Matius 7

Pasal ini melanjutkan dan menyimpulkan khotbah Kristus di bu­kit, yang berisi tuntunan untuk dipraktikkan, agar segala peri­laku kita benar, baik terhadap Allah maupun manusia; sebab ran­cang­an iman Kristen adalah untuk menjadikan manusia itu baik, baik dalam segala hal. Dalam pasal ini kita melihat:

I.          Beberapa aturan mengenai hal mengecam dan menegur (ay. 1-6).
II.         Dorongan agar kita berdoa kepada Allah untuk hal-hal yang kita perlukan (ay. 7-11).
III.        Pentingnya ketegasan dalam segala sesuatu yang kita per­buat (ay. 12-14).
IV.        Peringatan yang diberikan kepada kita agar berjaga-jaga ter­hadap nabi-nabi palsu (ay. 15-20).
V.         Kesimpulan dari seluruh khotbah, yang menunjukkan pen­ting­nya ketaatan mutlak pada perintah-perintah Kristus, yang tanpanya kita tidak dapat berharap bisa berbahagia (ay. 21-27).
VI.        Kesan para pendengar terhadap ajaran Kristus (ay. 28-29).

1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4 Bagaimanakah engkau dapat ber­kata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari mata­mu, padahal ada balok di dalam matamu. 5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu. 6 Jangan kamu memberi­kan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

Di sini Juruselamat kita mengajarkan bagaimana kita harus menjaga perilaku kita berkenaan dengan kesalahan-kesalahan orang lain. Ung­kapan-ungkapan-Nya ini sepertinya dimaksudkan sebagai tegur­an bagi para ahli Taurat dan orang Farisi, yang sangat kaku dan keras, sok berkuasa dan angkuh, ketika mengutuk orang-orang lain, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang sombong dan congkak yang suka membenarkan diri. Di sini kita melihat:

I.            Peringatan agar jangan menghakimi (ay. 1-2). Ada orang-orang yang memang bertugas menghakimi – misalnya para hakim dan ham­ba Tuhan. Kristus, meskipun tidak memperlakukan diri-Nya sendiri sebagai Hakim, datang bukan untuk menghapus tugas para hakim dan hamba Tuhan itu untuk menghakimi, sebab oleh Dialah para raja memerintah. Tetapi larangan untuk menghakimi ini ditujukan kepada perorangan secara pribadi, kepada murid-murid-Nya, yang kelak akan duduk di atas takhta dan mengha­kimi, walaupun belum sekarang. Kita perhatikan lagi:

1.           Larangannya; Jangan menghakimi. Kita harus menghakimi diri kita sendiri, dan menghakimi perbuatan sendiri, tetapi tidak boleh menghakimi saudara kita, tidak boleh bersikap sok ber­kuasa atas orang lain, karena kita sendiri juga tidak ingin mereka bersikap demikian terhadap kita. Pedoman yang kita pegang adalah tunduklah seorang kepada yang lain. Janganlah banyak orang mau menjadi guru (Yak. 3:1). Janganlah kita duduk di kursi penghakiman dan menjadikan perkataan kita sebagai hukum bagi semua orang. Janganlah kita menghakimi saudara kita, artinya, kita tidak boleh memfitnah dia; begitulah yang dijelaskan dalam Yakobus 4:11. Janganlah kita tidak mengindahkan dia, atau menghina dia (Rm. 14:10). Janganlah kita menghakimi dengan gegabah, atau menjatuhkan pengha­kiman seperti itu kepada saudara kita tanpa dasar, hanya karena rasa dengki dan watak buruk kita. Janganlah kita men­jelek-jelekkan orang lain, atau menduga-duga hal-hal yang menyakitkan hati hanya berdasarkan perkataan dan perbuat­an mereka, karena ini berat untuk ditahan. Janganlah kita menghakimi tanpa belas kasihan dan tidak kenal ampun, atau dengan semangat membalas dendam dan dengan ke­inginan un­tuk mencelakakan. Janganlah kita menilai keadaan orang hanya berdasarkan satu perbuatannya, atau menilai siapa mereka berdasarkan pendapat pribadi kita sendiri mengenai diri mereka, sebab kita ini cenderung bersikap berat sebelah. Janganlah kita menghakimi hati orang lain ataupun niat-niat mereka, sebab Allah-lah yang mempu­nyai hak istimewa untuk menguji hati, dan kita tidak boleh menduduki takhta-Nya. Janganlah juga kita menghakimi nasib kekal mereka, atau me­nyebut mereka munafik, terkutuk, dan buangan, karena hal-hal ini berada di luar batas kita. Apakah hak kita untuk meng­hakimi hamba orang lain sedemikian rupa? Nasihati dia, dan bantulah dia, tetapi janganlah menghakiminya.
2.           Alasan yang memperkuat larangan ini. Supaya kamu tidak dihakimi. Ini menunjukkan:

(1)         Bahwa bila kita menyangka kita boleh menghakimi orang lain, maka kita juga harus siap untuk dihakimi. Orang yang merampas kekuasaan akan diperhadapkan pada peng­adilan. Dia akan diadili orang, dan biasanya orang yang paling suka mengecam akan dikecam dengan paling keras. Tiap orang akan melemparinya dengan batu. Orang yang, seperti Ismael, tangan dan mulutnya melawan setiap orang, akan mengalami hal yang sama juga seperti Ismael, tangan dan mulut tiap-tiap orang akan melawan dia (Kej. 16:12). Demikian pula, orang yang tidak menunjukkan be­las kasihan untuk nama baik orang lain juga tidak akan men­dapat belas kasihan untuk nama baiknya sendiri. Na­mun, ini belumlah seberapa. Mereka akan dihakimi Allah, dan dari-Nya mereka akan mendapat penghakiman menu­rut ukuran yang lebih berat (Yak. 3:1). Kedua belah pihak harus menghadap Dia (Rm. 14:10), dan seperti halnya Dia akan membebaskan orang rendah hati yang menderita, maka Dia juga akan menolak pencemooh yang angkuh, dan akan menghukumnya dengan setimpal.
(2)         Bahwa bila kita tidak berlebihan dan berbelas kasihan da­lam menegur orang lain, dan menolak menghakimi mereka, dan lebih suka menghakimi diri sendiri, maka kita tidak akan dihakimi oleh Tuhan. Seperti halnya Allah akan meng­ampuni orang-orang yang mengampuni saudara mereka, demi­kian juga Dia tidak akan menghakimi orang-orang yang tidak menghakimi saudara mereka. Orang yang murah hatinya akan beroleh kemurahan. Kemurahan hati adalah bukti akan kerendahan hati, kasih, dan rasa hormat ke­pada Allah, dan akan diakui serta diberi upah yang sepa­dan oleh-Nya (Rm. 14:10).

Penghakiman atas orang-orang yang menghakimi orang lain itu sesuai dengan hukum pembalasan. Dengan peng­hakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi (ay. 2). Allah yang adil, dalam penghakiman-peng­hakiman-Nya, sering kali memperhatikan hukum proporsi, yaitu menjatuhkan keputusan secara adil berdasarkan bobot dari perbuat­an orang, seperti dalam kisah Adoni-Bezek (Hak. 1:7; lihat juga Why. 13:10; 18:6). Dengan demi­kian, Dia akan dibenarkan dan ditinggikan dalam peng­­hakiman-pengha­kiman-Nya, dan semua makhluk akan terdiam di hadapan-Nya. Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Dengan cara ini, mung­kin di dunia ini orang bisa menyadari dosanya menu­rut hukuman yang mereka terima. Biarlah hal ini men­cegah kita bersikap kejam dalam berurusan dengan sau­dara kita. Apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri? (Ayb. 31:14). Apa jadinya kita bila Allah juga bersikap tegas dan kejam dalam menghakimi kita persis seperti cara kita menghakimi saudara-saudara kita; bila Dia juga menim­bang kita dengan ukuran yang sama? Bersiap-siaplah untuk menghadapi hal yang sama, jika kita berbuat keter­lalu­an dalam menunjukkan kesalahan-kesalahan saudara-saudara kita. Dalam hal ini, seperti juga dalam hal-hal lainnya, perlakuan kasar terhadap orang lain akan berbalik menimpa mereka sendiri.

II.           Beberapa peringatan mengenai tindakan menegur. Karena kita tidak boleh menghakimi orang lain, yang merupakan dosa besar, ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh menegur orang lain. Mene­gur adalah sebuah kewajiban besar yang dapat menjadi sarana untuk menyelamatkan jiwa orang itu dari maut, dan juga untuk menyelamatkan jiwa kita dari tindakan ikut ambil bagian dalam dosa orang yang ditegur itu. Sekarang perhatikanlah di sini:

1.           Tidak semua orang pantas memberikan teguran. Mereka yang bersalah atas kesalahan-kesalahan yang sama yang mereka tuduhkan kepada orang lain, atau atas kesalahan-kesalahan yang lebih buruk lagi, akan mempermalukan diri mereka sen­diri, dan tidak mungkin mereka akan mendatangkan kebaikan kepada orang yang mereka tegur (ay. 3-5). Berikut ini kita melihat,

(1)         Teguran telak bagi orang-orang yang suka mengecam, yang bertengkar dengan saudaranya karena kesalahan-kesalah­an kecil, sementara mereka sendiri melakukan kesalahan-kesalahan besar. Bagi orang-orang yang cepat melihat se­lum­bar di mata saudaranya, namun tidak menyadari balok di dalam mata mereka sendiri, terlebih lagi, bahkan sangat ingin mengeluarkan selumbar itu dari matanya, padahal mereka tidak pantas melakukannya karena mereka sendiri boleh dikatakan buta. Perhatikanlah:

[1]         Ada bermacam-macam tingkatan dalam dosa. Sebagian dosa hanya sebesar selumbar, yang lain sebesar balok. Sebagian sebesar nyamuk, dan yang lain sebesar unta. Akan tetapi, ini tidaklah berarti bahwa ada yang di­na­ma­kan dosa kecil, sebab Allah menentang dosa sekecil apa pun. Sebab, bila dosa itu dikatakan sebesar selum­bar, (atau serpihan, untuk lebih tepatnya), toh ia ada di mata. Sedangkan, bila sebesar nyamuk, ia ada di teng­gorok­an. Dan keduanya sama-sama menimbulkan rasa pedih dan sangat berbahaya, dan kita tidak akan me­rasa nyaman atau sehat sebelum keduanya dikeluar­kan.
[2]         Dosa-dosa kita sendiri haruslah tampak lebih besar di mata kita dibandingkan dengan dosa-dosa yang sama yang dilakukan orang lain. Kasih mengajarkan kita untuk menyebutnya selumbar di mata saudara kita, sedang­kan pertobatan murni dan dukacita kudus akan mengajar kita untuk menyebutnya balok di mata kita sen­diri. Dosa-dosa orang lain harus diperingan, sedang­kan dosa-dosa kita sendiri harus diperberat.
[3]         Banyak orang yang memiliki balok di mata mereka, na­mun mereka tidak mengacuhkannya. Mereka ditindih kesa­lahan dan kuasa dosa-dosa yang sangat besar, namun mereka tidak meyadarinya, malah membenar­kan diri mereka sendiri, seolah-olah mereka tidak perlu bertobat atau memperbarui diri. Sungguh aneh bahwa orang dapat berada dalam keadaan yang begitu berdosa dan menyedihkan, namun tidak menyadarinya, seperti orang yang memiliki balok di matanya, namun tidak meng­indahkannya. Ilah dunia ini begitu piawai mem­buta­­kan pikiran mereka, sehingga sekalipun demikian, mereka bisa berkata dengan penuh keyakin­an, kami me­li­hat.
[4]         Biasanya memang begitu, orang yang paling berdosa dan yang tidak menyadarinya sama sekali, sangat lan­cang dan bebas dalam menghakimi dan mengecam orang lain. Orang-orang Farisi, yang luar biasa angkuh dalam membenarkan diri mereka sendiri, paling keras da­lam mengutuk orang lain. Mereka sangat kejam da­lam mengecam murid-murid Kristus karena makan de­ngan tangan yang tidak dibasuh, suatu tindakan yang hampir tidak sebesar selumbar, sementara mereka sen­diri mendorong orang untuk tidak menghormati orang­tua sendiri, suatu dosa yang sebesar balok. Kesom­bong­an dan sikap tidak mengenal belas kasihan adalah balok-balok yang umum dijumpai di dalam mata orang-orang yang sok kritis dan manis dalam mengecam orang lain. Bahkan, ada banyak orang yang mempunyai dosa tersembunyi dan tidak merasa malu untuk menghukum orang lain yang ketahuan melakukan dosa yang sama. Cogita tecum, fortasse vitium de quo quereris, si te diligenter excusseris, in sinu invenies; inique publico irasceris crimini tuo – Renungkanlah, boleh jadi kesalah­an yang kaukeluhkan itu, setelah diteliti dengan sung­guh-sungguh, ternyata terdapat juga di dalam dirimu sen­diri; dan pastilah tidak pantas untuk memperlihatkan kemarahan di depan umum terhadap kejahatanmu sen­diri (Seneca, de Beneficiis). Begitu pula,
[5]          Bersikap kejam atas kesalahan orang lain dan bersikap lunak atas kesalahan diri sendiri merupakan suatu tanda kemunafikan. Hai orang Munafik (ay. 5). Apa pun yang pura-pura diperbuat oleh orang semacam itu, su­dah pasti bahwa dia bukanlah musuh bagi dosa (sebab seandainya demikian, dia juga akan menjadi musuh bagi dosanya sendiri), dan oleh karena itu, orang demi­kian tidak layak mendapat pujian. Malah sebalik­nya, ia sebenarnya merupakan musuh bagi sau­daranya, dan oleh sebab itu patut dipersalahkan. Kemu­rah­an hati rohani yang seperti ini harus diawali di rumah. “Bagai­mana bisa engkau berkata, bagaimana mung­kin tanpa malu engkau bisa berkata, kepada saudaramu, marilah aku bantu memperbarui dirimu, padahal engkau sendiri tidak peduli untuk memper­barui dirimu sendiri? Hati­mu sendiri akan mencela engkau atas kemustahilan ini. Engkau hanya akan mendatangkan aib dan bersiaplah un­tuk menerima perkataan orang, perbuatan jahat mem­betulkan dosa: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri.” I præ, sequarBerjalanlah di depan, aku akan mengikuti (bdk. Rm. 2:21).
[6]         Dengan menimbang-nimbang kesalahan sendiri, kita akan terhindar dari sikap mengecam orang dengan se­we­nang-wenang, namun janganlah itu meng­hindarkan kita dari memberi teguran yang ramah kepada orang lain dan dari memberi penghakiman dengan tulus dan mu­rah hati. “Karena itu pimpinlah orang ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri (Gal. 6:1). Apa jadinya engkau dulu, apa jadinya eng­kau sekarang, dan apa jadinya engkau kelak, sean­dai­nya Allah membiarkan dirimu begitu saja?”

