi. Oleh sebab itu, bila hal ini yang men­­jadi awal peng­ajar­an Kristus, maka awal dari kehidupan sehari-sehari orang Kristen pun harus mengikuti ukuran ke­ba­hagiaan menurut dalil-dalil (atau dasar-dasar) kebahagia­an yang diajukan Kristus itu, dan usaha untuk mencari keba­hagiaan itu harus disesuaikan dengan dalil-dalil tersebut.
(2)         Isi khotbah itu dirancang untuk menghapus rasa tawar hati orang-orang yang lemah dan miskin yang telah menerima Injil, dengan meyakinkan mereka bahwa Injil-Nya bukan hanya untuk membahagiakan orang-orang yang berlimpah dengan ka­ru­nia dan anugerah, yang penuh dengan penghiburan dan yang banyak memberikan hasil saja, melainkan juga untuk membahagiakan mereka yang terkecil dalam Kerajaan Sorga, yang hatinya tulus di hadapan Allah. Mereka ini akan berba­hagia mendapat kehormatan dan berbagai hak istimewa dari Kerajaan Sorga itu.
(3)         Khotbah itu dirancang untuk mengundang jiwa-jiwa datang kepada Kristus, dan untuk mempersiapkan jalan bagi hukum-Nya agar dapat masuk ke dalam hati mereka. Kristus bukan mengucapkan berkat-berkat ini di akhir khotbah sebagai sa­lam perpisahan dengan khalayak ramai itu, tetapi di awal­nya, untuk mempersiapkan mereka bagi hal-hal yang akan dikata­kan selanjutnya. Hal ini bisa mengingatkan kita akan Gunung Gerizim dan Gunung Ebal (Ul. 27:12 dst.), ketika itu hukum berkat dan kutuk dari hukum Taurat dibacakan di hadapan umat Israel. Di sana kutuk dinyatakan, dan berkat ha­nya disi­rat­kan saja (tidak dinyatakan terang-terangan). Se­ba­lik­nya, di sini, dalam khotbah Kristus ini, berkat dinyata­kan, dan kutuk hanya disiratkan saja. Dalam kedua peristiwa ini, kehidupan dan kematian diperhadapkan kepada kita. Namun, hukum (Taurat) itu tampaknya lebih berfungsi untuk menekankan kematian, yakni untuk menjauhkan kita dari dosa. Tetapi, Injil berfungsi sebagai pemberi kehidupan, untuk menarik kita ke­pada Kristus, yang hanya di dalam diri-Nya saja segala kebaik­an akan diperoleh. Orang-orang yang telah melihat berbagai ke­sembuhan mulia yang dibuat tangan-Nya (4:23-24), dan se­ka­­rang mendengar kata-kata mulia yang di­ucap­kan-Nya, akan berkata bahwa Dia sepenuhnya adalah kasih dan manis.
(4)          Khotbah-Nya dirancang untuk menetapkan dan meringkaskan pasal-pasal kesepakatan antara Allah dan manusia. Jangkau­an dari penyataan ilahi itu adalah untuk memberitahu­kan kita mengenai apa yang diharapkan Allah dari kita dan apa yang kemudian boleh kita harapkan dari-Nya. Dan selain dalam khot­bah ini, tidak ada tempat lain lagi di mana semuanya ini dirumuskan dengan begitu lengkap, dan semuanya dihubung­kan dengan tepat satu sama lainnya. Inilah Injil yang perlu kita percayai, karena apalah artinya iman kalau tidak ada per­sesuai­an dengan sifat-sifat yang diuraikan dalam khotbah ini dan kalau tidak ada kebergantung­an pada janji-janji ini? Di sini, jalan menuju kebahagiaan dibuka dan dijadikan jalan raya (Yes. 35:8), dan ini keluar dari mulut Yesus Kristus, yang mengisyaratkan bahwa dari Dia dan oleh Dia-lah kita akan me­­ne­­rima baik benih maupun buahnya, baik anugerah yang diperlukan maupun kemuliaan yang dijanjikan. Tidak ada yang dapat melintas di antara Allah dan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa kecuali melalui tangan-Nya. Berbeda dari kebanyakan orang, beberapa orang kafir yang bijaksana memi­liki pemahaman mengenai hidup yang diberkati dan tampak mendekati pengertian yang diberikan Penyelamat kita. Seneca, misalnya, yang berusaha menggambarkan apa itu orang yang di­berkati atau berbahagia, berpendapat bahwa hanya orang yang jujur dan baik yang dapat disebut demikian, De Vita Beata (bab 4). Cui nullum bonum malumque sit, nisi bonus malusque animus – Quem nec extollant fortuita, nec frangant – Cui vera voluptas erit voluptatum contemplio – Cui unum bonum honestas, unum malum turpitudo. – Bagi orang (yang diberkati atau berbahagia) tersebut, tidak ada yang baik atau jahat, yang ada hanyalah hati yang baik atau jahat – Baginya tidak ada kejadian yang bisa membuatnya menjadi sombong atau jatuh – Yang kesenangan sejatinya adalah menganggap hina kese­nang­­­an – Baginya satu-satunya hal yang baik adalah kebajik­an, dan satu-satunya kejahatan adalah perbuatan keji.

Di sini Juruselamat kita memberikan delapan sifat orang yang diberkati atau berbahagia, yang melambangkan kebaik­an-kebaikan utama orang Kristen. Untuk setiap sifat itu, suatu berkat atau kebahagiaan untuk masa kini dinyatakan, berba­hagia­lah orang yang, dan untuk masing-masing juga dijanji­kan suatu berkat untuk masa akan datang, yang diungkapkan dengan berbagai cara yang sesuai dengan sifat kebaikan atau kewajiban yang disarankan untuk dilaku­kan.

Jadi, siapakah sebenarnya yang disebut berbahagia? Jawabannya adalah:

I.           Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang berbaha­gia (ay. 3). Ada kemiskinan rohani yang begitu menghalangi orang menerima berkat atau kebahagiaan, sehingga merupakan dosa dan jerat, seperti kekecutan hati dan ketakutan mendasar, serta kesediaan untuk menyerah pada hawa nafsu. Namun, kemiskinan jiwa yang disebut di sini adalah suatu keadaan jiwa yang mulia, di mana kita dikosongkan agar dapat diisi oleh Yesus Kristus. Men­jadi miskin di hadapan Allah berarti:

1.           Merasa puas di tengah kemiskinan, bersedia dikosongkan dari kekayaan duniawi jika hal itu menjadi kehendak Allah bagi kita, dan menilik keadaan kita saat kita sedang dalam kondisi yang kurang. Di dunia ini banyak orang yang miskin tetapi penuh keangkuhan, miskin dan sombong, dan menggerutu dan mengeluh, serta mempersalahkan nasib mereka. Namun, kita harus menyesuaikan diri dengan kemiskinan kita, kita harus tahu apa itu kekurangan (Flp. 4:12). Sambil mengakui kebijaksanaan Allah yang menentukan kita mengalami kemis­kin­an, kita harus tetap merasa nyaman, sabar menanggung kesukaran yang disebabkan kemiskinan itu, mensyukuri apa yang ada pada kita, dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Ini berarti merasa tidak terikat pada semua kekayaan duniawi, tidak mencondongkan hati kita kepadanya, tetapi dengan se­nang hati menanggung kerugian dan kekecewaan yang mung­kin menimpa kita ketika sedang dalam kemakmuran. Ini bukan berarti membuat diri miskin karena terdorong kesom­bong­an dan kemunafikan, dengan membuang semua yang di­berikan Allah kepada kita, seperti halnya yang dilakukan seba­gi­an umat Kristen tertentu yang berikrar untuk hidup mis­kin, namun masih terpikat dengan berbagai kekayaan. Jika kita kaya di dunia, kita harus miskin di hadapan Allah. Arti­nya, kita harus bersikap rendah hati terhadap orang miskin dan ikut mera­sakan perasaan mereka, misalnya tersentuh oleh kelemah­an mereka. Kita harus bersiap menghadapi ke­mis­kin­an, tidak boleh takut atau menghindarinya secara ber­lebih­an, melain­kan harus menyambutnya, terutama ketika ke­mis­­kinan itu menimpa kita untuk menjaga agar hati nurani kita tetap terpelihara (Ibr. 10:34). Ayub seorang yang miskin di hadapan Allah, ketika ia memuji Allah karena mengambil, maupun memberi.
2.           Bersikap rendah hati di mata kita sendiri. Menjadi miskin di hadapan Allah berarti berpikir sederhana mengenai diri sen­diri, siapa kita, apa yang kita miliki dan lakukan. Dalam Per­jan­jian Lama, orang miskin sering kali menjadi gambaran orang rendah hati dan menyangkal diri, kebalikan dari orang-orang yang hidup nyaman dan sombong. Miskin di hadapan Allah berarti kita melihat diri sendiri seperti kanak-kanak, lemah, bodoh, dan tidak berarti (18:4; 19:14). Jemaat Laodikia miskin dalam hal-hal rohani, melarat dan malang, namun me­re­ka merasa kaya dalam batin mereka, begitu berlimpah de­ngan harta sehingga merasa tidak kekurangan apa-apa (Why. 3:17). Di pihak lain, Paulus kaya dalam hal-hal rohani, unggul dalam hal karunia dan anugerah, namun merasa miskin di hadapan Allah, yang paling hina dari semua rasul, lebih ren­dah daripada yang paling hina di antara semua orang suci, dan sama sekali tidak berguna menurut pengakuannya sen­diri. Miskin di hadapan Allah berarti memandang hina diri sen­diri dengan cara yang kudus, menghargai orang lain, dan menganggap diri tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Ini berarti bersedia membuat diri tampak tidak berharga, biasa saja, dan kecil untuk melakukan kebaikan, untuk menjadi segala-galanya bagi semua orang. Ini berarti mengakui bahwa Allah besar dan kita kecil, bahwa Dia kudus dan kita berdosa, bahwa Dia segalanya dan kita sama sekali tidak ada apa-apanya, lebih rendah dan lebih buruk daripada segalanya, dan kita harus merendahkan diri di hadapan-Nya serta berada di bawah tangan-Nya yang penuh kuasa.
3.           Miskin di hadapan Allah berarti menanggalkan seluruh rasa keyakinan diri terhadap kebenaran dan kekuatan kita sendiri, supaya dengan demikian kita dapat mengandalkan kebaikan Kristus saja untuk membenarkan kita, dan mengandalkan Roh serta anugerah-Nya untuk pengudusan kita. Hati pemungut cukai yang patah dan remuk penyesalan saat memohon belas kasihan karena merasa diri sebagai orang berdosa itulah yang disebut miskin di hadapan Allah. Kita harus menyebut diri kita miskin di hadapan Allah, karena selalu menginginkan anu­gerah Allah, senantiasa memohon kepada Allah, dan selalu bergantung pada-Nya.

Sekarang perhatikanlah:

(1)        Kemiskinan di hadapan Allah ini ditempatkan pada urutan pertama di antara semua kebaikan Kristen. Para filsuf tidak mem­perhitungkan kerendahan hati sebagai salah satu kebajikan moral mereka, tetapi Kristus menempat­kan­nya di urutan pertama. Penyangkalan diri adalah pelajaran per­tama yang harus dipelajari di sekolah-Nya, dan miskin di hadapan Allah dijadikan ucapan bahagia pertama dalam khotbah-Nya. Dasar bagi semua anugerah lainnya adalah kerendahan hati. Orang-orang yang hendak membangun sampai tinggi harus mengawalinya dari bawah. Kerendahan hati merupakan persiapan yang sangat istimewa untuk ma­suk­nya anugerah Injil ke dalam jiwa, bagaikan tanah yang siap menerima benih. Orang-orang yang letih lesu dan ber­be­ban berat, mereka inilah yang miskin di hadapan Allah, dan mereka akan menemukan kelegaan bersama Kristus.
(2)        Mereka berbahagia atau diberkati. Di dunia ini mereka meng­­alami hal tersebut. Allah memandang mereka dengan penuh belas kasihan. Mereka adalah anak-anak kesa­yang­an-Nya, dan memiliki malaikat masing-masing. Ia mem­beri­kan lebih banyak anugerah kepada mereka. Mereka men­jalani kehidupan yang paling nyaman, merasa nyaman, baik dengan diri sendiri maupun dengan segala sesuatu di sekeliling mereka, dan tidak kekurangan apa pun. Sebalik­nya, mereka yang berjiwa sombong akan selalu merasa tidak tenang.
(3)        Merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Kerajaan anuge­rah terdiri dari orang-orang yang demikian. Hanya mereka sajalah yang cocok untuk menjadi anggota gereja Kristus, yang disebut kumpulan orang-orang yang tertindas (Mzm. 74:19). Kerajaan kemuliaan itu dipersiapkan bagi mereka. Orang-orang yang merendahkan diri seperti ini, yang me­ma­tuhi Allah saat Ia merendahkan mereka, akan ditinggi­kan. Jiwa congkak dan sombong akan musnah bersama ke­muliaan segala kerajaan di bumi. Namun, jiwa yang ren­dah hati, lemah lembut, dan patuh akan mem­peroleh ke­mu­liaan Kerajaan Sorga. Kita mudah berpikir bahwa orang-orang kaya yang menikmati kekayaan mereka pastilah yang empunya Kerajaan Sorga, sebab dengan kekayaan itu mereka dapat mengumpulkan harta untuk waktu yang akan datang. Tetapi apa yang dapat dilakukan orang mis­kin yang tidak mempunyai sarana untuk mengerjakan ke­baikan? Oh ketahuilah, kebahagiaan yang sama ini juga dijan­­jikan kepada orang-orang miskin yang merasa puas de­ngan keadaan mereka, seperti halnya kepada orang-orang kaya yang berguna. Jika saya tidak sanggup memberi dengan hati gembira demi Dia karena kekurangan, tetapi dapat menanggung kekurangan dengan hati gembira demi Dia, ini pun akan mendapatkan balas jasa. Bukankah kita melayani Tuan yang baik?

II.          Orang yang berdukacita adalah orang yang berbahagia (ay. 4). Ber­bahagialah orang yang berdukacita. Ini berkat lain yang aneh na­mun sesuai dengan berkat sebelumnya. Orang miskin sudah ter­biasa berdukacita, dan orang yang miskin namun tetap bersyu­kur juga akan berdukacita dengan tetap bersyukur. Kita cende­rung ber­pikir, berbahagialah orang yang bersukacita. Namun, Kristus, yang juga seorang yang sangat berdukacita, berkata, “Ber­­bahagia­lah orang yang berdukacita.” Ada dukacita yang me­ru­pa­kan dosa, yang merupakan musuh bagi berkat – dukacita yang dari dunia, yakni kemurungan karena rasa putus asa atas hal rohani, dan du­ka­­cita teramat sangat atas hal yang bersifat sementara. Ada juga dukacita alami yang bisa mendatangkan berkat, melalui anuge­rah Allah yang bekerja di dalamnya, yang me­nguduskan kesu­sah­an yang membuat kita berduka itu. Na­mun, ada sebuah duka­cita yang benar-benar mulia, yang meme­nuhi syarat untuk men­­dapat berkat, yang menunjukkan suatu kesungguhan, yang me­nunjukkan pikiran yang mematikan kese­nang­an diri, yang merupakan dukacita yang sesungguhnya, yakni:

1.           Dukacita karena menyesali dosa-dosa kita sendiri. Ini adalah dukacita menurut kehendak Allah, dukacita karena berdosa, de­ngan mata yang tertuju kepada Kristus (Za. 12:10). Para pen­duka seperti inilah yang menjadi milik Allah, yang men­jalani hidup yang penuh pertobatan, yang meratapi natur me­reka yang rusak dan semua pelanggaran mereka yang banyak, yang menyadari bahwa Allah telah menjauh dari mereka. Me­reka juga, demi kehormatan Allah, berkabung atas dosa-dosa orang lain dan berkeluh kesah karena segala perbuatan-per­buat­an keji (Yeh. 9:4).
2.           Perkabungan yang penuh tenggang rasa atas kesusahan orang lain, yakni perkabungan orang-orang yang menangis dengan orang yang menangis, yang berdukacita atas malapetaka, atas kehancuran Sion (Zef. 3:18; Mzm. 137:1), dan terutama lagi per­­kabungan yang memandang jiwa-jiwa yang akan binasa dengan penuh belas kasihan, yang meratapi mereka, seperti Kristus menangisi Yerusalem.

Para penduka yang mulia ini

(1)        Berbahagia. Sama seperti dalam tawa yang sia-sia dan pe­nuh dosa, hati dapat merana, demikian pula dalam duka­cita yang penuh anugerah, hati dipenuhi dengan sukacita dan kepuasan yang orang lain tidak dapat turut merasa­kan­nya. Mereka berbahagia, sebab mereka seperti Tuhan Yesus, seorang yang penuh dukacita, yang tidak pernah kita baca bahwa Ia tertawa, melainkan sering kali justru me­nangis. Mereka dipersenjatai untuk melawan berbagai go­daan yang datang bersama kesenangan duniawi yang sia-sia. Mereka juga dipersiapkan untuk menerima peng­hibur­an yang berupa pengampunan yang sudah dimete­rai­kan dan damai sejahtera yang sudah disediakan bagi me­reka.
(2)        Akan dihibur. Walaupun mungkin saja mereka tidak lang­sung dihibur, sejumlah besar penghiburan sudah disiap­kan untuk mereka. Terang sudah tersedia bagi mereka, dan di sorga pastilah mereka akan dihibur, seperti Lazarus (Luk. 16:25). Perhatikanlah, kebahagiaan sorgawi itu merupakan keadaan di mana orang menjadi terhibur secara sempurna dan kekal, serta keadaan di mana segala air mata dihapus dari mata mereka. Ini adalah sukacita karena Tuhan, suka­cita dan kesenangan penuh untuk selama-lamanya, yang akan terasa manis berlipat ganda bagi orang-orang yang te­lah dipersiapkan melalui dukacita menurut kehendak Allah itu. Sorga akan menjadi sorga yang sesungguhnya bagi me­reka yang sekarang ini berdukacita. Sorga akan menjadi tem­pat tuaian sukacita, upah bagi mereka yang menabur de­ngan air mata (Mzm. 126:5-6). Sorga akan menjadi gu­nung sukacita, ke sanalah jalan kita, menuju dengan mele­wati lembah air mata (Yes. 66:10).

III.         Orang yang lemah lembut adalah orang yang berbahagia (ay. 5). Berbahagialah orang yang lemah lembut. Orang yang lemah lem­but adalah mereka yang dengan tenang tunduk kepada Allah, kepada perkataan-Nya, dan kepada tongkat-Nya. Mereka meng­ikuti petunjuk-Nya, menaati rancangan-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang (Tit. 3:2). Mereka mampu me­nang­gung hasutan tanpa terbakar kemarahan olehnya, bersikap diam atau menanggapi dengan jawaban lembut. Mereka dapat me­nun­juk­kan rasa tidak senang bila memang ada alasan untuk itu, tan­pa terseret ke dalam sikap yang tidak pantas. Mereka tetap ber­ke­pala dingin ketika yang lain terbakar emosi, dan dengan sabar menguasai jiwa mereka sendiri saat nyaris tidak mempunyai apa pun. Mereka inilah yang disebut lemah lembut, yang jarang dan hampir tidak pernah dapat dihasut, malah sebalik­nya, mereka ce­pat dan mudah ditenangkan. Karena mampu mengendalikan diri, mereka lebih suka memaafkan dua puluh perlakuan buruk dari­pada membalas dendam atas salah satunya.

Di sini, orang-orang yang lemah lembut ini digambarkan seba­gai orang yang berbahagia, sekalipun di dunia ini.

