Matius 6

Dalam pasal sebelum ini, Kristus memperlengkapi murid-murid-Nya untuk menghadapi berbagai pengajaran dan pendapat yang rusak dari para ahli Taurat dan orang Farisi, terutama penjelasan mereka akan hukum Taurat (yang juga disebut ragi, 16:12). Dalam pasal ini, Ia memperingatkan mereka terhadap perilaku buruk orang Farisi dan ahli Taurat yang melakukan dua dosa yang, meskipun tidak mereka akui dalam pengajaran mereka, namun tampak dalam percakapan mereka. Perilaku buruk mereka ini sudah dikenal luas dan bahkan dianjurkan kepada para pengikut mereka. Kedua dosa tadi adalah kemunafikan dan pikiran duniawi. Dari semua dosa lain, kedua dosa inilah yang harus paling diwaspadai orang percaya ka­rena paling mudah menghinggapi orang-orang yang telah melepaskan diri dari kecemaran nafsu dunia yang lebih berat, dan oleh sebab itu sangat berbahaya. Di sini kita diperingatkan:

I    Terhadap kemunafikan. Kita tidak boleh menjadi seperti orang munafik dan berperilaku seperti mereka.

  1. Dalam memberikan sedekah (ay. 1-4).
  2. Dalam berdoa (ay. 5-8). Di sini kita diajar tentang apa yang harus kita doakan, dan bagaimana harus berdoa (ay. 9-13). Kita juga diajarkan untuk mengampuni dalam doa (ay. 14-15).
  3. Dalam berpuasa (ay. 16-18).

II   Terhadap pikiran duniawi.

  1. Dalam membuat pilihan, yang merupakan dosa orang mu­na­fik, yang sifatnya membinasakan (ay. 19-24).
  2. Dalam hal kekhawatiran, yang merupakan dosa mengeri­kan yang dilakukan banyak orang Kristen (ay. 25-34).

1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapa­mu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah eng­kau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan de­ngan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mem­balas­nya kepadamu.”

Sama seperti kita harus berlaku lebih baik daripada para ahli Taurat dan orang Farisi dengan cara menghindari dosa dalam hati, per­zinah­an dalam hati, dan pembunuhan dalam hati, demikian pula kita harus memelihara dan menjaga ibadah dalam hati. Kita harus mela­ku­­kan segala sesuatu berdasarkan asas penting yang keluar dari da­lam, supaya perbuatan kita itu bisa diterima oleh Allah, dan bukan supaya dipuji oleh manusia. Artinya, kita harus berjaga-jaga ter­ha­dap kemunafikan, yakni ragi orang Farisi, termasuk pengajaran me­reka (Luk. 12:1). Memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa, merupakan tiga kewajiban utama orang Kristen – tiga dasar hukum, menurut orang Arab. Dengan melakukan hal-hal tersebut, kita memberikan penghormatan dan pelayanan kepada Allah melalui tiga kepentingan asasi kita, yaitu doa dengan segenap hati, puasa dengan tubuh kita, dan pemberian sedekah dengan harta benda kita. Jadi, kita bukan saja harus menjauhi yang jahat, tetapi juga melakukan yang baik, dan melakukannya dengan benar, supaya dengan demikian perbuat­an baik kita itu tetap tinggal untuk selama-lamanya.

Dalam ayat-ayat ini, kita diperingatkan terhadap kemunafikan da­lam memberi sedekah. Waspadalah akan hal ini. Peringatan yang dibe­ri­kan kepada kita ini menandakan bahwa perbuatan tersebut adalah dosa.

1.           Kita ada dalam bahaya yang sangat besar, karena dosa ini tidak ken­tara. Kemuliaan yang sia-sia menjelma secara licin ke dalam peri­laku kita sebelum kita menyadarinya. Murid-murid Kristus bisa saja tergoda melakukan dosa kemunafikan ini karena mereka memiliki kuasa untuk melakukan banyak mujizat dan karena mereka hidup dengan orang-orang yang sebagiannya mengagumi mereka dan sebagian lain lagi tidak menyukai mereka, dan kedua kelompok orang ini merupakan pencobaan bagi murid-murid ter­sebut untuk memamerkan diri dalam kedagingan.
2.           Ini adalah dosa yang sangat berbahaya bagi kita. Berhati-hatilah terhadap kemunafikan, karena jika sampai menguasai diri Anda, sikap ini akan menghancurkan Anda, bagaikan lalat mati yang mencemari seluruh botol berisi minyak yang sangat berharga.

Ada dua hal yang ditekankan di sini:

I.            Memberi sedekah adalah kewajiban yang sangat penting yang harus dijalankan semua murid Kristus, sesuai kemampuan ma­sing-masing. Hal ini diatur dalam hukum alam dan hukum Musa, dan sangat ditekankan oleh para nabi. Bermacam-macam tulisan kuno mencatat tēn eleēmosynēn – sedekahmu, yang diartikan seba­gai tēn dikaiosynēn – kebenaranmu, sebab memberi sedekah adalah kebenaran (Mzm. 112:9; Ams. 10:2). Orang Yahudi menye­but kotak amal untuk orang miskin sebagai kotak kebenaran. Semua yang diberikan kepada orang miskin dianggap sebagai hak yang patut mereka terima (Ams. 3:27). Kewajiban ini tidak akan menjadi berkurang dalam hal kepentingan dan keutamaannya, sekalipun sudah disalahgunakan oleh orang-orang munafik demi memuaskan kesombongan mereka. Janganlah karena sebagian orang Kristen telah mengagung-agungkan perbuatan amal secara takhayul, lalu hal ini dijadikan dalih yang membebaskan orang-orang Kristen lainnya yang tamak untuk tidak perlu memberi sedekah. Memang benar, perbuatan amal kita tidak dapat mem­bawa kita ke sorga. Namun, tidak kalah benarnya bahwa kita juga tidak dapat masuk sorga tanpa berbuat amal. Ini adalah ibadah yang murni (Yak. 1:27), yang akan menjadi ujian pada hari yang agung itu. Di sini, Kristus menganggap dengan sendirinya murid-murid harus memberi sedekah, atau Dia tidak akan mengakui mereka yang tidak mau melakukannya.

II.           Bahwa memberi sedekah itu merupakan suatu kewajiban yang di­ser­­tai dengan upah yang sangat besar, yang akan hilang bila dila­ku­kan dengan kemunafikan. Kadang-kadang perbuatan itu men­dapat upah berupa hal-hal sementara dalam kelimpahan (Ams. 11:24-25; 19:17); tak akan berkekurangan (Ams. 28:27; Mzm. 37:21, 25); luput dari celaka (Mzm. 41:2-3); kehormatan dan kebe­saran, yang mengikuti orang-orang yang menolong mereka yang miskin (Mzm. 112:9). Akan tetapi, selain semuanya ini, pada hari kebangkitan orang-orang benar, perbuatan amal ini akan men­da­pat balasannya dalam bentuk kekayaan kekal (Luk. 14:14). Quas dederis, solas semper habebis, opes – Kekayaan yang kauberikan akan membentuk satu-satunya kekayaan yang akan selalu kau­miliki (Martial).

Sekarang perhatikanlah,

1.           Seperti apa perilaku orang-orang munafik mengenai kewajiban ini. Mereka memang benar-benar melakukannya, tetapi bukan berdasarkan asas kepatuhan kepada Allah atau kasih kepada manusia, melainkan dalam kesombongan dan kemuliaan yang sia-sia. Bukan dengan belas kasihan terhadap orang miskin, melainkan murni untuk pamer, agar dipuji sebagai orang baik sehingga dengan demikian mendapat perhatian dan peng­har­ga­an orang. Dengan demikian mereka melayani kebutuhan me­­reka sendiri dan mendapat jauh lebih banyak daripada yang mereka berikan. Karena mengejar tujuan ini, mereka le­bih suka memberi sedekah mereka di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, di mana banyak orang berhimpun dan dapat mengamati mereka. Orang-orang yang berhimpun ini memuji-muji kedermawanan orang-orang munafik itu karena telah me­ne­rima bagian dari pemberian mereka, dan karena begitu tidak pedulinya orang-orang ini, mereka tidak bisa menilai ke­som­bongan yang menjijikkan itu. Mungkin mereka juga me­mungut kolekte di rumah-rumah ibadat untuk orang mis­kin, dan pe­nge­mis-pengemis berkeliaran di lorong-lorong dan jalan besar, dan pada kesempatan di depan umum seperti inilah mereka memilih untuk memberi sedekah. Ini bukan berarti bahwa orang dilarang memberi sedekah ketika orang melihat kita. Kita boleh saja melakukannya, namun jangan dengan maksud su­paya dilihat orang. Lebih baik kita memilih orang-orang yang patut menerima derma di antara mereka yang kurang di­per­hatikan. Saat memberi sedekah di rumah sendiri, orang munafik akan mencanangkan hal itu, meniup terompet, ber­pura-pura memanggil orang miskin untuk dilayani, namun sebe­narnya yang mereka lakukan adalah mengumumkan ke­der­mawanan mereka, supaya diperhatikan dan diperbin­cang­kan orang.

Malapetaka yang disampaikan Kristus ke atas perilaku ini sangat jelas. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Sekilas, kata-kata ini mirip sebuah janji – Jika mendapat upah, mereka akan memiliki yang cu­kup, namun ada dua perkataan di dalamnya yang membuat kalimat tersebut menjadi ancaman.

(1)         Itu memang merupakan upah, tetapi upah mereka. Bukan upah yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berbuat baik, melainkan upah yang mereka janjikan bagi diri me­reka sendiri, dan sangat malanglah upah ini. Mereka mela­ku­kan hal itu supaya dilihat orang, dan mereka memang dilihat orang. Mereka memilih untuk mengikuti kepercayaan sendiri, yang akhirnya menipu diri mereka sendiri, dan me­reka akan mendapatkan apa yang mereka pilih itu. Orang-orang percaya yang duniawi mengadakan persetujuan de­ngan Allah hanya untuk memperoleh kedudukan, kehor­mat­an, serta kekayaan, dan perut mereka akan kenyang dengan hal-hal tersebut (Mzm. 17:14). Namun, mereka tidak dapat mengharapkan lebih banyak. Hanya inilah peng­hiburan mereka (Luk. 6:24), hal-hal yang baik menu­rut mereka (Luk. 16:25), dan mereka akan ditolak bersama dengan hal-hal yang mereka dapatkan ini. “Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Inilah kesepakatan yang patut kaupatuhi.”
(2)          Itu memang suatu upah, tetapi upah untuk masa kini, dan mereka mendapatkannya. Tetapi, hanya itu saja, tidak ada lagi yang tersimpan bagi mereka di masa mendatang. Seka­rang mereka telah mendapatkan semua yang pantas me­re­ka dapatkan dari Allah. Mereka telah mendapat upah me­reka di sini, dan tidak ada lagi yang bisa diharapkan se­su­dah itu. Apechousi ton mishton. Artinya, itu sudah me­rupa­kan suatu penerimaan yang penuh. Sebaliknya, upah yang diterima orang saleh dalam kehidupan ini hanya diba­yar sebagian. Nantinya, akan ada jauh lebih banyak upah lagi. Tetapi, orang munafik mendapatkan semuanya di du­nia ini, dan begitulah malapetaka yang akan mereka alami, karena mereka sendirilah yang telah memutus­kan­nya. Bagi orang-orang kudus, dunia ini hanyalah tempat perbekalan, atau uang untuk dibelanjakan. Namun, bagi orang muna­fik, itulah bayaran mereka, itulah bagian me­reka.

2.           Apa yang merupakan ajaran Kristus mengenai hal ini (ay. 3-4). Dia sendiri yang merupakan teladan dalam hal kerendahan hati, menekankan hal ini kepada murid-murid-Nya sebagai sesuatu yang mutlak perlu supaya tindakan mereka diterima Allah, “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Mungkin hal ini menyinggung tentang penempatan Corban, atau kotak amal bagi orang miskin untuk memasukkan persembahan, yak­ni di sebelah kanan pintu masuk rumah ibadat. Dengan demi­kian mereka dapat memasukkan pemberian mereka ke dalamnya dengan tangan kanan. Bisa juga, memberi sedekah dengan tangan kanan menyiratkan kesediaan dan ketetapan hati dalam melakukannya, yakni dengan terampil, bukan dengan canggung atau maksud jahat. Tangan kanan dapat di­guna­kan untuk menolong orang miskin, mengangkat mereka, menulis untuk mereka, membalut luka-luka mereka, dan berbagai hal selain memberi sedekah kepada mereka. Namun, “kebaikan apa pun yang dilakukan tangan kananmu bagi orang miskin, janganlah diketahui tangan kirimu. Sembunyi­kan tindakan ini sebisa mungkin, rahasiakanlah ini baik-baik untuk dirimu sendiri. Lakukanlah hal ini karena ini suatu pekerjaan yang baik, bukan dengan maksud untuk memberi nama baik bagimu.” In omnibus factis, re, non teste, moveamur – Dalam semua tindakan, kita harus dipengaruhi rasa hormat terhadap orang yang menerimanya, bukan yang mengamatinya (Cic de Fin). Ini artinya:

(1)         Bahwa kita tidak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang kita perbuat, bahkan tidak juga oleh, orang-orang yang berdiri sangat dekat di sebelah kiri kita. Bukannya mem­beri­tahukan hal itu kepada mereka, malah sebaliknya, jika memungkinkan, janganlah mereka sampai mengeta­hui­­­nya. Milikilah keinginan untuk menutupi perbuatan ini dari mereka, dan demi sopan santun mereka juga tidak akan menunjukkan bahwa mereka melihatnya dan tidak akan menyebarluaskannya sehingga kabar tentang per­buat­­­an ini tidak berlanjut ke mana-mana.
(2)         Bahwa kita sendiri jangan terlampau memikirkannya se­cara berlebihan: tangan kiri itu merupakan bagian dari tubuh kita sendiri. Janganlah kita terlalu mengingat-ingat perbuatan baik kita, jangan memuji dan mengagumi diri sendiri. Kecongkakan dan rasa puas diri, serta memuja diri adalah macam-macam kesombongan yang sama berba­ha­ya­nya dengan kemuliaan sia-sia dan sikap pamer di depan orang lain. Biasanya orang-orang besar yang dihormati ka­rena jasa-jasa baik mereka malah telah melupakan semua jasa baik mereka itu; “Bilamanakah kami melihat Engkau lapar atau haus?”

3.          Janji yang diberikan kepada mereka yang tulus dan rendah hati dalam memberi sedekah. Hendaklah sedekahmu itu diberi­kan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi itu akan memperhatikannya. Perhatikanlah, keti­ka kita sama sekali tidak memperhatikan perbuatan baik kita, Allah justru sangat memperhatikannya. Seperti halnya Allah mendengar perbuatan jahat yang dilakukan terhadap kita ke­tika kita tidak mendengarnya (Mzm. 37:14-15), demikian pula Ia juga melihat perbuatan baik kita ketika kita tidak me­li­hat­nya. Bagi orang munafik, sungguh menakutkan bila Allah me­li­hat yang tersembunyi, tetapi bagi orang Kristen yang tulus, hal ini justru merupakan penghiburan. Namun, ini belumlah se­mua­nya, karena mereka bukan saja akan menerima perhatian dan pujian, melainkan juga upah dari Allah, yang akan mem­balasnya kepadamu. Perhatikanlah, mereka yang ingin di­terima Allah melalui pemberian sedekah harus berserah diri saja pada-Nya sebagai Sang Pemberi Upah. Amatilah betapa hal ini diungkapkan dengan tegas, Bapamu akan membalas­nya, Dia sendirilah yang menjadi Pemberi Upah itu (Ibr. 11:6). Biarlah Dia sendiri yang membalas kebaikanmu itu, ya, bahkan Dia sendirilah yang akan menjadi Upah itu (Kej. 15:1), upahmu akan sangat besar. Dia akan memberimu upah seba­gai Bapamu, bukan sebagai seorang tuan yang memberi ke­pada hambanya sekadar upahnya saja dan tidak lebih dari itu. Sebagai seorang Bapa, Dia akan memberi dengan berlimpah-limpah, tanpa batas, kepada anak-anak-Nya yang melayani-Nya. Ya, Dia akan memberimu upah secara terbuka di depan orang banyak, kalaupun bukan sekarang, tentu pada hari yang agung itu. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah, pujian yang terbuka, engkau akan diakui di ha­dap­an manusia. Jika perbuatan memberi sedekah itu tidak ter­buka, upah itu yang akan terbuka, dan ini lebih baik.

5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Me­re­ka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. 7 Lagipula da­lam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. 8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.”

Dibandingkan memberi sedekah, dalam doa kita lebih langsung ber­hubungan dengan Allah, dan oleh sebab itu kita seharusnya lebih bersikap tulus lagi dalam berdoa, dan inilah yang diajarkan kepada kita dalam ayat-ayat di atas. Apabila kamu berdoa (ay. 5). Sudah se­mestinya murid-murid Kristus selalu berdoa. Segera setelah bertobat, Paulus berdoa. Orang Kristen hidup yang tidak berdoa itu sama saja seperti manusia hidup yang tidak bernapas. Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu. Tanpa doa, tidak ada anuge­rah. “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang muna­fik, atau melakukan seperti yang mereka lakukan” (ay. 5). Perhati­kan­lah, orang yang tidak mau meniru orang munafik dalam cara dan tindakan mereka, juga tidak boleh seperti orang munafik dalam pikiran dan tabiat mereka. Kristus tidak menyebut nama siapa-siapa, tetapi dalam pasal 23:13, tampaklah bahwa yang dimaksudkan-Nya dengan orang munafik terutama adalah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Ada dua kesalahan besar yang mereka lakukan ketika berdoa, dan kita diperingatkan untuk berhati-hati terhadap kesalahan terse­but, yakni terhadap keinginan akan kemuliaan yang sia-sia belaka (ay. 5-6) dan mengulang-ulang apa yang kita doakan secara sia-sia (ay. 7-8).