(2)         Berikut ini adalah kaidah yang baik bagi para pengecam (ay. 5). Gunakanlah cara yang benar, keluarkanlah dahulu balok dari matamu. Keburukan kita sendiri sama sekali tidak boleh dijadikan dalih untuk tidak menegur orang lain. Jika kita berpikir bahwa keadaan kita yang seperti itu mem­buat kita tidak layak untuk memberikan teguran ke­pada orang lain, maka ini justru akan semakin memper­buruk keburukan kita sendiri. Kita tidak boleh berkata, “Aku mempunyai balok di mataku, dan oleh sebab itu aku tidak mau membantu saudaraku mengeluarkan selumbar dari matanya.” Pelanggaran seseorang memang tidak akan pernah bisa dipakai sebagai alat pembelaannya, dan ka­rena itulah, aku harus memperbarui diriku terlebih dulu, supaya dengan demikian aku dapat membantu memper­barui saudaraku, dan dapat membuat diriku layak untuk menegurnya. Perhatikanlah, orang-orang yang menya­lah­kan orang lain dengan sendirinya harus bebas dari kesa­lah­an dan layak secara hukum. Orang-orang yang menegur di pintu gerbang, yakni yang layak menegur karena jabatan mereka, seperti para hakim dan hamba Tuhan, harus memperhatikan betul bagaimana mereka harus hidup dan harus benar dalam perilaku mereka: seorang penatua je­maat haruslah mempunyai nama baik (1Tim. 3:2, 7). Alat pe­madam lilin di ruang mahakudus harus terbuat dari emas murni.

2.         Tidak semua orang pantas ditegur. Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing (ay. 6). Hal ini dapat di­pan­dang sebagai:

(1)         Kaidah bagi para murid dalam memberitakan Injil. Bukan berarti bahwa mereka tidak boleh memberitakannya ke­pada orang-orang yang jahat dan cemar (Kristus sendiri mem­beritakan Injil kepada para pemungut cukai dan orang berdosa), melainkan bahwa ini merujuk kepada orang-orang yang tetap keras kepala, meskipun Injil telah di­be­ri­ta­kan kepada mereka; kepada orang-orang yang meng­hu­jat­­nya, dan menganiaya para pemberitanya. Murid-murid ja­nganlah berlama-lama di antara orang-orang semacam itu, sebab ini hanya akan membuang tenaga dengan sia-sia, melainkan berpaling saja kepada orang lain (Kis. 13:41); begitulah menurut Dr. Whitby. Atau,
(2)         Kaidah bagi semua orang dalam memberikan teguran. Se­mangat kita dalam melawan dosa harus dituntun dengan kebijaksanaan, dan janganlah kita ke sana kemari mem­beri­­kan berbagai petunjuk, nasihat, dan teguran, apalagi penghiburan, kepada para pengecam yang sudah keras hati­nya, karena semuanya ini tidak akan ada gunanya bagi mereka, malah sebaliknya hanya akan membuat mereka ma­rah dan berang terhadap kita. Lemparkanlah sebuah mu­tiara kepada babi, maka babi itu akan marah karena­nya, seolah-olah engkau telah melemparinya dengan batu. Teguran akan disebut cemoohan (Luk. 11:45; Yer. 6:10). Oleh sebab itu, janganlah memberikan barang yang kudus kepada anjing dan babi (binatang-binatang haram). Per­ha­ti­­kanlah:

[1]         Nasihat dan teguran yang baik adalah barang yang ku­dus, sebuah mutiara: keduanya adalah perintah-perin­tah Allah, sangat berharga. Seperti cincin emas dan hiasan kencana, demikian jugalah teguran orang bijak (Ams. 25:12); teguran yang bijak adalah seperti minyak (Mzm. 141:5); laksana pohon kehidupan (Ams. 3:18).
[2]         Di antara angkatan yang jahat, ada sebagian yang su­dah sebegitu jahatnya sehingga mereka dipandang se­per­ti anjing dan babi. Perilaku keji mereka sudah sa­ngat terkenal dan kurang ajar. Mereka telah begitu lama berdiri di jalan orang berdosa, sehingga sekarang sudah duduk dalam kumpulan pencemooh. Mereka terang-terangan membenci dan muak terhadap peng­ajar­an, dan senantiasa menentangnya. Sebegitu jahat­nya me­reka sampai tidak mungkin untuk disembuhkan dan diperbaiki lagi. Mereka berbalik seperti anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi kembali ke kubangannya (2Ptr. 2:22).
[3]         Teguran untuk mengajar percuma saja diberikan ke­pada orang-orang semacam itu, dan hanya mendatang­kan cemohan dan kejahatan kepada si penegur seperti yang bisa diperkirakan akan dilakukan oleh anjing dan babi. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain bahwa mereka akan menginjak-injak teguran itu, sambil me­maki-maki dan mengamuk, sebab mereka tidak sabar jika diken­dalikan dan dilawan. Setelah itu mereka akan berbalik dan mengoyak orang yang menegur mereka; me­ng­o­yak nama baik mereka dengan caci maki, mem­balas perkataan yang menyembuhkan dengan per­ka­ta­an yang melukai, mengoyak mereka dengan peng­ania­ya­an. Herodes mengoyak Yohanes Pembaptis karena ke­se­tia­annya. Lihatlah di sini buktinya bagaimana ma­nu­sia bersikap seperti anjing dan babi. Orang-orang yang bisa dipandang demikian adalah mereka yang membenci teguran dan para penegur, dan menyerang orang yang dengan maksud baik terhadap jiwa-jiwa mereka menun­jukkan kepada mereka dosa dan bahayanya. Orang-orang ini berdosa melawan obat penawarnya. Siapakah yang akan menyembuhkan dan menolong orang-orang yang tidak mau disembuhkan dan ditolong? Sudah je­las­lah bahwa Allah berketetapan untuk mem­binasa­kan orang-orang semacam itu (2Taw. 25:16). Kaidah ini da­pat diterapkan juga pada ketetapan-ketetapan Injil yang sifatnya memeteraikan, yang tidak boleh diberikan se­cara sembarangan kepada orang yang jelas-jelas jahat dan cemar, supaya barang-barang yang kudus tidak dipandang hina, dan supaya dengan demikian orang-orang yang najis menjadi semakin keras hati. Tidak pa­tut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. Namun demikian, kita harus sangat berhati-hati dalam mengutuk orang se­ba­gai anjing dan babi, dan tidak boleh melakukannya se­be­lum menguji segala sesuatunya terlebih dulu, dengan bukti-bukti yang lengkap. Banyak orang yang terhilang karena dianggap demikian, padahal, seandai­nya sa­rana-sarana yang benar dipergunakan, ada kemung­kin­an mereka bisa diselamatkan. Seperti halnya kita harus berhati-hati dalam menyebut orang baik sebagai jahat, dengan menghakimi semua orang percaya sebagai mu­na­fik, demikian pula kita harus berhati-hati dalam me­nye­but orang jahat sebagai tidak tertolong lagi, dengan menilai semua orang jahat sebagai anjing dan babi.
[4]         Yesus Tuhan kita sangat lembut dalam memperhatikan keselamatan umat-Nya. Ia tidak mau begitu saja mem­perhadapkan mereka dengan kebengisan orang-orang yang akan berbalik mengoyak mereka. Janganlah mere­ka menjadi keterlaluan saleh, sehingga membinasa­kan diri mereka sendiri. Kristus menjadikan hukum perlin­dung­an diri sebagai salah satu hukum-Nya sendiri, dan berhargalah darah umat-Nya di mata-Nya.

7 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan men­dapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau mem­beri ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi jika kamu yang jahat tahu mem­beri pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Juruselamat kita, dalam pasal sebelumnya, sudah berbicara menge­nai doa sebagai suatu kewajiban yang diperintahkan, yang dengan­nya Allah dihormati, dan yang apabila dilakukan dengan benar, akan mendatangkan upah. Di sini, Ia berbicara mengenai doa sebagai sa­rana yang ditentukan guna memperoleh apa yang kita butuhkan, terutama anugerah untuk menaati perintah-perintah yang diberikan-Nya, yang beberapa di antaranya sangat tidak nyaman bagi darah dan daging.

I.            Berikut ini adalah sebuah perintah dalam tiga kata yang mem­punyai maksud sama, Mintalah, Carilah, Ketoklah (ay. 7), yang arti­nya, dalam satu kata, “Berdoalah; seringlah berdoa; berdoalah dengan tulus dan sungguh-sungguh; berdoa dan berdoalah terus; Selalulah berdoa dan bertekunlah di dalamnya; buatlah doa seba­gai suatu usaha dan bersungguh-sungguhlah dalam mengerja­kan­nya. Mintalah, seperti seorang pengemis yang meminta sede­kah.” Mereka yang ingin kaya dalam anugerah harus menetapkan hati untuk menekuni usaha meminta-minta, dan mereka akan men­dapati bahwa usaha ini sangat menguntungkan. “Mintalah, kemukakanlah segala kebutuhan dan bebanmu kepada Allah, dan serahkanlah dirimu kepada-Nya untuk mendapatkan kebutuhan dan persediaan hidupmu sesuai janji-Nya. Mintalah, seperti pelan­cong yang menanyakan arah jalan. Berdoa berarti meminta dari Allah (Yeh. 36:37). Carilah, seperti mencari benda berharga yang hilang, atau seperti pedagang yang mencari mutiara yang indah. Carilah melalui doa (Dan. 9:3). Ketoklah, seperti orang yang ingin masuk ke dalam rumah mengetuk pintu.” Kita akan dipersilakan masuk untuk berbincang-bincang dengan Allah, akan dibawa ke dalam kasih-Nya, kebaikan-Nya, dan kerajaan-Nya. Dosa telah menutup pintu dan menjadi penghalang bagi kita. Dengan doa, kita mengetuk, Tuan, Tuan, bukakanlah kami pintu! Kristus me­nge­tuk pintu kita (Why. 3:20; Kid. 5:2), dan memperbolehkan kita mengetuk pintu-Nya, suatu kebaikan yang tidak kita berikan kepada pengemis-pengemis biasa. Mencari dan mengetuk menyi­rat­kan sesuatu yang lebih dari meminta dan berdoa.

1.          Kita jangan hanya meminta, tetapi juga mencari. Kita harus mendukung doa-doa kita dengan usaha. Dengan mengguna­kan berbagai sarana yang telah ditentukan, kita harus mencari apa yang kita minta, supaya tidak mencobai Allah. Ketika pengurus kebun anggur meminta agar diberikan waktu satu tahun bagi pohon ara yang tidak berbuah, ia menambahkan, “Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya” (Luk. 13:7-8). Allah memberikan pengetahuan dan anugerah kepada orang-orang yang menyelidiki Kitab Suci dan yang menanti di ger­bang Hikmat; dan Ia memberikan kuasa melawan dosa kepada orang-orang yang menghindari kesempatan-kesem­pat­an yang bisa membuatnya berdosa.
2.          Kita jangan hanya meminta, tetapi juga mengetuk. Kita harus datang ke hadapan pintu Allah, dan harus meminta dengan sesungguh-sungguhnya. Bukan hanya berdoa, melainkan juga me­mohon dan bergumul dengan Allah. Kita harus mencari de­ngan tekun, kita harus terus mengetuk, harus bertekun dalam doa dan dalam menggunakan berbagai sarana, harus bertahan sampai akhir dalam melaksanakan tugas.