1.           Mereka berbahagia, atau diberkati, sebab mereka serupa de­ngan Yesus yang diberkati, dan dalam hal itu mereka harus belajar dari-Nya (11:29). Mereka serupa dengan Allah yang ter­ber­kati itu sendiri, yang adalah Tuan atas amarah-Nya, dan yang tidak dikuasai murka. Mereka berbahagia, sebab mereka memiliki penghiburan yang paling nyaman dan tidak tergang­gu, yang berasal dari diri sendiri, dari sahabat-sahabat, dan dari Allah mereka. Orang-orang ini selalu merasa cocok de­ngan hubungan, keadaan, dan teman mana pun. Mereka co­cok untuk hidup, dan cocok pula untuk mati.
2.           Mereka akan memiliki bumi. Kata-kata ini dikutip dari Mazmur 37:11, dan hampir merupakan satu-satunya janji duniawi yang sementara sifatnya yang terdapat di dalam seluruh Per­jan­jian Baru. Bukan berarti bahwa mereka akan selalu me­mi­liki sebagian besar dari bumi ini. Besar kemungkinan mereka justru tidak akan memilikinya. Sebaliknya, bentuk kesalehan ini, dalam cara yang khusus, memiliki janji tentang hidup yang sekarang ini. Sikap lemah lembut, sekalipun dihina dan diren­dahkan seperti apa pun, cenderung dapat mening­kat­kan kese­hat­an, kekayaan, kenyamanan, dan keamanan kita, bah­kan di dunia ini. Orang yang lemah lembut dan tenang tampak men­jalani kehidupan yang paling mudah, dibandingkan orang yang lancang dan penuh pergolakan. Atau, mereka akan me­mi­liki negeri (begitulah yang dapat ditafsirkan), tanah Kanaan, yang merupakan bayang-bayang dari sorga. Dengan demikian se­gala berkat dari sorga di atas, dan segala berkat di bumi yang di bawah, merupakan bagian orang yang lemah lembut.

IV.         Mereka yang lapar dan haus akan kebenaran adalah orang yang berbahagia (ay. 6). Beberapa orang menangkap perkataan ini se­ba­gai contoh selan­jut­nya mengenai kemiskinan lahiriah kita dan keadaan buruk dunia ini, yang bukan saja memperhadapkan ma­nu­sia kepada kerugian dan kesalahan, namun membuat mereka men­cari keadilan dengan sia-sia. Mereka lapar dan haus akan keadil­an, tetapi kekuatan para penindas mereka begitu besar se­hing­­ga mereka tidak dapat memperoleh keadilan itu. Mereka ha­nya mendambakan keadilan dan persamaan hak, namun dicegah oleh orang-orang yang tidak takut akan Allah dan tidak meng­hor­mati manusia. Ini benar-benar hal yang menyedihkan! Namun demikian, berbahagialah mereka, jika mereka menderita berbagai kesusahan ini untuk dan dengan hati nurani yang baik. Biarlah mereka berharap kepada Allah yang akan menegakkan keadilan dan mendatangkan kebenaran, serta membebaskan si malang dari para penindas mereka (Mzm. 103:6). Orang-orang yang me­nang­­gung penindasan dengan hati puas dan dengan tenang, da­tang kepada Allah untuk menyampaikan persoalan mereka, pada waktunya nanti akan dipuaskan dengan luar biasa dalam hikmat serta kebaikan yang akan diperlihatkan melalui penam­pakan-Nya kepada mereka. Namun, sudah tentu kebenar­an di sini harus di­pa­hami secara rohani, yaitu suatu keinginan yang luhur akan pe­ker­jaan anugerah Allah bagi jiwa, yang membuat orang menjadi layak menerima berkat-berkat dari karunia ilahi.

1.           Kebenaran yang dimaksudkan di sini adalah semua berkat ro­hani (Mzm. 24:5; Mat. 6:33). Semuanya ini dibeli untuk kita melalui kebenaran Kristus, yang disampaikan dan ditegaskan de­ngan memperhitungkan kebenaran itu sebagai milik kita, ser­­ta diperkuat oleh kesetiaan Allah. Melalui pengorbanan Kristus, Allah membenarkan kita dan di dalam Dia kita dibe­nar­kan oleh Allah, agar manusia diperbarui seutuhnya dalam kebenaran, sehingga menjadi manusia baru yang menyandang gambar Allah dan memiliki bagian di dalam Kristus dan janji-janji-Nya – inilah kebenaran itu.
2.            Kita harus lapar dan haus akan hal-hal ini. Kita harus benar-benar merindukan hal-hal ini seperti orang yang lapar dan haus merindukan makanan dan minuman, yang tidak dapat di­puaskan kecuali dengan makanan dan minuman, dan baru merasa puas dengan hal-hal ini meskipun masih kekurangan akan hal-hal lainnya. Kerinduan kita akan berkat-berkat ro­hani harus sungguh-sungguh dan sangat mendesak. “Beri­kan­lah ini kepadaku; kalau tidak, aku akan mati; semua hal lain adalah sampah dan sekam, tidak memuaskan. Berikanlah ber­kat-berkat rohani ini kepadaku, maka puaslah aku, meskipun yang lainnya tidak aku miliki.” Lapar dan haus merupakan selera yang sering berulang kembali dan membutuhkan pe­muas­an yang segar. Juga, keinginan-keinginan kudus tidak se­lama­nya puas dengan apa yang sudah didapatkan, melain­kan men­cari meminta pengam­pun­an baru, dan curahan anu­ge­rah yang segar setiap hari. Jiwa yang disegarkan senantiasa membu­tuh­kan makan­an kebenaran dan anugerah untuk melak­sanakan peker­jaan hari lepas hari, sama seperti tubuh jasmani mem­bu­tuh­­kan makanan. Bila orang yang lapar dan haus harus be­ker­ja keras untuk mendapatkan persediaan, demi­kian pula kita tidak boleh hanya menginginkan berkat-berkat rohani saja, me­lainkan juga harus bersusah payah untuk mendapatkannya dengan menggunakan berbagai sa­rana yang telah ditetapkan. Dalam Katekismus praktisnya, Dr. Hammond membedakan an­tara lapar dan haus. Lapar adalah keinginan akan makanan supaya tetap bertahan, seperti mi­sal­nya kebenaran yang me­ngu­­duskan. Haus adalah ke­inginan akan minuman untuk me­nye­garkan, seperti misalnya kebenar­an yang membenarkan dan perasaan diampuni.

Orang-orang yang lapar dan haus akan berkat-berkat ro­hani, berbahagia dengan keinginan-keinginannya itu dan akan dipuaskan dengan berkat-berkat itu.

(1)        Mereka berbahagia dalam keinginan-keinginan itu. Walau­pun tidak semua keinginan akan anugerah merupakan anu­gerah (keinginan yang dibuat-buat dan samar bukanlah anugerah), keinginan akan berkat-berkat rohani seperti ini merupakan anugerah, karena keinginan tersebut mengan­dung suatu bukti akan sesuatu yang baik dan mengandung suatu kesungguhan akan sesuatu yang lebih baik. Ini ada­lah keinginan yang dibangkitkan oleh Allah sendiri, dan Ia tidak akan meninggalkan karya tangan-Nya sendiri. Bagai­mana­pun, jiwa akan selalu merasa lapar dan haus akan se­suatu. Oleh sebab itu orang-orang yang mengaitkan lapar dan haus diri pada perkara yang benar, yang memuaskan dan tidak memperdayakan, dan yang tidak menginginkan abu (Am. 2:7; Yes. 55:2), mereka akan diberkati.
(2)        Mereka akan dipenuhi dengan berkat-berkat itu. Allah akan mem­berikan apa yang mereka rindukan guna melengkap­kan kepuasan mereka. Hanya Allah sendirilah yang mampu mengisi jiwa. Anugerah dan perkenan-Nya cukup bagi ke­ingin­an yang benar, dan Ia akan memenuhi orang-orang itu dengan kasih karunia demi kasih karunia (anugerah demi anugerah), karena mereka telah mengosongkan diri dan meng­alami kepenuhan-Nya. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar (Luk. 1:53), membuat segar mereka (Yer. 31:25). Kebahagiaan sorga pasti akan meme­nuhi jiwa. Kebenaran mereka akan menjadi lengkap, begitu pula mereka akan mengalami perkenan dan gambaran Allah dalam segala kesempurnaannya.

Orang yang murah hatinya adalah orang berbahagia (ay. 7). Ayat ini, sama seperti yang lainnya, bersifat paradoks, sebab orang yang murah hati biasanya tidak akan dianggap sebagai orang yang sangat bijak, dan juga tidak akan mungkin bisa menjadi yang terkaya, namun Kristus menyebut mereka berbahagia. Me­re­ka adalah orang-orang yang murah hati, yang saleh dan derma­wan dalam menaruh belas kasihan, menolong, dan membantu orang-orang yang ditimpa kemalangan. Untuk menjadi orang yang benar-benar murah hati, seseorang tidak perlu memiliki kekayaan yang berlimpah, karena yang diterima Allah adalah hati yang ber­sedia memberi. Tidaklah cukup bagi kita untuk hanya me­nang­gung penderitaan sendiri dengan sabar, tetapi lebih dari itu, kita juga, sebagai orang Kristen yang penuh simpati, harus turut meng­ambil bagian dalam penderitaan saudara-saudara kita. Rasa belas kasihan harus diperlihatkan (Ayb. 6:14), dan belas kasihan harus dikenakan (Kol. 3:12), dan setelah dikenakan, harus tam­pak da­lam memberi semampu kita guna membantu orang-orang yang ditimpa kemalangan. Kita harus menaruh belas kasihan pada jiwa-jiwa lain dan menolong mereka. Kita harus iba terhadap orang bebal dan menasihati mereka; iba terhadap orang yang lalai dan memperingatkan mereka; iba terhadap orang-orang berdosa, dan menarik mereka seperti puntung yang ditarik dari api. Kita harus menaruh belas kasihan terhadap orang-orang yang murung dan berduka, serta menghibur hati mereka (Ayb. 16:5). Terhadap orang-orang yang memanfaatkan kita, janganlah bersikap kasar dan keras terhadap mereka. Terhadap orang-orang yang berkeku­rang­an, kita penuhi kebutuhan mereka. Jika kita menolak mela­ku­kan semuanya ini, maka apa pun yang kita perbuat, sama saja dengan menutup pintu hati kita (Yak. 2:15-16; 1Yoh. 3:17). Serah­kan dan pecah-pecahkan rotimu bagi orang yang lapar (Yes. 58:7, 10). Tetapi bukan hanya itu saja, orang benar memper­hati­kan hidup hewannya.

Sekarang mengenai orang yang murah hatinya.

1.            Mereka berbahagia, begitulah dikatakan dalam Perjanjian Lama. Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah (Mzm. 41:2). Dalam hal ini mereka menyerupai Allah, yang kebaikan-Nya adalah kemuliaan-Nya. Dengan menjadi orang yang murah hati seperti Dia yang penuh kemurahan hati, maka kita juga menjadi sempurna, sesuai dengan ukuran kita, sama seperti Dia yang sempurna adanya. Tindakan murah hati ini ada­lah bukti kasih akan Allah. Kita akan memuaskan hati kita sendiri bila kita menjadi alat demi kebaikan orang lain dalam hal apa saja. Salah satu kesukaan hati yang paling murni dan sempurna di dunia ini adalah berbuat baik. Di dalam kata-kata Berbahagialah orang yang murah hatinya, tercakup ucapan Kristus, yang tidak kita temukan dalam keempat Injil, bahwa adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kis. 20:35).
2.            Mereka akan beroleh kemurahan. Kemurahan dari sesama saat mereka membutuhkannya. Siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum (kita tidak tahu kapan kita akan mem­bu­tuh­kan kebaikan hati orang, dan karena itu kita patut berbuat baik). Terutama, kita harus bermurah hati terhadap Allah, sebab terhadap orang yang setia Dia berlaku setia (Mzm. 18:26). Orang yang murah hatinya dan dermawan tidak akan ber­sikap pura-pura dalam berbuat baik, sebaliknya, ia akan bergegas dalam menunjukkan belas kasihannya. Orang yang murah hati akan mendapat balasan belas kasihan dari Allah (6:14), belas kasihan yang memenuhi kebutuhannya pada saat diperlukan (Ams. 19:17), belas kasihan yang memelihara (Mzm. 41:3), dan belas kasihan pada hari-Nya nanti (2Tim. 1:18). Sedangkan mereka yang tidak berbelas kasihan akan mem­peroleh penghakiman yang tidak mengenal rasa belas ka­sih­an (yang hanya dapat berarti api neraka).

Orang yang suci hatinya adalah orang yang berbahagia (ay. 8). Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan meli­hat Allah. Ini adalah ucapan bahagia yang paling menyeluruh, yang meliputi semua hal. Di sini kekudusan dan kebahagiaan di­jelaskan dan dipersatu­kan dengan sangat sempurna.

1.           Ucapan bahagia ini menggambarkan watak yang paling menye­lu­ruh dari orang yang berbahagia, yaitu mereka suci hatinya. Perhatikanlah, ibadah yang sejati terletak pada kesucian hati. Orang-orang yang suci batinnya memperlihat­kan bahwa me­re­ka berada di bawah kuasa ibadah yang murni dan yang tidak bercacat. Kekristenan sejati terletak pada hati, pada kesucian hati, dan pada pembersihan hati dari kejahatan (Yer. 4:14). Kepada Allah kita harus mengangkat bukan saja tangan yang bersih, namun juga hati yang murni (Mzm. 24:4-5; 1Tim. 1:5). Hati kita harus murni, tidak boleh bercampur dengan yang lain – hati yang tulus yang tertuju kepada yang baik. Murni, ke­ba­lik­an dari pencemaran dan penajisan, seperti anggur asli yang tidak dicampur, atau air jernih yang tidak bercampur lumpur. Hati harus dijaga agar tetap murni dari keinginan-keinginan nafsu daging, segala pikiran dan keinginan kotor, dan dari keinginan-keinginan nafsu duniawi, dari ketamakan dan kese­ra­kahan, dari segala kekotoran daging dan roh yang keluar dari hati dan yang menajiskan. Hati haruslah dimurni­kan oleh iman dan sepenuhnya untuk Allah. Hati harus diper­sem­bah­kan dan dijaga seperti perawan yang suci bagi Kristus. Jadi­kan­lah hatiku tahir, ya Allah!
2.          Dalam ucapan bahagia ini terkandung penghiburan paling me­nye­luruh bagi orang yang berbahagia. Mereka akan melihat Allah. Perhatikanlah:

(1)        Sungguh merupakan kebahagiaan sempurna bagi jiwa un­tuk melihat Allah. Dengan melihat-Nya, yang boleh kita la­ku­kan sekarang melalui iman, kita seperti mengalami sorga di bumi, dan kita juga akan melihat-Nya kelak di dalam sorga segala sorga. Kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, muka dengan muka, dan bukan me­lalui cermin yang kabur lagi. Kita akan melihat Dia sebagai milik kita, dan melihat Dia serta menikmati-Nya. Kita akan melihat Dia dan menjadi serupa dengan-Nya, ser­ta menjadi puas dengan keserupaan itu (Mzm. 17:15). Kita akan me­man­­dang-Nya untuk selamanya dan tidak akan pernah kehi­langan pandangan kita akan Dia lagi. Inilah kebahagia­an sorgawi.
(2)        Kebahagiaan untuk melihat Allah hanya dijanjikan kepada orang-orang, ya, hanya kepada mereka, yang suci hatinya. Tidak seorang pun kecuali yang suci yang mampu melihat Allah, dan kebahagiaan ini bukanlah untuk mereka yang tidak suci. Kesenangan apa yang bisa diperoleh jiwa yang belum disucikan bila memandang Allah yang suci? Sama seperti Dia tidak tahan melihat kejahatan mereka, begitu pula mereka tidak akan tahan melihat kesucian-Nya. Tidak ada hal najis yang akan masuk ke dalam Yerusalem baru. Namun semua orang yang suci hatinya, yang benar-benar disuci­kan, memiliki keinginan dalam diri mereka yang ha­nya dapat dipuaskan dengan melihat Allah, dan anugerah ilahi tidak akan membiarkan keinginan-keinginan itu tidak dipuaskan.

VII.       Orang yang membawa damai adalah orang yang berbahagia (ay. 9). Hikmat yang datang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai. Orang-orang yang berbahagia atau di­ber­kati adalah orang-orang yang murni di hadapan Allah, dan ber­damai dengan sesama manusia, sebab berkenaan dengan kedua hal tersebut, hati nurani haruslah tetap murni (Kis. 24:16). Orang-orang yang membawa damai adalah mereka yang memi­liki:

1.           Watak cinta damai. Sama seperti orang yang mencintai dusta me­mang terikat pada kebiasaan berdusta, demikian pula mencari damai berarti memiliki kecintaan yang kuat terhadap perdamaian. Aku ini suka perdamaian (Mzm. 120:7). Cinta da­mai berarti mencintai, menginginkan, dan bersukacita de­ngan perdamaian, menjadikannya salah satu unsur dalam diri kita, dan belajar bersikap tenang.
2.          Tutur kata yang penuh damai. Dengan setekun mungkin mem­pertahankan kedamaian agar tidak rusak dan memper­baikinya seandainya terganggu, mendengarkan penawaran perdamaian, serta siap memberikannya kepada orang lain. Jika terjadi perpecahan di antara saudara seiman maupun se­­sama, berbuat sebisa-bisanya untuk mengatasinya dan men­jadi orang yang memperbaiki keretakan. Membawa damai adakalanya merupakan pelayanan yang tidak dihargai de­ngan rasa terima kasih. Tugasnya adalah melerai perteng­kar­an sehingga bisa diserang oleh kedua belah pihak. Namun, pelayanan ini sangatlah baik, dan kita harus berharap dapat melakukannya. Sebagian orang berpendapat bahwa ucapan bahagia ini secara khusus dimaksudkan sebagai pelajaran bagi para pelayan Tuhan yang harus berupaya sedapat mung­­­­kin untuk memperdamaikan orang-orang yang berseli­sih pendapat, dan untuk menunjukkan kasih Kristen di an­tara orang-orang yang ada di bawah tanggung jawab me­reka. Sekarang:

(1)        Orang-orang seperti itulah yang berbahagia, sebab me­re­ka bisa menikmati kepuasan dengan memelihara per­da­mai­an dan benar-benar bisa melayani orang lain dengan memberikan perdamaian kepada mereka. Orang-orang ini bekerja sama dengan Kristus yang datang ke dunia untuk melenyapkan perseteruan, dan untuk memberitakan da­mai di atas bumi.
(2)        Mereka akan disebut anak-anak Allah. Tindakan cinta da­mai itu akan menjadi bukti bagi mereka sendiri bahwa me­reka memang anak-anak Allah. Allah akan mengakui me­­reka sebagai anak-anak-Nya, dan dengan demikian me­­­­reka akan menjadi serupa dengan-Nya. Dia adalah Allah sumber perdamaian. Anak Allah adalah Raja Damai. Roh yang mengangkat manusia sebagai anak adalah Roh damai sejahtera. Karena Allah telah menyatakan bahwa diri-Nya dapat diperdamaikan dengan kita semua, Ia tidak akan mengakui hal tersebut kepada orang-orang yang ber­sike­ras untuk saling memusuhi. Sebab, bila para pen­damai mendapat berkat-Nya, celakalah mereka yang me­ru­sak perdamaian! Dari hal ini tampaklah bahwa Kristus tidak pernah bermaksud agar ajaran-Nya disebar­kan de­ngan menggunakan api dan pedang, atau hukum­an ke­ras, atau dengan pengakuan yang fanatik, atau dengan sema­ngat berlebih­an sebagai ciri khas murid-murid-Nya. Orang-orang dunia­wi sangat senang memancing di air keruh, te­tapi anak-anak Allah adalah pembawa damai, orang-orang yang rukun di negeri.

VIII.       Orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran adalah orang yang berbahagia. Ini adalah paradoks terbesar dari semua paradoks yang ada, dan keunikan yang hanya ada dalam Kekristenan. Oleh sebab itu, ucapan bahagia ini ditempatkan paling akhir, dan lebih banyak ditekankan daripada yang lainnya (ay. 10-12). Ucapan bahagia ini, seperti mimpi Firaun, dilipatgandakan ka­rena nyaris tidak dihargai, padahal hal tersebut sangat pasti. Di bagian terakhir terdapat perubahan pada orang yang dituju, “Berbahagialah kamu – kamu murid-murid dan pengikut-Ku. Kamu­­lah, yang lebih unggul dalam hal kebajikan, yang langsung berkepentingan dalam hal ini. Kamulah yang harus menanggung kesukaran dan persoalan lebih dari yang lainnya.” Perhati­kan­lah, di sini:
1.          Bagaimana keadaan orang-orang kudus yang menderita. Ke­ada­annya amat parah dan menyedihkan.