I.           Kita tidak boleh merasa bangga dan menginginkan kemuliaan sia-sia saat berdoa, ataupun mengharapkan pujian manusia. Di sini kita mengamati:

1.          Cara dan perilaku orang munafik. Dalam menjalankan ibadah mereka, jelas terlihat bahwa tujuan utama mereka adalah men­dapatkan pujian dari orang-orang yang melihatnya, dan dengan demikian mendatang­kan keuntungan bagi kepentingan mereka. Ketika mereka tampaknya sedang melayang ke atas dalam doa (jika jiwa sedang naik menuju Allah), mata mereka masih saja melihat ke bawah mencari mangsa. Perhatikanlah:

(1)         Tempat-tempat yang mereka pilih untuk menjalankan iba­dah. Mereka berdoa di rumah-rumah ibadat, yang me­mang merupakan tempat yang sesuai untuk berdoa dengan orang banyak, dan bukan secara pribadi. Dengan cara ini mereka berpura-pura menghormati tempat jemaat ber­iba­dah, tetapi sebenarnya mereka bermaksud mencari ke­hor­mat­an bagi diri sendiri. Mereka berdoa pada tikungan-tikung­­an jalan raya, yakni jalan-jalan lebar, demikian arti­nya, yang paling sering dilalui orang. Ke sanalah mereka membawa diri me­re­ka seakan-akan ada dorongan saleh yang tidak dapat ditun­da-tunda yang mendorong mereka ke sana, padahal se­be­­narnya mereka hanya ingin diper­hati­kan. Di situ, di tempat dua jalan bertemu, mereka bukan saja terlihat dari dua arah, tetapi perbuatan mereka akan diperhatikan dan perkataan mereka bisa didengar oleh setiap orang yang melintas di dekat mereka.
(2)         Sikap tubuh mereka dalam berdoa. Mereka berdoa sambil berdiri. Sikap doa ini memang diperbolehkan dan benar (Mrk. 11:25), jika kamu berdiri untuk berdoa, tetapi berlutut adalah sikap doa yang lebih mencerminkan kerendahan hati dan penuh hormat (Luk. 22:41; Kis. 7:60; Ef. 3:14). Si­kap berdiri mereka terkesan seperti rasa bangga dan per­caya diri (Luk. 18:11): Orang Farisi itu berdiri dan berdoa.
(3)         Rasa bangga mereka dalam memilih tempat-tempat umum ini, yang diungkapkan dalam dua hal:

[1]         Mereka suka berdoa di situ. Bukan doa itu sendiri yang me­­r­eka sukai, melainkan kesempatan untuk diperhati­kan orang yang ditimbulkan oleh doa itu. Keadaan mung­­kin saja membuat perbuatan baik kita harus di­lakukan di tempat terbuka sehingga terlihat dan dipuji orang lain. Namun, yang merupakan dosa dan bahaya adalah bila kita sangat menyukai dan senang dengan hal itu karena dapat mengenyangkan rasa bangga kita.
[2]         Mereka ingin dilihat orang. Bukan agar Allah menerima mereka, melainkan supaya manusia mengagumi dan me­muji mereka, supaya mereka mudah mendapatkan rumah-rumah janda-janda dan anak yatim piatu (ma­sakan orang tidak akan percaya dengan orang-orang saleh yang gemar berdoa seperti itu?). Setelah menda­pat­kan apa yang mereka incar itu, mereka bisa menelan semuanya itu tanpa dicurigai (23:14), dan dengan bebas bisa menjalankan rencana mereka untuk memperbudak orang-orang.

(4)         Hasil semua perilaku mereka, mereka sudah mendapat upah­­nya. Mereka telah menerima seluruh upah yang mereka harapkan dari Allah bagi pelayanan mereka itu, na­mun alangkah tidak berartinya upah mereka itu. Apa fae­dah­nya jika kita menerima pujian dari sesama pelayan tetapi Tuan kita tidak berkata, Baik sekali perbuatanmu itu? Ketika berdoa, ada hubungan yang sangat mulia an­tara kita dengan Allah, dan karena itu, kalau kita hanya meng­harapkan pujian manusia, maka upah yang tidak berarti itulah yang hanya menjadi bagian kita. Mereka melakukannya agar dilihat orang, dan itulah yang mereka dapatkan, yaitu orang-orang melihat mereka. Perhatikan­lah, kalau kita ingin diterima Allah melalui kewajiban agama kita, kita harus berhati-hati dengan pujian manu­sia. Sebab, bukan kepada manusialah kita berdoa, dan bu­kan dari merekalah kita mengharapkan jawaban. Manusia bukanlah hakim atas kita, ia hanya debu dan abu seperti kita. Oleh sebab itu, janganlah mata kita tertuju kepada ma­­nusia; apa yang terjadi di antara Allah dan jiwa kita harus ada di luar pandangan orang. Dalam beribadah di ru­mah ibadat, kita harus menghindari setiap hal yang cen­de­rung membuat ibadah pribadi kita dikenal orang, seperti hal-hal yang membuat suara mereka terdengar di tempat tinggi (Yes. 58:4). Tempat-tempat umum tidak se­suai bagi doa pribadi yang khusyuk.

2.          Kehendak Yesus Kristus dalam menentang hal ini. Kerendahan dan ketulusan hati adalah dua ajaran besar yang diajarkan Kristus kepada kita. Apabila kamu berdoa, buatlah yang demi­kian (ay. 6). Terutama kamu, lakukanlah itu, dan untuk diri­mu sendiri. Di sini, doa pribadi dipandang sebagai kewajib­an dan kebiasaan semua murid Kristus.

Perhatikanlah:

(1)         Petunjuk yang diberikan di sini mengenai hal tersebut.

[1]         Sebagai ganti berdoa di rumah-rumah ibadat dan di ti­kung­­an-tikungan jalan raya, masuklah ke dalam ka­mar­mu, ke tempat yang tidak terlihat orang supaya kamu dapat menyendiri di situ. Ishak pergi ke padang (Kej. 24:63), Kristus ke gunung, sedangkan Petrus ke bagian atas rumah. Tidak ada tempat yang salah untuk dipakai sebagai tempat upacara, asalkan digunakan sesuai tu­juan­nya. Perhatikanlah, doa pribadi haruslah dilakukan dengan menyendiri supaya kita tidak dilihat orang, se­hing­ga dapat menghindari sikap pamer. De­ngan cara ini, kita tidak terganggu, sehingga perhatian kita tidak ter­pecah. Apa yang kita katakan tidak ter­dengar orang lain, sehingga kita bisa lebih bebas. Na­mun, jika ke­ada­an memang tidak memungkinkan bagi kita untuk tidak diperhatikan orang, janganlah karena itu kita lalu me­lalai­­kan kewajiban itu, supaya jangan ke­lalai­an ini men­jadi kesalahan yang lebih besar dari­pada jika orang meng­­amati kita.

[2]         Jangan berdoa supaya dilihat orang, berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi; kepada Aku, hanya kepada Aku (Za. 7:5-6). Orang Farisi cenderung berdoa kepada manusia dan bukannya kepada Allah. Apa pun bentuk doa mereka, lingkupnya adalah untuk me­minta pujian manusia dan memuaskan keinginan mereka. “Berdoalah kepada Allah, dan biarlah itu cukup bagimu. Berdoalah kepada-Nya sebagai Bapa, sebagai Bapamu, yang siap mendengar dan menjawab, yang pe­nuh belas kasihan, dan yang mau menolongmu. Ber­doa­lah kepada Bapamu yang ada di tempat tersem­bunyi.” Perhatikanlah, dalam doa pribadi, kita harus meng­arahkan pandangan kepada Allah yang hadir di mana-mana. Dia berada di kamarmu ketika tidak ada orang lain di situ. Dia berada sangat dekat saat engkau me­manggil-Nya. Melalui doa yang tersembunyi, kita me­mu­lia­kan Allah bahwa Dia hadir di mana-mana (Kis. 17:24) dan kita dapat memperoleh penghiburan di da­lam­­nya.

(2)         Dorongan yang diberikan kepada kita.

[1]         Bapamu melihat yang tersembunyi. Mata-Nya meman­dang­mu untuk menerima engkau, saat tidak ada mata orang lain yang melihatmu untuk memujimu. Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara, kata Kristus ke­pada Natanael (Yoh. 1:48). Ia juga melihat Paulus yang sedang berdoa di suatu jalan, di suatu rumah (Kis. 9:11). Tidak ada doa tersembunyi yang tidak diperhati­kan oleh Allah.
[2]         Dia akan membalasnya kepadamu. Mereka yang mela­ku­kannya secara terbuka telah mendapat upahnya, tapi kamu tidak akan kehilangan upahmu karena mela­ku­kannya secara tersembunyi. Ini disebut upah, tetapi upah yang berasal dari anugerah, bukan dari utang, karena apa untungnya kalau diperoleh dari mengemis? Upah itu akan diberikan secara terbuka di depan orang banyak. Mereka yang menerimanya bukan saja memi­liki­nya, namun juga mendapatkannya secara terhormat. Upah yang terbuka seperti inilah yang digemari orang munafik, namun mereka tidak sabar menunggunya. Hal inilah yang tidak dipedulikan orang yang tulus, namun merekalah yang kelak akan menerimanya dengan ber­lim­pah. Kadang-kadang doa yang tersembunyi men­da­pat upah secara terbuka di dunia ini melalui jawaban yang berupa tanda-tanda, yang menyatakan bahwa umat Allah sedang berdoa di tengah musuh-musuh mereka. Namun, pada hari yang agung itu akan ada upah yang diberikan secara terbuka, ketika semua orang yang suka berdoa akan menampakkan diri dalam kemuliaan bersama Sang Pengantara Agung. Orang Fa­risi telah mendapatkan upah mereka di depan se­lu­ruh penduduk kota, tetapi itu hanya kilatan cahaya dan bayang-bayang belaka. Orang Kristen yang benar akan menerima upah mereka di depan segala bangsa, malai­kat dan manusia, dan ini akan menjadi sebuah kemu­lia­an yang kekal.

II.           Janganlah kita berdoa dengan bertele-tele (ay. 7-8). Walaupun inti doa adalah mengangkat jiwa dan mencurahkan isi hati, namun kadang-kadang juga perlu memakai kata-kata, terutama dalam doa bersama; sebab dalam doa semacam ini, kata-kata memang diperlukan, dan sepertinya hal inilah yang sedang disinggung oleh Juruselamat kita. Sebab sebelum itu Ia berkata, apabila kamu (tunggal) berdoa, sedangkan di sini Ia berkata, dalam doamu (jamak), dan juga Doa Bapa Kami yang mengikuti setelah ini, ada­lah suatu doa bersama. Dalam doa bersama, orang yang mewakili orang lain bisa menjadi tergoda untuk memamerkan keahlian berbahasa dan mengungkapkan diri, dan terhadap hal inilah kita diperingatkan. Janganlah kamu bertele-tele, baik ketika berdoa sendirian ataupun bersama orang lain. Orang-orang Farisi suka melakukan yang demikian, mereka menaikkan doa yang panjang-panjang (23:14). Yang terpenting bagi mereka adalah membuat doa panjang. Sekarang perhatikan­lah:

1.          Kesalahan yang di sini ditegur dan dikecam adalah melak­sana­kan kewajiban doa dengan hanya mementingkan kerja mulut semata, bukan melakukannya dengan ibadah jiwa, tetapi dengan ibadah mulut. Di sini hal tersebut diungkapkan de­ngan dua kata, Battologia dan Polylogia.

(1)         Pengulangan bertele-tele – atau pengulangan kata yang tidak jelas, mengucapkan kata-kata sama berulang-ulang kali tanpa tujuan. Contohnya, Battus, Sub illis montibus erant, erant sub montibus illis, seperti orang bodoh yang hanya meniru-niru suatu perkataan (Pkh. 10:14), Manusia tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi, dan siapa yang dapat mengatakan apa yang bakal dialaminya? Peng­ulang­an demikian merupakan sesuatu yang tidak pantas dan bahkan memuakkan dalam percakapan apa saja, apa lagi dalam percakapan dengan Allah. Tidak semua peng­ulang­an dalam doa yang dikecam di sini, tetapi hanya pengulangan yang sia-sia saja. Kristus sendiri juga berdoa dengan mengucapkan kata-kata yang sama (26:44), karena dorongan hati yang sangat kuat (Luk. 22:44). Begitu pula dengan Daniel (Dan. 9:18-19). Selain itu terdapat peng­ulang­an kata-kata sama yang sangat anggun seperti dalam Mazmur 136. Cara ini bisa saja berguna dalam meng­ung­kap­kan perasaan kita dan juga dalam membangkitkan pera­saan pada diri orang lain. Namun, pengulangan per­kata­an yang bersifat takhayul tanpa memperhatikan makna­nya, atau pengulangan kata-kata yang membosankan dan ke­ring, yang hanya untuk mengulur doa agar tampak pan­jang dan hanya untuk pamer perasaan, semuanya ini adalah pengulangan sia-sia yang dikecam di sini. Jika kita sangat suka banyak bicara tetapi tidak bisa berkata-kata langsung kepada tujuannya, ini tidak menyenangkan bagi Allah dan semua orang bijak.
(2)         Banyaknya kata-kata, atau berpura-pura dan bertele-tele dalam doa, baik karena kesombongan, takhayul, maupun karena beranggapan bahwa Allah perlu diberi tahu atau dibantah oleh kita, atau semata-mata karena terdorong kebodohan dan kekurangajaran, semuanya ini disebabkan karena manusia senang mendengar kata-katanya sendiri. Ini bukan berarti bahwa doa-doa panjang dilarang. Kristus sendiri berdoa sepanjang malam (Luk. 6:12). Doa Salomo juga panjang. Kadang-kadang memang dibutuhkan doa panjang saat keperluan dan perasaan kita berlimpah. Namun, sekadar memperpanjang doa seolah-olah hal ini lebih menyenangkan dan berpengaruh bagi Allah, hal itu­lah yang di sini dikecam. Bukan banyak berdoa yang dike­cam; bukan, sebab kita justru dianjurkan untuk senan­tiasa berdoa. Yang dikecam adalah terlalu banyak berkata-kata. Bahaya yang ada dalam kesalahan ini adalah jika kita ha­nya sekadar mengucapkan doa-doa tetapi tidak mendoa­kan­nya. Peringatan ini dijelaskan dalam doa Salomo (Pkh. 5:1), biarlah perkataanmu sedikit, dipikirkan dan dipertim­bang­kan dengan baik. Bawalah sertamu kata-kata (Hos. 14:3), memilih kata-kata (Ayb. 9:14), dan jangan ucapkan hal-hal yang melebihi kuasa kita.

2.          Alasan yang diberikan terhadap hal ini.

(1)         Ini adalah cara orang kafir, kebiasaan orang yang tidak m­e­ngenal Allah. Sungguh tidak pantas bila orang Kristen menyembah Allah seperti yang dilakukan orang kafir saat menyembah dewa-dewa mereka. Orang kafir menyembah Allah hanya berdasarkan tuntunan alam. Mereka menjadi bodoh dalam membayangkan apa yang mereka sembah, dan karena itu mereka juga bodoh dalam cara melakukan penyembahan itu. Mereka menyangka bahwa Allah sama dengan diri mereka, sehingga membutuhkan banyak kata agar bisa memahami apa yang disampaikan kepada-Nya atau supaya dapat membuat-Nya menuruti permintaan me­re­ka, seolah-olah Dia begitu lemah dan bodoh, dan sulit untuk menerima permohonan. Karena itulah imam-imam Baal bersusah payah berdoa dari pagi sampai hampir ma­lam dengan melakukan pengulangan bertele-tele, “Ya Baal, jawablah kami, ya Baal, jawablah kami”; dan sia-sia saja permohonan mereka itu. Tetapi Elia, yang tampil dengan tenang dan sabar, menaikkan doa yang sangat ringkas, mu­la-mula berhasil menurunkan api dari langit, dan ke­mu­dian air (1Raj. 18:26, 36). Jerih payah dengan bibir dalam doa, walaupun dijalankan dengan begitu baik, jika hanya sebatas itu saja, akan menjadi jerih payah yang per­cuma saja.
(2)         “Janganlah menggunakan cara itu, sebab Bapamu yang di sorga mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Oleh sebab itu, tidak ada gunanya menggunakan begitu banyak kata-kata. Ini bukan lalu ber­arti kamu tidak perlu berdoa, sebab Allah menghendaki supaya melalui doa kamu mengakui keperluanmu akan Dia dan kebergantunganmu pada Dia, dan setuju dengan janji-janji-Nya. Oleh sebab itu nyatakanlah persoalanmu dan curahkan isi hatimu di hadapan-Nya, dan serahkanlah hal itu kepada-Nya.” Pikirkanlah:

[1]         Allah yang menjadi tujuan doa kita adalah Bapa kita me­­lalui penciptaan dan kovenan. Oleh karena itu perca­kap­an kita dengan-Nya seharusnya lancar, wajar, dan tidak dibuat-buat. Anak-anak kecil tidak berbicara pan­jang lebar kepada orangtua mereka saat menginginkan sesuatu. Mereka cukup berkata, “Aduh, kepalaku, ke­pala­ku. Biarlah kita datang kepada-Nya dengan tabiat anak-anak, yakni dengan kasih, hormat, dan keter­gan­tung­an. Mereka yang diajar oleh Roh untuk berkata, “ya Abba, ya Bapa,” tidak perlu mengucapkan banyak kata.
[2]         Dia seorang Bapa yang mengetahui persoalan dan ke­per­luan kita, lebih baik daripada diri kita sendiri. Dia mengetahui apa yang kita perlukan. Mata-Nya menjela­jahi seluruh bumi guna mengamati keperluan umat-Nya (2Taw. 16:9). Ia sering memberi sebelum mereka me­mang­gil (Yes. 65:24), dan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan (Ef. 3:20). Seandainya Dia tidak mem­beri umat-Nya apa yang mereka minta, itu adalah ka­rena Dia tahu bahwa mereka tidak membutuhkan­nya, dan bahwa hal itu tidak baik bagi mereka. Menge­nai hal ini, Dia lebih layak menentukan daripada kita. Kita tidak perlu menggunakan banyak kata panjang dalam menyampaikan persoalan kita. Allah lebih tahu dari­pada yang mampu kita katakan kepada-Nya. Hanya saja, Ia ingin mendengarnya sendiri dari mulut kita. Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Setelah memberitahukan keinginan kita, kita harus berkata demikian kepada-Nya, Tuhan, Engkau mengeta­hui segala keinginanku (Mzm. 38:10). Allah begitu tidak terpengaruh oleh panjang atau pun gaya bahasa doa kita, hingga doa syafaat yang paling penuh kuasa ada­lah yang dinaikkan dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Rm. 8:26). Kita tidak boleh mengatur, tetapi haruslah berserah kepada Allah.

9 “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. 11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya 12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; 13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak meng­am­puni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Setelah Kristus mengecam apa yang tidak baik, Ia menunjukkan cara yang lebih baik, sebab Dialah yang berhak menegur untuk memberi­kan petunjuk. Karena kita tidak tahu apa yang seharusnya kita doakan, di sini Ia membantu kita mengatasi kelemahan kita dengan cara menaruh kata-kata di dalam mulut kita, karena itu berdoalah demikian (ay. 9). Begitu banyak kejahatan yang menyusup ke dalam kewajiban berdoa ini di antara orang-orang Yahudi, sehingga Kristus menganggap perlu untuk memberikan petunjuk baru perihal doa untuk menunjukkan kepada murid-murid-Nya seperti apa sebenar­nya isi dan cara menaikkan doa mereka. Ia memberikannya dalam bentuk kata-kata yang sangat baik untuk digunakan sebagai sebuah patokan, ringkasan, atau isi dalam mendoakan beberapa hal ter­ten­tu. Ini bukan berarti bahwa kita terikat untuk hanya mengguna­kan bentuk ini, atau selalu menaikkan doa ini seolah-olah hal ini per­lu untuk menguduskan doa-doa kita yang lain. Di sini kita diminta un­tuk berdoa mengikuti cara ini, kata-kata ini, atau tujuan ini. Dalam Injil Lukas, doa ini agak berbeda. Kita tidak mendapati bahwa doa ini digunakan para rasul. Dalam doa ini kita tidak diajar berdoa di dalam nama Kristus seperti yang diajarkan kemudian. Di sini kita diajar berdoa agar kerajaan-Nya datang, dan yang memang datang ketika Roh dicurahkan. Namun, tidak perlu diragukan lagi bahwa doa ini baik sekali untuk digunakan sebagai patokan, dan doa ini merupakan ikrar persekutuan orang kudus, serta digunakan gereja selama berabad-abad, setidaknya (menurut Dr. Whitby) sejak abad ketiga. Ini adalah doa Tuhan kita yang disusun dan ditetapkan oleh-Nya. Doa ini sangat ringkas namun sangat luas dan sangat mem­bantu kita mengatasi kelemahan kita dalam berdoa. Isinya sangat ber­harga dan perlu, caranya mengandung pelajaran, dan pengung­kap­an­­nya sangat ringkas. Doa pendek ini mengandung banyak mak­na, dan sungguh penting bagi kita untuk membiasakan diri dengan rasa dan maknanya, sebab doa ini cocok digunakan, hanya apabila digunakan dengan pengertian dan tanpa pengulangan sia-sia.