II.           Inilah janji yang diberikan: usaha kita untuk berdoa, jika memang kita benar-benar berusaha di dalamnya, tidak akan sia-sia. Apa­bila Allah menjumpai hati yang berdoa, maka Ia akan dijum­pai sebagai Allah yang mendengarkan doa. Allah akan memberikan ja­wab­an damai sejahtera kepadamu. Perintah ini berlipat tiga, min­ta­lah, carilah, dan ketoklah. Ada perintah demi perintah, tetapi jan­ji­nya berlipat enam, pernyataan demi pernyataan, untuk membe­sar­kan hati kita, karena keyakinan yang kuat terhadap suatu janji akan membuat kita gembira dan tetap taat. Sekarang, kita lihat di sini:

1.           Janji itu telah dibuat, dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi perintah itu dengan tepat (ay. 7). Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; bukan akan dipinjamkan kepadamu, atau dijual kepadamu, melainkan diberikan ke­pada­mu. Adakah barang lain yang cuma-cuma selain pemberi­an? Apa pun yang kaudoakan, sesuai dengan janji itu, dan apa pun yang kauminta, akan diberikan kepadamu, jika Allah meng­anggapnya baik bagimu. Jadi, apa lagi yang kaukehen­daki? Yang diperlukan hanyalah meminta, dan mempunyai. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa, atau karena salah berdoa. Apa yang tidak layak diminta, tidak akan layak dimiliki, dan dengan demikian tidak berharga apa-apa. Carilah, maka kamu akan mendapat, dan usahamu tidak akan sia-sia. Allah sendiri akan ditemukan oleh orang yang tekun mencari Dia, dan jika kita mendapatkan Dia, maka itu sudah sangat cukup bagi kita. “Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Pintu rahmat dan anugerah tidak akan lagi ditutup bagimu sebagai musuh dan penyelundup, melainkan akan dibukakan bagimu sebagai teman dan anak-anak. Kelak akan ditanyakan, siapakah yang berdiri di muka pintu? Jika kamu mampu berkata, seorang teman, dan memiliki karcis janji yang siap ditunjukkan dengan tangan iman, maka ja­ngan­lah ragu, kamu akan diizinkan masuk. Jika pintu tidak dibukakan pada ketokan pertama, teruslah berdoa. Jika kita mengetok pintu seorang teman dan berbalik pergi, maka itu merupakan penghinaan bagi dia; meskipun ia tampak berlam­bat-lambat, tetaplah menunggu.”

2.           Janji itu diulangi (ay. 8). Maksudnya sama, tetapi dengan be­be­­­rapa tambahan.

(1)         Janji ini dibuat untuk diberikan kepada semua orang yang berdoa dengan benar. “Bukan hanya kalian murid-murid-Ku yang akan menerima apa yang kalian doakan, tetapi setiap orang yang meminta, menerima, baik orang Yahudi maupun bukan-Yahudi, tua atau muda, kaya atau miskin, tinggi atau rendah, majikan atau pelayan, terpelajar atau tidak terpelajar, mereka semua sama-sama disambut di dalam takhta kasih karunia, jika mereka datang dengan iman, sebab Allah tidak membedakan orang.”
(2)         Janji itu dibuat sebagai suatu anugerah, dengan memakai kata-kata yang berlaku untuk waktu kini, jadi bukan se­ka­dar janji untuk masa akan datang. Setiap orang yang me­min­ta, bukan saja akan menerima, tetapi telah menerima. Jika dengan iman kita menerapkan dan meme­gang janji itu sebagai milik kita, maka itu artinya kita memang tertarik pada sesuatu yang berharga yang dijanjikan itu dan kita sedang menabung untuknya. Jadi, betapa pasti dan tidak mung­kin batal janji-janji Allah itu, sampai-sampai janji-janji itu langsung berlaku sebagai milik saat kini, artinya orang-orang percaya yang aktif langsung masuk dan men­jadi­kan berkat-berkat yang dijanjikan itu sebagai miliknya. Apa yang kita miliki dalam pengharapan, menu­rut janji itu, sama pastinya dan manisnya seperti apa yang sudah ada dalam tangan kita sekarang ini. Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya, dan kemudian Dia berkata, “Gilead punya-Ku, Manasye punya-Ku” (Mzm. 108:7-9). Apa saja men­jadi kepunyaanku, asalkan aku bisa percaya bahwa me­mang demikianlah adanya. Bantuan-bantuan yang dihi­bah­kan dengan syarat tertentu akan menjadi milik mutlak ketika segala syarat itu dipenuhi. Begitu pula, setiap orang yang meminta, menerima. Di dalam pernyataan ini Kristus sudah menaruh perintah-Nya supaya itu terlaksana, dan karena Dia mahakuasa, ini sudah cukup.

3.           Janji itu digambarkan dengan membandingkannya dengan orang­tua di dunia ini yang dengan sendirinya akan mem­beri­kan anak-anak mereka apa yang mereka minta. Kristus mena­rik perhatian para pendengar-Nya dengan bertanya, “Adakah seorang dari padamu, walaupun sesusah-susah dan sejahat-jahatnya ia, yang memberi batu kepada anaknya, jika ia me­minta roti?” (ay. 9-10). Dari situ Ia menyimpulkan (ay. 11), “Jadi jika kamu yang jahat, mengabulkan permintaan anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Seka­rang kita lihat kegunaan pernyataan ini:

(1)         Untuk mengarahkan doa-doa dan harapan-harapan kita.

[1]         Kita harus datang kepada Allah, seperti anak-anak meng­hadap seorang Bapa di sorga, dengan penuh rasa hormat dan keyakinan. Sungguh wajar bila seorang anak yang menginginkan sesuatu atau mengalami ke­sulit­an berlari menghampiri ayahnya sambil mengeluh, “Aduh kepalaku, kepalaku!” Dengan sikap baru seperti itulah kita seharusnya datang kepada Allah untuk me­min­ta pertolongan atas berbagai kebutuhan kita.
[2]         Kita harus datang kepada-Nya untuk meminta hal-hal yang baik, sebab Ia memberikan yang baik kepada me­reka yang meminta pada-Nya. Hal ini mengajar kita un­tuk berserah kepada-Nya. Kita tidak tahu apa yang baik bagi diri kita sendiri (Pkh. 6:12), tetapi Dia tahu apa yang baik bagi diri kita. Oleh sebab itu kita harus me­nye­rahkannya kepada-Nya. Ya Bapa-Ku, jadilah kehen­dak-Mu. Di sini, si anak diharapkan untuk meminta roti, yakni yang diperlukan, dan ikan, yang menyehatkan. Namun, bila anak itu dengan bodohnya meminta batu, atau ular, atau buah yang belum masak, atau pisau tajam untuk bermain, maka sang ayah, meskipun dia baik hati, akan bertindak sangat bijaksana dengan menolak permintaan itu. Kita sering meminta kepada Allah hal-hal yang akan membahayakan kita jika kita memilikinya. Allah mengetahui hal ini, dan oleh sebab itu Ia tidak memberikannya kepada kita. Penolakan yang dibuat berdasarkan kasih lebih baik daripada pengabulan yang diberikan dengan disertai kemarahan. Kita pasti akan segera celaka seandainya kita sudah me­nerima semua yang kita inginkan. Hal ini diungkap­kan dengan luar biasa bagusnya oleh Juvenal, ahli hu­kum yang hidup di kerajaan Romawi, dalam Sat. 10.

Permittes ipsis expendere numinibus, quid
Conveniat nobis, rebusque sit utile nostris,
Nam pro jucundis aptissima quæque dabunt dii:
Carior est illis homo, quam sibi: nos animorum
Impulsu, et cæca, magnaque cupidine ducti,
Conjugium petimus, partumque uxoris; at illis
Notum est, qui pueri, qualisque futura sit uxor.

Percayakanlah nasibmu kepada kuasa-kuasa yang di atas.
Biarkanlah mereka mengaturnya bagimu, dan memberikan
Keperluanmu sesuai hikmat mereka yang tidak pernah keliru:
Dalam kebaikan, seperti juga dalam kebesaran, mereka melebihi segalanya;
Ah, coba kalau kita mencintai diri kita setengahnya saja dari yang seharusnya!
Kita, yang dibutakan oleh berbagai nafsu dan gairah,
Mencari pasangan, dan ingin menikah,
Lalu mendambakan keturunan: namun hanya ilah-ilah sajalah
Yang tahu siapa yang kelak menjadi istri dan anak-anak kita.

(2)         Untuk mendorong doa-doa dan harapan-harapan kita. Kita boleh berharap bahwa kita tidak akan ditolak dan dike­ce­wa­­kan. Kita tidak akan menerima batu sebagai ganti roti, yang membuat gigi kita patah (walaupun lapisan gigi kita cukup keras), atau ular sebagai ganti ikan, sehingga kita terpagut. Kita memang mempunyai alasan untuk merasa takut kalau-kalau hal ini akan menimpa kita, karena kita memang pantas diganjar demikian, tetapi Allah akan ber­baik hati kepada kita dengan tidak mengganjar kita atas dosa-dosa kita. Dunia sering kali memberi kita batu sebagai ganti roti, dan ular sebagai ganti ikan, tetapi Allah tidak pernah berbuat demikian; tidak, kita akan didengar dan dijawab, seperti anak-anak oleh orangtua mereka.

[1]         Allah telah menempatkan di dalam hati orangtua kecen­derungan yang penuh belas kasihan untuk menolong dan memberikan persediaan bagi anak-anak mereka, sesuai dengan kebutuhan mereka. Bahkan orang yang hampir-hampir tidak punya hati nurani terhadap kewa­jib­annya pun masih melakukannya, karena sudah men­jadi nalurinya. Tidak pernah ada hukum yang dianggap perlu ditetapkan guna mewajibkan orangtua meme­lihara anak-anak mereka yang sah, atau, seperti pada zaman Salomo, anak-anak mereka yang tidak sah.
[2]         Dalam hubungan dengan kita, Allah telah menganggap diri-Nya sebagai seorang Bapa, dan mengakui kita se­bagai anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, karena dengan sendirinya kita pasti akan menolong anak-anak kita, maka kita juga boleh berani untuk datang kepada-Nya untuk minta tolong. Kasih dan kelembutan yang di­mi­liki para ayah berasal dari Dia; bukan dari alam, me­lain­kan dari Allah Pencipta alam. Oleh sebab itu, kasih dan kelembutan ini jauh lebih besar terdapat dalam diri-Nya. Ia membandingkan kepedulian-Nya terhadap umat-Nya dengan kepedulian seorang ayah terhadap anak-anaknya (Mzm. 103:13), bahkan dengan kepe­duli­an seorang ibu, yang biasanya lebih lemah lembut (Yes. 66:13; 49:14-15). Namun, kasih, kelembutan, dan ke­baikan-Nya itu jauh melebihi yang ada pada para orang­tua mana pun di dunia ini. Oleh sebab itu, kenyataan ini ditekankan dengan kata apalagi, dan didasarkan pada kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi bahwa Allah adalah Bapa yang lebih baik, jauh lebih baik dari­pada orang tua duniawi mana pun; rancangan-Nya jauh melebihi rancangan mereka. Ayah duniawi kita telah menjaga kita, dan kita telah menjaga anak-anak kita; tapi terlebih lagi, Allah akan menjaga anak-anak-Nya. Ayah duniawi kita sudah jahat karena asalnya, karena merupakan keturunan dari Adam yang sudah jatuh. Mereka telah kehilangan banyak sifat baik yang se­sung­guhnya dimiliki manusia, dan sifat-sifat yang rusak itu antara lain tidak sabar dan tidak berbaik hati. Namun demikian, mereka memberi pemberian yang baik kepada anak-anak mereka, dan mereka tahu bagaimana mem­beri apa yang sesuai dan kapan waktunya; apalagi Allah, sebab Dia menyambut ketika orang justru men­cam­pakkan (Mzm. 27:10). Dan, pertama, Allah lebih tahu. Orangtua sering kali mencintai anak mereka de­ngan cara yang bodoh, tetapi Allah penuh dengan hik­mat yang tidak terukur. Dia tahu apa yang kita perlu­kan, apa yang kita inginkan, dan apa yang sesuai bagi kita. Kedua, Allah jauh lebih baik hati. Seandainya se­lu­ruh kasih sayang para ayah yang lemah lembut di dunia ini digabungkan jadi satu, dan dibandingkan dengan kasih setia yang lemah lembut dari Allah kita, maka ini sama dengan lilin dibandingkan dengan matahari, atau setetes air dengan samudra raya. Allah jauh lebih kaya, dan jauh lebih bersedia memberi kepada anak-anak-Nya dibandingkan dengan ayah kita secara kedagingan, sebab Dia adalah Bapa dari roh kita, yang mengasihi selamanya dan hidup selamanya. Kasih sayang dan kelemahlembutan Sang Bapa bahkan tercurah kepada anak-anak yang tidak taat, anak-anak yang hilang, seperti Daud ter­hadap Absalom. Jadi, bukankah se­mua­nya ini seharus­nya cukup untuk membungkam ketidakpercaya­an kita?