(1)        Mereka dianiaya, diburu, dikejar, dibunuh bagaikan bina­tang berbahaya, dicari-cari untuk dibinasakan. Seolah-olah orang Kristen itu caput gerere lupinum – memakai kepala serigala, yakni sebutan bagi seorang buronan, se­hingga siapa saja yang menemukannya boleh memban­tai­nya. Mereka dicampakkan bagaikan sampah, didenda, dipen­jarakan, dibuang, dirampas kekayaannya, disingkir­kan dari semua tempat keberuntungan dan kepercayaan, dicambuk, disakiti, disiksa, diserahkan kepada maut, dan diperlakukan sebagai domba yang siap disembelih. Ini ada­lah akibat dari perseteruan keturunan ular itu dengan keturunan yang kudus, mulai dari Habel, orang benar itu. Hal ini juga disebutkan dalam Perjanjian Lama, seperti yang bisa kita baca dalam Ibrani 11:35, dst. Kristus telah memberi tahu kita bahwa hal ini terlebih akan menimpa jemaat Kristen, dan janganlah kita menganggapnya aneh (1Yoh. 3:13). Ia telah meninggalkan teladan bagi kita.
(2)        Mereka dicela dan dianiaya, serta difitnahkan segala yang jahat. Julukan dan sebutan nista dilontarkan kepada me­reka, kepada orang-orang tertentu, dan kepada ketu­run­an orang benar secara umum untuk membuat mereka tam­pak menjijikkan. Terkadang mereka disudutkan sedemi­kian rupa agar dapat diserang habis-habisan. Me­reka di­tun­tut dengan tuduhan yang bahkan tidak mereka keta­hui (Mzm. 35:11; Yer. 20:18; Kis. 17:6-7). Orang-orang yang tadinya tidak berkuasa mencelakakan mereka de­ngan tindakan jahat lain, sekarang mampu melakukan hal ini; dan yang tadinya berkuasa menganiaya, merasa wajib melakukannya juga supaya dengan begitu mereka membenarkan tindakan keji mereka. Supaya bisa menye­rang, mereka memfitnah pada korban. Supaya dapat mem­­perlakukan korban mereka dengan keji, terlebih dulu mereka menampilkan sang korban sebagai orang yang pa­ling jahat. Mereka akan mencela dan menganiaya kamu. Per­hatikanlah, mencela orang-orang yang dikasihi Allah sama saja dengan menganiaya mereka, dan hal ini akan segera diketahui, ketika kata-kata nista harus dipertang­gung­jawabkan (Yud. 15), demikian halnya dengan ejekan-ejekan yang kejam (Ibr. 11:36). Mereka akan melontarkan segala fitnah jahat kepadamu, kadang-kadang sebagai sak­­si yang menentang kamu dalam suatu pengadilan, ada­­kalanya di tengah-tengah kumpulan para pencemooh, bersama orang munafik dan segala pengolok (TL). Mereka bagaikan nyanyian para peminum. Mereka melakukan se­mua­nya ini terkadang dengan berhadapan muka, se­perti Simei mengutuki Daud, adakalanya di balik punggung, seperti yang dilakukan musuh-musuh Yeremia. Perhati­kan­lah, tidak ada kejahatan yang begitu keji dan mengeri­kan yang tidak difitnahkan kepada para murid dan peng­ikut Kristus.
(3) Semuanya ini oleh sebab kebenaran (ay. 10), dan karena Aku (ay. 11). Bila itu terjadi oleh sebab kebenaran, maka itu juga karena Kristus, sebab Ia peduli pada karya kebe­nar­an. Musuh kebenaran adalah musuh Kristus juga. Hal ini menghalangi berkat datang kepada orang-orang yang memang pantas menderita dan yang melaku­kan segala yang jahat. Biarlah orang-orang seperti itu dipermalukan dan dikutuk, karena ini adalah bagian dari hukuman bagi mereka. Bukan penderitaan, melain­kan penyebabnyalah, yang membuat seseorang menjadi martir. Orang-orang itu menderita oleh sebab kebenaran, mereka menderita ka­re­na mereka tidak mau berbuat dosa mela­wan hati nurani mereka, mereka menderita karena berbuat baik. Apa pun dalih yang diajukan para peng­aniaya, kekuatan dalam kesalehanlah yang mereka benci. Sebenarnya Kristus dan kebenaran-Nya-lah yang dimu­suhi, dibenci, dan dianiaya. Oleh karena Engkau, kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku (Mzm. 69:10; Rm. 8:36).

2.          Penghiburan yang disediakan bagi orang-orang kudus yang menderita.

(1)        Mereka berbahagia, sebab sekarang, selagi masih hidup, mereka menerima segala yang buruk (Luk. 16:25), dan menerimanya karena sesuatu yang baik. Mereka berba­hagia, karena ini merupakan kehormatan bagi mereka (Kis. 5:41). Mengalami berkat merupakan kesempatan un­tuk memuliakan Kristus, untuk melakukan kebaikan, meng­­­alami penghiburan istimewa, dan lawatan anugerah ser­­­ta tanda kehadiran-Nya (2Kor. 1:5; Dan. 3:25; Rm. 8:29).
(2)        Mereka akan mendapat upah. Kerajaan Sorga akan men­jadi milik mereka. Pada masa sekarang ini pun mereka su­dah mendapat kepastian mengenai hal ini dan merasa­kan cicipan manisnya lebih dulu, dan tidak lama lagi mereka akan memperolehnya dengan seutuhnya. Walau­pun tidak ada sesuatu pun dalam semua penderitaan itu yang secara langsung dapat membawa keuntungan bagi Allah (sebab dosa yang dilakukan oleh orang yang terbaik sekalipun layak mendapatkan yang terburuk), namun di sini dijanjikan upah yang besar (ay. 12). Upahmu besar di sorga. Begitu besar, sehingga jauh melebihi pelayanan yang mereka berikan. Upah itu berada di sorga, di masa mendatang, dan tidak tampak, namun aman dan di luar jangkauan bahaya, kecurangan, dan kekerasan. Perhati­kan­lah, Allah menjamin bahwa orang-orang yang men­de­rita kerugian demi Dia, walau itu nyawa sekalipun, pada akhirnya nanti tidak akan menderita kerugian oleh Dia. Akhirnya, sorga akan menjadi upah yang melimpah bagi semua kesukaran yang kita jumpai dalam hidup. Inilah yang membuat para orang kudus dari segala zaman dapat bertahan dalam penderitaan – karena sukacita yang dite­tap­kan bagi mereka ini.
(3)        Demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu (ay. 12). Mereka ada sebelum kamu dalam hal ke­ung­­gulan, melebihi apa yang telah kamu capai. Mereka ada sebelum kamu dalam hal waktu, agar bisa menjadi tela­dan bagimu dalam hal penderitaan dan kesabaran (Yak. 5:10). Mereka juga telah dianiaya dan disiksa, jadi, ma­sakan kamu mau berharap masuk sorga dengan cara­mu sendiri? Bukankah Yesaya dihina karena Ia selalu mengatakan mesti begini mesti begitu? Juga Elisa karena ke­pala botaknya? Bukankah semua nabi diperlakukan se­perti itu? Oleh sebab itu janganlah engkau heran seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa, jangan kamu bersungut-sungut seolah-olah itu sesuatu yang sukar. Sung­guh suatu penghiburan untuk memandang jalan pen­de­ri­ta­an sebagai jalan yang sudah ditaklukkan, dan mene­rima se­ba­gai suatu kehormatan untuk mengikuti para pe­mim­pin seperti itu. Anugerah yang sama yang telah cukup bagi mereka untuk dapat bertahan dalam penderitaan, juga akan sama cukupnya bagi kamu dalam menghadapi pen­deri­taan. Orang-orang yang memusuhi­mu adalah ke­tu­run­­an dan pengganti mereka yang dahulu menghina para pembawa berita dari Tuhan (2Taw. 36:16; Mat. 23:31; Kis. 7:52).

13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memulia­kan Bapamu yang di sorga.”

Belum lama ini Kristus memanggil murid-murid-Nya dan memberi­ta­hu­­­kan bahwa mereka akan menjadi penjala manusia. Di sini Ia lebih lanjut menyampaikan apa yang menjadi rancangan-Nya bagi me­reka – garam dunia, dan terang dunia, agar mereka benar-benar menjadi seperti yang diharapkan-Nya itu.

I.           Kamu adalah garam dunia. Kata-kata ini akan mendorong dan me­nyokong mereka saat mengalami penderitaan, agar, sekalipun diper­lakukan hina, mereka harus tetap menjadi berkat bagi du­nia, lebih-lebih ketika sedang di tengah-tengah penderitaan. Para nabi yang ada sebelum mereka adalah garam bagi tanah Kanaan, tetapi para rasul adalah garam bagi seluruh bumi, sebab mereka harus pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil. Tampaknya me­reka berkecil hati karena jumlah mereka begitu sedikit dan lemah. Apa yang mampu mereka lakukan di kawasan yang begitu luas seperti seluruh muka bumi ini? Tidak ada, jika mereka harus bekerja dengan menggunakan kekuatan senjata dan pedang se­mata. Namun, dengan bekerja tanpa suara seperti garam, maka segenggam garam itu akan menyebarkan rasanya ke mana-mana, menjangkau daerah yang luas, dan bekerja tanpa terasa dan tan­pa penolakan seperti bekerjanya ragi (13:33). Pengajaran Injil itu seperti garam, yang menembus, cepat dan sangat kuat (Ibr. 4:12). Ia menjangkau hati (Kis. 2:37). Ia membersihkan, mengharumkan, dan mengawetkan supaya tidak busuk. Kita membaca mengenai keharuman pengenalan akan Kristus (2Kor. 2:14), sebab selain pengenalan akan Kristus, pengetahuan lainnya hanyalah hambar saja rasanya. Perjanjian yang kekal disebut perjanjian garam (Bil. 18:19), dan Injil itu sendiri adalah Injil yang kekal. Garam me­ru­pa­kan syarat dalam semua korban persembahan (Im. 2:13), juga dalam Bait Suci Yehezkiel (Yeh. 43:24). Sekarang, setelah belajar sendiri tentang pengajaran Injil dan diutus untuk meng­ajarkan­nya kepada orang lain, murid-murid Kristus menjadi seperti ga­ram. Perhatikanlah, orang-orang Kristen, terutama para pelayan Tuhan, adalah garam dunia.

1.          Jika mereka berlaku seperti seharusnya, mereka seperti garam yang baik, putih bersih, halus, dan dihancurkan menjadi bu­tir-butir, namun sangat berguna dan diperlukan. Pliny ber­kata, Sine sale, vita humana non potest degere – Tanpa garam, hidup manusia tidak dapat dipertahankan. Lihatlah dalam hal ini:

(1)         Seperti apa mereka seharusnya dalam diri mereka – di­asin­kan dengan Injil, dengan garam anugerah. Segala pikiran dan perasaan, perkataan serta perbuatan, semua­nya harus diasinkan dengan anugerah (Kol. 4:6). Hendaklah kamu se­lalu mempunyai garam dalam dirimu, sebab jikalau tidak, ka­mu tidak akan dapat menyebarkannya ke orang lain (Mrk. 9:50).
(2)         Seperti apa mereka seharusnya bagi orang lain. Mereka bu­kan saja harus menjadi baik, tetapi juga berbuat baik. Me­re­ka harus bisa membuat diri mereka diterima dalam pi­kir­an orang-orang, bukan untuk melayani minat duniawi diri sendiri, tetapi agar orang-orang lain itu bisa diubahkan se­suai dengan rasa dan selera Injil.
(3)         Betapa mereka menjadi berkat yang luar biasa bagi dunia. Umat manusia, yang tinggal dalam kebodohan dan keja­hat­an, bagaikan sebuah tumpukan besar sampah yang men­jijik­kan dan siap membusuk. Namun, Kristus meng­utus murid-mu­rid-Nya, agar melalui kehidupan dan pengajaran me­reka, mereka menggarami tumpukan itu dengan penge­tahu­an dan anugerah, supaya bisa diubahkan menjadi la­yak di hadapan Allah, para malaikat, dan semua yang me­nyukai hal-hal sorgawi.
(4)         Bagaimana mereka akan digunakan. Mereka tidak boleh ada dalam suatu tumpukan, tidak boleh terus-menerus ber­­sama-sama di Yerusalem, melainkan harus menyebar se­­perti garam yang ditabur di atas daging, sebutir di sini dan sebutir di sana. Mereka harus menjadi seperti orang-orang Lewi yang tersebar di seluruh Israel, supaya di mana pun me­reka tinggal, mereka dapat meneruskan keharuman Injil itu. Menurut pendapat sebagian orang, anggapan bah­wa ga­ram yang jatuh ke atas kita merupakan suatu per­tan­da buruk adalah suatu anggapan yang bodoh. Justru se­ba­lik­nya, yang menjadi pertanda buruk adalah kalau garam itu jatuh dari kita.

2.          Jika tidak, mereka menjadi seperti garam yang telah menjadi tawar. Bila Anda, yang seharusnya mengasinkan orang lain, telah menjadi hambar, kosong dalam kehidupan rohani, tidak ada sukacita dan semangat; bila seorang Kristen, lebih-lebih seorang hamba Tuhan menjadi seperti ini, maka keadaannya ini teramat menyedihkan, sebab:

(1)         Ia tidak dapat diperbaiki lagi: Dengan apakah ia diasinkan? Garam adalah obat bagi makanan yang tawar, tetapi tidak ada obat bagi garam yang tawar. Kekristenan akan mem­beri­kan keharuman bagi manusia, tetapi bila kehidupan Kekristenan seseorang tetap datar dan bodoh, tidak penuh dengan anugerah serta tawar, maka tidak ada pengajaran atau sarana apa pun lagi yang dapat diterapkan untuk membuatnya harum kembali. Jika Kekristenan tidak dapat melakukannya, tidak ada yang dapat.
(2)        Ia tidak berfaedah lagi, tidak ada lagi gunanya. Apa lagi yang dapat diperbuat dengannya selain menimbulkan lebih banyak kesusahan daripada kebaikan? Orang Kristen yang tan­pa anugerah adalah seperti orang yang tidak berakal. Orang yang jahat adalah makhluk yang paling buruk. Orang Kristen yang jahat adalah manusia paling buruk, sedangkan hamba Tuhan yang jahat adalah orang Kristen yang paling buruk.
(3)        Ia pasti akan binasa dan ditolak. Ia akan dibuang – diusir dari jemaat dan persekutuan orang beriman, karena men­jadi noda dan beban bagi mereka. Ia akan diinjak orang. Biar­lah orang-orang yang telah menghina Allah dan yang te­lah membuat diri mereka tidak berguna lagi selain untuk diin­jak-injak ini mendapat malu dan ditolak, supaya de­ngan demikian biarlah Allah tetap dimuliakan.

II.          Kamu adalah terang dunia (ay. 14). Hal ini juga memperlihatkan bahwa murid-murid itu berguna, seperti pada perintah sebelum­nya (Sole et sale nihil utilius – Tidak ada yang lebih berguna dari­pada matahari dan garam), hanya saja yang ini lebih mulia. Semua orang Kristen adalah terang di dalam Tuhan (Ef. 5:8), dan harus bercahaya seperti bintang-bintang (Flp. 2:15), namun me­la­yani dengan cara yang istimewa. Kristus menyebut diri-Nya terang dunia (Yoh. 8:12), sedangkan murid-murid-Nya adalah teman-teman sekerja dan menerima sebagian kehormatan-Nya. Sesung­guh­nya terang itu manis dan disambut kehadirannya. Terang pada hari pertama penciptaan dunia seperti itu, ketika dari dalam gelap terbit terang. Begitu pula halnya dengan terang fajar setiap hari. Demi­kian halnya juga dengan Injil, dan orang-orang yang menye­bar­kannya kepada semua orang yang mau mendengar. Dunia diam dalam kegelapan, dan Kristus membangunkan murid-murid-Nya untuk bersinar di dalamnya, dan supaya dapat mela­ku­kan­nya, mereka meminjam dan mendapatkan terang itu dari-Nya.

Persamaan ini dijelaskan melalui dua hal:

1.          Sebagai terang dunia, mereka tampak jelas dan mencolok mata, dan banyak mata tertuju kepada mereka. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Murid-murid Kristus, terutama mereka yang berani dan bersemangat dalam pelayanan, akan menjadi luar biasa dan dipandang se­ba­gai mercusuar. Mereka menjadi tanda (Yes. 7:18), meru­pa­kan suatu lambang (Za. 3:8). Semua orang yang berada di dekat mereka akan memandang mereka. Sebagian mengagumi, memuji, bersukacita bersama mereka, dan berusaha mene­la­dani mereka; yang lain lagi iri hati, membenci, mencela, dan berusaha menjatuhkan mereka. Oleh sebab itu, mereka harus memperhatikan dengan saksama bagaimana mereka hidup, ka­rena banyaklah orang yang sedang mengamati mereka. Me­re­ka menjadi tontonan bagi dunia, dan harus waspada dengan setiap hal yang tampak jahat, karena orang sangat mengamati mereka untuk hal-hal ini. Sebelum dipanggil Kristus, murid-murid-Nya adalah orang-orang yang tidak dikenal, tetapi ka­rak­ter yang ditaruh-Nya ke atas mereka telah menaikkan mar­tabat mereka. Sebagai pemberita Injil, mereka menjadi tokoh, dan meskipun oleh karenanya mereka dicela sebagian orang, namun mereka juga dihormati oleh yang lainnya, didudukkan di atas takhta, dan dijadikan hakim (Luk. 22:30). Sebab, Kristus menghormati orang-orang yang menghormati-Nya.
2.         Sebagai terang dunia, mereka dimaksudkan untuk menerangi dan membawa terang kepada orang lain (ay. 15). Oleh sebab itu:

(1)        Mereka akan dijadikan terang. Kristus telah menyalakan pe­lita-pelita ini, yang tidak akan ditaruh di bawah gantang, tidak selalu dibatasi di kota-kota Galilea seperti sekarang, atau hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel, tetapi mereka akan diutus ke seluruh muka bumi. Jemaat merupakan kaki dian, kaki dian emas, tempat pe­lita-pelita ini diletakan, agar cahayanya dapat mene­rangi sekelilingnya. Injil adalah sebuah terang yang luar biasa kuat dan membawa bukti yang sangat banyak mengenai diri­nya sendiri, sehingga seperti kota yang terletak di atas gunung, terang itu tidak mungkin tersembunyi. Tidak bisa tidak, terang itu pasti tampak sebagai terang yang berasal dari Allah bagi orang-orang yang rela membuka mata un­tuk terang itu. Injil akan menerangi semua orang yang ada di dalam rumah, menerangi semua orang yang bersedia mendekat dan datang ke tempat terang itu berada. Orang-orang yang tidak menerima terang itu harus bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Mereka tidak akan berada di dalam rumah bersama terang itu. Orang-orang demikian tidak akan mau mencari tahu dengan tekun dan adil, me­lain­kan hanya berprasangka buruk terhadap terang itu.
(2)        Mereka harus bercahaya seperti terang:

[1]        Melalui pemberitaan firman (khotbah) yang baik. Penge­tahu­an yang mereka miliki harus mereka sampaikan demi kebaikan orang lain. Bukan untuk diletakkan di ba­wah gantang, melainkan untuk disebarkan. Talenta tidak boleh dibungkus dalam saputangan, melainkan di­­kem­bangkan. Murid-murid Kristus tidak boleh me­ring­­kuk dan mengunci diri di balik dalih merenung, ke­rendahan hati, atau menjaga diri, sebaliknya, karena sudah menerima karunia, mereka juga harus melayani seorang akan yang lain (Luk. 12:3).
[2]        Melalui cara hidup yang baik. Mereka harus menjadi pelita yang menyala dan yang bercahaya (Yoh. 5:35), harus membuktikan dalam seluruh tutur kata mereka, bah­wa mereka benar-benar pengikut Kristus (Yak. 3:13). Mereka harus menjadi pemberi nasihat, peng­arah­an, dorongan, dan penghiburan bagi orang lain (Ayb. 29:11).