Doa Bapa Kami (sama seperti setiap doa) merupakan surat yang dikirimkan dari bumi ke sorga. Di dalamnya, Pribadi yang menjadi tujuan dari isi surat tersebut adalah Bapa kita; tempatnya di sorga; isinya dalam bentuk sejumlah permintaan; penutupnya: karena Eng­kau­lah yang empunya Kerajaan, dan meterainya: Amin; dan kalau mau, kita boleh menambahkan tanggalnya juga, hari ini.

Jelasnya, doa ini terdiri atas tiga bagian.

I.           Kata pengantar, Bapa kami yang di sorga. Sebelum menyampai­kan maksud, dengan khidmat kita harus menyalami Dia yang memegang maksud kita, yaitu Bapa kita. Ini mengisyaratkan bah­wa kita harus berdoa bukan saja sendirian dan bagi diri kita sendiri, melainkan juga dengan dan bagi orang lain, sebab kita saling bersaudara dan dipanggil untuk bersekutu satu dengan yang lain. Di sini diajarkan kepada siapa kita harus berdoa, yakni hanya kepada Allah, bukan kepada para orang kudus dan malai­kat, sebab mereka tidak mengenal kita, tidak layak menerima peng­hormatan tinggi yang kita berikan melalui doa, dan juga tidak dapat memberikan apa yang kita harapkan. Kita diajarkan bagai­mana berperilaku terhadap Allah dan panggilan apa yang harus kita berikan kepada-Nya, yang lebih menggambarkan kebaikan daripada kehebatan, supaya dengan berani kita dapat mengham­piri takhta anugerah.

1.           Kita harus menyapa-Nya sebagai Bapa kami, dan memanggil-Nya demikian. Dia adalah Bapa bagi seluruh umat manusia me­lalui penciptaan (Mal. 2:10; Kis. 17:28). Bagi orang-orang kudus, Dia menjadi Bapa yang khusus melalui pengangkatan dan kelahiran kembali (Ef. 1:5; Gal. 4:6), dan ini adalah hak istimewa yang tidak terkatakan nilainya. Demikianlah kita harus memandang-Nya dalam doa, memikirkan segala yang baik tentang diri-Nya, yang menguatkan dan bukannya mena­kut­kan. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi Allah atau bagi kita sendiri selain daripada memanggil-Nya Bapa. Dalam doa-doa-Nya, Kristus sangat sering menyebut Allah dengan Bapa. Jika Dia adalah Bapa kita, Dia akan berbelas kasihan kepada kita karena kelemahan dan kekurangan kita (Mzm. 103:13), Dia akan melindungi kita (Mal. 3:17), Dia akan mem­buat pekerjaan kita berhasil sekalipun pekerjaan kita banyak cacatnya, dan Dia tidak akan menahan apa pun yang baik bagi kita (Luk. 11:11-13). Kita boleh menghampiri-Nya dengan berani seperti terhadap seorang ayah, karena kita mempunyai seorang Pengantara pada Bapa, dan Roh yang mengangkat kita sebagai anak. Ketika kita bertobat dari dosa-dosa kita, kita harus memandang Allah sebagai Bapa, seperti yang dila­ku­kan anak yang hilang itu (Luk. 15:18; Yer. 3:19). Saat kita datang memohon anugerah, damai, dan hak waris serta berkat sebagai anak, sungguh menguatkan bila kita datang kepada Allah bukan sebagai hakim yang belum diperdamai­kan, yang membalaskan dendam, melainkan sebagai Bapa yang penuh kasih, murah hati, dan yang telah diperdamaikan melalui Kristus (Yer. 3:4).
2.           Sebagai Bapa kita di sorga: baik di sorga maupun di mana saja, sebab sorga pun tidak cukup luas untuk menampung-Nya. Namun, sorga adalah tempat untuk menyatakan kemu­lia­an-Nya sebab di situlah letak takhta-Nya (Mzm. 103:19). Bagi orang percaya, sorga adalah takhta anugerah: ke sanalah kita harus mengarahkan doa kita, sebab sekarang Kristus Sang Pengantara itu ada di sorga (Ibr. 8:1). Sorga tidak terlihat dan merupakan dunia roh. Oleh sebab itu, percakapan kita dengan Allah dalam doa harus dilakukan dalam roh. Tempatnya tinggi di atas, oleh karena itu, dalam doa kita harus berada tinggi di atas dunia dan mengangkat hati kita (Mzm. 5:1). Sorga adalah tempat yang suci sepenuh-penuhnya, dan oleh sebab itu kita harus mengangkat tangan yang bersih, berusaha mengudus­kan nama-Nya, karena Dia-lah Yang Mahakudus dan tinggal di tempat suci itu (Im. 10:3). Dari sorga Allah memandang anak-anak manusia (Mzm. 33:13-14). Dalam doa, kita harus melihat mata-Nya yang memandang kita: dari situ Ia dapat melihat jelas semua kebutuhan, beban, dan keinginan, termasuk se­mua kelemahan kita. Demikian pula halnya dengan cakrawala kuasa dan kebesaran-Nya (Mzm. 150:1). Sebagai Bapa, Ia bu­kan saja mampu menolong dan melakukan hal-hal besar bagi kita, lebih dari yang kita minta atau bayangkan, tetapi juga me­menuhi semua kebutuhan kita, sebab setiap pem­beri­an yang baik berasal dari atas. Dia seorang Bapa, dan oleh karena itu kita boleh menghampirinya dengan berani, namun Dia juga seorang Bapa sorgawi, dan oleh sebab itu kita harus datang dengan penuh rasa hormat (Pkh. 5:1). Demikianlah se­mua doa kita harus sesuai dengan tujuan utama kita sebagai orang Kristen, yakni berada bersama Allah di sorga. Allah dan sorga, yang merupakan tujuan dari seluruh percakapan kita, harus diperhatikan secara khusus dalam setiap doa. Inilah pusat perhatian kita semua. Melalui doa, kita mengarah ke tempat yang akan kita tuju.

II.          Permohonan, ada enam jumlahnya. Tiga yang pertama lebih lang­sung berkaitan dengan Allah dan kehormatan-Nya, sedang­kan tiga yang terakhir berkaitan dengan diri kita, baik yang ber­sifat sementara maupun yang rohani. Ini sama seperti dalam Se­pu­luh Perintah Allah, di mana empat permohonan pertama meng­ajar­kan kewajiban kita terhadap Allah, dan enam yang terakhir mengajar­kan kewajiban kita terhadap sesama. Cara ber­doa yang diajarkan Kristus ini mengajar kita untuk terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, barulah sesudah itu kita boleh berharap bahwa semua yang lainnya akan ditambahkan.

1.          Dikuduskanlah nama-Mu. Dalam Alkitab terjemahan lama di­ter­­jemahkan dengan Dimuliakanlah nama-Mu. Melalui kata-kata ini:

(1)         Kita memberikan kemuliaan bagi Allah. Ini boleh tidak di­arti­kan sebagai suatu permohonan, tetapi suatu pe­mu­ja­an, seperti dalam perkataan Tuhan itu Mahabesar, atau Dimu­lia­kanlah Tuhan, sebab kekudusan Allah adalah kebe­sar­an dan kemuliaan seluruh kesempurnaan-Nya. Kita ha­rus mengawali doa-doa kita dengan memuji Allah, dan sudah sepantasnyalah Dia harus dilayani terlebih dahulu, dan bah­wa kita harus memberikan kemuliaan bagi Allah sebe­lum berharap menerima belas kasihan dan anugerah dari-Nya. Biarlah Dia mendapatkan pujian atas kesempur­naan-Nya, baru kemudian kita menerima berkat dari situ.
(2)         Kita menetapkan tujuan kita. Yang harus kita jadikan se­ba­gai tujuan yang benar, yang utama dan yang tertinggi dalam semua permohonan kita adalah agar Allah boleh dipermuliakan. Semua permintaan kita yang lain haruslah tunduk kepada ketentuan ini dan bersesuaian dengannya. “Bapa, muliakanlah nama-Mu dalam memberikan makanan secukupnya kepada saya dan dalam mengampuni kesa­lah­an saya,” dan seterusnya. Karena semua hal ber­asal dari-Nya dan melalui Dia, semuanya juga harus diberikan ke­pada Dia dan demi Dia. Dalam doa, pikiran dan perasaan kita harus terutama ditujukan bagi kemuliaan Allah. Orang Farisi menjadikan nama mereka sebagai tujuan utama dari doa-doa mereka (ay. 5, supaya mereka dilihat orang). Hal ini bertolak belakang dengan yang diajarkan kepada kita, yakni untuk menjadikan nama Allah sebagai tujuan utama kita. Biarlah semua permohon­an kita berpusat pada dan diatur oleh hal ini. “Lakukan ini dan itu bagiku, demi kemu­liaan nama-Mu, dan sejauh hal itu adalah untuk kemuliaan nama-Mu.”
(3)         Kita rindu dan berdoa agar nama Allah, yaitu Allah sendiri, dalam segala sesuatu yang dipakai-Nya untuk menyatakan diri-Nya sendiri, dikuduskan dan dipermuliakan, baik oleh kita maupun orang lain, dan terutama oleh diri-Nya sen­diri. “Bapa, biarlah nama-Mu dipermuliakan sebagai se­orang Bapa, yakni Bapa sorgawi. Muliakanlah kebaikan dan kebesaran-Mu, keagungan dan belas kasihan-Mu. Di­ku­dus­kanlah nama-Mu, sebab nama itu kudus. Kita tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan nama kami yang telah tercemar ini, tetapi kita bertanya, “Tuhan, apakah yang akan Kaulakukan dengan nama-Mu yang besar itu?” Ketika kita berdoa agar nama Allah dipermuliakan:

[1]         Kita memohon apa yang merupakan keniscayaan, sebab Allah pasti menguduskan nama-Nya sendiri, entah kita menginginkannya atau tidak. Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa (Mzm. 46:11).
[2]         Kita meminta sesuatu yang kita yakini pasti dikabul­kan, sebab ketika Juruselamat kita berdoa, “Bapa, muliakanlah nama-Mu,” doa itu langsung dijawab, “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”

2.          Datanglah Kerajaan-Mu. Permohonan ini jelas berkaitan de­ngan ajaran yang disampaikan Kristus pada waktu itu, yang sebelumnya pernah dikhotbahkan Yohanes Pembaptis, dan yang belakangan dikhotbahkan para rasul yang diutus oleh-Nya – Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan Bapamu yang di sorga, kerajaan Mesias, telah dekat, berdoalah agar kerajaan itu segera datang. Perhatikanlah, kita harus mengubah per­kata­­an yang kita dengar menjadi doa; hati kita harus meman­tul­kan gema dari apa yang kita dengar itu. Ketika kita men­de­ngar Kristus berjanji, “Ya, Aku datang segera,” hati kita harus menjawab, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus.” Para pelayan Tuhan harus mendoakan firman Tuhan. Saat berkhotbah me­nge­nai Kerajaan Allah sudah dekat, mereka harus berdoa, Bapa, datanglah Kerajaan-Mu. Kita harus mendoakan apa yang telah dijanjikan Allah, sebab janji-janji diberikan bukan un­tuk menggantikan, melainkan untuk mempercepat dan men­­dorong doa. Ketika penggenapan janji itu sudah hampir tiba, saat Kerajaan Sorga itu sudah dekat dan sudah di am­bang pintu, kita harus semakin bersungguh-sungguh ber­doa, datanglah Kerajaan-Mu. Sama seperti ketika Daniel tun­duk untuk berdoa bagi pembebasan bangsa Israel, ketika ia tahu bahwa waktunya sudah dekat (Dan. 9:2; Luk. 19:11). Inilah doa harian orang Yahudi kepada Allah, biarlah Dia membuat Kerajaan-Nya memerintah, biarlah karya penebusan-Nya ber­jalan dengan baik, dan biarlah Mesias datang serta membebas­kan umat-Nya. Dr. Whitby, dalam buku ex Vitringa: “Datanglah Kerajaan-Mu, biarlah Injil diberitakan kepada se­mua orang dan diterima semua orang; biarlah semua orang diajak untuk menerima peneguhan Allah dalam Firman yang diberikan-Nya mengenai Anak-Nya, dan mengakui Dia sebagai Juruselamat dan Penguasa mereka. Biarlah jemaat Injili sema­kin diperluas, kerajaan dunia diubahkan menjadi Kerajaan Kristus, dan semua orang menjadi warganya, serta menghi­dupi tabiat yang Injili.”

3.          Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Kita berdoa agar Kerajaan Allah segera datang, dan kita serta orang lain dapat dibawa untuk menaati semua hukum dan peraturan dari Ke­raja­an itu. Melalui hal ini, biarlah tampak bahwa kerajaan Kristus sudah hampir datang, biarlah kehendak-Nya yang jadi. Melalui ini, biarlah tampak bahwa kerajaan itu datang sebagai Kerajaan Sorga, biarlah kerajaan itu membawa serta sorga ke atas bumi. Jika kita memanggil-Nya Raja dan tidak melakukan kehendak-Nya, maka kita tidak lebih dari hanya menyebut-nye­but gelar-Nya saja. Karena itu, setelah berdoa agar Ia me­me­­rintah kita, kita berdoa agar dalam segala perkara kita diperintah oleh-Nya. Perhatikanlah:

(1)           Hal yang didoakan: jadilah kehendak-Mu. “Tuhan, lakukan apa saja yang menyenangkan hati-Mu terhadap aku dan milikku (1Sam. 3:18). Aku menyerahkan diri kepada-Mu, dan hatiku puas bahwa semua perkataan-Mu tentang diri­ku akan digenapi.” Mengenai hal ini Kristus berdoa, “Bu­kan­­lah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang ter­jadi.” “Mampukan aku melakukan hal yang menyukakan hati-Mu. Beri aku anugerah yang diperlukan untuk menge­tahui kehendak-Mu dan kerelaan untuk menaatinya. Biar­lah kehendak-Mu saja yang sungguh-sungguh terjadi mela­lui aku dan orang lain, dan bukan kehendak kami, yang adalah kehendak daging atau pikiran. Janganlah kehendak manusia (1Ptr. 4:2), apalagi kehendak Iblis, yang terjadi (Yoh. 8:44), sehingga kami mendukakan Allah dalam segala hal yang kami lakukan – ut nihil nostrum displiceat Deo, ataupun membenci apa saja yang diperbuat Allah – ut nihil Dei displiceat nobis.”
(2)         Pola agar kehendak-Nya terjadi, yaitu agar terjadi di bumi, di tempat di mana kita sedang menjalani ujian dan per­cobaan kita (di mana tugas kita harus diselesaikan, atau tidak akan pernah terselesaikan), seperti di sorga, tempat peristirahatan yang penuh dengan sukacita. Kita berdoa agar bumi bisa menjadi lebih serupa dengan sorga melalui ketaatan pada kehendak Allah karena merajalelanya ke­hen­dak Iblis, bumi telah begitu mirip dengan neraka, dan supaya para orang kudus lebih menyerupai malaikat kudus dalam hal pengabdian dan ketaatan. Kita ada di atas bumi, terpujilah Allah, dan belum di bawah bumi. Kita hanya berdoa bagi yang masih hidup, dan bukan bagi orang-orang mati yang turun ke tempat yang sunyi.

4.          Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secu­kup­nya. Supaya dapat menikmati kesejahteraan rohani, kita me­miliki badan jasmani di dunia ini. Oleh sebab itulah, setelah berdoa bagi kemuliaan, kerajaan, dan kehendak Allah, kita juga berdoa bagi kebutuhan dan kenyamanan yang diperlukan dalam kehidupan sekarang ini, yang merupakan karunia Allah. Keperluan ini harus diminta dari-Nya. Ton arton epiousion – Makanan untuk hari yang menjelang, untuk sepan­jang sisa hidup kita. Makanan untuk masa mendatang, atau makanan untuk keberadaan dan penyambung hidup kita yang sesuai dengan keadaan kita di dunia (Ams. 30:8), makanan yang menjadi bagian kita dan keluarga kita, sesuai kedudukan dan lingkungan kita.

Di sini, setiap perkataan mengandung pelajaran:

(1)        Kita meminta makanan, dan hal ini mengajarkan kita dua hal, yaitu ketenangan dan kesederhanaan. Kita meminta makanan, bukan yang lezat-lezat atau berlimpah ruah, tetapi yang sehat, meskipun rasanya mungkin tidak enak.
(2)         Kita meminta makanan kita, yang mengajarkan kita keju­jur­an dan kerajinan. Kita tidak meminta makanan yang men­jadi hak orang lain, roti hasil tipuan (Ams. 20:17), atau­pun makanan kemalasan (Ams. 31:27), melainkan makan­an yang diperoleh dengan jujur.
(3)         Kita meminta makanan secukupnya, yang mengajarkan kita untuk tidak merasa khawatir akan hari besok (ay. 34), tetapi senantiasa mengandalkan pemeliharaan ilahi, seperti mereka yang hidup dari sehari ke sehari.
(4)         Kita memohon kepada Allah untuk memberikannya dan bukan menjual atau meminjamkannya kepada kita. Orang-orang yang paling hebat pun harus mengandalkan belas kasihan Allah untuk mendapatkan makanan secukupnya.
(5)         Kita berdoa, “Berikanlah kepada kami, bukan hanya ke­padaku, tetapi juga kepada orang lain, sama seperti aku.” Hal ini mengajar kita tentang kemurahan hati dan perhati­an penuh belas kasihan bagi mereka yang miskin dan me­la­rat. ­Hal ini juga mengisyaratkan agar kita berdoa ber­sama keluarga kita. Kita sekeluarga makan bersama, dan oleh karena itu juga perlu berdoa bersama.
(6)         Kita berdoa agar Allah memberi kita pada hari ini, yang meng­ajar kita untuk memperbarui kerinduan jiwa kita pada Allah, sama seperti kebutuhan jasmani kita juga diper­barui. Begitu tiba hari yang baru, kita harus berdoa kepada Bapa sorgawi kita, dan berpikir bahwa melewati satu hari tanpa doa, sama saja dengan melewatinya tanpa makanan.

5.          Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Hal ini masih berkaitan dengan hal sebelumnya. Kata ampunilah mengisya­rat­kan bahwa kecuali dosa-dosa kita diampuni, kita tidak akan dapat hidup tenang atau menerima dukungan untuk hidup yang tenang itu. Makanan kami yang secukupnya hanya akan menjadi­kan kita domba-domba sembelihan jika dosa-dosa kita belum diampuni. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa kita harus berdoa meminta pengampunan setiap hari, sama seperti kita juga berdoa meminta makanan untuk setiap hari. Barang­siapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain mem­basuh kakinya. Di sini kita melihat:

(1)        Sebuah permohonan, Bapa kami yang di sorga, ampunilah kami akan kesalahan kami, kesalahan kami kepada-Mu. Perhatikanlah:

[1]         Dosa-dosa kita adalah utang kita. Ada utang kewajiban kita sebagai ciptaan yang harus kita lunasi kepada Pen­cipta kita. Namun, kita tidak berdoa agar dibebas­kan dari utang kewajiban itu, melainkan dari utang yang dapat mengakibatkan penghukuman. Kare­na gagal me­naati kehendak Allah, kita menjadi ter­buka bagi murka Allah, dan karena tidak mengindah­kan ajaran hukum Taurat, kita wajib menerima hukum­an­nya. Orang yang berutang dapat dituntut, begitu pula kita. Seorang pe­lang­gar hukum berutang kepada hu­kum, begitu pula kita.
[2]         Setiap hari seharusnya kerinduan hati dan isi doa kita kepada Bapa sorgawi kita adalah memohon agar Ia mau mengampuni kita akan kesalahan kita, supaya kewajib­an menerima hukuman dapat dibatalkan dan dihapus­kan, supaya kita tidak turut dihukum, supaya kita dibe­bas­kan dan menikmati kebebasan itu. Dalam memo­hon­kan pengampunan bagi dosa-dosa kita, pembelaan yang harus kita andalkan adalah keyakinan penuh atas keadilan Allah terhadap dosa manusia melalui kematian Tuhan Yesus yang adalah Penang­gung, atau lebih tepat, Jaminan kita atas tindakan kita, yang mengerjakan pembebasan kita itu.