12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. 13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebar­lah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; 14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

Yesus Tuhan kita di sini menekankan kepada kita perihal melakukan kebenaran terhadap sesama manusia, yang merupakan bagian yang paling mendasar dari ibadah yang sejati. Melakukan Kebenaran me­rupakan ibadah kepada Allah, yang merupakan sifat dasar dari ke­be­naran yang universal (berlaku atas manusia di mana saja).

I.           Kita harus menjadikan kebenaran sebagai peraturan kita, dan harus diatur olehnya (ay. 12). Karena itu, jadikanlah ini sebagai prinsip hidupmu, perbuatlah kepada orang seperti yang kamu kehendaki mereka perbuat kepadamu. Oleh sebab itu, untuk da­pat mematuhi perintah-perintah sebelumnya, yang bersifat khu­sus, yakni supaya kamu tidak menghakimi dan mengecam orang lain, maka ingatlah selalu hukum ini. Kalau tidak ingin dikecam, janganlah mengecam. Atau sebaliknya, patuhilah hukum ini dan kamu akan menerima keuntungan dari janji-janji yang diberikan sebelumnya. Cocoklah kalau hukum keadilan ditambahkan ke­pada hukum doa, sebab jika kita tidak jujur dalam perilaku kita, maka Allah tidak akan mendengar doa-doa kita (Yes. 1:15-17; 58:6, 9; Za. 7:9, 13). Kita tidak dapat berharap akan menerima pemberian-pemberian yang baik dari Allah, jika kita tidak me­la­ku­kan hal-hal yang adil dan apa yang mulia, manis, dan sedap dide­ngar bagi sesama. Kita bukan saja harus saleh, tetapi juga harus jujur. Kalau tidak, ibadah kita tidaklah lebih daripada kemu­nafik­an. Nah, berikut ini kita melihat:

1.           Hukum keadilan yang ditetapkan. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demi­kian juga kepada mereka. Kristus datang untuk mengajar kita bukan saja mengenai apa yang harus kita ketahui dan per­cayai, melainkan juga apa yang harus kita lakukan; apa yang harus kita lakukan, bukan saja terhadap Allah, melainkan juga terhadap manusia; bukan saja terhadap sesama murid Tuhan, orang-orang yang segolongan dan seiman dengan kita, tetapi juga terhadap semua orang secara umum, siapa saja yang berhubungan dengan kita. Hukum emas dalam bidang keadilan adalah berbuatlah terhadap orang lain seperti yang kita inginkan mereka berbuat terhadap kita. Alexander Severus, seorang kaisar kafir, sangat mengagumi hukum ini, dan menuliskannya di dinding-dinding kamarnya. Ia sering me­ngu­tipnya dalam menjalankan penghakiman, Ia menghor­mati Kristus, dan menolong orang-orang Kristen karena kaidah tersebut. Quod tibi, hoc alteri – perlakukanlah orang lain seperti engkau ingin mereka memperlakukanmu. Entah kaidah itu dilihat dari sisi negatif (jangan perbuat … dst.) atau dari sisi positif (perbuat­lah … dst), hasilnya sama saja. Janganlah kita perbuat kepada orang lain kejahatan yang telah diperbuat me­reka terhadap kita, atau kejahatan yang akan mereka per­buat kepada kita, sekiranya mereka bisa melakukannya. Kita juga tidak boleh perbuat sesuatu yang kita pikir dapat kita tang­gung dengan baik seandainya itu diperbuat terhadap kita, me­lain­kan perbuatlah apa yang kita ingin orang perbuat terhadap kita. Hal ini didasarkan atas perintah agung, Kasihilah sesa­ma­mu manusia seperti dirimu sendiri. Seperti halnya kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, begitu pula kita harus melakukan kewajiban-kewajiban yang sama baik­nya ini kepada mereka. Makna dari kaidah ini terdapat dalam tiga hal.

(1)         Kita harus melakukannya terhadap sesama karena kita tahu ini pantas dan masuk di akal. Kita sendiri bisa me­ni­lai bahwa hal ini benar dan kita tahu hal ini benar karena ini sesuai dengan kehendak dan pengharapan kita sendiri, yaitu bagaimana jadinya kalau kita sendiri yang mengalami perlakuan orang lain.
(2)         Kita harus menempatkan orang lain pada tingkat yang setaraf dengan kita sendiri, dan harus beranggapan bahwa kita sama berutang budinya kepada mereka, seperti me­re­ka kepada kita. Kita sama terikatnya pada tugas-tugas ke­adil­an seperti mereka, dan mereka berhak mendapatkan keuntungan darinya sama seperti kita.
(3)         Dalam berurusan dengan orang lain, kita harus meng­anggap diri kita berada dalam masalah dan keadaan yang sama dengan orang-orang yang berhubungan dengan kita, dan menanganinya sesuai dengan keadaan itu. Seandainya saya mengalami keadaan seperti itu, bersusah payah dalam kelemahan dan penderitaan seperti itu, bagaimanakah saya ingin dan berharap untuk diperlakukan? Dan anggapan seperti ini sah-sah saja, karena kita tahu suatu ketika kita sendiri juga bisa mengalami masalah yang sama. Setidak-tidaknya, seharusnya kita merasa takut, jangan sampai Allah dalam penghakiman-Nya akan perbuat kepada kita apa yang telah kita perbuat kepada orang lain.

2.           Alasan yang diberikan untuk memperkuat kaidah ini. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Kaidah ini adalah ringkasan dari perintah agung kedua, yang merupakan salah satu dari dua perintah yang di atasnya tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (22:40). Perintah agung ini memang tidak disampaikan dengan panjang lebar dalam hu­kum Taurat maupun dalam kitab para nabi, namun menyim­pul­kan keseluruhan kitab-kitab itu. Segala sesuatu yang dika­ta­kan di sana yang berkaitan dengan kewajiban kita terhadap sesama (dan jumlahnya tidak sedikit) dapat diringkas dalam perintah agung ini. Di sini Kristus memakai perintah agung ini dan menjadikannya sebagai hukum, yang menyatukan Per­jan­ji­an Lama dan Perjanjian Baru yang selaras dalam meme­rin­tah­kan kepada kita untuk melakukan sebagaimana kita juga ingin diperlakukan demikian. Melalui kaidah ini, hukum Kristus ditegakkan, tetapi kehidupan orang-orang Kristen akan dihakimi karenanya. Aut hoc non evangelium, authi non evangelici – Entah hukum ini bukan Injil, atau orang-orang ini bukanlah orang-orang Kristen.

II.          Kita harus menjadikan agama sebagai urusan kehidupan kita dan bersung­guh-sungguh dengannya. Kita harus bersikap tegas dan sangat ber­hati-hati dalam segenap perilaku kita, yang di sini di­gam­bar­kan seperti memasuki pintu yang sesak, dan berjalan di jalan yang sempit (ay. 13-14). Perhatikanlah di sini,

1.          Penjelasan yang diberikan mengenai buruknya jalan dosa dan baiknya jalan kekudusan. Hanya ada dua jalan, yakni yang benar dan yang salah, baik dan jahat, jalan menuju sorga dan jalan menuju neraka, dan di salah satu jalan itu kita semua sedang berjalan: tidak ada tempat di tengah-tengah, baik di ke­mudian hari maupun sekarang ini. Pembedaan anak-anak manusia atas orang kudus dan orang berdosa, saleh dan kafir, akan terbawa semuanya sampai ke dalam kekekalan.

Berikut ini kita melihat:

(1)         Penjelasan yang diberikan kepada kita mengenai jalan dari dosa dan orang-orang berdosa, baik tentang kelebihan mau­pun kekurangannya.

[1]         Hal yang menarik banyak orang untuk datang berbon­dong-bondong ke dalamnya, dan membuat mereka tetap tinggal di situ. Lebarlah pintu dan luaslah jalan, maka banyaklah pelancong yang melalui jalan itu. Pertama, “Engkau akan memperoleh kebebasan yang berlimpah ruah di jalan itu. Lebarlah pintu itu, dan terbuka lebar-lebar untuk menggoda orang-orang yang menujunya. Engkau bisa masuk melalui pintu itu dengan membawa semua hawa nafsu yang ada padamu. Tidak ada ke­kang­an bagi segala seleramu, bagi gairah-gairahmu. Kamu boleh berjalan menuruti keinginan hatimu dan pan­dangan matamu; di sana terasa luas.” Luaslah jalan itu, dan tidak ada yang membatasi orang-orang yang berjalan di dalamnya, sehingga mereka dapat berkelana tanpa ujung. Luaslah jalan itu, sebab ada banyak jalan-jalan kecil di dalamnya. Ada banyak pilihan bagi jalan-jalan penuh dosa, yang berlawanan satu sama lain, tetapi semuanya di jalan yang luas ini. Kedua, “Kamu akan mempunyai sangat banyak teman di jalan itu: banyak orang yang masuk melaluinya, dan berjalan meng­ikutinya.” Jika kita mengikuti orang banyak itu, maka kita akan melakukan yang jahat. Jika kita ber­jalan bersama kerumunan orang banyak, maka itu adalah jalan yang salah. Kita memang cenderung meng­ikuti arah arus, dan berbuat seperti apa yang dilakukan kebanyakan orang. Namun, sungguh sangat disayang­kan jika kita bersedia binasa demi teman-teman dan masuk neraka bersama mereka, hanya karena mereka ti­dak akan masuk sorga bersama kita. Jika banyak yang binasa, kita harus semakin berjaga-jaga lagi.
[2]         Yang harus membuat kita takut terhadap jalan itu ada­lah karena jalan itu menuju kepada kebinasaan. Maut, kematian kekal, berada di ujung jalan itu (dan jalan dosa akan mengantar kita ke sana) – kebinasaan se­lama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan. Apakah itu jalan raya kecemaran yang terang-terangan, atau jalan be­lakang kemunafikan yang ditutup-tutupi, jika itu ada­­lah jalan dosa, maka kita akan binasa, bila kita tidak bertobat.

(2)         Berikut ini penjelasan mengenai jalan kekudusan.

[1]         Apa yang ada di dalamnya yang membuat banyak orang takut dan menghindarinya. Biarlah kita ketahui yang terburuk darinya, supaya kita mau duduk dan mem­per­hitungkan harga yang harus kita bayar. Kristus berlaku jujur kepada kita dan memberi tahu kita,

Pertama, bahwa pintu itu sesak. Pertobatan dan ke­la­hiran kembali merupakan pintu, yang melaluinya kita memasuki jalan ini, dan di dalam jalan inilah kita me­mu­lai kehidupan iman dan kesalehan yang sungguh-sungguh. Kita harus keluar dari keadaan dosa dan me­ma­suki keadaan anugerah melalui kelahiran baru (Yoh. 3:3, 5). Ini adalah pintu yang sesak, yang sulit didapat dan sulit dilalui, seperti celah di antara dua bukit batu (1Sam. 14:4). Harus ada hati yang baru dan roh yang baru, dan yang lama harus berlalu. Kecenderung jiwa harus diubah, berbagai kebiasaan dan adat yang buruk harus dibuang, apa yang selama ini kita lakukan harus dihentikan, dan kita harus memulai dari awal lagi. Kita harus berenang melawan arus; berbagai tantangan, baik dari luar maupun dari dalam, harus dihadapi dan dipatahkan. Lebih mudah membuat orang melawan dunia daripada melawan dirinya sendiri, namun, hal ini harus terjadi dalam pertobatan. Ini adalah pintu yang sesak, sebab kita harus merunduk agar dapat me­la­lui­nya. Kita harus menjadi seperti anak-anak kecil. Pikiran yang tinggi harus direndahkan. Bahkan kita harus me­nang­galkan semuanya dan menyangkal diri kita sendiri, menanggalkan dunia, dan menanggalkan manusia lama. Kita harus rela meninggalkan semua demi kepentingan kita di dalam Kristus. Sesaklah pintu itu bagi semua orang, tetapi terasa lebih sesak bagi sebagian orang daripada yang lainnya, seperti misalnya bagi orang kaya dan bagi orang-orang yang sudah lama berprasangka bu­ruk terhadap agama. Sesaklah pintu itu, namun de­mi­kian terpujilah Allah, karena pintu itu tidak tertutup atau terkunci bagi kita, ataupun dijaga dengan pedang yang menyala-nyala, seperti yang akan terjadi tidak lama lagi (25:10).