Lihatlah di sini, Pertama, bagaimana terang kita ha­rus bercahaya – dengan melakukan perbuatan-per­buat­an baik yang dapat dilihat dan diakui orang. Perbuatan-perbuatan yang demikian merupakan kabar baik bagi mereka yang tidak mengalaminya, dan membuat me­re­ka berpikir yang baik mengenai Kekristenan. Kita harus melakukan perbuatan baik supaya dapat dilihat untuk men­jadi kebaikan bagi orang lain, dan bukan supaya dapat dilihat untuk mendatangkan pujian bagi diri kita. Kita diminta untuk berdoa di tempat tersembunyi, dan apa yang ada di antara Allah dan jiwa kita haruslah di­sim­pan bagi diri kita sendiri. Namun, apa yang memang ter­buka dan tampak jelas dengan sendirinya oleh orang lain, harus kita usahakan agar sesuai dengan peng­aku­an iman kita dan layak dipuji (Flp. 4:8). Orang-orang di sekitar kita bukan saja harus mendengar perkataan baik kita, melainkan juga harus dapat melihat per­buat­an baik kita, supaya dengan demikian mereka dapat diyakinkan bahwa agama bukanlah sekadar nama saja, dan bahwa bukan saja kita mengakuinya, tetapi juga tinggal di bawah kuasanya.

Kedua, untuk tujuan apa terang kita harus ber­cahaya – “Supaya orang-orang yang melihat perbuat­an­mu yang baik dapat dibawa, bukan untuk memuliakan kamu (yang menjadi tujuan orang Farisi sehingga justru merusak seluruh usaha mereka), tetapi untuk me­mu­lia­kan Bapamu yang di sorga.” Perhatikanlah, kemuliaan Allah adalah hal terbesar yang harus menjadi tujuan kita dalam semua hal yang kita lakukan dalam ibadah kita (1Ptr. 4:11). Seluruh arah tindakan kita harus berpusat pada hal ini. Kita bukan saja harus berupaya keras untuk memuliakan Allah, namun juga melakukan apa saja untuk membawa orang lain memuliakan Dia. Orang dapat melihat perbuatan baik kita dan memu­lia­kan Allah, jika kita melengkapinya:

1.         Dengan sesuatu yang pantas dipuji. “Biarlah mereka melihat perbuatanmu yang baik, agar mereka dapat melihat kuasa anugerah Allah di dalam dirimu, dan bersyukur kepada-Nya untuk hal itu, serta me­mu­lia­kan Dia yang telah memberikan kuasa sedemikan itu kepada manusia.”
2.         Dengan alasan kesalehan. “Biarlah mereka melihat perbuatanmu yang baik, agar mereka dapat diya­kin­kan tentang kebenaran dan keunggulan agama Kris­ten dan digerakkan oleh suatu keinginan kudus un­tuk meneladani perbuatan baikmu itu, sehingga dengan demikian mereka juga dapat memuliakan Allah.” Perhatikanlah, tutur kata yang kudus, bersa­haja, dan patut diteladani dari orang-orang kudus da­­pat sangat berpengaruh terhadap pertobatan orang berdosa. Tutur kata yang demikian juga dapat me­narik orang-orang yang tidak mengenal agama Kristen untuk belajar mengetahui apa agama Kristen itu. Teladan mampu mengajar orang. Dengan cara ini, orang-orang yang berprasangka buruk terhadap Kekristenan dapat dibuat jatuh cinta dengannya. Jadi, memang ada manfaat yang dapat memenang­kan jiwa orang dalam tutur kata yang saleh.

17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hu­kum Taurat dan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniada­kannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesung­guh­nya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekali­pun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perin­tah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Sorga. 20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesung­guh­­nya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Orang-orang yang kepadanya Kristus berkhotbah dan deminya Ia menyampaikan pengajaran ini kepada murid-murid-Nya, menjalan­kan agama dengan memperhatikan:

1.          Kitab Suci Perjanjian Lama sebagai peraturan mereka, dan Kristus menunjukkan bahwa mereka benar dalam melakukan demikian.
2.          Para ahli Taurat dan orang Farisi sebagai contoh, dan Kristus menunjukkan bahwa dalam hal ini mereka keliru, sebab:

I.           Peraturan yang hendak dicanangkan Kristus dengan kedatangan-Nya itu sepenuhnya sesuai dengan Kitab Suci Perjanjian Lama, yang di sini disebut dengan hukum Taurat dan kitab para nabi. Para nabi merupakan penafsir hukum Taurat, dan keduanya ber­sama-sama membentuk aturan iman dan perilaku yang me­me­rintah atas jemaat Yahudi seperti yang ditemukan Kristus, dan di sini Ia menjaga agar hal itu tetap demikian.

1.          Kristus membantah dugaan bahwa Ia hendak meniadakan dan memperlemah Perjanjian Lama. Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi.”

(1)        “Bagi orang-orang Yahudi saleh, yang sangat mencintai hukum Taurat dan kitab para nabi, janganlah takut bahwa Aku datang untuk meniadakannya.” Janganlah mereka ber­prasangka buruk terhadap Kristus dan pengajaran-Nya, dengan merasa iri kalau-kalau kerajaan yang hendak di­diri­kan-Nya itu akan melecehkan kehormatan Kitab Suci, yang mereka yakini berasal dari Allah, dan yang telah me­reka alami kuasa dan kemurniannya. Tidak, biarlah me­reka merasa lega karena Kristus tidak mempunyai mak­sud buruk terhadap hukum Taurat dan kitab para nabi. “Jangan biarkan orang Yahudi yang tidak hidup suci, yang tidak mengasihi hukum Taurat dan kitab para nabi, yang merasa letih dengan beban ini, berharap bahwa Aku da­tang untuk menghapusnya.” Jangan biarkan orang-orang yang tidak menghormati kaum hukum dan yang hidup duniawi itu berkhayal bahwa Mesias datang untuk membebaskan mereka dari kewajiban terhadap aturan-aturan ilahi, su­paya dengan demikian mereka akan menerima janji-janji ilahi, mereka akan senang, dan boleh bebas menjalani hidup sesuka hati mereka sendiri. Kristus tidak memerin­tah­kan orang untuk melakukan sesuatu yang dilarang oleh hukum alam ataupun moral. Dia juga tidak melarang orang melakukan apa yang diperintahkan oleh hukum-hukum itu. Sungguh keliru untuk berpikir bahwa Ia melakukan semuanya ini, dan karena itu di sini Ia berusaha melurus­kan kekeliruan itu. Aku datang bukan untuk meniada­kan­nya. Sang Penyelamat jiwa tidak membinasa­kan apa pun kecuali perbuatan-perbuatan Iblis. Dia tidak menghan­cur­kan apa saja yang datang dari Allah, apalagi ketetapan-ketetapan luar biasa yang kita dapatkan dari Musa dan para nabi. Tidak, Ia datang untuk menggenapinya, yaitu:

[1]        Untuk mematuhi perintah-perintah hukum Taurat, se­bab Dia diutus untuk taat kepada hukum Taurat (Gal. 4:4). Dalam segala perkara Ia tunduk kepada hukum Taurat, menghormati orangtuanya, menguduskan hari Sabat, berdoa, memberikan sedekah, melakukan hal-hal yang belum pernah diperbuat orang lain, taat sepe­nuh­nya, dan tidak pernah melanggar hukum dalam hal apa pun.[2]        Untuk menggenapi janji-janji hukum Taurat dan nu­buat para nabi yang semuanya bersaksi tentang diri-Nya. Pada hakikatnya, perjanjian anugerah di zaman se­ka­rang sama dengan dahulu, dan Kristus adalah Peng­­antaranya.
[3]        Untuk menggenapkan bayang-bayang hukum Taurat, de­ngan demi­kian (seperti yang diungkapkan uskup Tillotson), “Ia tidak meniadakan, melainkan menggenapi hukum upacara, dan menyatakan diri sebagai Hakikat dari semua bayang-bayang itu.”
[4]        Untuk mengisi kekurangan-kekurangan yang ada di da­lam­nya, sehingga dengan demikian melengkapi dan me­nyempurnakannya. Demikianlah yang tepatnya di­mak­­sud­kan dengan istilah plērōsai. Jika kita meng­um­pama­kan hukum sebagai sebuah wadah yang sudah ada air di dalamnya, maka Dia datang bukan untuk menum­pah­­­kan air itu, melainkan untuk mengisi wadah itu sam­­­pai penuh. Atau, seperti sebuah lukisan, yang mu­la-mula dibuat gambaran kasarnya dulu untuk menun­juk­kan garis-garis besar benda yang mau dilukis, dan barulah setelah itu garis-garis besar itu diisi. Demi­kian­lah Kristus memperbaiki hukum Taurat dan kitab para nabi melalui penambahan-penambahan dan penje­las­an-penjelasan terperinci-Nya.
[5]        Untuk melanjutkan rancangan yang sama. Lembaga-lem­baga Kristen sama sekali tidak merintangi dan mela­wan apa yang telah menjadi rancangan utama agama Yahudi. Sebaliknya, mereka justru menjunjung tinggi rancangan itu. Injil adalah waktu pembaruan (Ibr. 9:10), bukan untuk mencabut hukum, melainkan un­tuk me­nambahkannya, dan oleh karena itu, meneguh­kan­nya.

2.          Ia menegaskan kekekalan hukum Taurat, bahwa Dia bukan saja tidak bermaksud untuk membatalkannya, tetapi juga bah­wa hukum itu tidak pernah boleh ditiadakan (ay. 18). “Aku berkata kepadamu, Aku, Sang Amin, Saksi yang setia, dengan sungguh hati menyatakan, bahwa selama belum lenyap langit dan bumi ini, sang waktu belum lagi lenyap, dan selama pahala yang kekal itu belum menggantikan segala hukum, satu iota atau satu titik pun, hal yang paling remeh sekalipun, tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”; sebab, untuk apa lagi Allah menjalankan pemelihara­an dan anugerah-Nya, kalau bukan untuk menggenapi Kitab Suci itu sendiri? Langit dan bumi akan bersatu, dan seluruh kepenuhannya akan dilanda kehancuran dan keka­cau­an, te­tapi tidak satu pun Firman Allah yang akan gugur atau men­jadi sia-sia. Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya, baik dalam hukum Taurat maupun dalam Injil. Perhatikanlah, pe­me­liharaan Allah atas hukum-Nya mencakup bahkan hal-hal yang tampak paling remeh sekalipun, sampai ke iota dan titik. Sebab, apa pun yang menjadi milik Allah, dan yang mem­bawa meterai-Nya, sekecil apa pun itu adanya, akan dipeli­hara. Hu­kum-hukum manusia disadari sangat tidak sem­purna adanya, sampai dalam hukum-hukum itu sendiri dikenal se­buah pepa­tah, Apices juris non sunt jura – Puncak-puncak ter­tinggi dalam hukum bukanlah hukum itu sendiri. Tetapi, ber­beda dengan itu, Allah akan selalu siap dan memelihara setiap iota dan titik dari hukum-Nya.

3.           Ia menyuruh murid-murid-Nya untuk memelihara hukum Tau­rat itu dengan hati-hati, dan menunjukkan kepada mereka bahaya yang timbul akibat melalaikan dan mencelanya (ay. 19). Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, apa lagi yang besar, seperti yang dilakukan orang Farisi, yang melalaikan urusan-urusan hukum Taurat yang penting dan mengajarkan orang lain untuk melakukan demikian, serta yang melanggar perin­tah Allah demi adat istiadat mereka (15:3), ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga. Meskipun orang-orang Farisi dipuji-puji sebagai guru-guru yang hebat, mereka tidak akan dipakai sebagai guru dalam kerajaan Kristus. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat sebagai­mana yang dilakukan murid-murid Kristus, yang dengan demi­kian membuktikan bah­wa mereka lebih bersahabat de­ngan Perjanjian Lama di­ban­dingkan orang Farisi, ia akan men­duduki tempat yang ting­gi di dalam Kerajaan Sorga meskipun dicela manusia. Perhati­kan­lah:

(1)        Di antara perintah-perintah Allah, terdapat beberapa yang dianggap kurang penting dibandingkan yang lain. Tidak ada yang benar-benar kecil, namun sebagian lebih tidak penting kalau dibanding-bandingkan. Orang Yahudi meng­ang­gap perintah terkecil dalam hukum Taurat adalah pe­rin­tah tentang memperlakukan sarang burung (Ul. 22:6-7). Namun, bahkan itu pun ternyata cukup penting dan me­miliki tujuan yang sangat besar dan luar biasa.
(2)        Sungguh berbahaya, baik dalam ajaran maupun pelak­sa­na­­annya, bila kita membatalkan perintah Allah yang ter­kecil sekalipun; sebab, jika kita melanggarnya, yakni jika kita berusaha untuk mengecilkan artinya atau mengurangi kewajiban kita untuk menjalankannya, siapa pun yang ber­buat demikian akan menanggung akibatnya. Jadi, meng­­hilangkan salah satu dari kesepuluh perintah Allah itu ada­lah tindakan yang terlampau berani untuk dilewat­kan be­gitu saja oleh Allah yang cemburu. Ini lebih dari­ sekadar melanggar hukum, ini berarti meniada­kan hukum Taurat (Mzm. 119:126).
(3)        Semakin meluas penyimpangan itu, semakin buruk pula per­buatan itu. Melanggar perintah sudah cukup lancang, tetapi mengajarkannya kepada orang lain bahkan lebih buruk lagi. Hal ini jelas menunjuk kepada orang-orang yang ketika itu duduk di kursi Musa, yang merusak dan menodai firman Allah melalui penafsiran mereka. Pandang­an-pandangan yang cenderung menghancurkan kesalehan yang sebenarnya dan merusak bagian-bagian penting dari agama, melalui tafsiran yang menyimpang atas firman Allah, sungguh buruk bila dipegang, namun lebih buruk lagi bila pandangan demikian disebarkan dan diajarkan sebagai firman Allah. Orang yang berbuat demikian akan disebut yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga, kera­ja­an yang mulia itu. Ia selamanya tidak akan pernah ma­suk ke sana, melainkan dikucilkan untuk selamanya dari Ke­ra­jaan Gereja-Injil. Ia sungguh tidak layak menerima mar­­­ta­bat seorang guru di dalam kerajaan itu, sehingga ia bah­kan tidak dianggap sebagai bagian darinya. Nabi yang meng­­­ajar­kan dusta-dusta ini akan menjadi ekor dalam kera­­­jaan itu (Yes. 9:14). Ketika kebenaran terungkap ber­da­sar­kan bukti yang ada di dalam dirinya sendiri, guru-guru sema­cam ini, meskipun dipuji-puji seperti halnya orang Farisi, tidak akan diperhitungkan di antara orang-orang bijak dan baik. Tidak ada hal lain yang dapat membuat para hamba Tuhan lebih rendah dan hina selain merusak hukum Taurat (Mal. 2:8, 11). Orang-orang yang meng­ang­gap enteng dan mendorong perbuatan dosa, yang menolak dan membenci ketegasan dalam ibadah dan penyembahan, merupakan sampah Gereja. Sebaliknya, orang-orang yang hidup sesuai dengan ajaran hukum untuk mengejar ke­mur­­nian dan beribadah dengan tekun, merekalah yang sung­­­guh akan dihormati dan dinilai tinggi dalam Gereja Kristus. Mereka ini melakukan sekaligus mengajarkan hal-hal yang baik. Orang yang tidak melakukan apa yang dia sendiri ajar­kan adalah ini seperti orang yang meruntuhkan dengan tangan yang satu apa yang telah dibangun oleh tangannya yang lain. Dengan cara ini, ia menipu dirnya sendiri dan men­jerumuskan orang lain untuk berpikir bah­wa agama itu hanyalah khayalan semata. Namun, orang-orang yang ber­bicara berdasarkan pengalaman, yang hidup berdasar­kan apa yang mereka khotbahkan, benar-benar merupakan orang besar. Mereka menghormati Allah, dan Allah akan menghormati mereka (1Sam. 2:30), dan setelah itu mereka akan bersinar bagaikan bintang-bintang dalam Kerajaan Bapa kita.

II.           Kebenaran yang hendak ditegakkan Kristus berdasarkan aturan ini harus melebihi kebenaran para ahli Taurat dan orang Farisi (ay. 20). Ini merupakan ajaran yang aneh bagi orang-orang yang meng­anggap ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi sebagai orang-orang yang telah mencapai tingkatan tertinggi dalam agama. Para ahli Taurat adalah pengajar hukum Taurat yang paling terke­muka, sedangkan orang Farisi merupakan para pengikut hukum yang paling ternama, dan kedua kelompok ini duduk di kursi Musa (23:2). Mereka sangat dikenal baik sebagai orang-orang yang sangat patuh terhadap hukum Taurat. Orang-orang biasa tidak berani berpikir bahwa mereka bisa sebaik kedua kelompok ini. Oleh sebab itu mereka sangat terkejut ketika mendengar bah­wa mereka haruslah lebih baik daripada para ahli Taurat dan orang Farisi, karena bila tidak, mereka tidak akan dapat masuk sorga. Itulah sebabnya Kristus menegaskan hal tersebut dengan sungguh-sungguh, Aku berkata kepadamu, memang demikianlah halnya. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi memusuhi Kristus dan ajaran-Nya. Mereka merupakan penen­tang-penentang yang keras terhadap Dia. Meskipun demikian, haruslah diakui bahwa ada sesuatu yang patut dipuji dalam diri mereka. Mereka sangat rajin berpuasa, berdoa, dan memberikan sedekah. Mereka sangat teliti dalam mengamati jalannya upacara dan giat mengajar orang lain. Karena begitu menaruh perhatian pada orang-orang lain, mereka menyangka bahwa sekiranya hanya ada dua orang yang masuk ke sorga, maka salah satunya pastilah orang Farisi. Namun, di sini Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa agama yang hendak dikukuhkan-Nya adalah bukan saja untuk menying­kir­kan kejahatan, tetapi juga untuk melebihi kebaikan para ahli Taurat dan orang Farisi. Kita harus berbuat lebih banyak dan le­bih baik lagi daripada mereka, atau kita tidak akan masuk sorga. Mereka menjalankan hukum dengan setengah-setengah dan sa­ngat menekankan bagian upacaranya. Karena itu, ibadah kita harus bersifat menyeluruh, tidaklah cukup bagi kita untuk hanya memberikan persepuluhan kepada hamba Tuhan. Lebih dari itu, kita harus memberikan hati kita kepada Allah. Para ahli Taurat dan kaum Farisi ini hanya peduli dengan bagian lahiriah saja, tetapi kita ini harus memperhatikan kesalehan batiniah. Tu­juan mereka hanyalah untuk mendapatkan pujian dan peng­har­gaan manusia, tetapi tujuan kita adalah perkenan dan penerima­an oleh Allah. Mereka bangga akan apa yang mereka jalankan dalam ibadah dan mempercayainya sebagai suatu kebenaran, tetapi kita, setelah melakukan semua itu, harus menyangkal diri, dan ber­kata, Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, dan hanya percaya kepada kebenaran Kristus semata. Dengan cara inilah kita akan melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

21 “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Ja­ngan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku ber­kata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihu­kum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembah­kan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahan­mu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kem­bali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan eng­kau dilempar­kan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Setelah Kristus menetapkan aturan-aturan dasar ini, bahwa para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak lagi menjadi pemimpin mereka, tetapi bahwa Musa dan para nabi tetap ada, Ia melanjutkan pen­jelasan-Nya mengenai hukum Taurat dengan memberikan beberapa contoh tertentu dan membersihkannya dari tafsiran-tafsiran keliru yang telah diberikan para penafsir itu. Ia tidak menambahkan hal baru, namun hanya membatasi dan mengendalikan beberapa aturan hukum yang diperbolehkan namun telah disalahgunakan. Mengenai aturan-aturan itu, Ia menunjukkan keluasannya, ketegasannya, dan sifat rohani di dalamnya, sambil menambahkan peraturan yang ber­sifat menjelaskan agar mereka lebih memahaminya, dan ini ber­tu­juan untuk menyempurnakan kepatuhan kita kepada peraturan-peratur­an itu. Dalam ayat-ayat ini, Ia menjelaskan perintah keenam dari Sepuluh Perintah Allah sesuai dengan maksudnya yang sebenar­nya dan sampai sejauh mana hukum tersebut berlaku.