(2)         Alasan kuat yang mendukung permohonan ini: seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Ini bu­kan­lah permohonan untuk mendapatkan suatu keun­tung­an, melainkan untuk memperoleh suatu anugerah. Perhati­kan­lah, orang-orang yang datang kepada Allah, untuk me­mo­hon pengampunan atas dosa-dosa mereka kepada-Nya, haruslah mengampuni orang-orang yang me­nyakiti hati mereka. Jika tidak, mereka akan mengutuk diri mereka sen­diri saat menaikkan Doa Bapa Kami itu. Tugas kita ada­lah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sama seperti utang uang, janganlah kita bersikap keras dan bengis dalam menagihnya dari orang-orang yang tidak mam­pu melunasinya, supaya kita tidak mencelakakan diri dan keluarga mereka. Yang dimaksudkan dalam ayat di sini adalah utang karena menyakiti. Orang-orang yang ber­salah kepada kita adalah mereka yang berbuat jahat ke­pada kita, yang menampar pipi kita (5:39-40), dan menu­rut hukum yang berlaku, seharusnya dituntut. Kita harus bersabar, mengampuni, serta melupakan penghina­an yang ditimpakan kepada kita dan kesalahan yang diperbuat orang terhadap kita. Ini adalah persyaratan moral yang diper­lukan untuk terciptanya pengampunan dan perda­mai­an. Sungguh membangkitkan pengharapan bila Allah mau mengampuni kita, dan bila dalam diri kita terdapat tabiat mu­lia untuk mengampuni orang lain, itu asalnya dari Allah. Tabiat mengampuni ini merupakan suatu kesempur­na­an yang sangat menonjol dan sangat mendalam yang ada dalam diri Allah. Dengan membentuk kesediaan mengam­puni dalam diri kita, ini menjadi bukti bahwa Ia telah mengampuni kita.

6.          Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi le­pas­kanlah kami dari pada yang jahat. Permohonan ini diung­kap­kan,

(1)         Dalam bentuk negatif: Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Setelah berdoa agar dosa kita dihapuskan, su­dah sepantasnyalah kalau kita berdoa agar tidak pernah kembali melakukan kebodohan, supaya kita jangan tergoda lagi. Ini bukan berarti seolah-olah Allah mencobai orang un­­tuk berbuat dosa, tetapi: “Tuhan, jangan biarkan Iblis me­nyerang kami. Belenggulah singa yang mengaum itu, se­bab ia tidak mudah terlihat dan pendengki. Tuhan, ja­ngan biarkan kami sendiri (Mzm. 19:14), sebab kami sangat le­mah. Tuhan, jangan menaruh batu sandungan dan jerat di depan kami, atau menempatkan kami dalam ke­ada­an yang dapat membuat kami terjatuh.” Kita harus berdoa melawan pencobaan, baik karena ketidaknyamanan mau­pun masa­lah yang bisa ditimbulkannya, dan bahaya yang meng­ancam kita jika dikuasai olehnya, maupun karena rasa bersalah dan dukacita yang mengikutinya.
(2)         Dalam bentuk positif: Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat, apo tou ponērou – dari si jahat, si Iblis, si pencoba itu. “Lindungilah kami, supaya kami tidak dise­rang olehnya atau dikalahkan oleh serangannya.” Bisa juga dari yang jahat, yakni dosa, yang terburuk dari segala yang jahat, yang dibenci Allah dan yang digunakan Iblis untuk mencobai dan membinasakan manusia. “Tuhan, lepas­kanlah kami dari kejahatan dunia, kebusukan yang masuk ke dunia melalui hawa nafsu; dari setiap keadaan jahat dunia ini; dari jahatnya maut; dari sengat maut, yaitu dosa. Lepaskanlah kami dari diri kami sendiri, dari hati kami yang jahat. Lepaskanlah kami dari orang-orang jahat, agar mereka tidak menjadi jerat bagi kami, dan kami tidak menjadi mangsa mereka.”

III.         Kesimpulannya: Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. Beberapa orang menghubungkan kata-kata ini dengan pujian Daud kepada Allah, “Ya Tuhan punya-Mu-lah kebesaran” (1Taw. 29:11). Ini adalah:

1.           Suatu bentuk permohonan untuk melaksanakan permohonan-permohonan sebelumnya. Menjadi tugas kita untuk memohon kepada Allah dalam doa dan memenuhi mulut kita dengan pembelaan (Ayb. 23:4), dan bukan untuk menggerakkan hati Allah, melainkan untuk mempengaruhi diri kita sendiri. Untuk mendorong iman, membangkitkan ketekunan kita, dan untuk mengalami keduanya. Permohonan terbaik mengenai doa ada­lah doa-doa yang dinyatakan dan berasal dari Allah sendiri. Kita harus bergumul dengan Allah dengan kekuatan-Nya sen­diri, baik sewaktu mengajukan permohonan maupun dalam mendesakkan permohonan kita itu. Di sini, permohonan itu mengacu khusus kepada ketiga permohonan pertama. “Bapa kami yang di sorga, datanglah Kerajaan-Mu, karena Engkaulah yang empunya Kerajaan; jadilah kehendak-Mu, karena Eng­kau­lah yang empunya kuasa; dikuduskanlah nama-Mu, karena Engkaulah yang empunya kemuliaan.” Mengenai keperluan kita sendiri, kata-kata berikut sungguh membesarkan hati: “Engkaulah yang empunya Kerajaan, Engkaulah yang memiliki pemerintahan atas dunia dan perlindungan atas orang-orang kudus, kehendak-Mu mengendalikannya.” Allah memberi dan menyelamatkan seperti layaknya seorang raja. “Engkaulah yang empunya kuasa, untuk memelihara dan menopang kera­ja­­an itu dan memperbaiki hubungan dengan umat-Mu.” Eng­kau­lah yang empunya kemuliaan, yang menjadi tujuan dari semua jawaban doa yang diberikan kepada dan dilakukan untuk orang-orang kudus; karena ­bagi-Nyalah puji-pujian me­reka. Ini berbicara tentang penghiburan dan keyakinan kudus dalam doa.

2.           Ini adalah suatu bentuk pujian dan pengucapan syukur. Cara memohon yang terbaik kepada Allah adalah dengan mem­beri­kan puji-pujian kepada-Nya. Ini adalah cara untuk mendapat­kan belas kasihan selanjutnya, karena pujian ini melayakkan kita untuk menerima belas kasihan itu. Dalam semua per­kata­an kita kepada Allah, sudah selayaknya pujian mendapatkan bagian yang cukup, karena pujian sudah seharusnya menjadi bagian dari orang-orang kudus, yang harus diberikan kepada Allah bagi nama dan kepujian-Nya. Hal ini sungguh adil dan su­dah sepantasnya. Kita memuji Allah dan memuliakan-Nya, bu­kan karena Ia membutuh­kannya – Dia dipuji-puji oleh beribu-ribu malaikat – melainkan karena Dia memang layak menerimanya. Sudah menjadi kewajiban kita untuk memberi-Nya kemuliaan, karena ini sesuai dengan tujuan rancangan-Nya dalam menyatakan diri-Nya kepada kita. Puji-pujian ada­lah kegiatan dan kebahagiaan sorga, dan semua orang yang kelak akan masuk ke sorga, harus memulainya sekarang. Amatilah, betapa lengkapnya puji-pujian kepada Allah ini, Kera­jaan, kuasa, dan kemuliaan, semuanya Engkaulah yang empunya. Perhatikanlah, sudah seharusnyalah kita memuji Allah dengan berlimpah. Orang kudus yang sejati tidak pernah berpikir bahwa ia mampu bicara kepada Allah dengan cukup hormat. Karena itu, puji-pujian haruslah berlimpah, dan ini adalah sampai selama-lamanya. Memberikan kemuliaan bagi Allah sampai selama-lamanya mengisyaratkan pengakuan kita terhadap Dia, yang berlaku untuk seterusnya, dan kita harus memiliki keinginan sungguh untuk melakukannya selama-lamanya, bersama para malaikat dan orang kudus di sorga (Mzm. 71:14).

Terakhir, untuk semuanya ini kita diajar untuk membubuh­kan kata Amin pada akhir doa, yang artinya “demikianlah ada­nya.” Kata Amin dari Allah berarti suatu hibah atau pengabulan permintaan; Ia berfirman, maka jadilah seperti itu. Sedangkan kata Amin yang kita ucapkan hanyalah merupakan suatu keinginan yang ringkas, “kiranya jadilah demikian.” Kita berkata Amin sebagai tanda agar keinginan dan keyakinan kita didengar. Amin menunjuk kepada setiap permohon­an sebelumnya; jadi, sebagai bentuk belas kasihan Allah terhadap kelemahan kita, kita diajar untuk meringkas semuanya dalam satu perkataan, supaya de­ngan demikian kita merangkum segala ucapan kita yang telah berlalu. Sungguh baik untuk menutup kewajiban ibadah kita dengan kehangatan dan semangat, agar jiwa kita dapat menikmati manisnya hal itu. Sudah menjadi kebiasaan lama orang-orang baik untuk berkata Amin dengan jelas pada akhir doa. Kebiasaan ini patut dipuji, asal dilakukan dengan pengertian sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasul Paulus (1Kor. 14:16), dan dengan tulus, bersemangat, keluar dari hati, yang bisa tampak melalui ungkapan keinginan dan keyakinan.

Kebanyakan permohonan dalam Doa Bapa Kami telah biasa digunakan orang Yahudi dalam ibadah atau perkataan mereka guna maksud yang sama. Namun, ketentuan dalam permohonan kelima yang berbunyi, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, benar-benar baru bagi mereka. Itulah sebabnya Juruselamat kita menunjukkan di sini untuk alasan apa Ia menambahkan bagian tersebut. Itu dilakukan-Nya tanpa ada maksud untuk menyinggung sifat-sifat mudah tersinggung, suka berbantah, dan tabiat buruk orang-orang pada generasi itu, walaupun sebenarnya sifat-sifat ini bisa dipakai sebagai alasan penambahan itu. Sebaliknya, Kristus menambahkan bagian ter­se­but hanya karena hal tersebut memang perlu dan penting. De­ngan mengampuni kita, Allah menaruh perkenan pada sikap kita yang mau mengampuni orang yang telah menyakiti kita. Oleh se­bab itu, saat berdoa memohon pengampunan, kita harus menye­but­kan bahwa kita memang sadar akan kewajiban kita itu, bukan saja untuk mengingatkan, melainkan juga untuk mengikat diri kita untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Bacalah perum­pa­ma­an dalam pasal 18:23-35. Tabiat mementingkan diri sendiri bertolak belakang dengan hal ini, dan oleh karenanya hal itu ditanamkan di sini (ay. 14-15),

1.          Dalam bentuk janji. Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Bu­kan seolah-olah ini satu-satunya persyaratan yang di­per­lukan, tetapi juga harus ada pertobatan, iman, dan ketaatan baru. Sama seperti bentuk-bentuk kemurahan hati lainnya haruslah dilakukan dalam kebenaran, kemurahan hati yang ini pun juga harus didasari oleh hal-hal tadi, yang membuk­ti­kan ketulusan tindakan kita. Orang yang mengalah kepada saudaranya menunjukkan bahwa ia bertobat terhadap Allah. Kata kesalahan di sini dimaksudkan sebagai pelang­gar­an, ke­sa­lahan dengan jalan melukai, pelanggaran terhadap tubuh, harta benda, atau nama baik. Kata pelanggaran adalah istilah penghalus untuk kata menyakiti, paraptōmata – mem­buat ter­san­dung, membuat tergelincir, menjatuhkan. Perhati­kanlah, bila kita mau mengampuni orang lain, maka bukti yang baik yang bisa kita perlihatkan, dan yang juga bisa membantu kita dalam mengampuni, adalah bila kita mau menyebut sakit derita yang dilakukan terhadap kita itu dengan sebutan yang lebih lembut, yang memaafkan. Jangan menye­but­nya sebagai pengkhianatan, melainkan pelanggaran. Jangan pula menye­but­nya luka yang disengaja, tetapi suatu kelalaian ringan, mungkin itu hanyalah suatu kekhilafan saja (Kej. 43:12). Oleh sebab itu, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya. Kita harus mengampuni, sama seperti kita berharap diampuni, dan oleh karena itu kita bukan saja tidak boleh memendam kebencian atau merancang pembalasan, tetapi juga jangan mencela saudara kita karena luka-luka yang telah ditimbulkannya ter­hadap kita atau bersukacita karena kemalangan yang menim­pa­nya. Kita harus siap membantunya dan berbuat baik ke-pada­nya. Jika ia bertobat dan ingin berbaikan kembali, kita harus bersikap bebas dan akrab dengannya, seperti dahulu.

2.           Dalam bentuk ancaman. “Tetapi jikalau kamu tidak mengam­puni orang yang telah menyakitimu, itu merupakan pertanda buruk bahwa kamu tidak memiliki persyaratan yang lain itu dan sama sekali tidak layak menerima pengampunan. Oleh sebab itu, Bapamu, yang kamu panggil Bapa, dan yang sebagai seorang Bapa menawarkan anugerah-Nya dengan persyaratan yang pantas, juga tidak akan mengampuni kesa­lah­anmu. Jika kemurahan hati yang lain dikerjakan dengan sungguh-sung­guh, namun kamu sangat kurang dalam hal mengampuni, maka kamu tidak bisa berharap akan mendapat penghiburan melalui pengampunan; sebaliknya, rohmu akan menderita terus sampai kamu memenuhi kewajibanmu tadi.” Perhatikan­lah, orang-orang yang menerima belas kasihan Allah harus menunjukkan belas kasihan juga kepada saudara mereka. Kita juga tidak dapat berharap Ia akan mengulurkan tangan kemurahan-Nya kepada kita, kecuali kita menadahkan tangan yang suci, tanpa marah (1Tim. 2:8). Jika kita berdoa dalam kemarahan, sudah sepantasnya kita takut Allah juga akan menjawab dalam kemarahan. Telah dikatakan bahwa doa-doa yang dinaikkan dalam kemarahan, tertulis dengan empedu. Apa alasan Allah membebaskan kita dari utang kita sebesar sepuluh ribu talenta pada-Nya, jika kita tidak mau mem­bebas­kan saudara kita dari utangnya sebesar seratus dinar kepada kita? Kristus datang ke dunia sebagai Pendamai yang agung, bukan untuk memperdamaikan kita dengan Allah saja, melain­kan juga satu dengan yang lain. Dalam hal ini kita harus patuh kepada-Nya. Sungguh sangat congkak dan ber­bahaya jika ada yang meremehkan apa yang di sini begitu ditekankan oleh Kristus. Nafsu manusia tidak boleh mengacaukan per­kata­an Allah.

16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang mu­­na­fik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa me­re­ka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kep­a­la­mu dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau se­dang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersem­bu­nyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalas­nya kepadamu.”

Dalam ayat-ayat di atas kita diperingatkan mengenai kemunafikan da­lam hal berpuasa, seperti sebelumnya dalam hal memberi sedekah dan berdoa.

I.           Di sini dipandang bahwa ibadah puasa merupakan suatu kewa­jib­an yang harus dijalankan oleh murid-murid Kristus apabila Allah, dalam pemeliharaan-Nya, mewajibkannya kepada mereka, dan apabila masalah-masalah kejiwaan mereka sendiri mengharuskan mereka untuk menjalankannya. Waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa (9:15). Hal berpuasa di sini disebutkan terakhir, sebab berpuasa pada intinya bukanlah suatu kewajiban itu sendiri, me­lain­kan suatu sarana untuk mencondongkan hati kita agar dapat melakukan kewajiban-kewajiban lain. Doa disebutkan di antara hal bersedekah dan berpuasa, sebagai sesuatu yang merupakan hidup dan jiwa bagi keduanya. Di sini, Kristus ter­utama berbicara mengenai puasa-puasa yang dijalankan secara pribadi, seperti yang ditetapkan orang-orang tertentu bagi diri mereka sendiri, se­ba­gai persembahan yang dilakukan atas kehen­dak bebas diri sen­diri. Puasa seperti ini umumnya dilaku­kan oleh orang-orang Yahudi yang saleh. Sebagian orang berpuasa selama sehari, seba­gi­an yang lain selama dua hari, yang lain lagi sekali seminggu, dan ada pula yang lebih jarang, sesuai kebutuhan masing-masing. Pada hari-hari itu, mereka tidak makan sampai matahari terbenam, dan kalaupun makan, mereka hanya makan sangat sedikit. Bukan puasa orang Farisi yang dijalankan selama dua kali seminggu yang ditegur Kristus, melainkan sikap sok pamer mereka dalam berpuasa (Luk. 18:12). Berpuasa ini me­mang ke­bia­­saan yang patut dipuji, dan kita pantas merasa priha­tin karena ke­biasaan ini umumnya begitu dilalaikan oleh orang-orang Kris­ten. Hana sering berpuasa (Luk. 2:37). Kornelius ber­pua­sa dan berdoa (Kis. 10:30). Orang Kristen mula-mula banyak ber­pua­sa (Kis. 13:3; 14:23). Puasa pribadi juga dianggap sebagai kebiasaan yang lazim dalam 1 Korintus 7:5. Puasa adalah suatu tindakan pe­nyangkalan diri, pematian nafsu kedagingan, pembalasan­ yang kudus terhadap diri kita sendiri, dan perendahan diri kita di ba­wah tangan Allah. Melalui puasa, orang Kristen yang dewasa rohani mengakui bahwa tidak ada suatu hal apa pun yang dapat mereka banggakan, bahwa mereka sebenarnya tidak layak mene­rima makanan mereka sehari-hari. Puasa merupakan sarana un­tuk mengekang kedagingan beserta nafsu-nafsunya, dan untuk membuat kita semakin giat menjalani ibadah agama, karena perut kenyang cenderung membuat kita malas dan mengantuk. Rasul Paulus kerap kali berpuasa, dan dengan demikian melatih tubuh dan menguasainya seluruhnya.