Kedua, bahwa jalan itu sempit. Kita belum akan lang­­sung berada di sorga segera setelah melalui pintu yang sesak itu, atau tiba di Kanaan segera setelah me­lin­tasi Laut Teberau. Tidak demikian halnya, kita harus melalui padang gurun terlebih dulu, harus berjalan me­lin­tasi jalan yang sempit, dengan dipagari oleh hukum ilahi, yang luar biasa luasnya, sehingga membuat jalan itu sempit. Diri harus disangkal, tubuh harus diken­dalikan, dan kejahatan-kejahatan dimatikan seperti ter­ha­dap mata yang kanan dan tangan yang kanan. Godaan-godaan sehari-hari harus dilawan, dan kewajib­an-kewajiban yang berlawanan dengan kehendak hati ha­rus dilakukan. Kita harus sanggup menanggung kesukaran, harus bergumul dan bersusah payah, harus berjaga-jaga dalam segala perkara, dan berjalan dengan cermat dan hati-hati. Kita harus mengalami banyak seng­sara. Ini adalah hodos tethlimmenē – jalan penuh pen­deritaan, jalan yang dipagari dengan duri-duri, na­mun demikian, terpujilah Allah, sebab jalan ini tidak tertutup. Tubuh yang kita bawa-bawa bersama kita dan kejahatan-kejahatan yang masih tinggal dalam diri kita membuat kita sulit menjalankan kewajiban. Namun, se­iring dengan semakin bertumbuhnya pengertian dan kehendak kita, jalan itu pun semakin terbuka meluas, dan akan terasa semakin menyenangkan.

Ketiga, mengingat begitu sesaknya pintu itu dan be­gitu sempitnya jalan itu, tidaklah mengherankan bila hanya sedikit orang yang mendapatinya dan memilih­nya. Banyak yang melewatkannya begitu saja karena kecerobohan mereka. Mereka tidak mau bersusah-susah mendapatinya. Mereka telah cukup puas dengan keadaan mereka, dan tidak merasa perlu mengubah jalan hidup mereka. Yang lain melihat jalan itu, namun mereka menghindarinya. Mereka tidak suka dibatasi dan dikekang seperti itu. Orang-orang yang sedang me­nuju sorga itu hanya sedikit, jika dibandingkan dengan orang-orang yang sedang menuju neraka. Yang terakhir ini hanyalah umat yang tersisa, kawanan kecil, seperti sisa-sisa dari panen kebun anggur, dan kedelapan orang yang diselamatkan dalam bahtera (1Ptr. 3:20). In vitia alter alterum trudimus; Quomodo ad salutem revocari potest, quum nullus retrahit, et populus impellit – Di jalan-jalan orang jahat, mereka saling mendorong ke depan; jadi bagaimana mungkin orang dapat dibawa kembali ke jalan yang aman, sedangkan ia terus didesak maju oleh banyak orang, tanpa ada kekuatan yang melawan desakan itu? (Dikutip dari Seneca, Epist. 29). Hal ini mengecilkan hati banyak orang. Mereka tidak suka berjalan sendirian, tidak suka menyendiri. Akan tetapi, daripada tersandung karena masalah ini, lebih baik kita berkata, bila hanya begitu sedikit orang yang sedang menuju sorga, tentunya masih ada satu jalan lagi bagiku.

[2]         Mari kita lihat apa saja yang ada di jalan ini, yang se­kalipun demikian, harus tetap mengundang kita se­mua untuk mendatanginya. Jalan ini menuju kepada kehi­dup­an, kepada penghiburan dari Allah untuk masa seka­rang, yang adalah kehidupan bagi jiwa; menuju keba­hagiaan abadi, dan pengharapan akan kebahagia­an yang akan kita terima pada akhir perjalanan kita ini seharusnya membuat kita menanggung segala kesulitan dan ketidaknyamanan yang kita temui di jalan itu. Ke­hi­dupan dan kesalehan dipersatukan (2Ptr. 1:3). Sesak­lah pintu dan sempitlah jalan yang menanjak itu, tetapi satu jam saja di sorga akan menggantikan semua ke­ti­dak­nyamanan itu.

2.           Perhatian dan kewajiban utama dari setiap diri kita, dengan mengingat semua hal tadi, adalah: masuklah melalui pintu yang sesak itu. Perkaranya sudah dinyatakan dengan baik dan jelas: kehidupan dan kematian, kebaikan dan kejahatan, be­serta masing-masing jalan dan tujuan akhirnya, diper­ha­dap­kan kepada kita. Nah, biarlah perkara ini diterima secara keseluruhan, dan dipertimbangkan dengan tidak memihak, lalu setelah itu pilihlah jalan yang hendak kau lewati hari ini. Malah terlebih lagi, perkara itu sudah ditentukan sendiri, dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Tidak seorang pun yang ber­pikir­an sehat akan memilih pergi ke tiang gantungan sekali­pun jalan menuju ke sana rata dan menyenangkan, atau me­no­lak ditawarkan istana dan singgasana, sekalipun jalan me­nuju ke sana kasar dan kotor. Namun, kesalahan-kesalahan dan kebodohan-kebodohan yang tidak masuk akal seperti inilah yang dibuat manusia, karena masalah dengan jiwa mereka. Oleh sebab itu, janganlah menunda-nunda lagi, ja­ngan­lah dengan sengaja menangguhkannya lebih lama lagi, tetapi masuklah melalui pintu yang sesak itu. Ketoklah pintu itu dengan segala doa dan upaya yang tulus dan bersungguh-sungguh, maka pintu akan dibukakan; bahkan terlebih lagi, pintu akan dibukakan lebar-lebar, dan engkau pasti akan memasukinya. Memang benar, kita tidak dapat masuk atau­pun terus melangkah tanpa bantuan anugerah ilahi, tetapi, yang ini juga benar, yaitu bahwa anugerah itu ditawarkan dengan cuma-cuma, dan tidak akan ditolak oleh orang-orang yang mencarinya dan yang berserah kepadanya. Pertobatan ada­lah kerja keras, namun itu diperlukan, dan terpujilah Allah, sebab hal ini tidaklah mustahil, asalkan kita mau ber­usaha keras (Luk. 13:24).

15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. 16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang me­me­tik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 17 Demi­kianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. 18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. 19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”

Di sini diceritakan tentang peringatan terhadap nabi-nabi palsu, su­paya kita berhati-hati agar tidak tertipu dan diperdaya oleh mereka. Nabi-nabi seharusnya menyampaikan hal-hal yang akan terjadi dengan semestinya. Di dalam Perjanjian Lama disebutkan tentang be­be­rapa nabi yang pura-pura bernubuat padahal mereka tidak punya wewenang untuk itu, dan ini tampak dari tidak terbuktinya nubuat mereka itu, seperti misalnya Zedekia bin Kenaana (1Raj. 22:11) dan seorang lagi bernama Zedekia bin Maaseya (Yer. 29:21). Namun, nabi-nabi juga mengajarkan kewajiban yang harus dijalankan umat. Jadi, nabi-nabi palsu yang disebutkan di sini adalah guru-guru palsu. Kristus, sebagai Nabi dan Guru yang diutus Allah, yang berencana meng­utus guru-guru lain di bawah asuhan-Nya, memberikan peri­ngat­an kepada mereka semua agar waspada terhadap nabi-nabi tiru­an yang bukannya menyembuhkan jiwa-jiwa melalui pengajaran yang sehat, malah sebaliknya justru meracuni.

Mereka adalah guru-guru dan nabi-nabi palsu.

1.           Mereka ini mengeluarkan perintah-perintah palsu, pura-pura men­­dapatkan wewenang dan petunjuk langsung dari Allah untuk menjadi nabi, dan menerima ilham ilahi, padahal bukan demikian halnya. Meskipun pengajaran mereka mungkin saja benar, kita harus waspada terhadap mereka sebagai nabi-nabi palsu. Rasul-rasul palsu adalah orang-orang yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian (Why. 2:2). “Waspadalah ter­hadap orang-orang yang mengaku-ngaku memiliki pewahyuan, dan jangan akui mereka tanpa bukti yang cukup, jangan sampai satu kejanggalan diakui, maka seribu lainnya pun menyusul.”
2.           Mereka adalah orang-orang yang memberitakan pengajaran palsu mengenai hal-hal mendasar yang merupakan inti dari agama, orang yang mengajarkan hal yang berlawanan dengan kebenaran yang sebenarnya yang ada dalam Yesus, yang bertentangan de­ngan kesalehan. Jenis nabi yang pertama sepertinya sesuai de­ngan pengertian pseudo-propheta, nabi palsu atau yang mengaku-ngaku demikian. Namun, yang kedua umumnya termasuk di da­lam­nya juga, karena siapa pula yang mau menampakkan kepal­su­­annya selain melalui rancangan palsu dan berpura-pura di da­lamnya supaya dengan begitu bisa lebih berhasil menyerang kebenaran. “Jadi, waspadalah terhadap mereka, curigailah me­re­ka, ujilah mereka, dan setelah membongkar kepalsuan mereka, hindarilah mereka. Jangan berurusan dengan mereka. Berdirilah teguh melawan cobaan ini, yang biasanya terjadi pada hari-hari pembaruan dan ketika terjadi pencerahan ilahi yang luar biasa dan penuh kemuliaan.” Ketika pekerjaan Allah dihidupkan, Iblis dan para pengikutnya pun semakin sangat sibuk. Berikut ini kita lihat:

I.           Alasan yang tepat untuk peringatan itu, Waspadalah terhadap mereka, sebab mereka adalah serigala yang menyamar seperti domba (ay. 15).

1.          Kita perlu sangat berhati-hati, sebab kepura-puraan mereka itu tampak sangat wajar dan tidak menimbulkan prasangka orang, sehingga bisa membuat kita mudah terperdaya bila kita tidak berjaga-jaga. Mereka menyamar seperti domba, sesuai kebiasaan nabi-nabi yang penampilannya bersahaja, kasar, dan biasa-biasa saja. Mereka mengenakan jubah berbulu untuk berbohong (Za. 13:4). Septuaginta menyebut jubah Elia hē mēlotē – jubah kulit domba. Kita harus berhati-hati agar tidak terperdaya dengan pakaian dan penampilan orang, seperti misalnya milik para ahli Taurat, yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang (Luk. 20:46). Atau, ungkapan ini bisa diartikan sebagai kiasan. Mereka berpura-pura seperti domba, dari luar tampaknya begitu suci, tidak berbahaya, lemah lem­but, berguna. Pokoknya, segalanya sangat baik dan tidak ter­tan­dingi oleh siapa pun. Mereka berpura-pura sebagai orang yang benar, dan dengan penampilan itu mereka diizinkan masuk ke tengah jemaat sehingga memperoleh kesempatan ber­­buat jahat sebelum jemaat itu menyadarinya. Diri dan keja­hat­­an mereka disepuh dengan kesucian dan ibadah palsu. Iblis mengubah dirinya sebagai malaikat Terang (2Kor. 11:13-14). Musuh kita bertanduk dua sama seperti anak domba (Why. 13:11), dengan muka sama seperti muka manusia (Why. 9:7-8). Mereka adalah penggoda-penggoda yang manis dalam tutur kata dan perilakunya (Rm. 16:18; Yes. 30:10).
2.           Karena di balik segala kepura-puraan mereka ini ada rancang­an yang sangat berbahaya dan jahat, maka sesungguhnya me­reka adalah serigala yang buas. Orang munafik itu seperti kam­bing berbulu domba, tetapi nabi palsu adalah serigala berbulu domba. Selain memang bukan domba, dia juga musuh dom­ba yang terbesar, yang datang hanya untuk merobek-robek, menelan, dan mencerai-beraikan domba-domba itu (Yoh. 10:12), menggiring mereka menjauhi Allah dan sesama­nya ke dalam jalan-jalan yang bengkok. Orang-orang yang hendak me­ram­pas kebenaran apa pun dari kita dan menggantikannya dengan sesuatu yang keliru, sebenarnya merancang kejahatan ter­hadap jiwa kita, apa pun bentuk kepura-puraan mereka. Pau­lus menyebut mereka serigala-serigala yang ganas (Kis. 20:29). Mereka memangsa untuk diri sendiri, melayani perut me­reka sendiri (Rm. 16:18), memangsa dan menarik ke­un­tung­an dari mangsa mereka. Mengingat hal ini begitu mudah ter­jadi dan begitu berbahaya bila tertipu, waspadalah terha­dap nabi-nabi palsu.

II.          Berikut ini ada pedoman yang baik untuk berjaga-jaga. Kita harus menguji segala sesuatu (1Tes. 5:21), menguji roh-roh (1Yoh. 4:1), dan kenalilah batu ujiannya: Dari buahnyalah kamu akan menge­nal mereka (ay. 16-20). Perhatikanlah:

1.          Gambaran mengenai perbandingan ini, yaitu buah yang dapat menunjukkan jenis pohonnya. Kita tidak selalu dapat mem­be­da­kan jenis pohon dari kulit dan daun-daunnya, atau dari rentangan dahan-dahannya, tetapi dari buahnya­lah kamu akan mengenal mereka. Buah selalu sesuai dengan jenis po­hon­nya. Melalui pengakuannya, manusia bisa saja menentang tabiat alaminya dan melawan asas batinnya. Namun, arus gerakan dan penyimpangan perbuatan-perbuat­an mereka selalu akan berjalan sesuai dengan tabiat dan batin mereka. Kristus menekankan hal kesesuaian antara buah dan pohon sedemikian rupa hingga:

(1)         Jika orang tahu jenis pohonnya, ia bisa tahu buah apa yang dapat diharapkannya. Jangan pernah berharap dapat memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri, sebab memang bukan sewajarnya tanaman-tanaman itu menghasilkan buah-buah tadi. Buah apel bisa saja ditancapkan atau setandan buah anggur digantung­kan pada duri. Demikian pula dengan kebenaran, perkata­an atau perbuatan baik, bisa saja didapati dalam diri orang jahat. Namun, yakinlah bahwa hal-hal itu tidak pernah bertumbuh dari dalam dirinya. Perhatikanlah:

[1]         Hati yang jahat, kejam, dan belum dikuduskan adalah seperti semak duri dan rumput duri, yang penuh dosa, tidak berharga, menjengkelkan, dan akhirnya dibuang ke dalam api.
[2]         Perbuatan baik adalah seperti buah yang baik, seperti buah anggur dan buah ara, menyenangkan bagi Allah dan berguna bagi manusia.
[3]         Buah yang baik ini tidak pernah bisa diharapkan dari orang jahat. Ini seperti mengharapkan sesuatu yang tahir keluar dari yang najis, karena orang demikian tidak memiliki asas moral yang bisa diterima. Dari per­ben­daharaan yang jahat akan keluar hal-hal yang jahat.