I.           Di sini perintah itu dikemukakan (ay. 21). Kamu telah mendengar, dan mengingatnya. Ia berbicara kepada mereka yang mengenal hukum Taurat, yang mendengarkan hukum Musa dibacakan di rumah ibadat setiap hari Sabat. Kamu telah mendengar hal itu dikatakan oleh mereka, atau lebih tepat, kepada nenek moyang kita, yaitu bangsa Yahudi, “Jangan membunuh.” Perhatikanlah, hu­kum-hukum Allah bukanlah hukum-hukum yang baru dibuat, tetapi sudah diberikan kepada orang-orang sejak dahulu kala. Hukum-hukum-Nya merupakan hukum kuno, namun tidak per­nah ketinggalan zaman ataupun menjadi usang. Hukum moral sejalan dengan hukum alam serta aturan-aturan dan alasan-alasan yang kekal mengenai yang baik dan yang jahat, yaitu kebe­nar­an Akal Budi yang abadi. Di sini membunuh dilarang, baik mem­bunuh diri sendiri, ataupun membunuh orang lain, langsung atau tidak langsung, ataupun terlibat dengan perbuatan itu dalam se­gala cara. Hukum Allah, Allah kehidupan ini, adalah pagar pelin­dung bagi kehidupan kita. Ini adalah salah satu peraturan nabi Nuh (Kej. 9:5-6).

II.          Penjelasan para guru Yahudi atas perintah ini. Penjelasan mereka adalah, siapa yang membunuh harus dihukum. Hanya inilah yang dapat mereka katakan mengenai hukum membunuh tersebut, yaitu bahwa orang yang sengaja membunuh patut menerima pe­dang keadilan, sedangkan mereka yang membunuh secara tidak sengaja layak dihukum melarikan diri ke kota perlindungan (Bil. 35). Tempat pengadilan terletak di gerbang kota-kota besar; biasa­nya para hakim berjumlah dua puluh tiga orang, dan mereka inilah yang mengadili, menjatuhkan hukuman dan melaksana­kan­­nya atas para pembunuh. Dengan demikian, siapa pun yang mem­­bunuh akan menerima penghukuman mereka. Sekarang, taf­sir­an mereka atas perintah ini ternyata keliru, sebab mengisya­rat­kan:

1.          Bahwa hukum dari perintah keenam ini hanyalah bersifat lahiriah, dan tidak melarang hal selain tindakan pembunuhan itu saja. Tafsiran mereka tidak mengekang nafsu batin, yang merupakan sumber timbulnya sengketa dan perteng­kar­an. Ini benar-benar merupakan prōton pseudos – kesalahan mendasar para guru Yahudi, yaitu bahwa hukum ilahi hanya melarang perbuatan dosa dan tidak melarang pikiran yang berdosa pula. Mereka hanya terpaku pada hærere in cortice – bersandar pada huruf-huruf dalam hukum Taurat, dan tidak pernah menggali makna rohaninya. Ketika masih menjadi orang Farisi, Paulus juga demikian, sampai melalui pengertian akan perintah kese­pu­­luhlah, anugerah ilahi menuntunnya ke dalam pengeta­hu­an akan segi rohani dari perintah-perintah lainnya (Rm. 7:7, 14).
2.          Kesalahan mereka yang lain adalah bahwa mereka mengang­gap hukum ini hanya bersifat politis dan terbatas untuk bang­sa Yahudi semata, diberikan untuk mereka saja, dan dimak­sud­kan hanya sebagai pedoman bagi pengadilan mereka semata; seakan-akan hanya bangsa mereka sajalah satu-satu­nya yang ada dan kebijakan hukum itu pastilah harus menjadi milik mereka saja.

III.         Uraian yang diberikan Kristus mengenai perintah ini. Kita yakin bahwa menurut uraian-Nya kita kelak pasti dihakimi, dan oleh sebab itu, kita harus mengetahui aturan itu sekarang. Perintah-Nya luas sekali, dan tidak dibatasi oleh keinginan daging atau kehendak manusia.

1.          Kristus mengatakan kepada mereka bahwa kemarahan tanpa pikir panjang sama saja dengan membunuh dalam hati (ay. 22). Setiap orang yang marah terhadap saudaranya (kjv me­nam­bahkan: tanpa sebab) telah melanggar perintah keenam. Kita harus memahami bahwa yang dimaksudkan dengan sau­dara di sini adalah siapa saja, meskipun kedudukannya jauh di bawah kita, misalnya anak atau pelayan, sebab kita semua diciptakan dari satu darah. Kemarahan adalah gejolak hati yang alami. Ada beberapa perkara yang membuat kemarahan sah-sah saja dan bahkan terpuji. Tetapi hal ini akan disebut dosa apabila kita marah tanpa sebab. Istilahnya adalah eikē, yang berarti sine causâ, sine effectu, et sine modo – tanpa sebab, tanpa pengaruh yang baik, tanpa penguasaan diri. Jadi, kemarahan merupakan dosa:

(1)        Apabila terjadi tanpa ada yang me­man­cing­nya, yakni tanpa suatu sebab, atau tanpa suatu sebab yang pantas, atau tanpa suatu sebab yang besar dan masuk akal. Misalnya, kita marah kepada anak-anak atau pembantu karena kita tidak bisa menahan diri, padahal yang mereka lakukan hanyalah kealpaan atau kesalahan kecil saja yang kita sen­diri juga mudah lakukan, dan yang tentangnya kita tidak perlu kesal terhadap diri sendiri. Contoh lain lagi, yaitu bila kita marah terhadap prasangka-prasangka yang tidak ber­dasar atau celaan sepele yang tidak layak diper­masa­lah­kan.
(2)        Apabila dilakukan tanpa suatu tujuan yang baik, melain­kan hanya sekadar untuk memamerkan kekuasaan, me­muas­kan nafsu kedagingan, untuk menunjuk­kan kekesal­an kita kepada orang, dan memanasi diri guna membalas dendam. Kemarahan semacam ini sia-sia sifatnya, hanya menyakiti hati saja. Jika kita sewaktu-waktu marah, ini haruslah dengan tujuan menyadarkan orang yang bersalah itu agar bertobat dan mencegahnya meng­ulangi perbuatan itu; atau, untuk membela diri (2Kor. 7:11), dan untuk memperingatkan orang lain.
(3)        Apabila melampaui batas, bila kita bersikap keras kepala da­lam kemarahan kita, kasar dan keras, mengamuk dan ber­tindak jahat, serta bermaksud menyakiti orang-orang yang tidak kita sukai. Ini adalah pelanggaran ter­hadap pe­rin­tah keenam, sebab orang yang marah seperti ini akan membunuh seandainya mampu dan berani mela­ku­kannya. Ia telah mengambil langkah pertama untuk mem­bunuh. Kain membunuh adiknya karena di­awali ke­ma­rahan. Da­lam pemandangan Allah, Kain adalah seorang pembunuh, karena Allah mengenal hatinya, yang merupa­kan sumber keinginan untuk membunuh (15:19).

2.          Kristus berkata kepada mereka bahwa menggunakan kata-kata keji kepada saudara kita adalah pembunuhan dengan lidah, seperti misalnya menyebutnya kafir dan jahil. Apabila ini dilakukan dengan halus dan untuk tujuan baik, untuk menya­dar­kan orang lain akan kesia-siaan dan kebodohan mereka, ini bukanlah dosa. Karena itu, kita temukan Yakobus berkata, “Hai manusia yang bebal”), sedangkan Paulus ber­kata, “Hai orang bodoh”, dan Kristus sendiri ber­kata, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu”. Namun, jika kata-kata itu keluar karena kema­rah­an dan kebencian, ini bagaikan asap dari api yang dinya­la­kan dari neraka.

(1)        Kafir adalah perkataan yang menghina dan keluar dari kesombongan. Ucapan “Kamu orang yang tidak berguna” adalah kata-kata yang disebut Salomo sebagai pen­cemooh yang sombong (Ams. 21:24), yang menginjak-injak saudara kita – yang dipandang terlalu hina untuk ditempatkan ber­sama-sama dengan anjing penjaga kambing domba. Tutur kata lain yang seperti ini adalah, “Orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka” (Yoh. 7:49).
(2) Jahil adalah istilah yang penuh rasa dendam dan berasal dari kebencian. Kata ini bukan saja menganggap orang tersebut jahat dan tidak layak dihormati, tetapi juga kotor dan tidak pantas dikasihi. “Kamu manusia fasik, manusia celaka.” Perkataan pertama di atas berbicara tentang orang yang tidak punya akal, perkataan kedua ini (dalam istilah alkitabiah) artinya orang tanpa anugerah. Semakin teguran itu menyentuh keadaan rohaninya, semakin jahat dia jadi­nya. Sebutan pertama merupakan ejekan penuh ke­cong­kak­an terhadap saudara kita, sebutan kedua adalah ke­cam­an yang jahat dan mengutuk dirinya, seakan ia dibuang Allah. Ini adalah pelanggaran terhadap perintah keenam. Fitnah yang jahat dan kecaman seperti bisa di bawah lidah, membunuh dengan diam-diam dan perlahan. Kata yang pahit seperti panah yang me­lun­cur dengan tiba-tiba (Mzm. 140:4), atau seperti pedang yang menusuk tulang. Dengan demikian, nama baik sesama kita, yang lebih baik daripada hidup itu sendiri, telah ditikam dan dibunuh. Ini membuktikan bahwa perkataan demikian, ka­lau kita lakukan, memiliki keinginan jahat yang bisa meng­hantam kehidupan sesama kita.

3.          Kristus berkata kepada mereka, bahwa seringan apa pun me­reka menganggap dosa-dosa ini, suatu saat mereka pasti harus mempertanggungjawabkan semuanya. Orang yang ma­rah terhadap saudaranya berada dalam bahaya akan dihu­kum dan dimurkai Allah. Orang yang berkata, “Kafir! harus diha­dap­kan ke Mahkamah Agama dan dihukum oleh dewan Sanhedrin karena mencerca orang Israel. Tetapi siapa yang berkata, Jahil, orang celaka, anak neraka,” akan diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala karena mengutuki sau­dara­nya, begitulah yang dikatakan Dr. Whitby yang cendekia itu. Beberapa orang berpikir bahwa, dengan secara tidak langsung mengacu kepada berbagai hukuman yang dijatuhkan dalam pengadilan orang Yahudi, Kristus menunjukkan bahwa dosa, akibat kemarahan yang dilakukan tanpa pikir panjang itu, memperhadapkan orang pada hukuman yang lebih ringan atau berat, sesuai dengan derajat perkembangannya. Orang Yahudi memiliki tiga macam hukuman berat, dengan tingkat­an yang berbeda-beda beratnya. Hukuman pancung yang di­ja­tuh­kan pengadilan, hukuman dirajam dengan batu yang dijatuh­kan oleh dewan Sanhedrin, dan hukuman dibakar di Lembah Ben-Hinom yang hanya dilakukan untuk perkara-perkara luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa, walaupun ke­ma­rahan tanpa pikir panjang dan tutur kata penuh kecaman termasuk dosa mengutuk, sebagian di antaranya lebih jahat daripada yang lainnya, dan oleh karena itu ada kutukan dan hukuman yang lebih berat lagi yang tersedia bagi dosa-dosa ini. Dengan demikian Kristus menunjukkan dosa mana yang paling jahat, yaitu dengan menyatakan hukuman yang paling mengerikan bagi dosa tersebut.

IV.        Dari semua hal ini, di sini dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus memelihara dengan cermat kasih dan perdamaian kristiani di antara sesama saudara. Setiap kali terjadi pelanggaran, kita harus berusaha keras menciptakan perdamaian dengan mengakui kesalahan kita, merendahkan diri terhadap saudara kita, meminta maaf kepadanya, dan mengadakan pemulihan atau menawarkan ganti rugi bagi kesalahan yang telah kita perbuat, baik dalam perkataan maupun perbuatan, sesuai permasalahannya. Semua ini harus segera kita lakukan karena dua alasan:

1.          Sebab sebelum hal-hal ini dilaksanakan, kita sama sekali tidak layak berhubungan dengan Allah dengan segala kete­tap­an-Nya yang kudus (ay. 23-24). Perkara yang dibicarakan ada­lah, “Sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap eng­kau,” bahwa engkau telah melukai dan menyakiti hatinya, baik memang demikian halnya maupun menurut pengertian sau­dara itu. Jika engkau pihak yang disakiti, jangan menunda­nya. Jika ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap sese­orang, janganlah memperpanjang urusan, tidak ada lagi yang patut dilakukan selain mengampuninya (Mrk. 11:25) dan me­maaf­­kan luka yang telah ditimbulkannya. Tetapi jika perseli­sihan itu diawali di pihakmu, dari sejak awal atau sesudahnya itu adalah kesalahanmu, sehingga timbul sesuatu dalam hati saudaramu, pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, sebe­lum mempersembahkan persembahanmu di mezbah, sebe­lum engkau menghampiri Allah dengan khidmat dalam ibadah Injili melalui doa dan pujian, sambil mendengarkan firman yang disampaikan selama ibadah. Perhatikanlah:

(1)        Dalam menjalankan kegiatan ibadah dalam bentuk apa saja, alangkah baiknya bagi kita untuk menyediakan waktu untuk merenung dan memeriksa diri kita. Ada begitu ba­nyak hal yang harus kita ingat saat membawa persem­bah­an ke atas mezbah, dan salah satunya adalah, apakah ada sesuatu dalam hati saudara kita terhadap diri kita; dan jika sekiranya memang ada sesuatu masalah, maka kita harus bersungguh-sungguh untuk menyelesaikannya lebih dulu.
(2)        Kegiatan ibadah tidak akan diterima Allah apabila kita men­jalankannya dengan hati dalam keadaan marah. Iri hati, keinginan untuk berbuat jahat, dan ketiadaan belas kasih­an merupakan dosa-dosa yang sangat tidak menyu­kakan hati Allah. Tiada lain lagi yang begitu mendukakan Dia selain hati yang dipenuhi dengan dosa-dosa ini (1Tim. 2:8). Doa-doa yang dirancang dengan kemarahan bagaikan ditulis dengan empedu (Yes. 1:15; 58:4).
(3)        Kasih dan kemurahan hati jauh lebih baik daripada korban sembelihan dan korban-korban bakaran, sedemikian baik­nya hingga Allah lebih menghendaki bila perdamaian de­ngan saudara yang disakiti itu diselesaikan terlebih dahulu sebelum persembahan kepada diri-Nya sendiri dihaturkan. Ia lebih suka menunggu daripada menerima persembahan yang kita berikan dalam keadaan masih bersalah dan terlibat perselisihan dengan seorang saudara.
(4) Walaupun kita tidak layak untuk bersekutu dengan Allah, kalau kita masih terus bertengkar dengan saudara kita, namun, hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak melakukan atau melalaikan kewajiban kita, “Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu, sebab bila tidak, sete­lah pergi, engkau tergoda untuk tidak kembali lagi.” Ba­nyak orang memakai hal ini sebagai alasan mengapa me­reka tidak datang ke gereja atau persekutuan, yaitu karena mereka sedang berselisih pendapat dengan sesama. Salah siapakah ini sebenarnya? Satu dosa tidak akan pernah dapat menjadi dalih untuk melakukan dosa yang lain, se­ba­liknya itu justru melipatgandakan kesalahan itu. Keku­rang­an kasih terhadap sesama tidak dapat membe­nar­­kan kekurangan kesalehan. Sebenarnya, kesulitan ini mudah saja diatasi. Kita harus mengampuni orang-orang yang ber­sa­lah kepada kita, dan bila kita bersalah terhadap orang lain, kita harus membereskannya, atau setidaknya mem­per­baiki keadaannya, dan menginginkan pembaruan persa­ha­batan, sehingga bila tidak tercapai perdamaian se­kali­pun, itu bukanlah kesalahan kita. Lalu kembalilah, kem­bali dan selamat datang, kembali dan persembahkan persem­bah­­an­­mu itu, dan persembahan itu akan diterima. Oleh sebab itu janganlah matahari terbenam, sebelum pa­dam amarahmu pada hari itu, sebab kita harus berdoa sebelum pergi tidur. Lebih-lebih lagi, janganlah sampai matahari terbit sebelum padam amarahmu pada hari Sabat, sebab ini adalah hari doa.

2.          Karena sebelum ini dilaksanakan, kita menghadapi ancaman besar (ay. 25-26). Sungguh berbahaya apabila kita tidak ber­usaha keras untuk berdamai, dan ini harus dilakukan dengan segera, karena dua tanggung jawab:

(1)        Tanggung jawab sementara. Jika pelanggaran yang telah kita lakukan terhadap saudara kita, baik terhadap tubuh jasmani, harta, maupun nama baiknya, sedemikian besar­nya hingga dapat mendatangkan kerugian besar bagi­nya, maka kita harus bijaksana, dengan mengingat kewa­jib­an kita terhadap keluarga kita, untuk mencegah terjadi­nya hal itu dengan bersikap rendah hati dan mengusa­hakan pemu­lih­an yang adil dan damai. Sebab, jika kita tidak melaku­kan hal ini, bisa-bisa orang itu akan menun­tut kita secara hu­kum dan, yang lebih buruk lagi, kita dipenjarakan. Karena itu, lebih baik kita berdamai dan me­nyelesaikan masalahnya daripada bersikeras dengan masa­lah tersebut. Sebab sia-sia saja untuk menentang hu­kum, karena ada ba­haya kita bisa terlindas olehnya. Ba­nyak orang hanya meng­hancurkan diri mereka sendiri karena bersikeras de­ngan pelanggaran yang mereka laku­kan terhadap orang lain, padahal sebenarnya masalah­nya dapat didamaikan asalkan mereka mau bersedia pada awalnya. Saran Salomo supaya kita aman-aman saja ada­lah, “pergilah, berlututlah, dan dengan demikian tetap­kan hatimu supaya engkau bisa melepaskan dirimu” (Ams. 6:1-5). Sungguh baik untuk mem­­buat kesepakatan, sebab hukum mahal harganya. Seperti kita harus berbelas kasih­an terhadap orang-orang yang kita kuasai, maka kita juga harus berbuat adil ter­hadap mereka yang menguasai kita, semampu kita. “Buat­lah kesepakatan dan segeralah berda­mai dengan lawanmu, jangan sampai ia merasa kesal de­ngan sikap keras kepala­mu itu dan terdorong untuk me­nun­tut engkau seberat-berat­nya dan tidak bersedia lagi untuk berdamai, yang mung­kin sedianya mau dilaku­kan­nya.” Penjara merupakan tempat yang menyengsarakan bagi orang-orang yang dije­blos­kan ke dalamnya karena ke­som­bongan, kedegilan, keras kepala, dan kebodohan me­reka sendiri.
(2)        Tanggung jawab rohani. “Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, bersikap adil terhadapnya, bersahabat dengan­nya, sebab bila perselisihan ini terus berlangsung, maka, sama seperti engkau tidak layak untuk mempersem­bah­kan persembahanmu di atas mezbah dan tidak layak untuk datang ke meja Tuhan, demikian pula kematianmu nanti juga menjadi tidak layak. Jika engkau bertahan di dalam dosa ini, ada bahaya engkau akan disambar murka Allah, dan penghakiman-Nya tidak akan dapat kamu hindari atau tolak. Jika kesalahan itu ditimpakan ke atasmu, engkau akan binasa selamanya.” Neraka adalah penjara bagi se­mua orang yang hidup dan mati dalam kejahatan dan ke­be­­ngis­an, bagi semua orang yang hanya mencari kepen­ting­an sendiri (Rm. 2:8), dan dari penjara itu, tidak ada penye­lamatan, penebusan, dan jalan keluar lain lagi, sam­pai selama-lamanya.