II.          Kita diperingatkan untuk tidak berpuasa seperti orang munafik, supaya kita tidak kehilangan upahnya; dan semakin sulit kewa­jib­an itu dilaksanakan, semakin besarlah kerugian yang diderita jika kita kehilangan upahnya. Namun:

1.          Orang-orang munafik pura-pura berpuasa. Dalam jiwa mereka sama sekali tidak terdapat penyesalan dosa dan kerendahan hati yang merupakan hidup dan jiwa dari berpuasa itu. Puasa yang mereka jalankan itu sekadar ikut-ikutan saja, sekadar unjuk diri dan bayang-bayang yang tanpa hakikat di dalam­nya. Mereka berpuasa dan merasa diri sudah menjadi lebih ren­dah hati, padahal sebenarnya tidak, dan dengan demikian mereka berusaha menipu Allah, yang merupakan suatu tin­dak­an penghinaan paling besar terhadap-Nya. Puasa yang di­ke­hendaki Allah adalah hari untuk merendahkan diri, bukan untuk menundukkan kepala seperti gelagah, bukan juga untuk membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur; kita keliru jika menyebut hal ini sebagai puasa (Yes. 58:5). Kalau hanya sebatas melatih tubuh saja dan tidak lebih dari itu, maka sedikit saja manfaatnya, karena itu bukan namanya berpuasa bagi Allah.
2.            Mereka suka memamerkan puasa mereka, dan berusaha agar semua orang yang melihat mereka tahu bahwa hari itu me­rupa­kan puasa bagi mereka. Bahkan pada hari-hari itu me­reka kerap terlihat di jalanan, padahal sebenarnya mereka harus berada di kamar masing-masing. Mereka juga memper­lihatkan wajah yang murung dan muram, mereka melangkah dengan lamban dan khidmat, serta mengubah penampilan me­reka dengan sedemikian buruk sehingga orang bisa melihat betapa seringnya mereka berpuasa dan dengan demikian akan menghormati mereka sebagai orang-orang yang saleh dan mam­pu menahan diri. Perhatikanlah, betapa menyedihkan me­­li­hat orang yang dalam taraf tertentu sudah dapat meng­atasi godaan kenikmatan duniawi, yaitu kejahatan hawa naf­su, namun justru dibinasakan oleh keangkuhan mereka, yaitu kejahatan rohani, yang tidak kalah berbahayanya. Di sini juga disebutkan bahwa mereka sudah mendapat upahnya, yakni pujian dan penghormatan dari manusia yang begitu mereka dambakan. Mereka sudah mendapatkannya, dan hanya itulah yang bisa mereka dapatkan.

III.         Kita diberi petunjuk bagaimana sebaiknya menjalankan puasa pribadi, yakni bahwa puasa itu hanya untuk diketahui diri kita sendiri (ay. 17-18). Kristus tidak mengatakan seberapa sering kita harus berpuasa. Keadaan orang berbeda-beda, dan diperlukan hikmat untuk menentukannya. Roh dalam firman telah menye­rah­kannya kepada Roh dalam hati. Namun jadikanlah ini sebagai pedoman, yaitu bahwa setiap kali kamu menjalankan kewajiban ini, usahakanlah agar hal itu berkenan kepada Allah, dan bukan untuk mendapatkan pujian-pujian dari manusia. Kerendahan hati harus senantiasa mengiringi tindakan kita dalam merendahkan diri. Kristus tidak memberikan perintah untuk mengurangi hal apa pun yang memang nyata ada ketika orang berpuasa. Ia tidak berkata, “Makanlah sedikit saja, atau minumlah sedikit saja, atau minumlah anggur sedikit saja.” Tidak, tetapi “Biarlah tubuhmu menderita, namun janganlah memamerkan hal itu. Tampillah dengan air muka, penampilan, dan pakaianmu seperti biasa, dan se­men­tara engkau berpantang dari kenikmatan jasmani, lakukan­lah sedemikian rupa sehingga hal itu tidak menjadi perhatian orang, bahkan oleh orang yang sedang berada paling dekat de­ngan­mu. Tampillah dengan segar, minyakilah kepalamu dan cuci­lah mukamu, sama seperti yang kamu lakukan pada hari-hari bia­sa, dengan sengaja sembunyikan­lah ibadahmu itu. Dengan demi­kian, pada akhirnya engkau tidak akan kehilangan pujian untuk itu, sebab meskipun tidak ada pujian datang dari manusia, akan ada pujian yang berasal dari Allah.” Berpuasa adalah merendah­kan hati (Mzm. 35:13), itulah inti kewajiban ini. Oleh sebab itu, biarlah ini menjadi perhatianmu yang utama, dan untuk hal-hal yang lahiriah dalam berpuasa, janganlah berusaha memperlihat­kan­nya kepada orang lain. Jika kita bersungguh-sungguh dalam berpuasa, merendah­kan diri, dan percaya pada kemahatahuan Allah sebagai saksi kita, dan juga pada kebaikan-Nya sebagai upah kita, maka akan kita dapati bahwa Dia benar-benar melihat apa yang tersembunyi dan sekaligus akan memberikan upah se­cara terang-terangan. Ibadah puasa, jika dilakukan dengan benar, akan segera dibalas dengan pesta kelimpahan yang abadi. Per­ke­nan­an Allah terhadap puasa-puasa pribadi kita harus membuat kita mati, baik itu terhadap pujian manusia (kita tidak boleh me­lak­sanakan kewajiban itu untuk mendapatkan pujian) maupun terhadap kecaman manusia (kita tidak boleh melalaikan kewajib­an ini karena takut kepada mereka). Puasa Daud berubah men­jadi cela baginya (Mzm. 69:11), namun demikian, dalam ayat 14 di­katakan, Tetapi aku, biar saja orang berkata sesuka hati me­ngenai aku, aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, pada waktu Engkau ber­kenan.

19 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelap­nya kegelapan itu. 24 Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Pemikiran duniawi merupakan gejala kemunafikan yang sama lum­rah­nya dan sama berbahayanya seperti gejala kemunafikan lainnya. Tidak ada dosa lain lagi selain dosa ini yang dengannya Iblis dapat mencengkeram jiwa manusia dengan lebih erat dan lebih cepat, di balik jubah keagamaan yang dapat dilihat orang dan yang tampak bersifat baik. Oleh sebab itu, setelah Kristus memperingatkan kita agar tidak mendambakan kehormatan manusia, Ia selanjutnya mem­peringatkan kita agar tidak mendambakan kekayaan dunia. Dalam hal ini pula kita harus berjaga-jaga, supaya kita tidak menjadi seperti orang-orang munafik, dan berbuat seperti yang mereka perbuat. Ke­sa­lahan mereka yang mendasar adalah bahwa mereka memilih dunia sebagai upah mereka. Oleh karena itu, kita harus berjaga-jaga ter­hadap kemunafikan dan pemikiran-pemikiran dunia­wi dalam memi­lih harta kekayaan kita, tujuan akhir kita, dan tuan-tuan yang ingin kita layani.

I.           Dalam memilih harta yang kita kumpulkan. Setiap orang mem­punyai satu atau lain hal yang dijadikannya sebagai hartanya, bagian­nya, tempat hatinya berada, tempat ia mengumpulkan se­gala sesuatu yang dapat ia peroleh, dan yang dijadikannya seba­gai andalan untuk masa depan. Hal-hal yang baik, yang terbaik, inilah yang dibicarakan Salomo dengan penekanan khusus (Pkh. 2:3). Inilah sesuatu yang ingin dimiliki jiwa, yang dipandangnya sebagai hal terbaik, yang dipercayai dan diyakininya melebihi se­gala sesuatu. Nah, Kristus tidak bertujuan untuk merampas harta kita, melainkan untuk mengarahkan kita dalam menentu­kan pilihan atas harta kita, dan di sini kita dapat melihat:

1.          Peringatan yang baik agar kita tidak menjadikan hal-hal yang tampak, yang hanya sementara, sebagai hal yang kita anggap paling penting, dan agar kita tidak mengandalkannya untuk memberi kita kebahagiaan. Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi. Murid-murid Kristus telah meninggalkan segala­nya untuk mengikut Dia, biarlah mereka tetap berpikir­an baik seperti ini. Harta adalah sesuatu yang berlimpah, yang dengan sendirinya sangat bernilai dan berharga, atau setidaknya me­nu­rut pendapat kita sangat berharga. Namun, harta itu juga dapat menghalang-halangi jalan kita menuju kehidupan kekal. Nah, kita tidak boleh mengumpulkan harta di bumi, yang ber­arti bahwa:

(1)         Kita tidak boleh menganggap hal-hal ini sebagai hal yang ter­penting, atau yang paling berharga, atau yang paling ber­­manfaat bagi diri kita. Janganlah kita menganggapnya se­bagai kemuliaan, seperti yang dilakukan putra-putra Laban, melainkan kita harus memandang dan mengakui bah­wa harta itu tidak mempunyai kemuliaan jika diban­ding­kan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu.
(2)         Kita tidak boleh mendambakan kelimpahan dalam hal-hal ini, atau terus mengejarnya dan memperbanyak jumlah­nya, seperti yang dilakukan orang-orang dengan hartanya, seakan-akan kita tidak pernah tahu kapan semuanya ini sudah cukup bagi kita.
(3)         Kita tidak boleh mengandalkannya untuk masa depan kita, untuk dijadikan jaminan dan persediaan bagi masa men­datang. Janganlah kita berkata kepada emas, “Engkau­lah perlindunganku.”
(4)         Janganlah kita berpuas diri dengan hal-hal itu dan meng­ang­gapnya sebagai satu-satunya hal yang kita perlukan dan kita inginkan. Kita harus merasa puas dengan hanya sedikit harta untuk perjalanan hidup kita, tetapi jangan me­nuntut semua harta untuk dijadikan sebagai bagian milik kita. Semuanya ini tidak boleh dijadikan penghiburan bagi kita (Luk. 6:24), atau segala yang baik bagi kita (Luk. 16:25). Marilah kita perhatikan dengan sungguh-sungguh bahwa kita mengumpulkan harta bukan bagi anak-cucu kita di dunia ini, melainkan bagi diri kita sendiri di dunia yang akan datang. Semua terserah pada pilihan kita, dan kita adalah pemahat-pemahat yang membentuk diri kita sendiri. Harta yang kita kumpulkan bagi diri kita sendiri ada­lah milik kita. Kita harus memilih dengan bijaksana, karena kita memilih untuk diri kita sendiri, karena kita sendiri yang akan menerima apa yang kita pilih. Jika kita me­ngetahui dan memandang diri kita sebagai siapa kita sebenarnya, untuk apa kita diciptakan, seberapa besar ke­mam­­puan kita, dan berapa lama kita akan hidup, dan bah­wa jiwa kita adalah diri kita yang sesungguhnya, maka kita akan melihat betapa bodohnya mengumpulkan harta di bumi.

2.          Berikut ini diberikan alasan yang baik mengapa kita tidak boleh memandang hal apa pun di bumi sebagai harta kita, sebab harta di bumi dapat lenyap dan rusak.

(1)         Karena kerusakan dari dalam. Harta di bumi dapat dirusak ngengat dan karat. Jika harta itu berupa pakaian mewah, ngengat akan memakannya, dan pakaian itu akan menjadi rusak parah, dan sampai akhirnya habis, padahal kita me­nyangka bahwa pakaian ini telah disimpan dengan sangat aman. Jika harta itu berupa gandum atau bahan-bahan makanan lain, seperti yang dimiliki orang kaya yang lum­bung-lumbungnya penuh dengan gandum (Luk. 12:16-17), karat (begitulah yang kita baca) akan merusakkannya. Brōsis – dimakan, dimakan manusia, sebab dengan bertam­bah­nya harta, bertambah pula orang yang menghabis­kan­nya (Pkh. 5:10), dimakan tikus atau binatang kecil lain. Manna pun mengeluarkan ulat, atau menjadi berjamur dan apak, berwarna kehitam-hitaman, atau dibuang dan di­mus­­nahkan. Buah-buahan pun membusuk dengan cepat. Atau, jika itu emas dan perak, benda-benda ini pun dapat menjadi kusam. Semakin sering dipakai, benda-ben­da ini akan semakin aus, dan semakin lama disimpan akan men­jadi semakin buruk (Yak. 5:2-3). Karat dan ngengat ber­kem­bang di dalam logam dan pakaian itu sendiri. Per­hati­kan­lah, kekayaan duniawi pada dasarnya bisa rusak dan lapuk, serta akan hancur dengan sendirinya, dan tiba-tiba lenyap.
(2)         Karena tindak kekerasan dari luar. Pencuri membongkar serta mencurinya. Setiap pelaku kekerasan akan mengincar rumah yang menyimpan banyak harta. Juga tidak ada suatu hal apa pun yang dapat disimpan dengan begitu aman, sebaliknya, kita akan menjadi kehilangan. Numquam ego fortunæ credidi, etiam si videretur pacem agere; omnia illa quæ in me indulgentissime conferebat, pecuniam, honores, gloriam, eo loco posui, unde posset ea, since metu meo, repetere – Aku tidak pernah menaruh kepercayaan pada harta, meskipun harta tampak sangat menguntung­kan; apa pun kenikmatan yang dapat diberikan oleh kelim­pah­annya, baik kekayaan, kehormatan, maupun kemuliaan, aku membuang semuanya itu sehingga meski­pun harta memang masih dapat mengingatkan aku pada semuanya itu, namun sama sekali tidak menimbulkan kegelisahan dalam diriku (Seneca Consul. ad Helv.). Sungguh bodoh men­jadi­kan sesuatu yang dengan begitu mudahnya dapat di­ram­pas dari kita sebagai harta kita.

3.          Nasihat yang baik, untuk mendatangkan sukacita dan kemu­lia­an dari dunia yang akan datang, yaitu hal-hal yang tersem­bunyi dan kekal, sebagai hal yang terpenting bagi kita, serta untuk mengandalkannya dalam memberi kita keba­hagia­an. Kumpulkanlah bagimu harta di sorga. Per­hati­kan­­lah:

(1)         Ada harta di sorga, sama pastinya seperti ada harta di bumi, dan harta yang di sorga itu merupakan satu-satunya harta sejati, yakni segala kekayaan, kemuliaan, dan suka­cita yang ada di sebelah kanan Allah, yang akan diterima oleh orang-orang yang benar-benar telah dikuduskan, ke­tika mereka datang untuk dikuduskan dengan sempurna.
(2)         Sungguh bijaksana bila kita mengumpulkan bagi kita harta yang seperti ini, dan dengan tekun memastikan hak kita untuk menerima hidup kekal melalui Yesus Kristus, dan mengandalkannya sebagai kebahagiaan kita, dan meman­dang segala yang ada di bawah sini dengan rasa muak yang kudus sebagai sesuatu yang tidak berharga dibandingkan dengannya. Kita harus percaya dengan teguh bahwa keba­hagiaan semacam itu memang ada, dan kita juga harus ber­­ketetapan untuk merasa puas dengannya, dan tidak mau puas kalau belum mendapatkannya. Jika kita sung­guh-sungguh menjadikan harta itu sebagai milik kita, dengan mengumpulkannya, maka kita dapat mempercaya­kannya kepada Allah untuk menjaganya dengan aman. Oleh sebab itu, marilah kita mengarahkan semua rancang­an kita dan menujukan seluruh keinginan kita ke sana. Marilah kita mempersembahkan seluruh upaya dan pera­sa­an kita yang terbaik ke sana. Janganlah kita membebani diri dengan harta dunia yang hanya akan menyusahkan dan merusakkan kita, dan sangat dapat menenggelamkan kita, tetapi kumpulkanlah jaminan-jaminan yang baik. Jan­ji-janji itu merupakan alat tukar, yang dengannya orang percaya yang sungguh-sungguh mengembalikan harta mereka ke sorga, dan yang akan dibayarkan kembali kelak. Dengan demikian, kita membuat pasti hal-hal yang akan dibuat pasti.
(3)         Sungguh kita dapat berbesar hati jika kita mengumpulkan harta kita di sorga, karena di sanalah harta kita aman. Harta itu tidak akan rusak dengan sendirinya, tidak ada ngengat dan karat yang akan merusakkannya, dan tidak akan ada kekuatan atau kecurangan yang dapat meram­pas­nya dari kita. Pencuri tidak membongkar serta mencuri­nya. Ini adalah kebahagiaan yang melebihi dan melampaui semua perubahan dan peluang waktu, warisan yang tidak dapat binasa.

4.           Alasan yang baik mengapa kita harus memilih seperti itu, dan bukti bahwa kita telah melakukannya (ay. 21). Di mana harta­mu berada, entah di bumi atau di sorga, di situ juga hatimu berada. Itulah sebabnya kita harus berlaku benar dan bijak dalam memilih harta kita, sebab sifat pikiran kita, dan akibat­nya, tujuan hidup kita, akan bersifat kedagingan atau rohani, duniawi atau sorgawi menuruti pilihan kita itu. Hati mengikuti harta, sama seperti jarum mengikuti magnet, atau bunga mata­hari mengikuti matahari. Di mana hartamu berada, di situ­lah nilai dan harga diri berada, di situ pula cinta dan perasaan berada (Kol. 3:2). Ke sanalah tertuju segala keingin­an dan hasrat, ke situlah mengarah segala tujuan dan mak­sud, dan segala sesuatu dilakukan berdasarkan pandangan akan harta itu. Di mana hartamu berada, di situ juga perhatian dan kekhawatiran kita berada, karena takut kehilangan harta itu. Hal itulah yang paling kita cemaskan. Di situ jugalah harapan dan kepercayaan kita berada (Ams. 18:10-11). Di situ segala sukacita dan kesenangan kita akan berada (Mzm. 119:111), dan di situ juga pikiran-pikiran kita berada. Di situlah pikiran batiniah akan berada, pikiran yang pertama, pikiran yang bebas, pikiran yang tetap, dan pikiran yang sering timbul dan sudah dikenal. Hati adalah hak Allah (Ams. 23:26), dan agar Ia dapat memilikinya, harta kita harus dikumpulkan bersama-Nya, sehingga barulah jiwa kita akan terangkat kepada-Nya.

Petunjuk tentang mengumpulkan harta ini sangat sesuai untuk diterapkan pada peringatan sebelumnya, yaitu tentang tidak menjalankan ibadah supaya dilihat orang. Harta kita adalah segala sedekah, doa, dan puasa kita, dan juga upah yang kita terima untuk semua itu. Jika kita menjalankan se­mua ini hanya supaya dipuji manusia, itu berarti kita me­ngum­­pulkan harta di bumi, meletakkannya pada tangan manu­sia, dan tidak pernah bisa berharap akan mendengar apa-apa lagi tentangnya. Alangkah bodohnya melakukan hal ini, sebab kehormatan manusia yang begitu kita dambakan sangat mu­dah musnah, akan berkarat dalam waktu singkat, akan dima­kan ngengat, dan akan terlihat kusam. Sedikit kebo­doh­an, se­perti lalat yang mati, akan merusakkan semuanya (Pkh. 10:1). Umpatan dan fitnah adalah pencuri yang mem­bong­kar serta mencurinya, sehingga kita kehilangan seluruh harta perbuatan kita. Kita berlari dan berjerih payah dengan sia-sia karena kita mempunyai niat yang salah dalam melakukan itu semua. Ibadah-ibadah yang munafik tidak mengumpulkan apa-apa di sorga (Yes. 58:3), upahnya lenyap ketika nyawa dicabut (Ayb. 27:8). Tetapi jika kita berdoa, berpuasa, dan bersedekah dalam kebenaran dan ketulusan, dengan mata yang tertuju kepada Allah dan perkenanan-Nya, dan percaya bahwa kita berkenan kepada-Nya, maka kita telah mengum­pul­kan harta di sorga. Sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya (Mal. 3:16), dan karena tercatat di sana, per­buat­an kita akan mendapat upah di sana, dan kita akan ter­hi­bur mendapat kembali harta kita di sana, di seberang ke­ma­ti­an dan kubur. Orang-orang muna­fik tersurat namanya dalam tanah (Yer. 17:13, TL), tetapi nama anak-anak Allah yang setia ada terdaftar di sorga (Luk. 10:20). Diterima Allah adalah harta di sorga, yang tidak akan dapat dirusakkan ataupun dicuri. Firman-Nya “Baik sekali perbuatanmu itu” akan berlaku sela­ma­nya. Jika kita telah mengum­­pulkan harta kita bersama-Nya dengan cara demikian, hati kita juga akan berada ber­sama-Nya. Di mana lagi ada tempat yang lebih baik bagi hati kita?