(2)         Di lain pihak, jika orang mengenal buahnya, dari situ ia juga akan mengenal jenis pohonnya. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, atau pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Tidak, mau tidak mau yang dihasilkannya adalah buah yang tidak baik. Maka yang harus diperhatikan adalah buah mana yang dihasilkan pohon secara alami dan asli – yakni yang dihasilkan dalam jumlah besar dan terus-mene­rus seperti biasa. Manusia dikenali bukan dari perbuatan-perbuatan tertentu, melainkan dari arah dan gerakan peri­laku serta tindakan-tindakan yang lebih sering diper­buat­nya, terutama yang tampak bebas dan berasal dari dirinya sendiri, bukan karena pengaruh dari alasan dan dorongan luar.

2.          Penerapan hal ini pada nabi-nabi palsu.

(1)         Melalui ketakutan dan ancaman (ay. 19). Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik pasti ditebang. Ung­kap­an ini persis sama seperti yang digunakan Yohanes Pem­bap­tis (3:10). Kristus bisa saja memakai ungkapan ini de­ngan kata-kata lain, mengubahnya atau memberinya mak­na baru. Namun, Ia tidak segan-segan menggunakan kata-kata yang sama seperti yang diucapkan Yohanes sebelum Dia. Janganlah para hamba Tuhan terlampau ingin men­cip­takan ungkapan-ungkapan baru; demikian juga jemaat, jangan gatal telinga untuk selalu mau mendengar hal-hal baru. Menulis dan mengatakan hal-hal yang sama bukan­lah hal memalukan, sebab ini justru aman. Di sini ter­dapat:

[1]         Uraian mengenai pohon yang tidak subur, yaitu pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik. Kalaupun ada buahnya, tetapi buahnya itu tidak baik (sekalipun kita me­lakukan sesuatu, yang sebenarnya baik, namun tidak dikerjakan dengan baik, dengan cara dan tujuan yang benar), maka tetap saja pohon itu dianggap tidak subur.
[2]         Nasib pohon yang tidak subur, pasti akan ditebang dan dibuang ke dalam api. Allah akan memperlakukan orang jahat seperti manusia memperlakukan pohon kering yang mengotori tanah: Ia akan menandai mereka dengan beberapa tanda rasa tidak senang-Nya. Ia akan menguliti mereka dengan cara mengambil semua bagian berkat dan karunia-karunia dari mereka dan menebang mereka lewat maut serta membuang mereka ke dalam api neraka, api yang dikobarkan dengan murka Allah dan dinyalakan dengan kayu dari pohon-pohon yang tidak menghasilkan buah itu (bdk. Yeh. 31:12-13; Dan. 4:14; Yoh. 15:6).

(2)         Melalui pengujian. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

[1]         Dari buah pribadi, kata-kata, tindakan, dan gerak-gerik perilaku mereka. Jika ingin tahu apakah mereka orang yang benar atau tidak, amatilah cara hidup mereka, sebab perbuatan mereka akan bersaksi bagi atau me­la­wan mereka. Para ahli Taurat dan orang Farisi duduk di kursi Musa dan mengajarkan hukum Taurat, tetapi mereka bersikap sombong, tamak, palsu, dan suka me­nin­das. Itulah sebabnya Kristus memperingat­kan mu­rid-murid-Nya agar waspada terhadap mereka dan juga ragi mereka (Mrk. 12:38). Jika orang berpura-pura se­ba­gai nabi tetapi berperilaku tidak senonoh, itu sudah membuktikan kepura-puraan mereka itu. Mereka ini bu­kan­lah sahabat sejati salib Kristus, apa pun peng­aku­an mereka, karena Tuhan mereka ialah perut me­reka, dan pikiran mereka semata-mata tertuju kepada per­kara duniawi (Flp. 3:18-19). Orang yang kehi­dup­annya membuktikan bahwa ia dipimpin oleh roh najis, bukanlah orang yang diajar atau diutus oleh Allah yang kudus. Allah menempatkan harta ke dalam wadah ta­nah liat, dan bukan ke dalam wadah yang kotor. Mereka bisa saja menyatakan hukum-hukum Allah, tetapi apa­kah perbuatan mereka sesuai dengan pernyataan me­re­ka?
[2]         Dari buah ajaran mereka, dari buah-buah mereka se­ba­gai nabi: ini bukannya satu-satunya jalan, melainkan sa­lah satu cara saja untuk menguji berbagai ajaran, apakah itu berasal dari Allah atau bukan. Apakah yang cen­derung mereka lakukan? Ke dalam kesukaan dan per­buatan, apakah mereka akan membawa orang-orang yang menerima ajaran itu? Jika ajaran itu berasal dari Allah, maka ini akan menimbulkan kesalehan, keren­dah­an hati, kedermawanan, kekudusan, dan kasih yang sungguh-sungguh, bersama-sama dengan anugerah-anu­gerah Kristiani lainnya. Namun, bila sebaliknya, ajar­an yang disampaikan para nabi ini menunjukkan kecenderungan membuat orang menjadi sombong, du­nia­wi, dan suka bertengkar, berperilaku ceroboh, tidak adil, tidak dermawan, gemar menggolong-golongkan, meng­ganggu ketenangan umum, memuaskan kebe­bas­an hawa nafsu, dan menyebabkan orang meninggalkan pengendalian atas diri dan keluarga mereka menurut aturan ketat jalan yang sempit itu, kita boleh me­nyim­pul­kan bahwa ajakan ini bukan datang dari Dia (Gal. 5:8). Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas (Yak. 3:15). Iman dan hati nurani yang suci dipersatukan (1Tim. 1:19; 3:9). Perhatikanlah, ajaran yang menim­bul­kan keragu-raguan harus diuji dengan anugerah dan melalui kewajiban-kewajiban, apakah dilakukan atau tidak. Kalau menuntun kepada dosa, maka itu bukan ber­asal dari Allah. Akan tetapi, bila kita tidak dapat mengenal mereka dari buahnya, kita harus memakai jalan yang hebat itu, yaitu batu ujian, sang hukum itu, dan kesaksian mereka. Apakah mereka berbicara menu­rut aturan tersebut?

21 “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” 24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan mela­kukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan ru­mah­nya di atas batu. 25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumah­nya di atas pasir. 27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah ke­ru­sak­annya.” 28 Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang ba­nyak itu mendengar pengajaran-Nya, 29 sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.”

Di sini kita melihat kesimpulan dari Khotbah di Bukit yang panjang dan sangat luar biasa ini. Tujuan dari kesimpulan ini adalah untuk me­nunju­kkan pentingnya ketaatan terhadap perintah-perintah Kristus. Kesimpulan ini dimaksudkan untuk mengokohkan pakunya agar menancap dengan kuat. Kristus menyampaikannya kepada mu­rid-murid-Nya yang duduk di kaki-Nya setiap kali Ia berkhotbah dan yang mengikuti-Nya ke mana pun Ia pergi. Seandainya Ia mencari pujian dari manusia, Ia cukup mengatakannya saja. Namun, peng­a­jaran yang hendak ditanamkan-Nya itu terdiri dari kuasa, bukan dari perkataan saja (1Kor. 4:20), dan oleh sebab itu diperlukan sesuatu yang lebih dari itu.

I.            Dengan sebuah pernyataan sederhana, Ia menunjukkan bahwa mengaku-ngaku diri beragama saja, sehebat apa pun juga itu, tidak akan membawa kita ke sorga, kecuali disertai dengan peri­-laku yang sesuai (ay. 21-23). Penghakiman diserahkan selu­ruh­nya kepada Tuhan Yesus. Kunci-kunci diberikan kepada-Nya. Ia memiliki kuasa untuk menetapkan persyaratan baru mengenai kehidupan dan kematian, serta mengadili manusia sesuai per­buat­an mereka. Inilah pernyataan khidmat menurut kuasa yang ada pada-Nya itu. Perhatikanlah di sini:

1.           Hukum Kristus ditetapkan (ay. 21). Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Ke­ra­ja­an anugerah dan kemuliaan. Ini adalah jawaban atas per­ta­nyaan dalam Mazmur 15:1. Siapa yang boleh menumpang da­lam kemah-Mu? – Orang percaya yang masih berjuang di dunia ini. Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? – Orang percaya yang sudah masuk sorga. Di sini Kristus me­nun­juk­kan:

(1)         Bahwa tidaklah cukup untuk sekadar berkata, “Tuhan, Tuhan.” Kita bisa mengakui Kristus sebagai Guru dengan kata-kata semata, berseru kepada-Nya, mengakui Dia de­mi­kian dalam doa kepada Allah, ketika bercakap-cakap dengan sesama. Kita memanggil-Nya Tuhan, Tuhan. Kita berkata, itu tepat, sebab memang Dialah Guru dan Tuhan (Yoh. 13:13). Namun, coba bayangkan, apakah ini saja su­dah cukup untuk membawa kita ke sorga, bahwa sepenggal basa-basi seperti ini akan diberi imbalan sebesar itu, atau bahwa Dia yang mengenal dan menghendaki hati akan bisa diperdaya dengan hal-hal lahiriah seperti ini? Pujian ma­nu­sia itu hanyalah sekadar sopan santun saja, yang dibalas dengan pujian pula, namun itu tidak pernah dibayar se­ba­gai­mana pelayanan-pelayanan yang sebenar­nya. Kalau begitu, dapatkah pujian kita diperhitungkan oleh Kristus? Mung­kin dalam doa Tuhan, Tuhan, ada maksud mendesak. Namun, jika kesan batiniah tidak sesuai dengan ungkapan lahiriah, kita tak lebih daripada gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh berkata, Tuhan, Tuhan, atau dilarang berdoa dengan sungguh, tidak boleh mengakui nama Kristus, atau tidak boleh mengakuinya dengan terang-terangan. Sebalik­nya, yang dimaksudkan di sini adalah supaya kita tidak boleh mengandalkan hal-hal ini saja, atau menjalankan ibadah secara lahiriah saja tanpa kuasa di dalamnya.
(2)         Bahwa demi kebahagiaan kita, sangatlah penting bagi kita untuk melakukan kehendak Kristus, yang memang meru­pa­kan kehendak Bapa­-Nya yang di sorga. Kehendak Allah, sebagai Bapa Kristus, adalah kehendak-Nya seperti yang diberitakan dalam Injil, sebab di situlah Ia diperkenalkan sebagai Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus, dan melalui Kristus, menjadi Bapa kita juga. Inilah kehendak-Nya, yaitu agar kita percaya kepada Kristus, agar kita bertobat dari dosa, agar kita menjalani hidup kudus, agar kita saling mengasihi. Inilah kehendak Allah: pengudusan kita. Jika kita tidak mengikuti kehendak Allah, kita menghina Kristus dengan memanggil-Nya Tuhan, seperti orang-orang yang mengenakan jubah mewah kepada-Nya sambil berkata, Salam, hai raja orang Yahudi! Mengatakan dan melakukan sesuatu adalah dua hal yang berbeda dan sering kali juga terpisah, seperti orang yang berkata, Baik, bapa, tetapi ia tidak pergi (21:30). Namun, dua hal ini telah dipersatukan Allah dalam perintah-Nya, dan janganlah manusia yang berani menceraikannya berpikir ia akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

2.            Seruan orang munafik terhadap ketatnya hukum ini, dengan menawarkan hal-hal lain sebagai pengganti ketidaktaatan (ay. 22). Seruan itu akan terdengar pada hari terakhir, hari yang agung itu, ketika setiap orang akan tampak sebagaimana ada­nya, ketika segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, antara lain, kepura-puraan tersembunyi yang dipakai orang berdosa sekarang ini untuk mendukung harapan mereka yang sia-sia. Kristus mengetahui kuatnya alasan mereka itu, tetapi yang sebenarnya lemah. Apa yang seka­rang mereka simpan di hati, akan mereka kemukakan kelak pada hari penghakiman untuk menghindari malapetaka, tetapi usaha ini akan sia-sia saja. Mereka akan berseru de­ngan mendesak-desak, Tuhan, Tuhan, dan dengan penuh per­caya diri menuntut Kristus mengenai hal tersebut; Tuhan, tidakkah Engkau tahu.