Semuanya ini juga berlaku sepenuhnya dalam hubung­an pendamaian kita dengan Allah melalui Kristus. Segera­lah berdamai dengan Dia selama engkau masih di tengah jalan. Perhatikanlah:

[1]        Allah yang mahakuasa itu adalah Lawan bagi semua pendosa, Antidikos – lawan secara hukum. Ia berten­tang­an dengan mereka, bertindak melawan mereka.
[2]        Sudah menjadi urusan kita untuk berdamai dengan-Nya, untuk mengenal Dia, supaya kita merasa tenteram (Ayb. 22:21; 2Kor. 5:20).
[3]        Kita harus bijaksana untuk melakukan ini dengan se­gera, sementara kita masih berada di tengah perjalan­an. Ka­lau mati, sudah terlambat untuk melakukannya. Oleh sebab itu, janganlah membiarkan matamu tidur sam­pai hal ini dilakukan.
[4]        Mereka yang terus bermusuhan dengan Allah, akan se­lalu berhadapan dengan jerat keadilan-Nya dan murka-Nya yang mengerikan. Kristus adalah Sang Hakim itu, dan kepada-Nya semua pendosa yang tidak mau ber­tobat akan diserahkan, sebab Sang Bapa telah me­nye­rahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak. Dia yang telah ditolak sebagai Juruselamat tidak dapat di­hin­dari sebagai Hakim (Why. 6:16-17). Sungguh mena­kut­kan untuk diserahkan seperti itu kepada Tuhan Yesus, karena Sang Anak Domba akan menjadi Singa. Para pendosa ini akan diserahkan kepada malaikat-malaikat, yang adalah para pambantu Kristus (13:41-42). Demikian pula dengan roh-roh jahat, yang ber­kua­sa atas maut, untuk menjadi pelaksana hukum­an atas semua orang yang tidak percaya (Ibr. 2:14). Neraka men­jadi penjara tempat orang-orang yang terus ber­musuhan dengan Allah akan dicampakkan (2Ptr. 2:4).
[5]        Orang berdosa yang dikutuk harus tetap di situ sampai selamanya. Mereka tidak akan keluar dari sana, sebe­lum membayar utang mereka sampai lunas, dan ini tidak akan berakhir sampai selamanya. Demikianlah ke­­adilan ilahi akan selamanya memuaskan, namun tidak pernah terpuaskan.

27 “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta mengingin­kan­nya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. 32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Se­tiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”

Di sini kita temukan uraian tentang perintah ketujuh, yang diberikan kepada kita oleh tangan yang sama yang membuat hukum itu, dan oleh sebab itu, Dialah yang pantas untuk menjelaskannya juga. Ini adalah hukum yang menentang kenajisan, yang cocok dengan hukum sebelumnya. Kalau hukum sebelum ini menetapkan pengen­dali­an atas nafsu yang penuh dosa, hukum yang satu ini mene­tapkan pengendalian atas keinginan yang penuh dosa. Kedua­nya harus senantiasa berada di bawah kendali akal sehat dan hati nurani, karena kalau dituruti, keduanya sama-sama merusak.

I.           Di sini, perintah itu disebutkan (ay. 27), “Jangan berzinah,” yang mencakup pelarangan atas semua perbuatan dan keinginan najis lainnya. Namun, orang Farisi yang membuat uraian tentang perin­tah ini hanya menetapkan larangan atas perbuatan zinah semata. Ini memberikan kesan bahwa jika satu tindakan asusila terjadi dalam hati saja dan tidak ditindaklanjuti, Allah tidak bisa mendengarnya dan tidak akan menganggapnya (Mzm. 66:18). Oleh sebab itu, bagi mereka ini sudah cukup untuk mengatakan bahwa mereka bukan orang-orang pezinah (Luk. 18:11).

II.          Di sini hukum tersebut dijelaskan dengan setegas-tegasnya, da­lam tiga hal, yang bisa tampak baru dan asing bagi orang-orang yang sudah sejak dahulu diatur oleh adat istiadat nenek moyang dan yang menganggap semua yang diajarkan itu sebagai aturan mutlak.

1.          Di sini kita diajar bahwa berzinah di dalam hati memang ada, yakni berbagai pikiran dan kecenderungan yang zinah yang tidak dilanjuti dengan perbuatan zinah atau persetubuhan. Pencemaran yang diakibatkannya terhadap jiwa, yang dengan jelas dinyatakan di sini, bukan hanya dicantumkan di dalam perintah ketujuh, namun juga diperlambangkan dan dimak­sud­kan dalam banyak upacara pembasuhan di bawah hukum Taurat, seperti mencuci pakaian dan membasuh tubuh mereka dengan air. Setiap orang yang memandang perempuan (bukan hanya istri orang lain, seperti yang ditafsirkan sebagian orang, tetapi semua perempuan) serta menginginkannya, sudah berzi­nah dengan dia di dalam hatinya (ay. 28). Perintah ini bukan hanya melarang perbuatan zinah, melainkan juga

(1)        Semua keinginan semacam itu, dan semua nafsu terhadap hal terlarang. Inilah permulaan dosa itu, keinginan yang telah dibuahi (Yak. 1:15). Ini adalah langkah buruk yang menuju dosa. Ketika nafsu itu menetap dan disetujui, has­rat asusila itu dikulum bagaikan kembang gula di bawah lidah, maka terjadilah perbuatan dosa, yang dilaku­kan oleh hati. Apa yang kurang hanyalah kesempat­an yang cocok bagi dosa itu sendiri. Ovid, seorang penyair pernah menu­lis, “Adultera mens est” – Akal budi sudah tercemar. Nafsu ada­lah hati nurani yang tersandung atau melenceng. Melen­ceng karena tidak bersuara menentang dosa. Tersan­dung, karena tidak dapat menang atas apa yang dikatakan­nya sendiri.
(2)        Semua hal yang mengarah ke perbuatan zinah itu; me­muas­­kan mata dengan buah terlarang itu. Bukan sekadar memandang supaya bisa terangsang, tetapi menatap sam­pai benar-benar terbakar oleh nafsu itu, atau untuk me­muas­kannya ketika tidak ada cara lain lagi untuk memper­olehnya. Mata merupakan jalan masuk dan keluar bagi banyak kejahatan semacam ini. Sebagai contoh, lihatlah majikan perempuan Yusuf (Kej. 39:7), Samson (Hak. 16:1), dan Daud (2Sam. 11:2). Kita membaca tentang mata yang penuh nafsu zinah yang tidak pernah jemu berbuat dosa (2Ptr. 2:14). Oleh sebab itu, betapa pentingnya kita mene­tap­kan syarat bagi mata kita, seperti Ayub yang saleh itu), supaya mata kita hanya boleh memperoleh kepuasan dengan cara memandang cahaya matahari dan karya-karya Allah, dan tidak boleh pernah menatap dan berlama-lama memandang apa pun yang dapat menimbul­kan khayalan atau hasrat najis. Dan, kalau mata kita sudah melaku­kan­nya, kita harus menyesalinya dengan air mata pertobatan (Ayb. 31:1). Untuk apa kita memiliki kelopak mata, kalau bukan untuk mengekang lirikan jahat dan menghin­dari penglihatan yang mencemari? Selain itu, kita juga dilarang menggunakan indra-indra lain untuk mengobar­kan hawa nafsu. Jika me­li­hat hal-hal yang menjerat meru­pa­kan buah terlarang, maka terlebih lagi percakapan cabul dan peri­laku sem­brono yang asusila, karena semuanya ini merupa­kan ba­han bakar dan kipas bagi api neraka ini. Aturan-atur­an ini merupakan pagar di sekeliling hukum kesucian hati (ay. 8). Jika pandangan dapat disebut nafsu, maka me­re­ka yang berpakaian, berhias, dan memperton­ton­kan diri dengan tu­juan agar dilihat dan diinginkan de­ngan penuh nafsu (se­per­ti Izebel, yang mencalak mata­nya dan meng­hiasi kepala­nya, lalu menjenguk dari jendela), juga sama bersalahnya. Manusia berbuat dosa, tetapi se­tan-setan mencobai agar manusia berbuat dosa.

2.           Kita diajar bahwa penampilan dan perilaku asusila semacam itu begitu berbahaya serta merusak jiwa, hingga lebih baik kehilangan mata dan tangan yang melakukan kesalahan itu daripada memberi jalan kepada dosa dan binasa selamanya bersama mereka. Pelajaran ini diberikan kepada kita di sini (ay. 29-30). Tabiat manusia yang jahat akan segera melawan larangan terhadap perbuatan zinah di dalam hati itu, dengan beralasan bahwa mustahil perbuatan tersebut bisa dikuasai. “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengar­kan­nya? Daging dan darah mau tidak mau ingin melihat dan me­nik­mati perem­puan cantik. Sungguh mustahil untuk menahan diri terhadap keinginan dan kenikmatan dari pandangan se­ma­cam ini.” Dalih-dalih seperti ini hampir tidak mungkin bisa diatasi oleh akal, dan oleh sebab itu harus dilawan de­ngan takut akan Tuhan, dan itulah yang diajarkan di sini:

(1)        Tindakan yang diperintahkan di sini untuk dilakukan guna mencegah nafsu daging tersebut sangatlah berat. Jika mata­mu yang kanan menyesatkan engkau, atau menyebab­kan engkau tersesat, melalui perilaku atau tatapan mata sem­brono yang asusila atas hal-hal terlarang; jika tangan­mu yang kanan menyesatkan engkau, atau menyebabkan engkau tersesat, melalui perilaku sembrono yang asusila; dan jika memang mustahil, seperti yang dinyatakan di sini, untuk mengendalikan mata dan tangan yang sudah begitu terbiasa melakukan hal-hal yang jahat ini sehingga tidak dapat dihentikan lagi; jika tidak ada jalan lain yang bisa mengendalikannya lagi (tetapi terpujilah Allah, karena oleh anugerah-Nya, ada jalan), maka lebih baik bagi kita untuk mencungkil saja mata dan memenggal tangan itu, meskipun mata kanan dan tangan kanan merupakan bagian tubuh yang lebih dihargai dan berguna. Ini lebih baik daripada membiarkan anggota tubuh itu terlibat dalam dosa yang membinasakan jiwa. Jika hal yang sangat mengejutkan ini harus dipatuhi, kita harus semakin bertekad untuk melatih tubuh dan menguasainya seluruh­nya. Kita harus menjalani hidup yang mematikan kedagingan dan menyangkal diri, senantiasa men­jaga hati, dan menekan nafsu jahat yang mulai timbul di dalamnya. Kita harus menghindari ber­ba­gai kesempatan yang mendatangkan dosa, melawan­nya segera bila mulai muncul, dan menjauhi teman-teman yang bisa menjadi jerat bagi kita, tidak peduli betapa menye­nang­kan godaan itu. Kita harus menyingkir dari jalan yang sesat, membatasi diri dengan melakukan hal-hal yang tidak melanggar hukum saat merasa tergoda, dan mencari anu­ge­rah Allah serta bergantung pada anugerah itu hari lepas hari. Dengan demikian kita dipimpin oleh Roh, agar kita tidak menuruti keinginan daging. Semua tindakan ini hasil dan gunanya sama seperti memenggal tangan yang kanan atau mencungkil mata yang kanan, dan mungkin juga da­lam melawan kehendak daging dan darah. Ini adalah peng­hancur­an manusia lama.
(2)        Alasan yang digunakan sebagai dasar untuk menguatkan perintah ini sungguh mengejutkan (ay. 29), dan hal ini diulang lagi dengan kata-kata yang sama (ay. 30), sebab kita biasanya tidak suka mendengar hal-hal yang keras se­perti ini (Yes. 30:10). Lebih baik bagimu jika satu dari ang­gota tubuhmu binasa, sekalipun itu adalah mata atau tangan, karena kalau dipertahankan keadaannya malah akan semakin buruk, supaya seluruh tubuhmu tidak dicam­pak­kan ke dalam neraka. Perhatikanlah:

[1]        Bukanlah hal yang tidak pantas bagi seorang pemberita Injil untuk berkhotbah tentang neraka dan peng­hukum­an. Tidak, ia justru harus melakukannya, sebab Kristus sendiri juga melakukannya. Kita bersikap tidak setia terhadap apa yang dipercayakan kepada kita, bila kita tidak memberikan peringatan tentang murka yang akan datang.
[2]        Adakalanya kita perlu diselamatkan dari beberapa dosa melalui rasa takut, terutama keinginan daging yang sama tidak berakalnya seperti hewan, yang tidak dapat diredakan lagi kecuali dengan takut, yang tidak dapat dijauhkan dari pohon terlarang kecuali oleh kerub dengan pedang yang bernyala-nyala.
[3]        Bila kita tergoda untuk berpikir bahwa sungguh sulit un­­tuk menyangkal diri dan menyalibkan keinginan da­ging, maka sebaiknya kita berpikir-pikir bahwa jauh lebih berat lagi kalau kita harus tinggal selamanya da­lam lautan api dan belerang. Orang-orang yang tidak tahu atau tidak percaya dengan neraka lebih suka me­nem­puh bahaya menuju kebinasaan kekal dalam lautan api itu daripada menjauhkan diri dari pemuasan hawa nafsu kedagingan.
[4]        Di neraka akan ada siksaan atas tubuh, seluruh tubuh dengan utuh akan dicampakkan ke dalam neraka, dan akan ada siksaan untuk setiap bagiannya. Jadi, bila kita peduli dengan tubuh kita sendiri, kita akan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, dan bukan menuruti hawa nafsu.
[5]        Bahkan kewajiban-kewajiban yang paling tidak menye­nang­kan bagi daging dan darah pun, ternyata mengun­tung­kan bagi kita. Guru kita tidak menuntut apa pun dari kita selain apa yang Dia tahu akan meng­un­tung­kan diri kita.

3.         Bila seorang laki-laki menceraikan istrinya karena sudah tidak menyukainya lagi atau karena alasan apa saja kecuali per­buatan zinah, ini merupakan pelanggaran terhadap perin­tah ketujuh – meskipun perceraian demikian sudah sangat diizin­kan dan biasa dilakukan di kalangan orang Yahudi – sebab perceraian tersebut membuka pintu bagi perzinahan (ay. 31-32). Di sini kita perhatikan:

(1)        Bagaimana kaitan masalah ini dengan perceraian. Telah difirmankan (Kristus tidak berkata seperti semula, “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek mo­yang kita,” sebab ini bukanlah sebuah peraturan seperti perintah-perintah lainnya, sekalipun orang Farisi mema­haminya demikian [19:7], melainkan hanyalah suatu izin), “Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya, jangan biarkan dia melakukannya secara lisan ketika ia sedang bernafsu, tetapi biarlah ia melaku­kan­nya dengan sengaja, melalui sarana tertulis yang sah, dan ditegaskan oleh beberapa saksi. Bila ia hendak mem­bubarkan ikatan pernikahan itu, biarlah ia melakukan­nya dengan sungguh.” Dengan demikian hukum Taurat telah mencegah terjadinya perceraian yang gegabah dan terburu-buru. Mungkin juga, pada mulanya ketika catatan tertulis belum begitu umum bagi orang Yahudi, hal ini menye­bab­kan perceraian jarang terjadi. Namun, seiring dengan ber­jalan­nya waktu, hal ini menjadi sangat umum. Petunjuk me­­ngenai cara melaksanakannya pada saat ada alasan yang dianggap tepat kemudian ditafsirkan sebagai izin de­ngan alasan apa saja (19:3).
(2)        Bagaimana perkara ini diralat dan diubah oleh Juru­sela­mat kita. Ia mengembalikan peraturan pernikahan sesuai dengan tujuannya yang mula-mula, “Keduanya itu akan menjadi satu daging,” tidak mudah dipisahkan, dan oleh sebab itu perceraian tidak diperbolehkan, kecuali terjadi perzinahan yang merusak perjanjian pernikahan itu. Tetapi orang yang menyingkirkan istrinya karena alasan lain, menjadikan isterinya berzinah, demikian pula orang yang akan menikahinya setelah perempuan itu diceraikan se­perti itu. Perhatikanlah, orang-orang yang membawa orang lain ke dalam pencobaan hingga berbuat dosa, atau me­ning­galkan mereka di dalamnya, atau memasukkan mereka ke dalam perbuatan dosa, membuat diri mereka sendiri ber­­­salah karena dosa mereka itu, dan mereka harus ber­tang­gung jawab atasnya. Inilah yang antara lain disebut se­ba­gai bergaul dengan orang berzinah (Mzm. 50:18).

33 “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepala­mu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. 37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

Di sini diuraikan tentang perintah ketiga, yang semakin perlu kita pahami, terutama karena perintah ini mengatakan bahwa Tuhan akan memandang bersalah orang yang melanggar perintah ini, sekalipun dia memandang dirinya tidak bersalah, yaitu bila orang tersebut me-nye­but nama Tuhan dengan sembarangan. Berkaitan dengan perintah ini:

I.           Telah disepakati oleh semua pihak bahwa orang dilarang bersum­pah palsu, makan sumpah, dan melanggar sumpah serta janji (ay. 33). Hal ini dikatakan kepada nenek moyang mereka, dan ini adalah tujuan serta makna sebenarnya dari perintah ketiga itu. Jangan­lah engkau menggunakan atau menyebut nama Tuhan (seperti yang kita lakukan saat mengangkat sumpah) dengan sem­barangan, atau untuk maksud yang sia-sia, atau berdusta. Dia yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, diperjelaskan dalam kata-kata berikutnya, yang tidak bersumpah palsu (Mzm. 24:4). Bersumpah palsu adalah dosa yang dihukum sesuai hukum alam, karena dilakukan ketidaksalehan terhadap Allah dan ketidakadilan terhadap manusia. Selain itu, dosa ini juga sangat mendatangkan murka Allah bagi orang yang bersang­kut­an, dan murka Allah ini akan selalu mengikuti dosa itu sede­mi­kan rupa sehingga segala sumpah yang dibuat itu biasanya akan berubah menjadi umpatan atau kutuk. Mengenai hal ini, beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu, dan mengenai kami, tolonglah aku, ya Tuhan; lebih baik aku tidak pernah mendapatkan pertolongan dari Allah lagi jika aku ber­sumpah palsu. Demikianlah, dengan persetujuan segala bang­sa, manusia telah mengutuk diri mereka sendiri, dan mereka juga tidak ragu bahwa Allah akan mengutuk mereka jika mereka ber­dus­ta terhadap kebenaran dan memanggil Allah untuk menjadi saksi.

Kemudian, dari ayat-ayat lain ditambahkan juga kata-kata, “melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan” (Bil. 30:2), yang dapat berarti:

1.          Janji-janji yang melibatkan Allah dan ditujukan kepada Allah harus ditepati (Pkh. 5:4-5), atau
2.          Janji-janji yang dibuat kepada saudara-saudara kita, dengan Allah sebagai Saksi, dimaksudkan bahwa Dia dipanggil untuk menyatakan bahwa kita bersungguh-sungguh dengan janji itu. Hal-hal ini harus dilakukan bagi Tuhan dengan mata yang ter­tuju kepada-Nya dan demi kepentingan-Nya. Sebab bagi Dia, dengan mengesahkan janji-janji dalam bentuk sumpah, kita telah membuat diri kita menjadi orang yang berutang. Bila kita melanggar janji yang telah disahkan seperti itu, kita bukan ha­nya mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.