II.           Kita harus berjaga-jaga terhadap kemunafikan dan pemikiran duniawi dalam memilih tujuan yang kita ingini. Perhatian kita me­ngenai hal ini digambarkan melalui dua jenis mata yang dimiliki manusia, yakni mata baik dan mata jahat (ay. 22-23). Ungkapan-ungkapan yang digunakan di sini memang agak kurang jelas ka­rena ringkas. Oleh sebab itu kita akan melihatnya dengan meng­­gunakan beberapa macam penafsiran. Mata adalah pelita tubuh, itu sudah jelas. Tugas mata adalah menemukan dan menuntun. Terang dunia tidak akan banyak gunanya tanpa pelita tubuh ini. Pelita tubuh inilah yang menyukakan hati (Ams. 15:30), akan te­tapi, apa yang dibandingkan di sini dengan mata dalam tubuh itu?

1.           Mata di sini adalah hati (begitulah menurut sebagian orang), jika mata itu baik – haplous – bebas dan murah hati (istilah ini sering digunakan, misalnya dalam Rm. 12:8; 2Kor. 8:2; 9:11, 13; Yak. 1:5; dan kita juga membaca tentang orang yang baik matanya dalam Ams. 22:9, TL). Jika kita mempunyai kecon­dong­an pada kebaikan dan kemurahan hati, maka hati itu akan menuntun orang untuk melakukan tindakan-tin­dak­an Kristiani, seluruh tutur katanya akan penuh dengan terang, penuh dengan bukti-bukti dan teladan-teladan Kekristenan sejati; dan ini semua adalah ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita (Yak. 1:27). Itu penuh dengan terang, penuh dengan perbuatan-perbuatan baik, yang me­rupakan terang kita yang bercahaya di depan orang. Na­mun jika hati itu jahat, tamak, keras, iri, dengki, dan suka mendendam (sifat seperti ini sering kali digambarkan dengan mata yang jahat, Mat. 20:15; Mrk. 7:22; Ams. 23:6-7), maka gelaplah seluruh tubuh. Seluruh tutur katanya akan serupa dengan orang yang tidak mengenal Allah dan tidak Kristiani. Kalau penipu, akal-akalnya selalu dan akan selalu jahat, tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur (Yes. 32:5-8). Jadi, jika terang yang ada pada kita itu, yakni pera­sa­an-perasaan yang seharusnya memimpin kita kepada apa yang baik, menjadi gelap, jika segala perasaan itu menjadi rusak dan duniawi, jika dalam diri seseorang tidak ada cukup ba­nyak sifat yang baik, tidak ada sifat-sifat yang condong ke hal-hal yang baik, maka betapa hebatnya kerusakan dan kegelap­an yang meliputi orang itu! Pengertian seperti ini tampaknya sesuai dengan pokok persoalan dalam perikop ini. Kita harus mengumpulkan harta di sorga dengan cara memberi sedekah dengan murah hati, dan kita tidak boleh melakukan­nya de­ngan menggerutu, melainkan dengan senang hati (Luk. 12:33; 2Kor. 9:7). Namun perkataan tentang mata yang juga terdapat dalam bacaan lain yang serupa ini tidak disampaikan dalam pengertian seperti itu (Luk. 11:34), dan oleh sebab itu, keter­kait­annya dengan pengertian tersebut di sini sama sekali tidak dimaksudkan bah­wa inilah satu-satunya pengertian yang be­nar dari per­kata­an tentang mata dalam perikop lain tersebut.
2.           Mata di sini adalah pengertian (begitulah menurut sebagian orang). Mata menilai segala perbuatan nyata, dan berfungsi se­ba­­­gai hati nurani. Fungsinya bagi indra-indra kejiwaan lain sama seperti fungsi mata bagi tubuh, yang membimbing dan mengarahkan gerak-gerik anggota tubuh yang lain. Jika mata itu baik, jika mata itu membuat penilaian yang baik dan be­nar, dan sanggup membedakan hal-hal yang berlainan, ter­utama dalam hal memilih untuk mengumpulkan harta yang benar, maka mata ini akan menuntun segala perasaan dan tin­dakan dengan benar, sehingga semuanya ini akan penuh dengan terang anugerah dan penghiburan. Tetapi jika mata itu jahat dan rusak, maka bukannya menuntun orang-orang yang lemah, mata itu malah justru akan memimpin, memenuhi dan mencondongkan mereka ke arah yang jahat. Jika mata itu keliru dan mendapat masukan yang salah, hati dan kehidupan pasti akan penuh dengan kegelapan, dan seluruh tutur kata pun akan menjadi rusak. Orang yang tidak mengerti dikatakan berjalan dalam kegelapan (Mzm. 82:5). Betapa menyedihkan bila roh manusia, yang seharusnya adalah pelita Tuhan, ter­nyata adalah ignis fatuus: ketika orang-orang yang mengen­dalikan bangsa, yang mengendalikan segala indra, menjadi penyesat, maka pada saat itulah orang-orang yang dikendali­kan mereka menjadi kacau (Yes. 9:15). Kesalahan dalam mem­buat penilaian terhadap segala perbuatan menda­tang­kan mala­­petaka, membuat orang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat (Yes. 5:20). Oleh sebab itu, kita harus memahami segala sesuatu dengan benar, dan memiliki mata yang diurapi.
3.           Mata di sini adalah tujuan dan maksud. Dengan mata kita menentukan tujuan akhir yang hendak kita capai, titik yang hendak kita bidik, dan tempat yang hendak kita datangi. Kita terus memandangnya dan mengarahkan segenap langkah kita sesuai tujuan tersebut. Dalam segala hal yang kita lakukan dalam kehidupan beragama, ada satu dan lain hal yang ter­dapat dalam mata kita. Nah, jika mata ­kita baik, jika kita ber­niat tulus, menetapkan tujuan-tujuan yang benar, dan me­lang­kah dengan benar ke arah tujuan, jika kita bermaksud hanya dan murni demi kemuliaan Allah, mencari kehormatan dan perkenanan-Nya semata, dan mengarahkan segala sesua­tu kepada-Nya, maka mata kita baik. Mata Paulus itu demi­kian­lah adanya, seperti perkataannya, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Jika kita juga benar dalam hal ini, maka te­rang­lah seluruh tubuh kita. Seluruh tindakan kita akan teratur dan mulia, menyenangkan hati Allah dan menghibur bagi diri kita sendiri. Tetapi jika mata itu jahat, tidak memuliakan Allah dan mencari perkenanan-Nya, dan hanya mencari puji-pujian manusia, bukannya menghormati Allah tetapi mencari kehor­matan diri sendiri, mencari kepentingan sendiri dengan dalih mencari perkara-perkara Kristus, maka semuanya ini akan merusakkan segalanya. Seluruh tutur kata kita akan menjadi jahat dan mudah goyah, dan karena dasar kita dibangun dengan cara demikian, maka segala arah kita juga akan hanya menuju kepada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tariklah garis dari keliling lingkaran ke semua arah kecuali pusatnya, maka garis-garis itu akan saling menyilang. Jika terang yang ada padamu itu bukan saja redup, tetapi juga gelap, maka ini merupakan kesalahan yang mendasar dan akan merusak semua hal yang mengikutinya. Tujuan menen­tu­kan tindakan. Salah satu hal yang teramat penting dalam kehidupan beragama adalah bahwa kita harus memastikan kalau tujuan-tujuan kita benar, dan menjadikan perkara-per­kara yang kekal, bukan yang sementara, sebagai ruang ling­kup perhatian kita (2Kor. 4:18). Orang munafik itu seperti nelayan, ia menengok ke arah yang satu dan mendayung ke arah yang lain; sedangkan orang Kristen sejati itu seperti pelan­cong, ia memusatkan pandangannya pada tujuan akhir per­­jalanannya. Orang munafik membubung tinggi seperti bu­rung elang, yang memusatkan pandangannya pada mangsa di bawah, dan siap menukik ke arah mangsanya jika ada kesem­pat­­an yang baik. Orang Kristen sejati membubung tinggi seper­ti burung murai, yang terbang kian lama kian tinggi, dan melupakan semua yang ada di bawah.

III.         Kita harus berjaga-jaga terhadap kemunafikan dan pemikiran du­nia­wi dalam memilih tuan yang ingin kita abdi (ay. 24). Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Mengabdi kepada dua tuan bertentangan dengan memiliki mata yang baik, sebab mata itu akan memandang tangan tuannya (Mzm. 123:1-2). Yesus Tuhan kita di sini membeberkan kebohongan yang diperbuat orang terhadap jiwa mereka sendiri, dengan menyangka bahwa mereka bisa membagi antara Allah dan dunia, dengan memiliki harta di bumi dan juga harta di sorga, dengan menyenangkan hati Allah dan sekaligus juga hati manusia. “Mengapa tidak?” kata si munafik, “bukankah baik mempunyai dua tali pada satu busur?” Mereka berharap agar agama mereka dapat digunakan untuk melayani kepentingan duniawi mereka, sehingga dengan demikian mereka dapat menangani keduanya. Ibu yang palsu setuju apa­bila bayi yang sedang diperebutkan dibagi dua. Orang Samaria men­cam­puradukkan Allah dengan berhala. “Tidak,” kata Kristus, “ini tidak benar, ini hanyalah anggapan bahwa ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan” (1Tim. 6:5). Berikut ini kita melihat:

1.           Pepatah umum yang disampaikan Kristus. Mungkin ini pepa­tah yang umum di kalangan orang Yahudi. Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan, apalagi dua ilah, sebab perintah-perintah mereka pada satu atau lain waktu akan saling berlawanan dan bertentangan, dan kepentingan-kepen­tingan mereka akan saling bertabrakan. Apabila dua tuan pergi ber­sama, si hamba dapat mengikuti keduanya. Tetapi apabila mereka berpisah, akan tampak siapa yang dilayani hamba itu. Dia tidak dapat mengasihi, memperhatikan, dan terus meng­ikuti keduanya sebagaimana seharusnya. Jika ia memilih yang satu, maka ia tidak memilih yang lain. Entah yang satu atau yang lain harus dibenci dan dipandang rendah. Kebenar­an ini sudah cukup jelas dalam perkara-perkara yang biasa terjadi.
2.           Penerapannya pada masalah yang sedang dihadapi. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Ma­mon adalah sebuah kata bahasa Aram yang berarti keuntung­an. Jadi, apa pun di dunia ini yang merupakan, atau yang kita anggap sebagai, keuntungan (Flp. 3:7) adalah Mamon. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup adalah Mamon. Bagi se­bagian orang, perut mereka adalah Mamon, dan mereka meng­­abdi kepadanya (Flp. 3:19). Bagi sebagian yang lain, ke­nya­­manan mereka, tidur mereka, olahraga dan waktu luang mereka adalah Mamon bagi mereka (Ams. 6:9). Bagi yang lain, kekayaan duniawi (Yak. 4:13), dan bagi yang lain lagi, kehor­matan dan kedudukan tinggi. Pujian dan penghormatan dari manusia merupakan Mamon bagi orang-orang Farisi. Singkat­nya, diri sendiri, yang merupakan pusat kesatuan dari tritung­gal duniawi, yakni diri yang penuh dengan hawa nafsu dan kepentingan duniawi, adalah Mamon yang tidak dapat dilayani bersamaan dengan Allah. Sebab, jika dilayani, ia akan bersaing dengan-Nya dan akan bertentangan melawan-Nya. Kristus tidak berkata bahwa kita tidak boleh atau sebaiknya kita tidak, melainkan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Kita tidak dapat mengasihi kedua­nya (1Yoh. 2:15; Yak. 4:4) atau berpegangan pada keduanya, atau dipegang oleh keduanya dalam ketaatan, kepatuhan, pengabdian, kepercayaan, dan kebergantungan, sebab mereka bertentangan satu sama lain. Allah berkata, “Anak-Ku, berikan hatimu kepada-Ku.Mamon berkata, “Tidak, berikan hatimu kepadaku.” Allah berkata,Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” Mamon berkata, “Raihlah sebanyak mung­kin yang kamu bisa. Rem, rem, quocunque modo rem – Uang, uang, dengan cara halal ataupun haram, pokoknya uang.” Allah berkata, “Janganlah menipu, jangan pernah berdusta, ber­laku­lah jujur dan adil dalam semua urusanmu.” Mamon ber­kata, “Tipulah ayahmu sendiri kalau itu dapat menguntung­kan­mu.” Allah berkata, “Bermurah hatilah.” Mamon berkata, “Pertahankanlah hartamu, memberi hanya merugikan kita semua.” Allah berkata, “Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga.” Mamon berkata, “Khawatirkan segala perkara.” Allah berkata, “Kuduskanlah hari Sabat.” Mamon berkata, “Manfaatkanlah hari itu seperti hari-hari lain untuk kepenting­an dunia.” Betapa berbedanya perintah-perintah Allah dari perin­tah-perintah Mamon, sehingga kita tidak dapat mengabdi kepada keduanya. Oleh sebab itu, janganlah kita ragu memilih antara Allah dan Baal, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah, dan patuhilah siapa yang kita pilih.

25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada pakaian? 26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lum­bung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29 namun Aku be­r­kata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 30 Jadi jika demikian Allah mendandani rum­put di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang per­caya? 31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pa­kai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Nyaris tidak ada satu pun dosa yang diperingatkan Yesus Tuhan kita kepada murid-murid-Nya dengan lebih panjang lebar dan lebih sung­guh-sungguh, atau yang untuknya Ia mempersenjatai mereka dengan penjelasan-penjelasan yang lebih beragam, daripada dosa meng­khawa­­tir­­kan kebutuhan-kebutuhan hidup yang membuat geli­sah, bingung, dan waswas. Sikap seperti ini merupakan pertanda buruk bahwa baik harta maupun hati berada di bumi, dan oleh sebab itu Ia sangat menekankan masalah ini. Berikut ini kita melihat:

I.           Larangan yang ditetapkan. Tuhan Yesus memberikan nasihat dan perintah agar kita jangan khawatir tentang hal-hal di dunia ini. Aku berkata kepadamu. Dia mengatakannya sebagai seorang Pemberi Hukum dan Yang Berdaulat atas hati kita; Dia mengata­kan­nya sebagai Penghibur dan Penolong yang menyukakan hati kita. Apakah yang dikatakan-Nya itu? Inilah yang dikatakan-Nya, dan siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar: “Janganlah kuatir akan hidupmu, janganlah kuatir pula akan tubuhmu” (ay. 25), “Janganlah kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan?” (ay. 31), dan lagi (ay. 34), “Janganlah kamu kuatir, mē merimnate – Janganlah kamu cemas.” Sama seperti terhadap kemunafikan, demi­kian pula terhadap kekhawatiran tentang kepentingan-kepen­­tingan duniawi ini, peringatannya diulang sampai tiga kali, namun ini bukanlah pengulangan yang bertele-tele sebab ajaran demi ajaran, dan perkataan demi perkataan harus terus disampai­kan, untuk mencapai tujuan yang sama, dan semua itu harus dapat mencukupi. Ini adalah dosa yang begitu merintangi kita. Hal ini menunjukkan betapa menyenangkannya bagi Kristus, dan betapa pentingnya bagi kita, bahwa kita harus hidup tanpa kekha­watir­an. Tuhan Yesus memerintahkan berulang kali kepada murid-murid-Nya agar mereka tidak membagi-membagi perhatian mereka dan menyiksa pikiran mereka dengan kekhawatiran akan hal-hal dunia ini. Memang ada kekhawatiran berkenaan dengan hal-hal dalam kehidupan ini, yang bukan saja diperbolehkan, melainkan juga bahkan diwajibkan, seperti yang dipuji dalam perilaku perempuan yang saleh (Ams. 27:23). Kata “kekhawatiran” ini digunakan berkenaan dengan kepedulian Paulus akan keada­an jemaat-jemaat, dan kepedulian Timotius akan keadaan jiwa-jiwa (2Kor. 11:28; Flp. 2:20).

Namun, kekhawatiran yang dilarang di sini adalah:

1.          Kekhawatiran yang membuat gelisah dan menyiksa, yang membuat pikiran kacau-balau dan membuatnya tergantung di awang-awang, yang mengganggu sukacita di dalam Allah, dan mengaburkan pengharapan kita di dalam-Nya, yang meng­gang­gu tidur, dan menghalangi kita untuk menikmati diri kita sendiri, teman-teman kita, dan semua yang sudah diberikan Allah kepada kita.
2.          Kekhawatiran yang membuat ragu-ragu dan tidak percaya. Allah telah berjanji untuk menyediakan bagi umat kepunyaan-Nya segala hal yang diperlukan bagi kehidupan dan kesalehan, yakni bagi kehidupan sekarang ini; Ia menyediakan makanan dan pakaian, bukan yang lezat dan mewah, melainkan yang diperlukan. Ia tidak pernah berkata, “Mereka akan dijamu dengan pesta pora,” melainkan, “Sesungguhnya mereka akan diberi makan.” Nah, kekhawatiran yang berlebihan akan masa depan, dan ketakutan akan kekurangan bahan-bahan perse­dia­­an yang dibutuhkan, bersumber dari ketidak­percaya­an akan janji-janji ini, dan akan hikmat serta kebaikan pemeli­ha­ra­an ilahi; inilah letak kejahatan kekhawatiran itu. Mengenai makanan untuk saat ini, kita boleh dan harus menggunakan cara yang halal untuk memperolehnya, supaya kita tidak mencobai Allah. Kita harus rajin bekerja, bijaksana dalam menyesuaikan pengeluaran kita dengan apa yang kita miliki, dan kita harus berdoa untuk diberi makanan hari demi hari. Jika semua usaha kita tidak berhasil, kita boleh dan bahkan harus meminta bantuan dari orang-orang yang mampu mem­beri­kannya. Orang yang berkata, “Mengemis aku malu” (Luk. 16:3), sama sekali bukanlah orang yang baik; ia sama seperti orang yang ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja (Luk. 16:21). Tetapi untuk masa depan, kita harus menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, dan janganlah cemas, sebab dengan bersikap demikian seper­ti­nya kita iri terhadap Allah, yang tahu bagaimana mem­beri­kan apa yang kita inginkan sementara kita tidak tahu bagai­mana mendapatkannya. Biarlah jiwa kita berdiam dengan tenteram di dalam Dia! Ketidakkhawatiran yang me­nye­nang­kan ini sama dengan tidur nyenyak yang diberikan Allah ke­pada orang yang dikasihi-Nya, berlawanan dengan orang dunia yang terus sibuk bekerja (Mzm. 127:2). Perhati­kan­lah peri­ngat­an-peringatan yang diberikan di sini:

(1)         Janganlah kuatir akan hidupmu. Hidup adalah hal yang paling menuntut keprihatinan kita di dunia ini. Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya, na­mun demikian, janganlah kita mengkhawatirkannya.