(1)         Bahwa kami bernubuat demi nama-Mu? Ya, boleh jadi me­mang demikian. Bileam dan Kayafas tidak diperboleh­kan bernubuat, dan Saul termasuk golongan nabi di luar ke­hen­daknya, namun semua ini tidak dapat menolong mereka. Me­reka ini bernubuat demi nama-Nya, tetapi Dia tidak meng­utus mereka. Mereka hanya memanfaatkan nama-Nya belaka. Perhatikanlah, seseorang bisa saja berkhotbah, me­mi­liki karunia pelayanan dan panggilan lahiriah untuk itu, bahkan mungkin juga berhasil dalam hal itu, namun se­be­narnya jahat. Dia mungkin saja menolong orang lain untuk dapat masuk sorga, tetapi dirinya sendiri tidak dapat masuk.
(2)         Bahwa demi nama-Mu kami telah mengusir setan? Ini mung­­­kin juga; Judas mengusir setan, namun begitu ia adalah yang ditentukan untuk binasa. Origen mengatakan bah­wa pada zamannya begitu penuh kuasanya nama Kris­tus ketika dipakai mengusir roh-roh jahat sampai-sam­pai orang-orang Kristen yang fasik pun kadang-kadang ikut me­manfaatkan nama itu. Seseorang bisa saja mengusir setan keluar dari orang lain, tetapi dalam dirinya sendiri ada setan, atau lebih tepat lagi, malah dia sendirilah se­tan­nya.
(3)         Bahwa demi nama-Mu kami mengadakan banyak mujizat. Mung­kin saja ada iman untuk mengadakan mujizat, tetapi iman untuk membenarkan tindakan itu tidak ada. Untuk mengadakan mujizat, perlu iman yang bekerja oleh kasih dan ketaatan. Karunia lidah dan karunia menyembuhkan dapat membuat orang diterima dunia, tetapi hanya kesu­ci­an atau pengudusan sejatilah yang dapat diterima Allah. Anugerah dan kasih merupakan jalan yang lebih utama dibandingkan dengan memindahkan gunung atau berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat (1Kor. 13:1-2). Anugerah akan membawa manusia ke sorga tanpa harus mengadakan mujizat, tetapi mengadakan mu­ji­zat tanpa memiliki anugerah tidak akan pernah mem­bawa manusia ke sorga. Perhatikanlah, orang yang tergila-gila dengan mujizat selalu menaruh hatinya pada mujizat itu, mereka ingin selalu melakukannya dan mujizatlah yang menjadi kepercayaan mereka. Simon si penyihir terheran-heran melihat semua mujizat yang terjadi (Kis. 8:13) se­hingga rela membayar berapa pun agar beroleh kuasa un­tuk melakukannya juga. Perhatikanlah, orang-orang seperti ini tidak memiliki perbuatan baik sedikit pun, tidak ada alasan bagi mereka untuk mengaku-ngaku telah mela­ku­kan banyak perbuatan mulia bahwa mereka telah menga­si­hani orang dan beramal. Padahal, satu saja dari perbuatan tersebut jauh lebih baik daripada seruan mereka tentang mengadakan banyak mujizat yang sama sekali tidak ber­guna jika mereka tetap tidak taat. Mujizat-mujizat itu kini telah berhenti, beserta seruan mereka itu. Walaupun demi­kian, bukankah hati yang duniawi tetap saja akan men­dorong dirinya untuk terus menyimpan harapan-harapan yang tanpa dasar seperti ini, dengan macam-macam du­kung­an yang sia-sia? Mereka menyangka akan dapat ma­suk ke sorga karena sudah terkenal di antara para peng­ikut agama, selalu berpuasa, memberi sedekah, dan ber­jasa bagi gereja. Mereka menyangka seakan-akan semua hal ini akan menebus kesombongan, keduniawian, dan hawa nafsu yang menguasai hati mereka, serta juga mene­bus ketiadaan kasih mereka terhadap Allah dan sesama. Betel adalah kepercayaan mereka (Yer. 48:13). Mereka me­ning­gikan diri di gunung yang kudus (Zef. 3:11), dan me­nyom­bongkan diri bahwa mereka adalah bait Tuhan (Yer. 7:4). Biarlah kita waspada agar tidak mengandalkan diri pada macam-macam hak istimewa yang kita miliki dan pada perbuatan-perbuatan luar saja, supaya jangan sam­pai kita menipu diri sendiri, dan binasa selamanya seperti yang dialami banyak orang, dengan dusta yang menjadi pegangan kita.

3.          Penolakan terhadap seruan yang tidak pantas ini. Di sini, Sang Pembuat hukum itu (ay. 21) adalah juga Sang Hakim sesuai dengan hukum itu (ay. 23). Dia akan menolak seruan itu secara terbuka. Dia akan berterus terang kepada mereka de­ngan segala ketegasan, ketika hukuman dijatuhkan oleh Sang Hakim, Aku tidak pernah mengenal kamu, dan karena itu, enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! Perhatikanlah:

(1)         Mengapa dan atas dasar apa Ia menolak mereka berikut seruan mereka – sebab mereka adalah pembuat kejahatan. Perhatikanlah, orang bisa saja terkenal sebagai orang yang saleh, tetapi sebenarnya ia seorang pembuat kejahatan, dan orang-orang seperti itu akan menerima hukuman yang lebih berat. Dosa-dosa tersembunyi yang disimpan di balik peng­akuan yang tampak, akan menjadi kejatuhan orang muna­fik. Menjalani kehidupan penuh dosa dengan sadar dapat meniadakan kepura-puraan manusia, tidak peduli sebaik apa pun perbuatannya itu.
(2)         Cara penolakan itu disampaikan. Aku tidak pernah me­nge­nal kamu. “Aku tidak pernah mengakuimu sebagai hamba-Ku, baik ketika engkau bernubuat demi nama-Ku, me­nga­ku-ngaku dengan lantang mengenai kepercayaanmu, mau­pun ketika engkau sangat dipuji-puji.” Hal ini mengisya­ratkan bahwa jika Ia memang pernah mengenal mereka, sebagai Tuhan yang mengenal siapa kepunyaan-Nya, dan per­nah mengakui serta mengasihi mereka sebagai milik-Nya, maka Ia pasti akan mengenal, mengakui, dan menga­sihi mereka sampai kepada kesudahannya. Akan tetapi, jika Dia tidak pernah mengenal mereka, itu karena memang sejak semula Dia tahu bahwa mereka adalah orang muna­fik, yang hatinya busuk, sama seperti Ia mengenal Yudas. Oleh sebab itu, Ia berkata, enyahlah dari pada-Ku. Apakah Kristus memerlukan tamu-tamu seperti itu? Ketika Ia datang sebagai manusia, Ia memanggil orang berdosa agar da­­tang kepada-Nya (9:13), tetapi ketika Ia akan datang da­lam kemuliaan, Ia akan mengusir orang berdosa dari-Nya. Mereka yang tidak mau datang kepada-Nya untuk disela­mat­kan, harus enyah dari pada-Nya untuk menerima hukum­an. Enyah dari Kristus itu sama saja dengan neraka dari segala neraka; itu tempat yang paling bawah dari segala kesengsaraan yang akan dialami orang-orang ter­ku­tuk, terpisah sama sekali dari semua pengharapan untuk memperoleh kebaikan Kristus dan perantaraan-Nya. Orang-orang yang hanya sekadar mengaku percaya Kristus tetapi tidak mau melakukan lebih daripada itu untuk mela­yani-Nya, tidak akan diterima oleh-Nya, atau diakui-Nya pada hari yang agung itu. Lihatlah betapa manusia dapat jatuh dari ketinggian pengharapan ke dasar jurang keseng­sara­an! Betapa mereka bisa dicampakkan ke dalam neraka melalui depan pintu sorga! Seharusnya ini menjadi peri­ngat­an bagi semua orang Kristen. Jika seorang peng­khot­bah yang mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat saja dapat tidak diakui oleh Kristus karena berbuat keja­hat­an, apa jadinya dengan kita seandainya didapati seperti itu juga? Jika kita memang seperti itu, maka pastilah kita juga akan mengalami hal yang sama. Di hadapan Allah, peng­akuan terhadap agama tidak akan mendukung siapa pun yang hidup bergelimang dalam dosa. Oleh sebab itu, setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah me­ning­galkan kejahatan.

II.          Ia menunjukkan melalui perumpamaan bahwa sekadar men­de­ngar­­kan perkataan-Nya ini tidak akan membuat kita berbahagia jika kita tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Namun, jika kita mendengar perkataan-Nya dan melakukannya, kita akan ber­bahagia oleh perbuatan kita (ay. 24-27).

1.          Di sini, mereka yang mendengarkan perkataan Kristus dibagi men­­jadi dua golongan. Mereka yang mendengar dan melaku­kan apa yang mereka dengar, dan mereka yang mendengar tetapi tidak melakukannya. Sekarang Kristus berkhotbah ke­pada banyak orang dari berbagai latar belakang, tetapi kemu­di­an Ia memisahkan mereka seorang dari yang lainnya, seba­gai­mana yang akan dilakukan-Nya pada hari yang agung itu, ketika semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya. Kristus masih berbicara dari sorga melalui firman dan Roh-Nya, melalui para hamba-Nya maupun pemeliharaan-Nya. Orang-orang yang mendengar perkataan-Nya dibagi dalam dua golongan.

(1)         Orang-orang yang mendengar perkataan-Nya dan melaku­kannya. Terpujilah Allah karena masih ada orang-orang seperti ini, walaupun tidak begitu banyak. Mendengar per­kata­an Kristus bukanlah berarti untuk sekadar mendengar semata, melainkan juga untuk menaati-Nya. Perhatikanlah, sangatlah penting bagi kita untuk melakukan apa yang kita dengar dari perkataan Kristus. Sungguh merupakan rah­mat bila kita boleh mendengar perkataan-Nya. Berbahagia­lah telinga-telinga yang mendengar seperti ini (13:16-17). Namun, jika kita tidak melakukan apa yang kita dengar, maka sia-sialah kasih karunia Allah yang telah kita terima itu (2Kor. 6:1). Melakukan perkataan Kristus berarti sung­guh-sungguh menjauhi dosa-dosa yang dilarang oleh-Nya, dan melaku­kan tugas yang diwajibkan-Nya. Pikiran dan pe­ra­saan kita, perkataan dan perbuatan kita, serta tabiat dan tujuan hidup kita haruslah sesuai dengan Injil Kristus. Itulah perbuatan yang diminta-Nya. Semua perkataan Kristus, bukan saja hukum yang telah ditetapkan-Nya, me­lain­kan juga semua kebenaran yang diungkapkan-Nya, haruslah kita lakukan. Semua ini merupakan terang, bu­kan saja untuk mata kita, melainkan juga untuk kaki kita, dan dirancang bukan sekadar untuk memberitahukan hu­kum bagi kita, melainkan juga untuk mengubah hati dan kehidupan kita. Jika kita tidak melaksanakannya, kita se­be­narnya tidak mempercayainya. Perhatikanlah, belumlah cu­kup untuk sekadar mendengar perkataan Kristus dan memahami, mengingat, membicarakan, mengulang, dan memperdebatkannya. Kita harus mendengar dan melaku­kan­nya. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup. Ha­nya mereka yang mendengarkan Firman Allah dan me­me­li­haranya sajalah yang disebut berbahagia (Luk. 11:28; Yoh. 13:17), dan disebut saudara Kristus (Mat. 12:50).
(2)         Orang-orang yang mendengar perkataan Kristus dan tidak me­lakukannya. Agama mereka bersandar semata-mata pada pendengaran saja. Seperti anak-anak yang menderita kelainan tulang, kepala mereka membesar, terisi dengan pikir­an kosong dan gagasan yang belum dicerna, tetapi persendian mereka lemah sehingga merasa berat dan tidak bersemangat. Mereka tidak dapat dan tidak peduli untuk me­lakukan kewajiban baik apa pun. Mereka mendengar perkataan Allah, seakan-akan ingin mengenal segala jalan-Nya, bagaikan orang yang melakukan yang benar, tetapi tidak melakukannya (Yeh. 33:30-31; Yes. 58:2). Demikian­lah mereka menipu diri sendiri, seperti Mikha yang meng­anggap dirinya bahagia karena ada orang Lewi yang men­jadi imamnya, padahal ia tidak menjadikan Tuhan sebagai Allah-nya. Benih telah ditaburkan, tetapi tidak bertumbuh. Mereka mengamati wajah mereka di cermin firman Tuhan, tetapi melupakannya lagi (Yak. 1:22, 24). Demikianlah me­reka menipu jiwa mereka sendiri, sebab sudah pasti bahwa bila kita tidak menjadikan pendengaran itu sebagai sarana untuk menjadi taat, maka akan bertambah parahlah ke­tidak­taatan kita itu. Orang-orang yang hanya mendengar per­­kataan Kristus tetapi tidak melakukannya, diam di tengah perjalanan menuju sorga, dan ini tidak akan pernah membawa mereka ke akhir perjalanan mereka. Mereka ha­nya menjadi saudara tiri Kristus, dan karena itu, menurut hukum pun, orang-orang semacam ini tidak bisa menerima warisan.