II.          Di sini ditambahkan bahwa perintah itu bukan saja melarang sumpah palsu, tetapi juga semua sumpah yang gegabah dan tidak perlu, Janganlah sekali-kali bersumpah (ay. 34; bdk. Yak. 5:12). Ini bukan berarti bahwa semua sumpah adalah dosa. Jika sum­pah dilakukan dengan benar, itu juga termasuk bagian dari iba­dah, dan di dalamnya kita memberi kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya (Ul. 6:13; 10:20; Yes. 45:23; Yer. 4:2). Kita tahu Paulus me­ne­gaskan perkataannya dengan sungguh-sungguh melalui cara-cara demikian (2Kor. 1:23), ketika cara-cara tersebut me­mang diperlukan. Dalam mengucapkan sumpah, kita men­jamin kebe­naran suatu hal yang telah dikenal, atau menegas­kan kebe­nar­an dari suatu hal yang meragukan atau tidak diketahui. De­ngan membuat sumpah, kita sedang menantang dilaku­kannya sua­tu pembuktian yang lebih tinggi, berseru kepada suatu mah­ka­mah yang lebih tinggi, dan mengharapkan pembalasan dari seorang Hakim yang adil, jika kita bersumpah palsu.

Sekarang, pemikiran Kristus mengenai masalah sumpah ini ada­lah:

1.          Agar kita jangan sekali-kali bersumpah. Namun, bila kita me­mang harus melakukannya demi keadilan atau kebaikan terhadap saudara kita, atau demi menghormati pemerintah, buatlah seperlunya untuk mengakhiri segala bantahan (Ibr. 6:16), dan untuk keperluan ini, pada umumnya pejabat sipillah yang bertindak sebagai hakim. Kita boleh saja diambil sumpah kita, terpaksa mengucapkan sumpah, diminta dengan sangat sehingga berkewajiban melakukannya, tetapi janganlah kita melakukannya demi mencari keuntungan duniawi bagi diri kita sendiri.
2.          Agar kita tidak begitu saja bersumpah dengan seenaknya ke­tika sedang bercakap-cakap. Kalau kita melakukannya, ini sung­guh merupakan suatu dosa yang besar, karena kita me­naik­kan seruan-seruan yang tidak pada tempatnya pada sorga yang mulia, yang adalah suci adanya dan yang seharusnya diperlakukan dengan sungguh. Perilaku ini merupakan pele­ceh­an besar terhadap nama Allah yang suci, dan terhadap salah satu hal suci yang sangat dihormati oleh umat Israel. Ini adalah dosa yang tidak dapat ditutupi, tidak dapat diberikan dalih, dan oleh sebab itu merupakan tanda bahwa orang yang melakukan hal demikian mempunyai hati yang jahat, yang di dalamnya berkuasa rasa permusuhan terhadap Allah. Orang fasik menyebut nama-Mu dengan sia-sia.
3.          Agar kita teristimewa menghindari membuat sumpah yang ber­isi janji untuk melakukan sesuatu, yang secara khusus dibicarakan oleh Kristus di sini, sebab sumpah yang demikian merupakan janji yang harus dipenuhi. Suatu sumpah yang sifatnya hanya untuk menegaskan sesuatu, pengaruhnya akan langsung berhenti pada saat kita berhasil mengungkapkan kebenarannya, seluruh kebenarannya; namun sumpah yang menjanjikan sesuatu sifatnya mengikat untuk jangka waktu yang lama, sehingga bisa saja dilanggar dengan berbagai cara, baik karena dorongan maupun desakan suatu godaan. Karena itu, sumpah yang demikian janganlah digunakan kecuali kalau sangat diperlukan. Persyaratan penggunaan sumpah menjadi cerminan bagi orang Kristen, di mana mereka seharusnya di­akui karena kesetiaannya, perkataan mereka yang bijaksana harus sama kudusnya dengan sumpah yang mereka ucapkan dengan sepenuh hati.
4.          Agar kita tidak bersumpah demi ciptaan mana pun. Tampak­nya ada sebagian orang yang karena rasa hormat (menurut pikiran mereka) terhadap nama Allah, tidak mau meng­guna­kan nama tersebut dalam bersumpah, dan sebagai gantinya mereka bersumpah saja demi langit atau bumi dan sebagainya. Hal ini juga dilarang Kristus di sini (ay. 34). Ia menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang boleh kita gunakan untuk bersumpah, karena semua ciptaan ini, dalam satu dan lain cara, ada kaitannya dengan Allah, yang adalah Sumber se­gala yang ada. Itulah sebabnya bersumpah demi segala hal tadi sama berbahayanya dengan bersumpah demi Allah sen­diri, karena kebenaran ciptaan itu sendirilah yang diperta­ruh­kan. Jadi, cara ini bukan merupakan suatu sarana kesaksian, ka­rena ia berurusan dengan Allah, yang adalah summum verum – Kebenaran yang utama. Sebagai contoh:

(1)        Janganlah sekali-kali bersumpah demi langit, “Sepasti ada­nya langit, sepasti itu juga kebenaran yang kukata­kan.” Alasan larangan ini adalah karena langit adalah takhta Allah, tempat Ia tinggal dan menyatakan kemuliaan-Nya secara khusus, sebagai Raja yang duduk di takhta-Nya. Ini adalah martabat sorga yang tidak bisa dipisahkan, engkau tidak dapat bersumpah demi langit tanpa bersum­pah demi Allah sendiri.
(2)        Maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya. Allah menguasai semua pergerakan dari dunia bawah ini. Sama seperti Dia memerintah di sorga, demikian pula Dia memerintah atas bumi ini, yang meskipun berada di bawah kaki-Nya, juga berada di bawah perhatian dan pemeli­hara­an-Nya serta berkaitan dengan Dia sebagai milik kepu­nya­an-Nya (Mzm. 24:1). Tuhanlah yang empunya bumi, jadi dengan bersumpah demi bumi, Anda bersumpah demi Pemiliknya juga.
(3)        Ataupun demi Yerusalem, tempat yang begitu dipuja orang Yahudi, hingga tidak ada tempat kudus lainnya lagi yang dapat mereka pakai untuk bersumpah. Secara umum Yerusalem memang berkaitan dengan Allah, yaitu sebagai bagian dari bumi, namun, selain itu, kota ini juga memiliki hubungan khusus dengan diri-Nya, karena ia adalah kota Raja Besar (Mzm. 48:3), kota Allah (Mzm. 46:5). Oleh karena itu, Allah turut berkepentingan dengan Yerusalem dan dengan setiap sumpah yang dibuat demi namanya.
(4)        “Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu. Sekali­pun kepala itu melekat dan menjadi bagian penting dari dirimu, Allah tetap lebih berhak memilikinya daripada eng­kau. Sebab Dialah yang menciptakannya dan membentuk setiap bagian dan kekuatannya, sedangkan engkau sendiri, dengan kekuatan alami yang ada pada dirimu engkau tidak mampu mengubah warna, walau hanya sehelai rambut pun, untuk membuatnya putih atau hitam. Jadi engkau tidak bo­leh bersumpah demi kepalamu, tetapi bersumpahlah demi Dia yang adalah Kekuatanmu dan yang mengangkat kepala­mu” (Mzm. 3:4).
(5)        Agar dengan demikian, dalam seluruh percakapan, kita harus cukup puas dengan berkata, “Ya, jika ya dan ber­kata “Tidak, jika tidak (ay. 37). Dalam percakapan biasa, saat menegaskan sesuatu, hendaklah kita hanya berkata, “Ya,” kalau memang demikian halnya. Bila perlu, untuk mem­buktikan keyakinan kita terhadap sesuatu, kita boleh melipatgandakannya dan berkata, “Ya, benar, sungguh demi­kianlah halnya.” Juruselamat kita menggunakan isti­lah, “Sesungguhnya,” sebagai pengganti kata ya. Jadi, jika kita menyangkali sesuatu, sudah cukup untuk ber­kata, “Tidak,” atau bila perlu, mengulangi penyangkalan itu dan berkata, “Tidak, tidak,” dan bila kejujuran kita telah dikenal orang, hal itu saja sudah cukup bagi kita da­lam men­dapatkan penghargaan dari orang lain. Seandainya per­kataan kita dipertanyakan, maka mendukung pernyata­an kita dengan bersumpah dan mengutuk hanyalah akan mem­buat masalah semakin mencurigakan. Orang yang mam­pu membuat sumpah yang sia-sia juga tidak sulit untuk berdusta. Patut disayangkan bila apa yang disam­pai­kan Kristus kepada semua murid-Nya untuk mereka beritakan ini masih dilekatkan suatu sekte yang memiliki berbagai kekeliruan, sementara (seperti yang dikatakan Dr. Hammond) kita tidak dilarang mengatakan sesuatu di luar ya dan tidak, asalkan dengan cara yang sesuai pengguna­an­nya.

Alasannya dapat dilihat, Apa yang lebih dari pada itu ber­asal dari si jahat, walau ini tidak berarti kesalahan dari sebuah sumpah. Menurut uraian zaman dahulu, sumpah berasal ek tou Diabolou atau berasal dari Iblis, si jahat. Sumpah timbul sebagai akibat dari rusaknya sifat manu­sia, dari nafsu dan hawa nafsu berapi-api, dari kesia-siaan yang menguasai pikiran, dan dari kebencian terhadap hal-hal yang kudus. Ia berasal dari tipu daya yang ada dalam diri manusia, Semua manusia pembohong. Oleh sebab itu manusia menggunakan pernyataan-pernyataan untuk me­ne­guhkan sesuatu seperti ini, sebab mereka saling tidak percaya dan beranggapan bahwa mereka tidak akan diper­caya jika tanpa bersumpah. Perhatikanlah, demi nama baik agama mereka, orang Kristen bukan saja harus meng­hin­dari hal-hal yang memang jahat, melainkan juga yang ber­asal dari si jahat dan yang menyerupainya. Hal-hal yang berasal dari maksud yang jahat dapat dicurigai sebagai hal yang jahat. Sumpah itu bagaikan obat, yang menunjukkan adanya penyakit.

38 “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, beri­lah juga kepadanya pipi kirimu. 40 Dan kepada orang yang hendak meng­adu­kan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah ber­sama dia sejauh dua mil. 42 Berilah kepada orang yang meminta kepada­mu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

Melalui ayat-ayat inilah hukum balasan setimpal dijelaskan secara terperinci sekaligus dicabut. Perhatikanlah:

I.            Seperti apa kelonggaran Perjanjian Lama sebenarnya dalam ke­ada­an orang mengalami kerugian. Di sini yang Yesus katakan hanyalah, “Kamu telah mendengar firman,” dan tidak, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada atau yang dikatakan oleh nenek moyang kita,” seperti pada ayat-ayat sebelumnya yang menyangkut perintah-perintah dalam Kesepuluh Hukum. Hukum balas dendam bukanlah hukum yang selalu harus dilaksanakan oleh setiap orang. Kalau mereka memang menghendaki, mereka akan menuntut pembalasan itu secara hukum: mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Kita menemukan hal ini dalam Keluaran 21:24, Imamat 24:20, dan Ulangan 19:21. Dalam semua ayat tersebut, pelaksananya adalah pejabat yang bertindak sebagai hakim dan tidak percuma menyandang pedang, tetapi yang adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah (Rm. 13:4). Hukum ter­sebut memberikan petunjuk kepada para hakim bangsa Yahudi mengenai hukuman apa yang harus ditimpakan dalam kasus-kasus yang menyebabkan cacat fisik. Sebab di pihak orang yang berbuat jahat, hukuman ini dapat menimbulkan ketakutan, sedangkan di pihak yang dirugikan karena kejahatan tadi, petun­juk ini dapat mengendalikan mereka agar tidak menuntut hu­kum­an yang lebih berat daripada yang semestinya. Bukanlah nyawa ganti mata atau anggota badan ganti gigi, melainkan apa yang adil dan sebanding. Petunjuk ini juga mengisyaratkan (Bil. 35:31) bahwa penghilangan bagian tubuh dalam perkara seperti ini bisa digantikan dengan uang. Walaupun telah ditetapkan bah­wa orang tidak boleh mengganti nyawa seorang pembunuh dengan mene­rima uang pendamaian, maka orang beranggapan bahwa dalam kasus cacat anggota tubuh, denda berupa uang bisa diper­boleh­kan sebagai gantinya.

Namun, sebagian guru-guru Yahudi, yang tidak terhitung se­ba­gai orang-orang yang sangat berbelas kasihan, bersikeras bah­wa pembalasan setimpal itu perlu dilaksanakan, bahkan oleh per­orangan sekalipun. Bagi mereka, tidak ada tempat bagi peng­am­punan atau ganti rugi. Bahkan sampai saat mereka berada di bawah pemerintahan peradilan Romawi pun, di mana dengan sen­diri­nya hukum pengadilan mereka tidak berlaku lagi, mereka tetap saja menginginkan hal yang tampak kasar dan bengis.

Nah, sejauh ini, hukum tersebut juga berlaku bagi kita, yakni sebagai petunjuk bagi para hakim, supaya mereka menggunakan pedang keadilan sesuai dengan hukum yang baik dan yang menyejahterakan, demi membuat takut para pelaku kejahatan dan memulihkan nama baik korban, tidak seperti hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, yang tidak mau membela janda miskin terhadap lawannya (Luk. 18:2-3). Hukum tersebut juga berlaku bagi para pembuat hukum, supaya mereka menetapkan hukuman-hukuman yang adil dan setimpal bagi setiap kejahatan, untuk mencegah perampokan dan tindak ke­ke­rasan dan untuk melindungi orang-orang yang tidak bersa­lah.

II.           Seperti apa perintah Perjanjian Baru itu sebenarnya, yaitu bagi si penuntut itu sendiri. Kewajiban si penuntut ini adalah bahwa dia harus mengampuni kesalahan yang telah dilakukan terhadap diri­nya dan tidak lagi bersikeras menuntut hukuman yang me­lebihi apa yang baik bagi kepentingan umum. Perintah ini sejalan de­ngan kelemahlembutan Kristus dan kuk-Nya yang ringan itu.

Di sini Kristus mengajarkan dua hal kepada kita:

1.           Kita tidak boleh membalas dendam (ay. 39). Aku berkata kepadamu, Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, – orang jahat yang melukaimu.” Di sini, tin­dak­an melawan orang yang berbuat jahat terhadap kita dila­rang secara umum dan tegas, seperti halnya dengan tindakan melawan pemerintah (Rm. 13:2). Namun, hal ini bukan berarti mencabut hukum mengenai perlindungan diri sendiri dan peme­liharaan kita terhadap keluarga. Kita boleh menghindari ke­ja­hatan dan melawannya sejauh ini memang perlu bagi ke­aman­an kita sendiri, tetapi kita tidak boleh membalas keja­hat­an dengan kejahatan, menyimpan dendam, membalas den­dam, ataupun berlaku sama seperti mereka yang telah bertin­dak jahat terhadap kita. Sebaliknya, kita harus melaku­kan hal yang jauh melebihi mereka dengan cara mengampuni mereka (Ams. 20:22; 24:29; 25:21-22; Rm. 12:7). Hukum pembalasan setimpal haruslah dibuat supaya sesuai dengan hukum kasih. Jika ada orang yang melukai kita, maka menuntut ganti rugi bukanlah hak kita melainkan hak Allah, dan kepada-Nya-lah kita harus menyerahkan murka itu. Adakalanya ini juga men­jadi hak para wakil-Nya, jika ini memang diperlukan demi meme­lihara ketenteraman umum. Tidaklah benar kalau kita me­nyakiti saudara kita dengan alasan bahwa dialah yang memulai terlebih dulu, sebab biasanya pukulan kedualah yang menimbulkan pertengkaran. Saat kita dilukai, kita mempunyai kesempatan bukan untuk tidak membenarkan perbuatan kita dengan balas melukai, sebaliknya menunjukkan bahwa kita ini sungguh-sungguh murid Kristus yang sejati dengan cara mengampuninya.

Ada tiga hal yang disebut secara khusus oleh Juruselamat kita untuk menunjukkan bahwa orang Kristen harus bersikap sa­bar terhadap orang-orang yang menyakiti mereka, dan bu­kan menentang, dan hal-hal ini mencakup beberapa hal lain lagi.

(1)        Tamparan di pipi yang menyebabkan luka bagi tubuhku, “Siapa pun yang menampar pipi kananmu.” Ini bukan saja menimbulkan rasa sakit, namun juga penghinaan dan pele­ceh­an (2Kor. 11:20); akan tetapi jika seseorang dalam ama­rah­nya merendahkan dan menyakitimu, “berilah juga ke­pada­nya pipi kirimu.” Artinya, jangan membalas luka itu, tetapi sebaliknya, bersiaplah untuk menerima tamparan beri­kutnya lagi dan tanggunglah semuanya itu dengan sabar. Jangan membalas perbuatan orang kasar itu dengan setimpal, jangan menantangnya, atau bertindak melawan­nya. Bila diperlukan demi ketenteraman umum, serahkan perkara itu kepada pihak yang berwewenang supaya dia bisa berkelakuan baik. Namun, bagimu sendiri, biasanya akan lebih bijaksana untuk mengabaikannya dan tidak mem­per­masa­lahkannya lagi. Lagi pula, tidak ada tulang yang patah, tidak banyak kerugian yang ditimbulkan, jadi ampuni dan lupakan. Jika orang-orang bodoh yang som­bong mengira-ngira yang buruk mengenai engkau dan menertawakanmu, se­mua orang bijaksana akan menghar­gai dan menghor­mati­mu sebagai pengikut Yesus yang, mes­­ki­pun sebagai Hakim atas Israel, tidak menampar orang-orang yang me­nam­par pipi-Nya (Mi. 5:1). Walaupun mungkin saja hal ini bisa menyebabkan kita dihina kembali di kemudian hari, dan kita harus memberikan pipi kiri lagi, janganlah ini sampai mengganggu kita, tetapi marilah kita mempercayai Allah dan pemeliharaan-Nya untuk melin­dungi kita semen­tara kita melakukan kewajiban kita. Siapa tahu pengam­punan terhadap suatu perlakuan buruk dapat mencegah terjadinya perlakuan lain, sedangkan membalas dendam bisa saja memicu perlakuan buruk berikutnya. Ada bebe­rapa perlakuan yang bisa diatasi melalui penye­rah­an diri, sementara perlawanan hanya akan memper­parah keadaan (Ams. 25:22). Walaupun begitu, penggan­ti­an kerugian kita ada di tangan Kristus yang akan mem­balas kita dengan kemuliaan kekal atas rasa malu yang kita tanggung dengan sabar. Meskipun hal ini tidak lang­sung diberikan, jika se­mua ini ditanggung demi memeli­hara hati nurani dan se­suai dengan teladan yang diberikan Kristus, maka ini akan diperhitungkan sebagai penderitaan demi Kristus.
(2)        Kehilangan jubah, yang merupakan kerugian bagi harta saya (ay. 40). Kepada orang yang hendak mengadukan eng­kau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Ini perkara yang tidak mudah. Perhatikanlah, bukan hal aneh lagi bila penanganan hukum dimanfaatkan untuk menimbulkan kerugian yang sangat besar. Walaupun para hakim berlaku adil dan sangat berhati-hati sekalipun, ma­sih saja ada kemungkinan bagi orang jahat yang tidak mengacuhkan sumpah dan mudah melakukan pemalsuan, untuk merampas jubah seseorang melalui jalan hukum. Ja­ngan­lah heran akan perkara itu (Pkh. 5:7), tetapi bila mengalami kejadian seperti itu, daripada mengguna­kan hu­kum guna membalas dendam, daripada mengajukan surat permohonan atau mati-matian mempertahankan per­kara­mu yang sungguh-sungguh benar itu, biarlah orang itu juga mengambil jubahmu sekalian. Jika persoalannya kecil hing­ga bisa kita abaikan tanpa menimbulkan kerugian berarti bagi keluarga kita, adalah baik untuk mengalah demi per­damai­an. “Dengan membeli sehelai jubah baru, kau tidak akan mengeluarkan uang sebanyak ongkos yang diperlu­kan bila mengambil jalan hukum untuk membereskan per­kara itu. Oleh sebab itu, jika engkau tidak dapat memper­oleh jubah itu kembali dengan cara-cara yang adil, lebih baik biarkan dia mengambilnya saja.”
(3)        Dipaksa berjalan satu mil, yang bagi saya bisa mengganggu kebebasan (ay. 41). “Siapa pun yang memaksa engkau ber­jalan sejauh satu mil, atau untuk pergi melaksanakan ke­­per­luan untuknya, atau untuk melayaninya, janganlah menge­luh, melainkan berjalanlah bersama dia sejauh dua mil dan bukannya bertengkar dengan dia.” Janganlah ber­kata, “Aku akan melakukannya bila tidak dipaksa, karena aku tidak suka dipaksa.” Lebih baik berkata, “Aku akan melakukannya, sebab bila tidak, akan timbul pertengkar­an.” Lebih baik melayani dia daripada melayani nafsu ke­som­bongan dan balas dendam diri sendiri. Ada yang meng­urai­kannya sebagai berikut: Orang Yahudi mengajarkan bahwa, tidak seperti orang-orang lain pada umumnya, mu­rid-murid orang bijak dan murid-murid hukum tidak boleh ditekan oleh para pejabat raja untuk mengadakan perjalan­an yang merupakan pelayanan umum itu. Namun, Kristus tidak mau murid-murid-Nya menuntut hak istimewa ini juga. Ia ingin mereka patuh dan bukan mela­wan pemerin­tah. Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa orang Kris­ten tidak boleh gemar mengajukan tun­tut­an hukum. Me­reka harus mengalah terhadap kerugian kecil dan tidak mem­permasalahkannya. Jika kerugian yang ditimbulkan menyebabkan kita terpaksa mengadakan perbaikan, hal ini haruslah demi penyelesaian yang baik, bukan untuk mem­balas dendam. Meskipun kita tidak boleh mencari masa­lah, kita harus menyambutnya dengan ceria di tengah ke­wajib­an kita dan berusaha menanganinya sebaik-baiknya. Bila ada yang berkata, “Daging dan darah tidak akan sanggup meng­abaikan penghinaan begitu saja,” biarlah mereka meng­­ingat bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

2.          Kita harus bersikap dermawan dan murah hati (ay. 42), bukan saja tidak boleh menyakiti sesama, malah sebaliknya, kita harus berusaha sedapat mungkin untuk berbuat baik kepada mereka.