[1]         Jangan khawatir akan keberlangsungannya. Serahkan­lah kepada Allah untuk memperpanjang atau memper­pen­deknya sesuai kehendak-Nya. Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, ada dalam tangan yang baik.
[2]         Jangan khawatir akan kenyamanan hidup ini. Serah­kanlah kepada Allah untuk membuatnya pahit atau manis sesuai kehendak-Nya. Kita tidak boleh cemas, bah­kan untuk hal yang sangat diperlukan untuk meno­pang hidup ini, yaitu makanan dan pakaian. Allah telah menjanjikan hal-hal ini, dan oleh sebab itu kita boleh mengharapkannya dengan lebih yakin lagi. Janganlah berkata, “Apakah yang akan kami makan?” Ini per­kata­an orang yang sedang kebingungan dan nyaris putus asa, padahal, meskipun banyak orang baik yang hanya mempunyai sedikit makanan untuk hari-hari ke depan, cuma sedikit orang yang tidak mempunyai makanan yang dibutuhkan pada saat ini.

(2)         Janganlah kamu kuatir akan hari besok, akan masa yang akan datang. Janganlah cemas akan masa depan, bagai­mana engkau akan hidup tahun depan, atau ketika engkau sudah tua, atau apa yang akan kautinggalkan nanti. Sama seperti kita tidak boleh bermegah akan hari esok, begitu pula kita tidak boleh kuatir akan hari esok, atau apa yang bakal terjadi nanti.

II.          Alasan-alasan dan penjelasan-penjelasan untuk memperkuat larang­an ini. Kita mungkin berpikir bahwa perintah Kristus saja sebenarnya sudah cukup untuk mencegah kita melakukan dosa yang bodoh ini, yang membuat kita gelisah dan waswas, yang sama sekali tidak menenteramkan jiwa kita, dan yang sangat memprihatinkan. Namun demikian, untuk menunjukkan betapa besarnya perhatian Kristus akan hal ini, dan betapa senangnya Ia terhadap orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya, perin­tah itu didukung dengan penjelasan-penjelasan yang sangat kuat. Jika saja kita dituntun oleh akal sehat, tentu kita akan terlepas dari duri-duri yang menusuk ini. Untuk membebaskan kita dari pikiran-pikiran yang cemas dan untuk membuangnya jauh-jauh, Kristus di sini menawarkan kepada kita pikiran-pikiran yang menghibur, agar kita dipenuhi dengannya. Sungguh bermanfaat untuk menyerang hati kita sendiri, untuk beradu pendapat ten­tang segala kekhawatirannya yang membuat gelisah, dan untuk mem­buat kita merasa malu karena memiliki kekha­wa­tiran-kekha­wa­tiran semacam itu. Kekhawatiran ini mungkin da­pat dilemah­kan dengan akal budi, namun hanya dengan iman yang hiduplah kekhawatiran itu dapat diatasi. Karena itu pikir­kan­l­­­ah:

1.          Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tu­buh itu lebih penting dari pada pakaian? (ay. 25). Benar, tidak diragukan lagi. Begitulah yang dikatakan Dia yang me­miliki akal budi untuk memahami nilai yang sejati dari hal-hal yang ada sekarang ini, sebab Dialah yang menciptakan semua itu, Dialah yang menopangnya, dan menopang kita dengan­nya, dan hal ini terbukti dengan sendirinya. Per­hatikan­lah:

(1)         Hidup kita merupakan berkat yang lebih besar daripada sandang pangan kita. Memang benar bahwa hidup tidak dapat bertahan tanpa nafkah, tetapi makanan dan pakaian yang di sini dipandang tidak lebih tinggi nilainya daripada hidup dan tubuh itu sendiri hanyalah merupakan hiasan dan kesenangan saja; dan karena hal-hal inilah kita cen­de­rung menjadi cemas. Makanan dan pakaian diperlu­kan un­tuk hidup, tetapi tujuan dari hidup itu sendiri lebih mulia dan lebih istimewa daripada sarananya. Makanan yang paling lezat dan pakaian yang paling mewah berasal dari bumi, tetapi hidup berasal dari nafas Allah. Hidup adalah terang manusia. Makanan hanyalah minyak yang menyala­kan terang itu, sehingga dengan demikian perbeda­an an­tara orang kaya dan orang miskin sangat tidak ber­arti, kare­na dalam hal-hal yang terpenting mereka berdiri se­ting­­kat, dan hanya berbeda dalam hal-hal yang kurang pen­ting.
(2)         Ini merupakan suatu dorongan bagi kita untuk memper­cayai Allah dalam hal makanan dan pakaian, sehingga kita bisa terlepas dari segala kekhawatiran yang membingung­kan tentangnya. Allah telah memberi kita hidup, dan juga mem­beri kita tubuh. Ini merupakan suatu tindakan kekua­saan, tindakan kebaikan, yang dilakukan tanpa kekha­wa­tir­an kita. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh Dia yang sang­gup melakukan itu semua? Apa yang tidak akan dilaku­kan-Nya? Jika kita memperhatikan jiwa dan kehi­dup­an kekal kita, yang lebih penting daripada tubuh dan kehi­dup­an­nya, maka kita dapat berserah kepada Allah untuk me­nye­diakan makanan dan pakaian bagi kita, yang kurang penting sifatnya. Allah telah memelihara kehidupan kita sampai saat ini, dan kalau pun adakalanya hanya dengan denyut nadi dan air, namun itu sudah cukup un­tuk me­me­nuhi tujuan. Dia telah melindungi kita dan mem­buat kita tetap hidup. Dia yang melindungi kita dari segala kejahatan yang menganga di hadapan kita, Dia juga akan melengkapi kita dengan segala hal baik yang kita butuh­kan. Sean­dai­nya Dia memang ingin membunuh kita dan membiarkan kita mati kelaparan, Dia tidak akan sesering itu memerin­tah­kan malaikat-malaikat-Nya untuk menjagai kita.

2.          Pandanglah burung-burung di langit, dan perhatikanlah bunga bakung di ladang. Ini adalah penjelasan yang diambil dari contoh pemeliharaan Allah yang biasa terhadap makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lebih rendah, dan kebergantungan me­reka, sesuai kemampuan masing-masing, pada pemeli­hara­an itu. Sungguh rendah tempat yang dihuni manusia yang ja­tuh kini, sampai-sampai ia harus belajar dari burung-bu­rung di udara, dan burung-burung harus mengajari mereka! (Ayb. 12:7-8).

(1)         Pandanglah burung-burung, dan belajarlah untuk percaya kepada Allah dalam hal makanan (ay. 26), dan janganlah membuat dirimu gelisah dengan memikirkan apa yang hen­dak kamu makan.

[1]         Amatilah pemeliharaan Allah terhadap burung-burung itu. Pandanglah mereka, dan belajarlah dari mereka. Ada berbagai macam burung, jumlahnya sangat ba­nyak, dan sebagian dari antaranya sangat rakus, na­mun semuanya diberi makan, dan diberi makan dengan makanan yang cocok bagi mereka. Jarang ada yang mati kelaparan, bahkan di musim dingin, jadi pasti ter­sedia banyak makanan bagi burung-burung itu sepan­jang tahun. Karena burung hanya sedikit memberikan man­faat bagi manusia, jadi manusia pun kurang mem­perhatikan makhluk ini. Manusia sering memakan bu­rung, tetapi jarang memberinya makan. Namun demi­­kian burung-burung diberi makan, entah bagai­mana, dan seba­gi­an di antaranya bahkan diberi sangat banyak makan­an pada musim yang paling keras, dan Bapamu yang di sorgalah yang memberi mereka makan. Ia kenal segala burung liar di udara lebih baik daripada engkau mengenal yang jinak di pintu lumbungmu (Mzm. 50:11). Tidak seekor pun burung pipit dapat hinggap di tanah untuk mematuk sebutir jagung, kecuali karena pemeli­hara­an Allah, yang menjangkau hingga makhluk-makh­luk yang paling rendah sekalipun. Namun yang khusus diamati di sini adalah bahwa burung-burung itu diberi makan tanpa harus peduli atau bekerja sendiri. Bu­rung-burung itu tidak menabur dan tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal ke dalam lumbung. Semut dan lebah memang melakukannya, dan karena itu kedua jenis serangga ini dijadikan teladan kebijaksana­an dan ketekunan bagi kita. Tetapi burung-burung di udara tidak berbuat seperti itu, mereka tidak menyim­pan bekal untuk hari depan, namun demikian, setiap hari, segera setelah hari itu tiba, makanan telah dise­dia­­kan bagi mereka, dan mata mereka memandang Allah, Sang Pengurus rumah yang agung dan baik itu, yang menyediakan makanan bagi segala yang hidup.
[2]         Biarlah hal ini mendorongmu untuk percaya kepada Allah. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Ya, tentu saja. Perhatikanlah, para ahli waris sorga jauh lebih berharga daripada burung-burung di langit. Para ahli waris itu adalah ciptaan yang lebih mulia dan unggul, dan dengan iman, mereka akan terbang mem­bubung lebih tinggi. Mereka memiliki sifat dan didikan yang lebih baik, dan lebih berhikmat melebihi burung di udara (Ayb. 35:11). Meskipun anak-anak dunia ini, yang tidak mengetahui hukum Tuhan, tidak sebijaksana burung ranggung, burung layang-layang, dan burung bangau (Yer. 8:7), engkau lebih berharga dan lebih dekat dengan Allah, sekalipun burung-burung itu ter­bang di langit yang luas dan bebas. Dialah Tuan dan Tuhanmu, Pemilik dan Majikanmu; dan yang lebih ter­utama lagi, Dia adalah Bapamu, dan di mata-Nya kamu jauh melebihi burung-burung itu. Kamu adalah anak-anak-Nya, anak sulung-Nya. Nah, Dia yang memberi makan burung-burung-Nya tentu tidak akan membiar­kan bayi-bayi-Nya mati kelaparan. Burung-burung itu per­caya kepada pemeli­haraan Bapamu, dan tidakkah kamu mau mempercayai­nya juga? Dengan ketergan­tung­­­an itu, mereka tidak mengkhawatirkan hari esok, dan ka­rena itu, mereka menjalani hidup yang paling gem­­bira dari antara semua makhluk lain, mereka ber­siul dari antara daun-daunan (Mzm. 104:12), dan dengan sekuat tenaga mereka memuji Pencipta mereka. Jika kita, dengan iman, sanggup untuk tidak mence­mas­kan hari esok seperti burung-burung itu, maka pasti kita akan bernyanyi dengan riang gembira seperti mereka. Karena kekhawatiran duniawilah yang merusak kegem­bira­an kita, meredupkan sukacita kita, dan mem­bung­kam puji-pujian kita, dan banyak hal-hal lainnya.

(2)         Pandanglah bunga bakung, dan belajarlah untuk percaya kepada Allah dalam hal pakaian. Ini adalah kekhawatiran kita yang lain, apakah yang akan kita pakai, untuk keso­pan­an, untuk penutup tubuh, untuk perlindungan, dan un­tuk penghangat badan, dan, bagi banyak orang, untuk harga diri dan perhiasan agar mereka tampak hebat dan menarik. Mereka begitu peduli dengan semarak dan ragam busana mereka, sehingga mereka sering mengkhawatirkan hal ini hampir sama seringnya dengan mengkhawatirkan makanan sehari-hari. Nah, untuk melepaskan diri dari kekha­watiran semacam ini, marilah kita memperhatikan bu­nga bakung di ladang, bukan sekadar memandangnya (se­tiap mata akan senang melaku­kannya), melainkan mem­per­­hati­kannya. Perhatikan­lah, ada begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dari apa yang kita lihat sehari-hari, asal kita mau memperhatikannya baik-baik (Ams. 6:6; 24:32).

[1]         Perhatikanlah betapa ringkihnya bunga bakung itu, ia adalah rumput di padang. Bunga bakung, meskipun dapat dibedakan karena warnanya, tetap saja hanya rum­­put. Demikianlah seluruh umat manusia adalah seperti rumput, meskipun sebagian di antaranya dalam anu­ge­rah tubuh dan pikiran sama seperti bunga ba­kung, sangat dikagumi, tetap saja mereka rumput, rumput di padang dalam hakikatnya dan dalam sifat­nya. Mereka berdiri setara dengan sesama mereka yang lain. Umur hidup manusia, sepanjang-panjangnya, ha­nyalah seperti rumput, seperti bunga rumput (1Ptr. 1:24). Rumput yang hari ini ada, besok dibuang ke da­lam api. Dalam waktu singkat, tempat yang mengenal kita, akan tidak mengenal kita lagi. Kuburan adalah tung­ku perapian yang ke dalamnya kita akan dibuang, dan yang di dalamnya kita akan hancur seperti rumput di dalam api (Mzm. 49:15). Hal ini menunjukkan alasan mengapa kita tidak boleh mengkhawatirkan hari esok, apa yang akan kita pakai, sebab boleh jadi, pada hari esok kita harus mengenakan pakaian kematian kita.
[2]         Perhatikanlah betapa bebasnya bunga bakung dari ke­kha­watiran. Ia tidak bekerja seperti manusia, untuk men­dapatkan pakaian, atau seperti seorang hamba, untuk mendapatkan seragamnya. Ia juga tidak memin­tal, seperti kaum perempuan, untuk membuat pakaian. Ini bukan lalu berarti bahwa dengan demikian kita bo­leh lalai, atau ceroboh dalam menjalankan pekerjaan yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Istri yang ca­kap dipuji karena tangannya ditaruhnya pada jentera lalu membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya (Ams. 31:19, 24). Kemalasan itu mencobai Allah, bukannya mempercayai-Nya. Sebaliknya, Dia yang menyediakan kebutuhan bagi makhluk-makhluk yang lebih rendah, tanpa mereka harus bekerja, pasti akan terlebih lagi menyediakan kebutuhan bagi kita, dengan memberkati jerih payah kita, yang telah dibuat-Nya sebagai kewajib­an bagi kita. Dan jika kita karena sakit tidak mampu bekerja dan memintal, Allah pasti sanggup melengkapi kita dengan apa yang kita perlukan.
[3]         Perhatikanlah betapa cantik dan betapa indahnya bu­nga-bunga bakung itu, bagaimana bunga-bunga ini tum­buh, dan dari mana tumbuhnya. Akar bunga ba­kung atau bunga tulip, sama seperti akar-akar umbi yang lain, pada musim dingin lenyap dan terkubur di bawah tanah. Namun demikian, saat musim semi tiba, akar itu muncul kembali, dan tumbuh dalam waktu yang sing­kat. Karena itulah dijanjikan kepada umat Israel Allah bahwa mereka akan tumbuh seperti bunga bakung (Hos. 14:6). Perhatikanlah seperti apa akar itu bertumbuh. Dalam beberapa minggu, dari dalam tanah yang gelap itu, akar itu tumbuh menjadi bunga dengan warna-warni yang begitu ceria, sehingga bahkan Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah sa­lah satu dari bunga itu. Pakaian Salomo sangatlah indah dan megah. Dia yang memiliki harta yang istimewa dari para raja dan penguasa, dan yang dengan cermat me­nam­pilkan kemegahan dan keper­kasaannya, pasti me­mi­liki pakaian-pakaian yang paling mewah, yang terbaik buatannya, dari semua pakaian yang bisa diperoleh, ter­utama saat dia tampil dalam kemuliaannya pada hari-hari penting. Namun demikian, seindah apa pun dia berpakaian, keindahannya masih kalah jauh dari­pada bunga-bunga bakung; setaman bunga tulip lebih cemerlang daripadanya. Oleh sebab itu, marilah kita mendambakan hikmat Salomo, yang tidak terkalahkan oleh siapa pun (hikmat untuk melakukan kewajiban kita di tempat kita berada), daripada kemuliaan Salomo, yang dikalahkan oleh bunga-bunga bakung. Pengetahu­an dan anugerah­lah yang menyempurnakan manusia, bukan keindahan, apalagi pakaian yang bagus-bagus. Nah, di sini dikata­kan bahwa demikianlah Allah men­dan­­dani rumput di ladang. Perhatikanlah, semua ke­in­dah­­an dan keunggul­an ciptaan mengalir dari Allah, Sum­ber dan Mata Air dari semuanya itu. Dialah yang mem­­­berikan tenaga kepada kuda dan keindahan ke­pada bunga bakung. Setiap makhluk, termasuk kita semua, ada sesuai dengan maksud Allah dalam mencip­ta­kannya.
[4]         Perhatikanlah betapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari semuanya ini (ay. 30).

Pertama, mengenai pakaian yang indah. Hal ini mengajar kita untuk tidak mengkhawatirkannya sama sekali, untuk tidak men­dambakannya, ataupun membanggakannya, untuk tidak mem­buat pakaian yang indah-indah sebagai perhiasan kita, sebab se­te­lah bersusah payah mencemaskan semuanya ini pun, kita masih kalah jauh dari bunga-bunga bakung. Kita tidak dapat ber­pakaian seindah bunga-bunga itu, jadi mengapa kita berusaha me­nyainginya? Keindahan bunga-bunga bakung akan segera le­nyap, begitu pula dengan keindahan kita. Keindahan bunga-bunga itu akan pudar – hari ini ada dan besok dibuang, seperti sam­pah, ke dalam tungku perapian. Pakaian-pakaian yang kita banggakan akan lapuk, kemilaunya akan segera hilang, warnanya akan memudar, bentuknya akan ketinggalan zaman, atau seben­tar lagi kainnya sendiri akan menjadi usang. Demikianlah manu­sia dengan segala kemegahannya (Yes. 40:6-7), terutama orang kaya (Yak. 1:10), di tengah-tengah usahanya ia akan lenyap.