2.           Di sini, kedua macam pendengar ini digambarkan menurut ta­biat mereka yang sesungguhnya, sedangkan permasalahan me­reka diumpamakan seperti dua orang yang membangun ru­mah. Yang seorang bijaksana, ia mendirikan rumahnya di atas batu, dan rumahnya tetap berdiri meskipun angin badai me­ner­panya. Yang seorang lagi adalah orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir, dan rumahnya pun roboh.

Sekarang:

(1)         Maksud umum perumpamaan ini adalah untuk mengajar kita bahwa satu-satunya cara untuk memastikan kesela­mat­an jiwa kita dalam kekekalan adalah dengan mende­ngar dan melakukan perkataan Tuhan Yesus, yakni perka­ta­an-Nya dalam Khotbah di Bukit yang sepenuhnya dapat dilakukan. Beberapa dari antaranya terasa keras bagi sifat kedagingan, namun tetap harus dilakukan. Dengan demi­kian kita telah mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi waktu yang akan datang (1Tim. 6:19). Bebe­rapa orang menyebutnya sebuah jaminan yang baik, suatu perjanjian yang Allah buat yang menjamin kese­lamatan berdasarkan persyaratan Injil. Ini suatu jaminan yang baik yang bukan rancangan kita sendiri, bukan keselamatan di­da­sarkan angan-angan kita sendiri. Dengan jaminan ini kita menjadi yakin akan bagian kita yang terbaik, seperti Maria, ketika kita mendengar perkataan Kristus, duduk dekat kaki Tuhan dengan patuh: Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.

(2)         Bagian-bagian perumpamaan ini memberi kita berbagai pelajaran yang baik.

[1]         Bahwa kita masing-masing mempunyai sebuah rumah un­tuk dibangun, dan rumah itu adalah pengharapan kita untuk ke sorga. Kita harus terutama dan selalu mem­perhatikan agar panggilan dan pilihan kita makin teguh, sehingga dengan demikian kita memastikan ke­se­la­matan kita. Kita harus memastikan untuk beroleh hak atas kebahagiaan sorgawi, dan kita harus punya bukti untuk itu. Kita harus meyakinkan diri bahwa ketika kita tidak dapat ditolong lagi, kita akan diterima di da­lam kemah abadi. Banyak orang tidak pernah meme­duli­kan hal ini. Mereka nyaris tidak memikir­kan­nya. Me­reka membangun rumah di dunia ini seolah-olah akan tinggal di sini selamanya, tetapi tidak mau mem­ba­ngun bagi dunia lain. Semua orang yang meme­luk agama seharusnya bertanya-tanya, apa yang harus me­reka perbuat supaya selamat, bagaimana mereka akhir­nya bisa masuk sorga dan bagaimana mereka bisa pu­nya pengharapan dengan dasar yang pasti mengenai hal itu sementara mereka masih di dunia ini.
[2]         Bahwa disediakan batu bagi kita untuk membangun rumah di atasnya, dan batu karang itu ialah Kristus. Dia diletakkan sebagai dasar, dan tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain (Yes. 28:16; 1Kor. 3:11). Dia adalah dasar pengharapan kita (1Tim. 1:1). Seperti itulah Kristus ada di dalam kita. Kita harus me­le­takkan dasar pengharapan kita tentang sorga sepe­nuh­nya pada kebaikan Kristus, pada pengampunan dosa, kuasa Roh-Nya, pengudusan tabiat kita, dan per­an­taraan-Nya yang penuh kuasa, supaya dengan demi­kian semua apa yang telah ditebus-Nya untuk kita dapat kita terima. Di dalam diri-Nya, yang telah dinya­ta­kan dan dijadikan demikian untuk kita melalui pem­beri­taan Injil, terdapat segala sesuatu yang cukup un­tuk menghapus semua dukacita kita dan memenuhi semua keperluan kita, sehingga dengan demikian Dia sanggup menyelamatkan dengan sempurna. Jemaat di­diri­kan di atas batu karang ini, demikian pula setiap orang percaya. Kristus sama kuat dan teguhnya seperti batu karang. Kita dapat mempercayakan diri kita ke­pada-Nya, dan kita tidak akan dibuat malu dengan peng­harapan kita ini.
[3]         Bahwa masih tersisa sekelompok kecil orang yang, de­ngan mendengar dan melakukan perkataan Kristus, mem­bangun pengharapan mereka di atas batu karang ini. Dan inilah yang menjadi hikmat mereka. Kristus ada­lah satu-satunya jalan kita menuju Bapa, sedangkan ketaatan iman adalah satu-satunya jalan kita menuju Kristus. Sebab bagi semua yang taat kepada-Nya, dan hanya bagi mereka sajalah, Dia menjadi pokok kesela­mat­an (Ibr. 5:9). Orang-orang yang membangun di atas Kristus, dan sungguh-sungguh menerima Dia sebagai Raja dan Juruselamat mereka, akan senantiasa ber­usaha menjalankan semua aturan ajaran-Nya yang kudus itu. Mereka sepenuhnya bergantung pada Dia un­tuk mendapatkan pertolongan dari Allah dan supaya di­terima oleh-Nya, dan bagi mereka segala sesuatu di­ang­gap rugi dan sampah, hanya supaya memperoleh Kristus dan berada bersama-Nya. Membangun di atas batu karang membutuhkan jerih payah. Mereka yang membuat panggilan dan pilihan mereka teguh, harus melakukannya dengan tekun. Orang-orang yang mem­ba­ngun dengan bijak adalah mereka yang mulai mendiri­kan sedemikian rupa hingga sanggup menyelesai­kannya (Luk. 14:30); dengan demikian, mereka meletakkan sua­tu dasar yang kuat.
[4]         Bahwa ada banyak orang yang mengaku berharap pergi ke sorga, namun memandang rendah batu karang ini dan membangun pengharapan mereka di atas pasir. Me­reka melakukannya tanpa bersusah payah, dan ini ada­lah kebodohan mereka. Segala sesuatu selain Kristus adalah pasir. Beberapa orang membangun peng­harapan mereka di atas kekayaan duniawi mereka, se­akan-akan ini adalah bukti anugerah Allah (Hos. 12:9). Ada pula yang membangunnya di atas dasar pengakuan agama secara lahiriah belaka, atas dasar hak-hak isti­mewa yang mereka nikmati, dan tindak-tanduk mereka dalam menjalankan agama itu serta nama baik yang mereka peroleh dengan itu. Mereka disebut orang Kristen, dibaptis, ke gereja, mendengar­kan perkataan Kristus, berdoa, dan tidak menyakiti siapa pun. Jika me­reka binasa, kiranya Allah menolong banyak orang seperti mereka! Ini adalah terang yang berasal dari api yang mereka nyalakan sendiri dan ke dalam api itulah mereka melangkah. Di atasnyalah mereka memper­caya­kan diri dengan penuh keyakinan, namun semua itu se­ka­dar pasir yang terlampau lemah untuk menang­gung beban berat seperti pengharapan tentang sorga.
[5]         Bahwa ada angin badai, yang akan datang untuk meng­uji apa yang menjadi dasar pengharapan kita; pekerjaan masing-masing orang akan diuji (1Kor. 3:13); ia akan mem­buka dasarnya (Hab. 3:13). Hujan, banjir, lalu angin akan melanda rumah itu. Adakalanya ujian melanda kita di dunia ini. Apabila datang penindasan atau peng­aniayaan karena firman itu, akan terlihat siapa yang hanya mendengar perkataan itu dan siapa yang men­dengar serta melakukannya. Maka bila kita telah hidup dalam pengharapan kita, hal ini akan diuji apakah memang benar dan memiliki dasar yang kuat atau tidak. Bagaimanapun, saat maut dan penghu­kum­an tiba, badai itu pun menerjang. Tidak diragukan lagi, ba­dai ini pasti akan datang, tidak peduli seberapa teduh­nya keadaan kita sekarang ini. Ketika itu, segala se­sua­tu kecuali pengharapan ini tidak akan mampu meno­long kita, dan setelah itu, pengharapan itu akan di­ubah­kan menjadi buah yang kekal.
[6]         Bahwa semua pengharapan yang didirikan di atas Kristus, Sang Batu Karang itu, akan tetap tegak dan me­lin­dungi orang yang mendirikannya saat badai da­tang. Pengharapan itu akan menjadi tempat perlin­dung­an­nya, saat ia ditinggalkan dan merasa sangat gelisah. Pengakuan imannya tidak akan memudar dan peng­hibur­an yang diterimanya tidak akan menge­ce­wa­kan. Peng­harap­annya akan menjadi kekuatan dan nya­nyian­­nya, seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa. Saat akhir hidupnya tiba, pengharapan-pengharapan itu akan mengangkat ketakutan terhadap maut dan kubur; ia membawanya melintasi lembah kelam dengan penuh sukacita. Ia akan diterima oleh Sang Hakim, lulus dalam ujian pada hari yang agung itu, dan dimahkotai de­ngan kemuliaan abadi (2Kor. 1:12; 2Tim. 4:7-8). Ber­ba­hagialah hamba, yang didapati tuannya melaku­kan tu­gasnya itu, ketika tuannya itu datang.
[7]         Bahwa pengharapan yang dibangun orang bodoh di atas dasar selain Kristus pasti akan roboh diterjang badai. Peng­harapan itu tidak akan memberi mereka penghi­bur­an dan kepuasan sejati di tengah kesukaran, saat maut menjelang, dan pada hari penghukuman itu. Peng­­harapan semu itu tidak akan memagarinya dari godaan kemurtadan selama masa aniaya. Apakah ha­rap­an orang durhaka, kalau Allah menghabisinya, kalau Ia menuntut nyawanya? (Ayb. 27:8). Keadaannya seperti sarang laba-laba, dan seperti menghembuskan nafas. Ia akan bersandar pada rumahnya, tetapi rumah­nya itu tidak tetap tegak (Ayb. 8:14-15). Rumah itu akan roboh dilanda badai pada saat orang yang mem­bangun­nya sangat membutuhkannya dan berharap bisa berteduh di dalamnya. Rumah itu roboh ketika sudah terlambat un­tuk membangun rumah lagi. Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya. Kemudian, ketika ia menyangka bahwa pengharapan itu akan membuahkan hasil, rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. Hal ini sangatlah mengecewakan orang itu. Rasa malu dan kerugiannya sangatlah besar. Semakin tinggi ma­nu­sia meletakkan harapannya, semakin dalam pulalah kejatuhannya. Ini adalah kehancuran yang paling me­nya­kitkan bagi mereka semua yang hanya mengaku dengan bibir semata; lihatlah kehancuran Kapernaum.

III.         Dalam kedua ayat terakhir, disebutkan kesan apa yang ditim­bul­kan khotbah Kristus ke atas para pendengar-Nya. Ini adalah khot­bah yang sangat luar biasa, dan ada kemungkinan Ia me­nyam­paikan lebih banyak daripada yang dicatat di sini. Tidak perlu diragukan lagi, perkataan yang keluar dari bibir-Nya yang diurapi dengan anugerah itu sangat berpengaruh. Lihatlah:

1.          Takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya. Me­mang dikhawatirkan bahwa hanya ada sedikit saja dari antara mereka yang kemudian mengikuti Kristus. Namun, sementara ini mereka dipenuhi dengan rasa takjub. Perhatikanlah, orang bisa saja mengagumi khotbah yang bagus, namun tetap acuh tak acuh dan tidak percaya; merasa takjub, namun tidak diku­dus­kan.
2.           Alasannya adalah karena Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Para ahli Taurat sangat suka tampil berkuasa seperti guru-guru mereka, dan mereka didukung hal-hal lahiriah yang bisa mereka dapatkan, tetapi isi khotbah mereka biasa-biasa saja, datar, dan kering. Mereka berbicara sebagai orang yang belum menguasai apa yang mereka khotbahkan. Perkataan yang keluar dari diri me­reka tidak disampaikan dengan hidup atau kuat. Mereka me­nyam­pai­kan­nya seperti anak sekolah yang menghafal pelajar­an­nya. Namun, Kristus menyampaikan khotbah-Nya seperti seorang hakim yang menjatuhkan dakwaannya. Dia memang benar-benar melakukan dominari in conscionibus – menyampai­kan khotbah-Nya dengan penuh kuasa. Pelajaran yang diberi­kan-Nya adalah hukum, dan perkataan-Nya merupakan perin­tah. Di atas bukit itu, Kristus menunjukkan lebih banyak kuasa daripada yang dimiliki para ahli Taurat yang duduk di kur­si Musa. Jadi, bila Kristus mengajar melalui Roh-Nya di da­lam jiwa, Ia mengajar dengan penuh kuasa. Ia berkata, jadilah terang, lalu datanglah terang itu jadi.

Matius 5Matius 6Matius 7

Online Tafsiran Alkitab

Ketik ayat Alkitab, cth: Yoh 3:16


Kejadian, Mazmur, Amsal, Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika, 1 & 2 Timotius, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1 & 2 & 3 Yohanes dan Yudas
Aplikasi Android
Tafsiran Alkitab