(1)        Kita harus siap memberi, “Berilah kepada orang yang me­min­ta kepadamu. Bila engkau memiliki kemampuan, ang­gap­l­ah permintaan orang miskin sebagai kesempatan un­tuk memberikan derma.” Saat seseorang yang benar-benar patut menerima derma muncul, kita harus bersedia mem­beri pada kesempatan pertama. Berikanlah bagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang. Namun, perbuatan dermawan kita haruslah dilakukan dengan sewajarnya (Mzm. 112:5), supaya jangan kita memberikannya kepada orang yang malas dan tidak layak menerimanya. Kita harus memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkan­nya dan memang layak menerimanya. Apa yang dikatakan Allah kepada kita harus kita sampaikan juga kepada se­sama kita yang miskin, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.”
(2) Kita harus siap memberikan pinjaman. Adakalanya hal ini hampir sama dermawannya dengan memberi, karena tin­dak­an ini bukan saja meringankan keadaan darurat saat itu, tetapi juga menuntun si peminjam kepada pengelolaan yang lebih baik, ketekunan yang berdedikasi, dan keju­jur­an. Oleh sebab itu, “Menge­nai orang yang mau meminjam sesuatu dari padamu agar bisa hidup atau untuk ber­da­gang, janganlah menolak­nya. Janganlah kautolak orang-orang yang kauketahui mem­pu­nyai permintaan seperti itu kepadamu, dan jangan menga­rang alasan untuk mengusir mereka.” Jadilah orang yang mudah ditemui oleh dia yang mau meminjam walaupun ia merasa malu dan kurang per­caya diri untuk menyam­pai­kan masalahnya dan memin­ta pertolongan. Engkau menge­ta­hui baik kebutuhan maupun keinginan­nya, dan oleh karenanya, tawarkan kebaikan ke­pada­nya. Exorabor ante­quam rogor; honestis precibus occuram – aku akan dibujuk sebelum diminta, aku akan bersiap-siap menyambut permo­hon­an yang akan datang (Seneca, dalam De Vitâ Beatâ). Oleh karena itu, kita harus siap siaga dalam berbuat baik, sebab sebelum kita berseru, Allah sudah mendengar kita dan menyambut kita dengan berkat melimpah.

43 “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan benci­lah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikian­lah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan ma­ta­hari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu menga­sihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam ke­pada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demi­kian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Akhirnya kita melihat juga di sini uraian mengenai hukum yang sa­ngat mendasar dari loh batu kedua, Kasihilah sesamamu manusia, yang menggenapi hukum Taurat.

I.           Lihatlah di sini betapa hukum ini telah dirusak oleh berbagai taf­sir­an dari para guru Yahudi (ay. 43). Allah berkata, “Kasihilah sesamamu manusia,” dan menurut pengertian mereka, sesamamu manusia hanyalah mereka yang senegeri, sebangsa, dan seagama semata, dan hanya orang-orang yang berkenan mereka terima sebagai teman. Namun, ini bukanlah yang terburuk. Malah lebih dari itu, dari perintah “Kasihilah sesamamu manusia,” mereka begitu saja mengambil kesimpulan yang tidak pernah dirancang Allah yaitu, “Bencilah musuhmu.” Dengan seenaknya mereka me­man­dang seseorang sebagai musuh mereka, sehingga dengan demi­­kian membatalkan perintah Allah dengan adat istiadat me­reka itu, meskipun berlawanan dengan hukum-hukum yang ada (Kel. 23:4-5; Ul. 23:7). Janganlah engkau menganggap keji orang Edom atau orang Mesir, meskipun bangsa-bangsa ini telah men­jadi musuh besar yang pernah ada bagi orang Israel. Me­mang benar bahwa Allah telah menyuruh mereka membinasa­kan ketu-juh bangsa di Kanaan yang tidak bersekutu dengan mereka, na­mun ada alasan khusus untuk itu – yaitu untuk menyediakan tempat bagi bangsa Israel dan supaya bangsa-bangsa itu tidak menjadi perangkap bagi mereka. Namun, sungguh merupakan sifat yang jahat bila karena itu mereka lalu menarik kesimpulan bahwa mereka harus membenci semua musuh mereka. Namun, falsafah moral orang-orang yang belum mengenal Allah pada masa itu memang mengizinkan hal ini. Menurut kaidah Cicero, Nemini nocere nisi prius lacessitum injuriâ – Jangan menyakiti sia­pa pun, kecuali disakiti terlebih dahulu (De Offic). Lihatlah betapa mudah­nya nafsu jahat merusak sifat dari firman Allah, dan me­manfaat­kan perintah itu untuk mengesahkan kebenaran nafsu itu sendiri.

II.           Lihatlah bagaimana hal ini diluruskan oleh perintah Tuhan Yesus yang memberikan pelajaran lain kepada kita, “Tetapi Aku berkata kepadamu, Aku, yang telah datang untuk menjadi Jurudamai agung, Sang Pendamai akbar, yang mengasihi engkau ketika eng­kau masih menjadi orang asing dan musuh, Aku berkata, Kasihi­lah musuhmu” (ay. 44). Walaupun manusia sangat jahat dan me­lam­piaskannya kepada kita, hal ini tidak membebaskan kita dari utang kita kepada mereka, yaitu untuk mengasihi sesama dan sanak saudara kita. Memang kita ini cenderung untuk meng­ha­rap­kan celaka, atau setidaknya sama sekali tidak meng­inginkan yang baik, bagi orang-orang yang membenci kita dan yang telah menyakiti kita. Namun, di dasar sikap ini terdapat suatu akar kepahitan yang harus dicabut. Di dalamnya ada sisa-sisa watak rusak yang harus ditundukkan oleh anugerah. Perhatikanlah, sudah merupakan tugas utama bagi orang Kristen untuk menga­sihi musuh-musuh mereka. Memang kita tidak bisa memperoleh keuntungan dari seseorang yang jelas-jelas jahat dan duniawi, atau mempercayai orang yang kita ketahui suka menipu. Kita memang tidak mencintai orang-orang yang seperti ini. Namun, kita harus menghormati sifat manusia, dan karena itu meng­hor­mati juga semua orang. Kita harus, dengan senang hati, mem­per­hatikan sikap-sikap ramah dan patut dipuji, bahkan di dalam diri musuh-musuh kita sekalipun, seperti kejujuran, ketenangan, mau belajar, kebajikan moral, baik terhadap orang lain, mengakui agama, dan sebagainya. Kita harus mencintai sikap-sikap seperti ini meskipun mereka adalah musuh kita. Kita harus memiliki belas kasihan dan niat baik terhadap mereka. Di sini diberita­hu­kan kepada kita:

1.           Bahwa kita harus berkata baik tentang mereka, “Berkatilah me­reka yang mengutuk kamu.” Saat berbicara dengan mereka, kita harus menanggapi cercaan mereka dengan kata-kata yang sopan dan ramah, bukan membalas cerca dengan cerca. Di balik punggung mereka, kita harus memuji hal-hal di dalam diri mereka yang memang patut dipuji, dan setelah menyam­pai­kan segala hal yang baik yang ada pada mereka, janganlah kita mengata-ngatai mereka lagi (1Ptr. 3:9). Mereka yang di dalam lidahnya ada hukum kebaikan, dapat menyam­paikan kata-kata yang baik kepada orang-orang yang melontarkan kata-kata jahat kepada mereka.
2.           Bahwa kita harus berbuat baik kepada mereka, “Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, dan ini akan menjadi suatu bukti kasih yang lebih baik lagi daripada sekadar kata-kata yang baik. Siap sedialah untuk berbuat baik kepada me­reka semampumu, dan bergembiralah bila mendapat kesem­pat­an untuk melakukannya, terhadap tubuh jasmani, harta, nama baik, keluarga, dan terutama bagi jiwa mereka.” Ada ce­rita mengenai Uskup Agung Cranmer bahwa kalau ada orang yang mau membuat dia menjadi temannya, maka laku­kanlah hal-hal yang jahat kepada dia karena sang Uskup dike­nal sudah begitu banyak melayani orang-orang yang justru telah menyakitinya.
3.           Bahwa kita harus berdoa bagi mereka, “Berdoalah bagi mereka yang mencaci kamu dan menganiaya kamu.” Perhatikanlah:

(1)          Bukanlah cerita baru lagi bahwa orang-orang kudus yang ter­­baik pun dibenci, dikutuki, dianiaya, dan dicaci maki oleh orang-orang jahat. Kristus sendiri pun diperlakukan se­perti itu.
(2)         Setiap kali menghadapi perlakuan seperti ini, kita mem­per­oleh kesempatan untuk menunjukkan ketaatan kita ter­ha­dap perintah dan teladan Kristus, dengan berdoa bagi me­re­ka yang menganiaya kita. Kalau tidak ada cara lain lagi yang dapat kita pakai untuk menyaksikan kasih kita ke­pada mereka, maka doa merupakan jalan yang dapat kita lakukan dengan diam-diam, dan pasti dengan cara ini kita tidak perlu berpura-pura. Kita harus berdoa agar Allah mau mengampuni mereka, supaya mereka tidak harus meng­alami pembalasan terburuk atas setiap perlakuan me­reka terhadap kita, dan supaya Ia memperdamaikan me­re­ka dengan kita. Doa adalah salah satu cara untuk mem­buat mereka demikian. Plutarch (penulis dari Yunani pada abad pertama sm), dalam bukunya Laconic Apophthegm, menceritakan tokoh Aristo sebagai orang yang demi­kian. Dalam cerita ini, ketika seseorang memuji ucap­an Cleomenes yang menjawab pertanyaan apa yang harus di­per­buat seorang raja yang baik dengan jawaban, “Tous men philous euergetein, tous de echthrous kakos poeien” – membalas yang baik kepada teman-temannya dan mem­balas yang jahat kepada musuh-musuhnya, Aristo berkata, “jauh lebih baik bila tous men philous euergetein, tous de echthrous philous poeien” – berbuat baik kepada teman-teman kita dan bersahabat dengan musuh-musuh kita. Ini sama dengan menimbun bara api di atas kepala mereka.

Di sini diberikan dua alasan untuk memperkuat perintah (yang terdengar sangat keras) mengenai mengasihi musuh ini. Kita harus melakukannya:

[1]        Supaya kita menjadi sama seperti Allah Bapa kita; “su­paya kamu dapat menjadi, dapat membuktikan dirimu sendiri adalah, anak-anak Bapamu yang di sorga.” Da­pat­kah kita meneladani-Nya dengan lebih baik? Kita dapat melakukannya dengan mengasihi musuh-musuh kita, di mana kejahatan mereka diperdamaikan dan di­se­suai­kan dengan kemurnian dan kekudusan yang tidak terbatas. Allah menerbitkan matahari dan menu­run­­kan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (ay. 45). Perhatikanlah, pertama, sinar mata­hari dan hujan adalah berkat yang sangat besar bagi dunia, dan mereka berasal dari Allah. Matahari yang bersinar itu adalah milik-Nya, dan hujan itu dikirim oleh-Nya. Keduanya tentu saja tidak hadir begitu saja se­cara kebetulan, tetapi datang dari Allah. Kedua, ber­bagai rahmat umum yang kita terima harus dihargai se­ba­gai contoh dan bukti kebaikan Allah, yang melalui semuanya ini menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Allah Sang Pemberi Kebaikan, yang memberikan dengan ber­lim­pah-limpah kepada umat manusia, yang akan sangat menderita sengsara tanpa kemurahan-kemurahan ini, dan yang akan tidak berdaya sama sekali tanpa berkat-berkat tersebut, sekecil apa pun berkat itu. Ketiga, karu­nia pemeliharaan yang umum ini diberikan tanpa membeda-bedakan orang baik dan jahat, orang yang be­nar dan orang yang tidak benar. Dengan demikian, kita tidak bisa mengetahui kasih dan kebencian melalui apa yang ada di hadapan kita, melainkan melalui apa yang ada di dalam diri kita; bukan melalui cahaya matahari yang bersinar di atas kepala kita, melainkan melalui ter­bitnya Surya Kebenaran di dalam hati kita. Keempat, orang-orang yang paling jahat sekalipun turut meng­ambil bagian dalam kesenangan hidup bersama orang-orang lain, meskipun mereka menyakiti sesama mereka ini dan melawan Allah. Hal ini sungguh merupakan sua­­tu bukti yang menakjubkan tentang kesabaran dan kelimpahan Allah. Hanya satu kali saja Allah melarang matahari bersinar ke atas bangsa Mesir, yaitu ketika pada orang Israel ada terang di tempat kediaman me­re­ka. Allah bisa saja membuat perbedaan seperti itu se­tiap hari. Kelima, karunia dari kelimpahan Allah kepada orang jahat yang memberontak terhadap-Nya mengajar kita untuk berbuat baik kepada orang yang membenci kita. Terutama kita harus ingat bahwa di dalam diri kita ini juga terdapat pikiran duniawi yang merupakan mu­suh bagi Allah, dan meskipun begitu, kita juga masih menikmati kemurahan-Nya. Keenam, hanya mereka yang berupaya menyerupai Dia terutama dalam hal ke­baikan-Nya inilah yang dapat diterima sebagai anak-anak Allah.
[2]        Supaya dalam hal ini kita dapat berbuat lebih banyak daripada orang lain (ay. 46-47). Pertama, pemungut cukai pun mengasihi teman-teman mereka. Secara alami mereka akan cenderung bersikap demikian, ke­pen­­­tingan membawa mereka ke situ. Berbuat baik kepada mereka yang berbuat baik kepada kita adalah si­kap umum manusia, yang bahkan sangat terbukti juga dalam diri orang-orang yang dibenci dan dianggap hina oleh orang Yahudi. Para pemungut cukai bukanlah tokoh yang terkenal baik, namun mereka juga sangat bersyukur kepada orang-orang yang telah menolong me­reka, dan bersikap ramah kepada orang-orang pada siapa mereka bergantung. Bukankah sepantasnya kita harus berbuat lebih baik lagi dari mereka? Dengan me­lakukan hal ini, kita melayani diri dan mendatang­kan keuntungan bagi diri sendiri. Bukan pahala, tetapi rasa hormat terhadap Allah dan kewajibanlah yang harus mendorong kita untuk melakukan lebih dari kecen­derungan alami dan minat keduniawian kita. Kedua, itu­lah sebabnya kita harus mengasihi musuh-musuh kita, supaya kita dapat melebihi mereka. Jika kita ha­rus lebih baik daripada para ahli Taurat dan orang Farisi, maka kita harus jauh lebih baik lagi daripada para pemungut cukai. Perhatikanlah, Kekristenan lebih daripada sekadar perikemanusiaan. Pertanyaan yang harus sering kita ajukan kepada diri sendiri adalah, “Hal apa yang kita lakukan lebih sering daripada orang lain? Hal baik apa yang kita kerjakan melebihi mereka?” Kita tahu lebih banyak daripada orang lain. Kita bicara lebih banyak mengenai Allah daripada orang lain. Kita meng­akui dan telah berjanji lebih banyak daripada orang lain. Allah telah melakukan lebih banyak bagi kita, dan oleh sebab itu layak mengharapkan lebih ba­nyak dari kita dibandingkan dari orang lain. Kemuliaan Allah lebih banyak dinyatakan di dalam diri kita dari­pada orang lain. Namun, apakah yang kita lakukan lebih ba­nyak daripada orang lain? Di dalam hal apa kita hidup melebihi orang dunia? Bukankah kita masih bersifat dunia­wi, dan bukankah kita masih menjalani hidup dengan sifat orang duniawi yang jauh di bawah karakter Kristen yang sesungguhnya? Dalam hal inilah kita ter­utama harus melebihi orang lain: bahwa semen­tara se­mua orang ingin membalas kebaikan dengan kebaikan, kita harus membalas kejahatan dengan ke­baik­an. Hal ini berbicara tentang asas kebenaran yang lebih mulia dan sesuai dengan peraturan yang lebih agung daripada yang dianut kebanyakan orang. Orang lain memberi salam kepada saudara-saudara mereka. Mereka mene­ri­ma orang-orang yang segolongan, seja­lan, dan sepen­dapat dengan mereka, tetapi kita tidak boleh membatasi rasa hormat kita seperti ini, sebalik­nya, kita harus me­nga­sihi musuh-musuh kita, sebab bila tidak, apakah upah kita? Kita tidak dapat mengharap­kan upah seba­gai orang Kristen bila kita tidak melebihi kebajikan pe­mu­ngut cukai. Perhatikanlah, orang-orang yang men­jan­ji­kan upah melebihi orang lain kepada diri sendiri harus belajar berbuat lebih baik daripada orang lain.

Terakhir, Juruselamat kita menutup pokok ini de­ngan nasihat berikut (ay. 48): “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga ada­­lah sempurna.” Hal ini dapat dipahami sebagai 1) Secara umum, termasuk segala sesuatu yang harus kita ikuti untuk menjadi pengikut Allah sebagai anak-anak yang terkasih. Perhatikanlah, sudah menjadi kewajiban orang Kristen untuk menginginkan, mengarahkan diri, dan berusaha hidup sempurna dalam anugerah dan kekudusan (Flp. 3:12-14). Oleh karenanya kita harus belajar menyelaraskan diri kita dengan contoh dari Bapa sorgawi kita (1Ptr. 1:15-16). Atau, 2) Dalam hal khusus yang disebutkan tadi, yaitu untuk berbuat baik kepada musuh-musuh kita (Luk. 6:36). Kesempurnaan Allah ada­­­­lah mengampuni kesalahan, menolong orang asing, dan berbuat baik kepada orang yang jahat dan yang tidak tahu berterima kasih. Semua hal ini merupa­kan ke­wa­jib­an kita supaya kita menjadi serupa dengan Dia. Kita, yang berutang begitu banyak hingga berutang selu­ruh keberadaan kita pada kelimpahan Allah, patut me­ne­­la­dani hal ini semampu kita.

Matius 5Matius 6Matius 7

Online Tafsiran Alkitab

Ketik ayat Alkitab, cth: Yoh 3:16


Kejadian, Mazmur, Amsal, Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika, 1 & 2 Timotius, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1 & 2 & 3 Yohanes dan Yudas
Aplikasi Android
Tafsiran Alkitab