Kedua, mengenai pakaian yang diperlukan. Hal ini mengajar kita untuk menyerahkannya kepada Allah – Jehovah Jireh. Per­caya­kanlah kepada Dia, yang mendandani bunga-bunga bakung, untuk menyediakan bagimu apa yang hendak kamu pakai. Jika rumput saja Ia dandani dengan pakaian yang begitu indah, maka terlebih lagi Ia akan menyediakan pakaian yang pantas bagi anak-anak-Nya sendiri. Pakaian yang akan menghangatkan mereka, bukan hanya ketika Ia mendiamkan bumi dengan panasnya angin selatan, melainkan juga ketika Ia mengguncangnya dengan angin utara (Ayb. 37:17). Ia akan terlebih lagi mendandanimu, sebab kamu adalah ciptaan yang lebih mulia dan yang lebih unggul. Jadi, bila Ia mendandani rumput yang singkat umurnya dengan sedemikian rupa, terlebih lagi Ia akan mendandani engkau yang diciptakan untuk hidup yang kekal. Bahkan anak-anak Ninewe lebih disayangi-Nya daripada pohon jarak (Yun. 4:10-11), terlebih lagi putra-putra Sion, yang terikat perjanjian dengan Allah. Perhatikanlah sebutan apa yang diberikan-Nya kepada mereka (ay. 30), “Hai orang yang kurang percaya. Hal ini bisa dipandang:

1.          Sebagai dorongan untuk mempunyai iman yang sejati, meski lemah sekalipun. Iman memberi kita hak untuk mendapat pemeliharaan ilahi dan janji atas persediaan yang cukup. Iman yang besar akan dipuji dan akan menghasilkan perkara-perkara besar, tetapi iman yang kecil pun tidak akan ditolak, karena bahkan iman seperti ini dapat menghasilkan makanan dan pakaian. Orang percaya yang sehat akan dipelihara, mes­ki­pun mereka tidak kuat dalam iman. Bayi dalam keluarga diberi makanan dan pakaian, sama seperti anak-anak yang sudah dewasa, bahkan dengan perhatian khusus dan penuh kelembutan. Janganlah berkata, aku cuma anak kecil, cuma pohon kering (Yes. 56:3, 5), sebab meskipun sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikanmu. Atau,
2.          Ucapan itu lebih merupakan teguran terhadap iman yang lemah, meskipun iman itu benar (14:31). Hal ini menunjukkan apa yang mendasari semua kecemasan dan kekhawatiran kita. Ini semua karena lemahnya iman kita dan sisa-sisa ketidak­per­cayaan yang tinggal dalam diri kita. Kalau saja kita me­miliki iman yang lebih besar, kita tentu akan mempunyai kekhawatiran yang lebih sedikit.
3.          Siapakah di antara kamu, yang paling berhikmat dan yang paling kuat, yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (ay. 27, kjv: pada ting­gi­nya). Ukuran sehasta menunjukkan bahwa yang dimak­sud­kan di sini adalah perawakan, sedangkan umur sepanjang-pan­jang­nya hanyalah sejengkal (Mzm. 39:6). Mari kita perhatikan:

(1)         Kita tidak berada dalam keadaan perawakan kita sekarang dengan kekhawatiran dan kecemasan kita sendiri, melain­kan dengan pemeliharaan Allah. Seorang bayi yang tadinya hanya sejengkal panjangnya kini telah tumbuh menjadi seorang pria setinggi satu meter delapan puluh, dan bagaimanakah hasta demi hasta telah ditambahkan pada perawakannya itu? Ini tidak terjadi karena perkiraan atau penemuannya sendiri. Ia tumbuh tanpa mengetahui bagai­mana terjadinya, tetapi ini terjadi oleh kuasa dan kebaikan Allah. Nah, Ia yang telah menciptakan tubuh kita, dan menciptakannya dalam suatu ukuran tertentu, pasti juga akan mengurus dan menyediakan kebutuhan­nya. Perhati­kan­lah, Allah patut diberi penghargaan dan rasa syukur atas bertambahnya kekuatan dan perawakan tubuh kita. Ia bisa diandalkan untuk memenuhi semua hal yang kita perlukan, sebab Ia telah menyatakan bahwa Ia peduli ter­ha­dap tubuh kita. Masa pertumbuhan adalah masa tanpa kekhawatiran dan kecemasan, namun demikian, kita tetap bertumbuh. Jadi, bukankah Dia yang telah membesarkan kita sampai seperti ini juga akan menyediakan kebutuhan kita setelah kini kita dewasa?
(2)         Kita tidak dapat mengubah perawakan kita, itu pun jika kita mau. Betapa bodoh dan konyolnya jika seseorang yang mempunyai perawakan pendek merisaukan dirinya sendiri sehingga ia sulit tidur dan terus memusingkan masalah itu, dan senantiasa memikirkan bagaimana ia bisa tumbuh satu hasta lebih tinggi lagi, padahal sebenarnya ia tahu bahwa ia tidak dapat mencapainya, dan oleh karena itu lebih baik bila ia puas dan menerima dirinya sebagaimana adanya! Ukuran tubuh kita tidak semuanya sama, namun perbedaan dalam perawakan antara yang satu dengan yang lain tidaklah penting atau sangat berpengaruh. Jika sese­orang dengan perawakan kecil berharap untuk setinggi orang lain dan mendapati bahwa ini tidak ada gunanya, maka sebaiknya dia melakukan yang terbaik dengan ke­ada­annya itu. Nah, sama seperti apa yang harus kita laku­kan terhadap perawakan kita, demikian pula kita harus berbuat terhadap harta duniawi kita.

[1]         Janganlah kita mendambakan kelimpahan kekayaan dunia ini, sama seperti kita tidak boleh mendambakan sehasta lebih tinggi pada tubuh kita, yang merupakan ukuran yang sangat besar bagi tinggi badan manusia. Cukuplah bila tubuh kita bertumbuh satu senti demi satu senti. Pertumbuhan sekaligus sebanyak itu justru hanya akan menyusahkan dan membebani orang.
[2]         Kita harus menerima keadaan kita, sama seperti kita harus menerima perawakan kita. Kita harus mengguna­kan kesempatan yang ada dalam keadaan kita, sehingga apa yang sulit dapat menjadi sesuatu yang baik. Apa yang tidak dapat diperbaiki harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kita tidak dapat mengubah apa yang diberi­kan Allah dalam pemeliharaan-Nya, dan oleh karena itu kita harus menerimanya tanpa membantah, menyesuai­kan diri dengannya, dan melepaskan diri sedapat mung­kin dari segala sesuatu yang menyusahkan, seperti Zakheus yang melawan ketidaknyamanan perawakan­nya dengan cara memanjat pohon.

4.          Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (ay. 32). Kekhawatiran akan hal-hal duniawi merupakan dosa bang­sa yang tidak mengenal Allah dan sangat tidak Kristiani. Bang­sa-bangsa yang tidak mengenal Allah mencari semua itu, sebab mereka tidak mengenal hal-hal yang lebih baik. Mereka mendambakan dunia ini, sebab mereka adalah orang asing bagi dunia yang lebih baik. Mereka mencari hal-hal ini dengan rasa khawatir dan cemas, sebab mereka hidup tanpa Allah di dalam dunia dan tidak memahami pemeliharaan-Nya. Mereka takut dan menyembah ilah-ilah mereka, tetapi mereka tidak tahu apakah bisa mempercayai berhala-berhala itu untuk me­no­long mereka dan menyediakan kebutuhan mereka, dan karena itu, mereka menjadi sangat khawatir. Tetapi sungguh memalukan bila ini dilakukan oleh orang-orang Kristen, yang membangun di atas dasar-dasar yang lebih mulia, orang Kris­ten yang memeluk agama yang mengajari mereka bahwa bu­kan saja ada pemeliharaan Allah, melainkan juga ada janji-janji-Nya untuk memberikan hidup yang sejahtera di dunia sekarang ini. Oleh sebab itu, mereka diajar untuk percaya kepada Allah saja dan membenci dunia, karena ada alasan-alasan yang benar untuk ini. Sungguh memalukan bila me­re­ka berjalan seperti bangsa yang tidak mengenal Allah, dan memenuhi pikiran serta hati mereka dengan berbagai kekha­watiran ini.
5.          Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semua­nya itu, hal-hal yang perlu ini, yaitu makanan dan pakaian. Dia lebih mengetahui keperluan-keperluan kita daripada kita sendiri. Meskipun Ia berada di sorga dan anak-anak-Nya di bumi, Ia memperhatikan apa yang sedang diperlukan oleh orang-orang yang paling kecil dan miskin dari antara mereka (Why. 2:9), “Aku tahu kemiskinanmu. Pikirkan itu, jika ada seorang sahabat yang sedemikian baiknya seperti ini, yang mengetahui kebutuhan dan kesukaranmu, maka pasti engkau akan merasa lega. Begitulah, Allahmu tahu semua ini, dan Dia adalah Bapamu yang mengasihi dan menyayangimu, Ia siap menolongmu. Bapamu yang di sorga memiliki segala persedia­an di sana untuk memenuhi segala kebutuhanmu. Oleh sebab itu, buanglah semua kekhawatiran dan kecemasanmu itu, dan datanglah kepada Bapamu. Katakanlah kepada-Nya bahwa Dia tentu saja tahu bahwa kamu memerlukan ini dan itu. Dia bertanya kepadamu, “Hai, anak-anak, adakah kamu mempu­nyai lauk-pauk?” (Yoh. 21:5). Katakanlah kepada-Nya apakah kamu mempunyainya atau tidak. Meskipun Ia tahu keperluan-keperluan kita, Ia ingin mengetahuinya dari mulut kita sendiri, dan setelah kita menyampaikan semua keperluan kita kepada-Nya, marilah kita dengan sukacita berserah diri kepada hik­mat, kuasa, dan kebaikan-Nya untuk menyediakan segala ke­per­luan kita. Oleh sebab itu, kita harus melepaskan diri dari beban kekhawatiran, dengan menyerahkannya ke­pada Allah, sebab Ialah yang memelihara kita (1Ptr. 5:7). Jadi mengapa ber­susah-susah? Jika Ia peduli terhadap kita, meng­apa kita harus khawatir?
6.          Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka se­mua­­nya itu akan ditambahkan kepadamu (ay. 33). Ini merupa­kan bantahan berganda melawan dosa kekhawatiran. Jangan­lah khawatir akan hidupmu, hidup tubuhmu, sebab

(1)         Ada hal-hal yang lebih penting dan yang lebih baik untuk kaupikirkan, yaitu hidup jiwamu dan kebahagiaan kekal­mu. Itulah satu hal yang perlu (Luk. 10:42), yang harus terus kaupikirkan, dan yang pada umumnya diabaikan hati orang yang sudah dipenuhi oleh pikiran-pikiran duniawi. Seandainya saja kita lebih ingin menyenangkan hati Allah dan mengerjakan keselamatan kita, kita tentunya tidak akan begitu cemas ingin menyenangkan diri kita sendiri dan mengusahakan harta kekayaan di dunia. Kekha­wa­tir­an akan jiwa kita adalah obat yang paling manjur untuk menyembuhkan kekhawatiran akan dunia ini.
(2)         Engkau memiliki cara yang lebih pasti, lebih mudah, lebih aman, dan lebih ringkas untuk memperoleh keperluan-keperluan hidup ini daripada terus meributkan, mence­mas­kan, dan menggerutu tentang keperluan-keperluan itu. Cara itu adalah dengan mencari dahulu Kerajaan Allah, dan menjadikan agama sebagai usahamu. Janganlah berkata bah­wa ini adalah cara untuk mati kelaparan. Tidak, ini ada­lah cara untuk diberi persediaan dengan baik, sekali­pun di dunia ini. Perhatikanlah di sini:

[1]         Kewajiban besar yang disyaratkan. Ini merupakan kese­lu­ruhan dan inti dari seluruh kewajiban kita: “Carilah dahulu Kerajaan Allah, jadikanlah agama sebagai hal yang sangat engkau pikirkan dan utamakan.” Kewajib­an kita adalah mencari, merindukan, mengejar, dan meng­­arah kepada hal-hal ini. Kata “mencari” di sini men­­­cakup banyak kesepakatan dalam kovenan baru yang menguntungkan kita. Meskipun kita belum ber­hasil, melainkan dalam banyak hal selalu gagal dan kekurangan, namun jika kita mencari dengan sungguh-sungguh (jika kita benar-benar peduli dan berusaha keras), maka kita akan diterima. Sekarang perhatikan­lah, pertama, hal yang harus dicari: Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kita harus ingat bahwa sorga adalah tu­juan akhir kita dan kekudusan adalah jalannya. “Cari­lah penghiburan yang berasal dari kerajaan anugerah dan kemuliaannya sebagai satu-satunya yang membawa kebahagiaan bagimu. Arahkanlah tujuanmu ke Keraja­an Sorga, berjuanglah untuk menggapainya, berte­kun­lah sampai hatimu yakin, dan teguhkanlah hatimu su­paya kamu tidak gagal. Carilah kemuliaan, kehormatan, dan kekekalan ini. Pilihlah sorga dan berkat-berkat sorga­wi melebihi dunia dan kesenangan-kesenangan du­nia­wi.” Kehidupan beragama kita tidak akan ada guna­­nya bila kita tidak menghasilkan sorga darinya. Kemu­­dian, dengan kebahagiaan dari Kerajaan ini, cari­lah kebenarannya, yaitu kebenaran Allah, kebenaran yang dikehendaki-Nya untuk dikerjakan dalam diri kita, dan dikerjakan oleh kita dengan sedemikian rupa su­paya kebenaran kita itu melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kita harus mengejar perdamaian dan kekudusan (Ibr. 12:14). Kedua, urut­an­nya. Carilah dahulu Kerajaan Allah. Biarlah kekha­watir­an akan jiwamu dan akan dunia yang akan datang menggantikan semua kekhawatiran lainnya, dan biarlah semua perkara dalam kehidupan ini ditempatkan di bawah perkara-perkara mengenai kehidupan yang akan da­tang. Kita harus lebih mencari perkara-perkara Kristus daripada perkara-perkara kita sendiri; dan apa­bila keduanya bersaing, kita harus ingat yang mana yang harus kita dahulukan. “Carilah dahulu hal-hal ini, yang pertama-tama dalam setiap hari-harimu. Biarlah pagi masa mudamu dipersembahkan kepada Allah. Hik­mat harus dicari sejak dini; dini hari adalah waktu yang baik untuk memulai hidup saleh. Carilah hal yang ter­utama setiap hari, biarlah pada waktu pertama kali kita terjaga, pikiran-pikiran kita tertuju kepada Allah.” Biar­lah ini menjadi prinsip hidup kita yang utama, yaitu melakukan apa yang paling diperlukan terlebih dulu, dan biarlah Dia Yang Pertama mendapatkan yang per­tama pula.
[2]         Janji mulia ditambahkan; semuanya itu, kebutuhan-kebu­tuhan hidup yang perlu, akan ditambahkan ke­pada­mu, akan diberikan dengan berlimpah. Demikian­lah yang diberikan sebagai tambahan. Engkau akan men­­­dapatkan apa yang kaucari, Kerajaan Allah dan kebe­narannya, sebab tidak pernah ada orang yang men­cari­nya dengan sia-sia jika dia mencari dengan sung­guh. Di samping itu, engkau akan mendapatkan ma­kan­­an dan pakaian, dengan berlebih, seperti orang yang membeli barang mendapatkan kertas dan tali pem­bung­kusnya sekaligus. Ibadah itu mengandung janji untuk hidup sekarang ini (1Tim. 4:8). Salomo meminta hikmat, dan dia mendapatkannya disertai dengan hal-hal lain yang ditambahkan kepadanya (2Taw. 1:11-12). Oh, sung­guh perubahan yang sangat indah yang akan ter­jadi dalam hati dan hidup kita kalau kita percaya dengan teguh akan kebenaran ini, bahwa cara terbaik agar kita menjadi sejahtera di dunia ini adalah dengan menekuni perkara-perkara dunia lain! Dengan demi­kian, kita mengawali pekerjaan kita dengan benar bila kita mengawalinya dengan Allah. Jika kita bertekun sampai kita memiliki Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka untuk segala hal lainnya dari kehidupan ini, biarlah Jehovah-Jireh – Tuhan akan menyediakan se­ba­nyak yang dianggap-Nya baik bagi kita, dan kita tidak akan menginginkan yang lebih dari itu lagi. Kalau kita sudah mempercayai-Nya untuk bagian warisan kita pada akhir hidup kita nanti, bukankah kita juga akan mempercayai-Nya untuk bagian piala kita sementara kita sekarang berjalan menuju warisan itu? Umat Israel Allah bukan saja dibawa masuk ke Kanaan pada akhir­nya, melainkan juga kebutuhan-kebutuhan mereka di­tang­gung selama melewati padang gurun. Oh, kiranya kita lebih memikirkan perkara-perkara yang tidak keli­hat­an, yang kekal, dan kiranya kita semakin tidak merasa khawatir dan haruslah kita semakin tidak kha­watir, mengenai hal-hal yang kelihatan, yang hanya sementara saja! Janganlah kamu merasa sayang me­ning­galkan barang-barangmu (Kej. 45:20, 23).

7.          Hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan se­hari cukuplah untuk sehari (ay. 34). Janganlah kita merisau­kan secara berlebihan kejadian-kejadian yang akan datang, sebab setiap hari membawa beban kekhawatiran dan kesedihannya sendiri. Pandanglah sekitar kita, dan jangan biarkan rasa takut meraup pertolongan yang ditawar­kan oleh anugerah dan akal budi; kalau kita melakukan ini, kita akan memperoleh kekuatan dan persediaan yang diperlukan. Jadi, di sini kita diberi tahu:

(1)         Bahwa kekhawatiran akan hari esok tidaklah perlu, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kalau kebu­tuh­an dan masalah selalu baru setiap hari, maka demikian pula halnya dengan pertolongan dan penyediaan; rahmat selalu baru tiap pagi (Rat. 3:22-23). Orang-orang kudus memiliki seorang Sahabat yang menjadi Penolong bagi me­reka setiap pagi, Dia menyediakan keperluan mereka, baru setiap hari (Yes. 33:2), sesuai dengan peraturan, yakni se­tiap hari menurut yang ditetapkan untuk hari itu (Ezr. 3:4). Dengan demikian, Ia menjaga agar umat-Nya senantiasa bergantung pada-Nya. Oleh sebab itu, marilah kita biarkan kekuatan hari esok untuk melakukan pekerjaan hari esok dan memikul beban hari esok. Hari esok, dan segala per­kara di dalamnya, akan disediakan tanpa sepengetahuan kita, jadi untuk apa kita begitu mencemaskan apa yang telah diurus dengan demikian bijaksana? Ini bukan berarti kita tidak boleh membuat suatu rencana dan persiapan untuk masa depan. Tidak, kita hanya mau menghindari kecemasan yang menggelisahkan dan bayang-bayang akan segala kesulitan dan musibah yang mungkin tidak akan per­nah terjadi, atau kalaupun terjadi, kita dapat me­nang­gungnya dengan mudah dan keburukan yang ditimbul­kan­nya dapat dihindari. Ini hanya berarti bahwa kita harus me­mikirkan kewajiban saat ini, dan menyerahkan segala peristiwanya kepada Allah; lakukanlah apa yang harus di­ker­ja­kan untuk hari ini pada hari ini, dan biarkan hari esok dengan pekerjaannya sendiri pada hari esok.
(2)         Kekhawatiran akan hari esok merupakan salah satu dari ber­bagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan (1Tim. 6:9). Banyak orang kaya terjerat di dalamnya dan men­derita karena mereka menyiksa diri mereka sendiri dengan berbagai duka ini. Kesusahan sehari cukuplah un­tuk sehari. Hari ini sudah mempunyai cukup banyak masa­lah yang menyertainya, kita tidak perlu menumpuk beban-beban dengan memikir-mikirkan masalah kita atau menam­bah­kan berbagai kesusahan dari kejahatan hari esok ke dalam hari ini. Kita tidak tahu kesusahan-kesusahan apa yang bakal kita alami besok, tetapi apa pun kesusahan itu, masih ada cukup banyak waktu nanti untuk memikir­kan­nya saat itu benar-benar terjadi. Betapa bodohnya kalau kita mau memikul masalah itu pada hari ini dengan segala kekhawatiran dan ketakutan mengenainya, padahal itu bukan merupakan masalah hari ini. Bukankah masalah itu tidak akan menjadi ringan sekalipun kita terus memikir­kannya pada hari ini? Janganlah kita menarik semuanya sekaligus ke atas kita, kalau hal-hal itu telah diatur oleh Pemeliharaan Allah untuk dipikul bagian demi bagian. De­ngan demikian, kesimpulan dari semuanya ini adalah bah­wa Tuhan Yesus menghendaki dan memerintah­kan mu­rid-murid-Nya untuk tidak menyiksa diri mereka sendiri, atau membuat perjalanan mereka di dunia ini menjadi lebih gelap dan lebih sengsara dengan mencemaskan ber­bagai masalah yang melebihi apa yang dikehendaki Allah dalam masalah itu sendiri. Melalui doa kita setiap hari, kita dapat memperoleh kekuatan untuk menopang kita dalam meng­atasi masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari, dan untuk mempersenjatai kita melawan godaan-godaan yang menyertainya, dan jangan biarkan hal-hal ini menggoyah­kan kita.

Matius 5Matius 6Matius 7

Online Tafsiran Alkitab

Ketik ayat Alkitab, cth: Yoh 3:16


Kejadian, Mazmur, Amsal, Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika, 1 & 2 Timotius, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1 & 2 & 3 Yohanes dan Yudas
Aplikasi Android
Tafsiran Alkitab