Matthew Henry, riwayat hidup dan karyanya

Tafsiran Alkitab Matthew Henry

Matthew Henry (1662-1714) adalah seorang Inggris yang mulai melakukan persiapan menulis Tafsiran Alkitab yang terkenal ini pada usia 21 tahun. Karyanya ini dianggap sebagai tafsiran Alkitab yang sarat makna dan sangat terkenal di dunia.
Kekuatan tafsiran Matthew Henry terutama terletak pada nasihat praktis dan saran pastoralnya. Tafsirannya mengandung banyak mutiara kebenaran yang segar dan sangat tepat. Walaupun ada cukup banyak kecaman di dalamnya, ia sendiri sebenarnya tidak pernah berniat menuliskan tafsiran yang demikian, seperti yang berulang kali ditekankannya sendiri. Beberapa pakar theologi seperti Whitefield dan Spurgeon selalu menggunakan tafsirannya ini dan merekomendasikannya kepada orang-orang untuk mereka baca. Whitefield membaca seluruh tafsirannya sampai empat kali; kali terakhir sambil berlutut. Sejak kecil Matthew sudah terbiasa menulis renungan atau ke­sim­pulan Firman Tuhan di atas kertas kecil. Namun, baru pada ta­hun 1704 ia mulai sungguh-sungguh menulis dengan maksud me­ner­­bitkan tafsiran tersebut. Terutama menjelang akhir hidupnya, ia mengabdikan diri untuk menyusun tafsiran itu.

Buku pertama tentang Kitab Kejadian diterbitkan pada tahun 1708 dan tafsiran tentang keempat Injil diterbitkan pada tahun 1710. Sebelum meninggal, ia sempat menyelesaikan tafsiran Kisah Para Rasul. Setelah kematiannya, Surat-surat dan Wahyu diselesaikan oleh 13 orang pendeta berdasarkan catatan-catatan Matthew Henry yang telah disiapkannya sebelum meninggal. Edisi total seluruh kitab-kitab diterbitkan pada tahun 1811.

Suasana gerejani di Inggris

Matthew Henry lahir pada tahun 1662 di Inggris di kampong Broad Oak didaerah Wales. Ketika itu gereja Ang­likan menjalin hubungan baik dengan gereja Roma Katolik. Yang me­merintah pada masa itu adalah Raja Charles II, yang secara resmi diangkat sebagai kepala gereja. Raja Charles II ingin memulihkan ke­kua­sa­an gereja Anglikan sehingga orang Kristen Protestan lainnya sa­ngat dianiaya. Mereka disebut dissenter, orang yang memisahkan diri dari gereja resmi.

Puncak penganiayaan itu terjadi ketika pada 24 Agustus 1662 le­bih dari dua ribu pendeta gereja Presbiterian dilarang berkhotbah lagi. Mereka dipecat dan jabatan mereka dianggap tidak sah.

Rumah orang tua

Pada masa yang sulit itu lahirlah Matthew Henry. Ayahnya, Philip Henry, adalah seorang pendeta dari golongan Puritan, sedang­kan ibunya, Katherine Matthewes, seorang keturunan bangsawan. Ka­rena Katherine berasal dari keluarga kaya, sepanjang hidupnya Philip Hen­ry tak perlu memikirkan uang atau bersusah payah men­cari naf­kah bagi keluarganya, sehingga ia dapat dengan sepenuh hati meng­abdi­kan diri untuk pelayanannya sebagai hamba Tuhan. Matthew ada­­lah anak kedua. Kakaknya, John, meninggal pada usia 6 tahun ka­rena penyakit campak. Ketika masih balita, Matthew sendiri juga terserang penyakit itu dan nyaris direnggut maut.

Masa kecil Matthew Henry

Dari kecilnya Matthew sudah tampak memiliki bermacam-macam bakat, sangat cerdas, dan pintar. Tetapi yang lebih penting lagi, sejak kecil ia sudah mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan mengakui-Nya sebagai Juruselamatnya. Usianya baru tiga ta­hun ke­tika ia sudah mampu membaca satu pasal dari Alkitab lalu mem­beri­kan keterangan dan pesan tentang apa yang dibacanya.

Dengan demikian Matthew sudah menyiapkan diri untuk tugas­nya di kemudian hari, yaitu tugas pelayanan sebagai pendeta.

Sejak masa kecilnya Matthew sudah diajarkan bahasa Ibrani, Yunani, dan Latin oleh ayahnya, sehingga walaupun masih sangat muda, ia sudah pandai membaca Alkitab dalam bahasa aslinya.

Studi hukum di London

Pada tahun 1685, ketika berusia 23 tahun, Matthew pindah ke Lon­don, ibu kota Inggris, untuk belajar hukum di Universitas Lon­don. Matthew tidak berniat untuk menjadi ahli hukum, ia hanya me­nu­­ruti saran ayahnya dan orang lain yang berpendapat bahwa stu­di itu akan memberikan manfaat besar baginya karena keadaan di Ing­gris pada masa itu tidak menentu bagi orang Kristen, khususnya kaum Puritan.

Peneguhan sebagai pendeta di Chester

Beberapa tahun kemudian Matthew kembali ke kampung hala­man­nya. Dalam hatinya ia merasa terpanggil menjadi pendeta. Kemu­di­an, ia diperbolehkan berkhotbah kepada beberapa jemaat di sekitar Broad Oak. Ia menyampaikan Firman Tuhan dengan penuh kuasa. Ti­dak lama setelah itu, ia dipanggil oleh dua jemaat, satu di London dan satu lagi jemaat kecil di wilayah pedalaman, yaitu Chester. Sete­lah berdoa dengan tekun dan meminta petunjuk Tuhan, ia akhirnya memilih jemaat Chester, dan pada tanggal 9 Mei 1687 ia diteguhkan se­bagai pendeta di jemaat tersebut. Waktu itu Matthew berusia 25 ta­hun.

Pernikahan dengan Katharina Hardware dan kematiannya

Di Chester, Matthew Henry bertemu dengan Katharine Hard­ware. Mereka menikah pada tanggal 19 Juli 1687. Pernikahan itu sa­ngat harmonis dan baik karena didasarkan atas cinta dan iman ke­pada Tuhan. Namun pernikahan itu hanya berlangsung selama satu sete­ngah tahun. Katharine yang sedang hamil terkena penyakit cacar. Segera setelah melahirkan seorang anak perempuan, ia meninggal pada usia 25 tahun. Matthew sangat terpukul oleh dukacita ini. Anak Matthew dan Katherine dibaptis oleh kakeknya, yaitu Pendeta Philip, ayah Matthew.

Menikah kembali dengan Mary Warburton

Allah menguatkan Matthew dalam dukacita yang melandanya. Setelah satu tahun lebih telah berlalu, mertuanya menganjurkannya untuk me­ni­kah lagi. Pada Juli 1690, Matthew menikah dengan Mary Warburton. Tahun berikutnya, mereka diberkati dengan seorang bayi, yang diberi nama Elisabeth. Namun, saat baru berumur satu se­tengah tahun, ia meninggal karena demam tinggi dan penyakit batuk rejan. Setahun kemudian mereka mendapat seorang anak perempuan lagi. Dan bayi ini pun meninggal, tiga minggu kemudian. Betapa berat dan pedih penderitaan orangtuanya. Sesudah peristiwa ini, Matthew memeriksa diri dengan sangat teliti apakah ada dosa dalam hi­dup atau hatinya yang menyebabkan kematian anak-anaknya. Ia mengakhiri catatannya sebagai berikut, “Ingatlah bahwa anak-anak itu diambil dari dunia yang jahat dan dibawa ke sorga. Mereka tidak lahir percuma dan sekarang mereka telah boleh menghuni kota Yeru­sa­lem yang di sorga.”

Beberapa waktu kemudian mereka mendapat seorang anak pe­rem­­puan yang bertahan hidup. Demikianlah suka dan duka silih ber­ganti dalam kehidupan Matthew Henry. Secara keseluruhan, Matthew Henry mendapat 10 anak, termasuk seorang putri dari per­ni­kahan per­tama.

Pendeta di London

Selama 25 tahun Matthew Henry melayani jemaatnya di Chester. Ia sering mendapat panggilan dari jemaat-jemaat di London untuk me­­la­yani di sana, tetapi berulang kali ia menolak panggilan tersebut ka­­­­rena merasa terlalu terikat kepada jemaat di Chester. Namun akhir­­­­nya, ia yakin bahwa Allah sendiri telah memanggilnya untuk men­­­jadi hamba Tuhan di London, dan karena itu ia menyerah kepada kehendak Allah.

Kemunduran kesehatannya

Pada akhir hidupnya, Matthew Henry terkena penyakit diabetes, sehingga sering merasa letih dan lemah. Sejak masa muda, ia bekerja dari pagi buta sampai larut malam, tetapi menjelang akhir hayatnya ia tidak mampu lagi. Ia sering mengeluh karena kesehatannya yang se­­ma­kin menurun.

Matthew Henry meninggal dunia

Pada bulan Juni 1714 ia berkhotbah satu kali lagi di Chester, tem­­pat pelayanannya yang dulu. Ia berkhotbah tentang Ibrani 4:9, “Jadi ma­sih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.” Ia seolah-olah menyadari bahwa hari Minggu itu merupakan hari Ming­gu terakhir baginya di dunia ini. Secara khusus ia mene­kan­kan hal perhentian di sorga supaya anak-anak Allah dapat me­nik­mati ke­ber­sama­an dengan Tuhan.

Sekembalinya ke London, ia merasa kurang sehat. Malam itu ia sulit tidur dan menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Ia dipenuhi rasa damai dan menulis pesan terakhirnya: “Kehidupan orang yang meng­abdikan diri bagi pelayanan Tuhan merupakan hidup yang pa­ling menyenangkan dan penuh penghiburan.” Ia mengembuskan nafas terakhir pada tanggal 22 Juni 1714, dan dimakamkan tiga hari kemu­­dian di Chester. Nas dalam kebaktian pemakamannya diambil dari Matius 25:21, “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali per­buat­anmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung ja­wab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam keba­ha­gia­an tuanmu.”

Matthew Henry

“Setiap hamba Tuhan harus membaca seluruh tafsiran ini dengan saksama, paling sedikit satu kali.”

C.H. Spurgeon